Lost in Translation

November 4th, 2006 by sonykusumasondjaja

Pernah lihat film Lost in Translation..??? Film itu mengisahkan perjalanan seorang bintang iklan Amerika Serikat ke Jepang dalam rangka shooting film iklan. Dan di Jepang, ia merasa seakan-akan ia adalah seorang makhluk asing yang bukan merupakan bagian dari dunia di mana ia berada. (Btw, Scarlet Johanssen cakep banget di film itu..!!)

Gak pernah menyangka kalo aku bakal mengalami kejadian kayak gitu…!!

Dalam perjalananku ke London hari Jumat tanggal 3 November kemarin, pesawatku transit di Hongkong selama lebih dari 10 jam. Dan karena masa transit yang lama, aku diberi fasilitas istirahat di sebuah hotel berbintang tiga di tengah kota Hongkong sebelum melanjutkan perjalanan ke London. Semula sih aku menyangka bahwa sebagai sebuah negara yang (kabarnya) cukup kaya, dan kebanyakan mampu berbahasa Inggris, aku gak bakal mengalami kesulitan berarti untuk tinggal dan menghabiskan waktu di kota itu.

Ternyata, harapan itu salah.

Begitu masuk ke pusat kota Hongkong (karena dapet hotel transit di tengah kota Hongkong), dan melihat semua ….and I really mean it…SEMUA…bangunan dihiasi huruf-huruf Cina yang khas, kepalaku mulai berdenyar. Pusing sekali rasanya memandang sekeliling, dan yang kulihat adalah bangunan yang penuh dengan tulisan ala cacing yang tak sedikitpun aku bisa tahu apa artinya.
Belum lagi, orang-orangnya yang juga tak ada yang bisa diajak berkomunikasi karena jaraaaang banget yang bisa berbahasa Inggris dengan cukup baik.

Pas aku iseng-iseng menanyakan kepada seorang pemilik toko souvenir,"Do you know any Indonesian restaurants around here..??" Dia dengan yakin langsung menanggapi positif,"Oh, Indonesia..!! Y%4dsrTr$3**7$%^)&4#%^@." Langsung ngoceh dia dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri. Aku hanya bisa berpandangan dengan heran dengan kawan-kawanku. "Opo karepe..???"

Masuk ke hotel, setelah diserahi kunci kamar, aku langsung menuju kamar (karena mau langsung berburu oleh-oleh… Khas, ya..!! Indonesia banget!!). Lha kok kunci elektronik itu gak bisa digunakan untuk membuka kamar. Rada jengkel juga sih. Tapi untunglah ada seorang  petugas housekeeping yang berjalan menghampiri aku.

"Can you help me..?" tanyaku.

"Oooh…you no enter room, hay ya..?" tanyanya dengan dialek yang khas.

Mati aku!! batinku dalam hati. Lagi-lagi, bahasa planetnya keluar!! Moga-moga aja dia bisa ngomong. Or at least, dia bisa mengucapkan sesuatu yang bisa aku pahami….

Dia langsung mencoba kunci elektronik yang ada di tanganku. Tapi tetap saja gagal. Kemudian, ia menggunakan kunci yang ada di sakunya. Dan, alhamdulillah, terbuka.

"Thank you," kataku sambil melangkah masuk ke kamar.

Eh, lha kok dia menahan langkahku dengan tangannya menahan bahuku.

"You..key..no…lobby..ok..?"ucapnya.

Pikirku, dia minta aku ke lobby dulu untuk mengurus kunciku yang bermasalah itu. Sialan, batinku menyumpah-nyumpah. Lha, gimana enggak, turun lift dari kamarku di lantai 26 ke lobby tentu makan waktu yang lumayan. Tapi, yaa, apa boleh buat. Aku pun melangkah menuju lift sambil ngomel-ngomel panjang pendek. Eeeh, lha kok dia malah menyusulku dan menahan bahuku lagi.

"You…room..ok..You…key…lobby…" ucapnya lagi sambil menunjuk-nunjuk aku, kunci di tanganku, kamar, dan lantai bawah. Waduuh, mati aku..!! Opo maneh karepe..??

Untunglah, Allah memberikan aku "pintu hidayah" dan menurunkan ilmunya. Aku jadi menangkap maksudnya. Aku pun langsung menyahuti. "Me..room..ok?" Dia pun dengan seketika mengiyakan dengan wajah berseri-seri.."Yes, yes, you…room..ok..!!"

Fiuhh…!!!! Rasa leganya luar biasa, bisa menyelesaikan sebuah proses komunikasi yang maha sulit itu…!!!

Jadi kepikiran juga. Apa begini ya, rasanya kalo kita berada pada sebuah "the world where we don’t belong". Apa begini rasanya kalo seorang manusia Indonesia yang gak bisa berbahasa Inggris trus dilepas sendirian ke dalam sebuah negara di mana orang-orang hanya bisa berbahasa Inggris..?? Selama ini sih aku belum bisa  merasakan hal itu. Aku anggap hal itu selama ini bukan menjadi masalah buatku. Dan kebetulan selama ini, negara-negara yang aku kunjungi adalah English-speaking countries, so I never had that kind of problems. Eeeh…..sekarang ini, baru deh terasa..!!!

Well, there must be first time for everything…!! That’s the lesson learned for the first day..!!

Kedekatan Hati

October 13th, 2006 by sonykusumasondjaja

Udah ada dua mahasiswa (dua-duanya anak 2003) yang bilang kalo aku terlalu dekat dengan mahasiswaku. Dan mereka juga bilang, gak seharusnya aku bersikap demikian karena entar mahasiswaku ngelunjak. Bahkan, ada yang bilang kalo ntar mahasiswaku ngelunjak, itu sebagian juga salahku, for being closer to my students.

Apa emang bener bahwa itu adalah permasalahannya..?

Kalo kita pikirin, kedekatan hati (dalam kasus dekatnya mahasiswa dengan dosen) itu adalah sebuah proses yang resiprokal. Alias timbal balik. Gak bisa seseorang mendekati orang yang emang gak mau didekati. Dan itu juga merupakan sesuatu yang terjalin dari sebuah proses interaksi yang intens. Kalo kita bergaul dengan orang yang sama, hampir tiap hari ketemu, hampir tiap hari ngobrol, tentu secara otomatis kedekatan itu tercipta. And, I believe, there is nothing wrong with it..!! Just as I believe that there is nothing wrong with the close emotional relationships I have with my students. Aku selalu percaya bahwa hubunganku dengan mahasiswaku, dekat, tulus, namun tetap terjaga jaraknya. Emang sih, jarak antara aku dengan mahasiswaku cenderung jauh lebih dekat dibandingkan dengan dosen lainnya. Dan itu sudah aku lakukan sejak aku ngajar mahasiswaku angkatan 1997..!!! Dan selama ini, hampir gak ada yang ngelunjak atau istilah Suroboyo-nya, ngelamak, tuh…!! Aman-aman aja (kecuali kasus yang kemarin aku tulis). Jadi, aku masih percaya bahwa kedekatanku dengan mahasiswaku, yang selama ini aku lakukan, dari dulu sampai saat ini, adalah sesuatu yang biasa saja. Murni dan tulus. Bagaikan teman. Atau bahkan saudara.

Tentu saja kedekatan itu tidak akan bisa menjadi alasan bagi seseorang untuk bisa bersikap seenaknya. Pikirin aja, kalian sendiri. Kalian tentu punya orang yang kalian anggap dekat di hati. Bisa pacar. Bisa saudara kandung. Atau sepupu. Atau malah sahabat. Bahkan mungkin juga kalian termasuk orang yang mudah sekali akrab dengan orang lain. Mulai dari saudara, kerabat lain yg lebih tua, guru, dosen, teman kampus, teman main, dan lain-lain. Apakah kedekatan kalian pada mereka itu boleh diekspresikan dengan cara yang sama..??? Jawabannya, tentu TIDAK. Kedekatan dengan om atau tante yg usianya masih muda atau sebaya dengan kita, misalnya, tentu harus diekspresikan berbeda dengan kedekatan kita dengan saudara sepupu kita. Meski sama-sama punya hubungan darah dan sama-sama sebaya, karena posisinya dalam keluarga berbeda, maka kedekatan emosional yang sama itu mestinya diekspresikan secara berbeda. Kalau enggak, ya kita akan dicap kurang ajar. Atau ngelunjak. Gitu kan..??

Sama juga dengan aku. Mahasiswa yang dekaaat banget dengan aku tuh buanyaaaak banget. Sebut aja nama Hersan, Rusydi, Iwan, Imam, Rani, Wowot, Aiman, Andry, Dody, Ferly, Bela, Ikhlas, Rusjdi, Ashwin, Rozak, (liat aja di profil teman-temanku) dan entah siapa lagi, yg saat kami semua belum nikah, seriiiiiiiing banget jalan bareng, nonton bareng, makan bareng, saling mengunjungi ke rumah, dan lain-lain. Pernah mereka kurang ajar sama aku..??? Gak pernah..!! Begitu juga mahasiswaku angkatan millennium, Ricky, Syaiful, Andri, Memed, Sigit, Ayukki, Citra, dan entah siapa lagi, mereka kayaknya udah kayak teman aja. Pernah mereka ngelunjak padaku? Gak pernah. Juga, yang sekarang lagi beredar, Suska, Dewi, Rini, Kokom, Bayu, Karti, Daniel, Hendri H, Tyas, Agus, Ongki, Glorya, Tara, Dony Habibie, (eh…siapa lagi, ya.??) semuanya dekat padaku. Apa ada udang di balik batu..?? Nggak. Aku yakin mereka tulus. Seperti juga aku pada mereka. Pernah mereka ngelunjak karena mereka dekat dengan aku..?? Nggak pernah tuh..!! (jadi, kasus yang aku tulis di posting beberapa hari yang lalu, jelas merupakan KASUS. Dan karena dari ratusan mahasiswa yang dekaaaat banget denganku, hanya beberapa gelintir yang bermasalah, aku masih yakin bahwa kesalahan itu bukan pada hubunganku yang terlalu dekat dengan mahasiswa)

Mereka gak pernah ngelunjak padaku. Trus, sebaliknya, apa aku pernah mengistimewakan mereka..?? Nggak juga. Imam Murtadho; yang sekarang jadi juragan cleaning service, dulu ngulang SIM 5X, meski dia dari dulu teman baikku. Hersan, Fajar, Dody, Ashwin, Alfie dan yang lain juga ALK-nya aku kasih nilai jelek, sampe mereka ngulang, meski kedekatanku dengan mereka kayak dekatnya aku dengan anak 2003 saat ini. Liat aja, Karti yang nilai Seminar dan PJ-nya jelek, meskipun kita dekat banget. Hendry Haryanto, anak keuangan 2003 juga pernah aku semprot keras karena telat ngumpulin tugas opini sampe dia bete abis, meski kami dekat banget. Belum lagi, anak lain, yang juga cukup dekat denganku, yang meskipun nangis-nangis minta dibebaskan dari tilang ujian akhir, gak aku gubris sama sekali. Aku tahu dan mereka tahu, bahwa ada saat di mana mereka bisa mendekat dan kapan mereka harus menjauh.

Kenapa yaa..kami bisa menjalin hubungan dengan begitu dekat, tapi juga begitu jelas batasnya. Karena ada yang namanya “TAHU DIRI”. Aku gak akan terlibat dalam hal-hal yang bukan untukku, meskipun aku sebenarnya sering diajak. Dan mereka juga tahu diri, kapan harus menjauh dariku. Itu sebenarnya kunci sebuah hubungan emosional atau hubungan persahabatan, persaudaraan, atau apapun namanya, yang sehat. Kunci keberhasilan sebuah hubungan emosional adalah hubungan itu haruslah sehat. Seperti halnya persahabatan antara dua orang yang sebaya. Kita tahu kapan boleh mendekat dan kita juga tahu kapan seharusnya menjauh. (apakah sahabat sejati adalah sahabat yang maunya dekaaaaaaaat…terus dengan kita seperti lintah..?? Gak juga kan?? Kita pasti mau sahabat kita juga memberi kita ruang untuk sendirian)

Jadi, sebenarnya kedekatan hati itu tidak pernah salah. Apalagi kalau itu murni adanya. Karena emang kita merasa bahwa jalinan persaudaraan itu berharga adanya. Dan menurut aku, tidak ada yang salah dengan kedekatan yang terlalu dekat. Apa salah kalau seorang anak terlalu dekat dengan ayah dan ibunya sampai mereka bergaul seperti teman sebaya..?? Nggak, dong. Yang salah, apabila salah satu pihak bersikap melampaui batas yang diatur oleh norma-norma dan etika yang berlaku.

Kalo kalian mau membuka mata dan telinga, kalian akan tahu bahwa aku bukanlah satu-satunya dosen di dunia ini yang punya kedekatan yang lebih dengan mahasiswanya. Di ITS juga ada. Pernah masuk Koran, malah. Di UI juga ada Faisal Basri, yang egaliternya malah lebih besar daripada aku. Tapi, coba tanyakan pada mereka, apakah mereka merasa bahwa kedekatan mereka dengan mahasiswa mereka adalah sesuatu yang salah..? Aku yakin, mereka akan merasa bahwa there will never be wrong for being close to the students.         

Buat Suska, Dewi, Rini, Karti, Kokom, Bayu, Adji, Agus, dan anak2 2003 yang sering cangkruk di TPSDP, main lagi doong..!! Moga-moga kalian juga merasa bahwa kedekatan kita itu istimewa, as I do. Dan keistimewaan itu adalah karena kita dekat banget tapi masih bisa menjaga sikap.   

Kurang Ajar atau Sakit Jiwa (Bag.2)

October 12th, 2006 by sonykusumasondjaja

Coba kalian perhatikan komentar yang masuk untuk tulisanku sebelumnya, bagian pertama dari tulisan ini. Rata-rata komentarnya senada. Cuma ada satu komentar yang defensif dan balik menyerangku dengan tajam. Kenapa ya….???????

Sebagai seorang manusia yang dikarunia akal dan budi, tidaklah seharusnya kita mengandalkan orang lain untuk menegur kesalahan kita. Adalah lebih utama apabila kita mau selalu mengintrospeksi diri dan mengenali kesalahan-kesalahan yang kita lakukan SEBELUM kesalahan itu ditemukan orang lain. Dan memperbaikinya, tentu saja…!! Bukannya terus malah bersikap defensif dan berbalik menyalahkan orang lain.

Jadi komentar Hendry yang berbalik menyalahkan aku, tentu tidak beralasan. Kenapa, yaa…karena tiap orang punya tanggung jawab atas apa yang ia lakukan sendiri. Kesalahan yang dilakukan oleh si mahasiswa 25 tahun yang aku ceritakan sebelumnya, misalnya, itu ya murni salahnya dia. Atau bisa jadi, salah orangtuanya. Bukan salahnya orang lain. Dan yang bikin heran lagi, masa sih kekurangajaran seperti itu, yang sebagian besar tentu menganggap kekurangajaran tingkat tinggi, tidak bisa dikenali..??? Dilakukan dua kali, lagi..!! Siapa pun yang membaca ceritaku di bagian pertama, tentu akan sepakat bahwa si mahasiswa 25 tahun itu adalah sosok yang menampilkan sikap kurang ajar dalam perilakunya. And, I think, he can not blame on anyone, but himself. Or his parents for not educating him properly.

Kalau kalian berbuat salah, dan tanpa berkata apa-apa tiba-tiba orang bersikap negatif pada kalian, yaa..jangan bilang "Kamu sih, gak bilang-bilang aku kalo aku salah!!". Itu lucu, dong…!! Salahkanlah dirimu sendiri yang kurang sensitif!! (Btw, aku masih heran lo, kalo ada manusia yang berbuat kurang ajar kayak ceritaku itu, terus masih merasa PERLU DIBERITAHU bahwa itu adalah sesuatu yang salah. Kayak di komentar tulisanku kemarin. Normalnya, kan orang yang khilaf berbuat dan berkata-kata kayak gitu, akan sadar dan menyadari kesalahannya. Terlepas apakah dia minta maaf apa enggak).

Mengutip kata-kata di sebuah iklan TV, "kalau pintar itu ditampilkan lewat hati, itu baru cerdas namanya". Di sini peran hati kita sebagai pengontrol semua tindakan itu penting sekali. Hati adalah pengendali tindakan kita. Hati adalah yang bisa membedakan apakah kita adalah orang yang peka atau pekok. Kalau emang hati kita bersih, kekhilafan sekecil apapun pasti akan langsung membuat hati kita terasa tidak nyaman. Sebaliknya, kalau hati kita kotor, mbok kesalahan segede apapun juga nggak akan berdampak apa-apa pada hati kita.

Menurut aku, jangan mengandalkan orang lain supaya mau menegur kita dong, buatlah supaya hati kita menyadari kesalahan-kesalahan yang kita buat. Allah menganugerahi kita hati untuk menyaring segala yang kita lakukan. Pakailah hatimu!! Gunakan apa yang sudah dikaruniakan Yang Kuasa padamu, untuk mengendalikan dirimu sendiri.!! Kita tidak akan bisa menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kita lakukan sendiri..!!

Oya, sedikit komentar buat Hendry. Aku tidak pernah berusaha membuat tulisanku bermutu atau tidak bermutu. Kebetulan aja banyak yang suka sama tulisanku. Buat aku pribadi, tulisanku di blog ini biasa-biasa aja. Gak ada kelebihannya. Tapi, bagi orang lain, mungkin inspiring. Ada juga yang bilang, memberi pencerahan. But, I actually never give a damn on what people think about my writings. Mungkin saja, Hendry menganggap tulisanku yang kemarin tidak bermutu, karena merasa jadi salah seorang terdakwa dalam tulisan itu. Iya, enggak..?? Ayo, jujur..!! But, I don’t give a damn on your comments. Mau anggap bagus, kek! Mau enggak, kek! Bodo amat. Cuma, aku menangkap subyektifitas komentarmu karena (kebetulan) kamu terlibat langsung dalam kasus itu.

Kalau dibilang bahwa tulisanku kemarin itu kasar dan tidak menunjukkan kaliber-ku yang sebenarnya, itu juga tidak aku pedulikan. Bodo amat!! Aku tidak pernah merasa punya kaliber. Coba deh, para fans blog-ku yang tercinta, kalau kalian perhatikan seluruh tulisanku, aku kadang menulis sesuatu dengan lembut mendayu-dayu. Bahkan sampe bikin orang menangis. Tapi, kadang juga berkata keras, tegas, sampe banyak yang enggak terima (he..he..jadi inget kasus IPK, nih..!!). Nah, masalahnya, yang aku hadapi kali ini adalah manusia-manusia yang nampaknya berhati keras dan tidak sensitif, yang mungkin tidak akan goyah dengan kalimat-kalimat yang lembut merayu. Dokter aja kalo ngasih obat, liat-liat pasiennya. Kalo sakitnya ringan, obatnya ringan. Kalo sakitnya parah, ya dosisnya diperkuat. Kan gitu..?? Jadi, yang namanya nulis juga liat-liat audiesnya dan juga liat topik yang diangkat.

Banyak sekali dosen FE Unair yang bilang bahwa mahasiswa FE Unair ini lagi "sakit hati". Dalam arti, gak tau sopan santun, gak tau etika pergaulan, gak tau tata krama, ya kan..?? Itu fenomena yang bisa kita lihat di lapangan. Aku pikir, kasus kepergoknya mahasiswa yang lagi ML di toilet kampus, atau beberapa mahasiswa yang ketahuan lagi "petting", "kissing", dan "touching" di koridor kampus pada jam kuliah, dan kejadian sehari-hari lainnya, merupakan bukti nyata bahwa mahasiswa FE Unair sedang mengalami masalah dengan hatinya. Dengan rasa malunya. Dengan akhlaknya. Dan aku ingin menunjukkan pada teman-temanku tercinta (termasuk yang jadi terdakwa dalam kuegate, tidurgate, dan dudukgate), terutama mahasiswaku yang lain, inilah beberapa contoh "sakit"-nya mahasiswa FE Unair. Harapanku apa? Yaa, supaya gak ada yang meniru. Atau kalau udah terlanjur meniru, ya diperbaiki. Kalau ternyata, yang aku jadikan contoh ternyata kamu, yaaa, anggap aja lagi apes…!!!

Aku tidak pernah menyalahkan atau menjelek-jelekkan orangtuaku. Sama sekali. Aku menjunjung tinggi kehormatan keluargaku dan orang tuaku. Dan juga kehormatan orangtua mahasiswaku. Justru mereka-mereka yang bertingkah laku tidak sopan, gak aturan, gak punya tata krama itulah yang tidak menghargai dan sengaja mempermalukan orangtua mereka sendiri. Kenapa? Dengan bertingkah laku seperti itu, otomatis mereka menunjukkan pada dunia dan berkata bahwa "inilah hasil kerja keras orang tuaku, mendidik aku, sampe jadi manusia yang gak punya aturan seperti ini". Iya, nggak..?

Pertanyaannya, kan, apa emang orangtuanya yang gak bisa mendidik anak mereka itu? Atau emang si anak yang pergaulannya rusak sampe gak bisa membedakan mana yang pantas dan mana yang nggak pantas? Coba, deh, kalian tunjukkan tulisanku kemarin pada orangtua kalian, trus bilang ke mereka "Pak, Bu, yang diceritakan di tulisan itu, yang sikapnya kurang ajar dan gak aturan itu aku, lho..!!" Kira-kira gimana ya respon mereka…????

Blog ini, Insya Allah, tidak menjadi fitnah. Kenapa? Karena yang aku sampaikan adalah kebenaran. Iya kan..??? Ayo, ngaku…!!! Tulisan kemarin aku rilis karena aku yakin banyak yang akan memperoleh pelajaran berharga dari kasus itu. Harapanku sih, terutama ketiga terdakwa di situ. Tapi, kalo emang terdakwanya merasa gak salah dan balik menyalahkan aku, yaaa….bodo amat!! Yang penting, aku mencoba supaya mahasiswaku yang (masih) manis-manis dan terjaga tutur kata dan perbuatannya, tidak ketularan virus berbahaya ini.

Ada media komunikasi yang sebenarnya pada prakteknya dipahami oleh manusia normal, terutama di Indonesia, khususnya di Jawa. Yaitu, media komunikasi non-verbal, seperti gesture, raut wajah, bahasa tubuh, dan lain-lain. Dalam budaya Jawa dan budaya ketimuran lainnya, komunikasi non-verbal bahkan menjadi alat yang lebih utama dibandingkan komunikasi verbal.

Aku sudah menyampaikan "pesan" melalui komunikasi non-verbal kepada ketiga terdakwa di tulisanku kemarin, bahwa "something is wrong". Aku nggak percaya kalau ketiga orang tersebut gak pernah merasakan bahwa sikapku kepada mereka berbeda dibandingkan sikapku pada mahasiswaku yang lain. Lebih kasar, lebih galak, lebih judes, lebih ketus, lebih kaku. Padahal biasanya, yaaaa….tau sendiri deh (Asli..!! Gakk enak ngomongnya, entar dikira narsis, kalo aku bilang diriku ini penuh perhatian, open-minded, nyantai, sabar, kalem, lembut..!! Biarlah orang lain aja yang ngomong, ya..? He..he..). Mestinya, orang yang punya hati yang cukup sensitif bisa menyadari perubahan itu dan bertanya-tanya "mengapa"..?? Apa salahku..?? Justru setelah semua komunikasi non-verbal itu tidak mempan (mungkin ya, karena hati mereka yang mengeras dan membatu itu..) aku gunakan komunikasi verbal. Yaitu melalui blog ini. Ingat, komunikasi verbal tidak harus dilakukan secara lisan. Bisa juga tulisan. Kenapa kok gak pake komunikasi lisan..?? Yaa, karena manusia yang aku hadapi berhati batu, daripada entar diajak ngomong lisan malah bikin sakit hati, ya udah…pake tulisan saja. Biar jelas semuanya. Dan, seperti yang aku bilang sebelumnya, biar semua orang juga mendapatkan pembelajaran bahwa ada pergeseran nilai-nilai moral, etika pergaulan, sopan-santun yang dipakai oleh mahasiswa dewasa ini. Biar para mahasiswaku yang manis-manis bisa terhindar dari virus maut ini. Lagian, toh aku tidak menyebutkan nama. Kalo ada yang ngaku (baik ngaku eksplisit maupun implisit), kan bukan salahku. Ya, nggak..???

Oke, deh..!! Moga-moga aja, ada yang bisa mendapatkan pembelajaran dari apa yang aku tuliskan. Biarpun cuma seorang… Itu pun sudah sangat berarti bagiku.

Kurang Ajar atau Sakit Jiwa..??

October 9th, 2006 by sonykusumasondjaja

Jam tanganku menunjukkan pukul 11 siang. Aku segera meninggalkan kelasku di MM-UNAIR dan menuju ke ruang kerjaku di TPSDP. Hari ini ada banyak hal yang perlu diurus berkaitan dengan keberangkatan beberapa teman ke New Zealand. Dari bawah, sudah terlihat bahwa ruang TPSDP nampak ramai dengan mahasiswa. Dan buatku itu wajar-wajar saja. Karena emang selama ini, ruang kerjaku sering dijadikan rumah singgah (eh..emangnya anak jalanan..?). Baik oleh mahasiswa yang lagi bete, lagi nunggu kuliah, lagi ngerjain tugas, lagi rendezvous ama si do’i, dan lain-lain. Buatku, kedatangan mereka selalu membawa keceriaan yang berbeda-beda.

Begitu aku masuk ruanganku dan hendak memulai aktivitasku siang itu, tiba-tiba saja gairah kerjaku merosot. Rasa jengkel bercampur sebal plus marah menggumpal menjadi satu..!! Apa sebab..?? Aku melihat ada seorang (mantan) mahasiswaku, 24 tahun, dengan asyiknya tidur menggeletak dengan menggelar kasur di ruang kerjaku. DI RUANG KERJAKU..!!!! Bayangin aja!! Di tengah orang-orang yang lagi sibuk bekerja dan beraktivitas, ada seseorang; yang sebenarnya adalah tamu di ruang kerjaku; numpang tidur..!!! Menggeletak tidur di lantai, menghalangi sebagian jalan, dan tanpa mempedulikan bahwa ini adalah kantor dan saat ini adalah jam kerja. Dan ini adalah kejadian kesekian-sekian kalinya di mana aku melihat dia melakukan hal itu (tidur menggeletak di lantai, pada jam kerja, di ruang kerjaku) dalam empat bulan terakhir ini.

Aku gak bisa membayangkan, apa sih yang ada dalam pikirannya…??? Pikirin deh!! Bayangin!!! Kamu datang bertamu ke tempat kerja temanmu. Temanmu itu udah biasa kamu kunjungi di ruang kerjanya. Suatu ketika, kamu datang pas temanmu lagi sibuk bekerja. Apa ya pantas kalo kemudian kamu numpang tidur di ruang kerja temanmu, saat temanmu sedang sibuk dan repot bekerja, banyak orang yang hilir mudik bekerja, sedangkan sebenarnya rumahmu sendiri gak jauh dari situ dan kamu sendiri gak ada alasan untuk gak pulang..??

Agaknya kebaikanku untuk membolehkan mahasiswa mendekat padaku, memasuki ruang kerjaku, dan lain-lain sudah mulai disalahartikan. Beberapa kekurangajaran nampaknya mulai berani ditampilkan. Mungkin dikiranya aku ini orang yang nggak bisa tersinggung. Mungkin juga dikiranya aku nggak bisa marah. Aku sendiri karena emang dasarnya gak biasa marah meledak-ledak, sehingga gak pernah bereaksi terlalu keras. Tapi, dari betapa dinginnya sikapku, dari betapa ketusnya kata-kataku, dari betapa judesnya pembawaanku, mestinya manusia yang punya hati bisa merasakan perubahan sikapku itu.

Yang lebih membuatku jengkel adalah selain kebiasaannya numpang tidur di ruang kerjaku itu, si mahasiswa tersebut ketika datang ke ruang kerjaku selalu membuat kotor…!! Memberantakkan segala sesuatu. Membuang sampah seenaknya. Meninggalkan kotoran seenaknya. Sehingga, setiap pagi ketika aku masuk ruanganku, aku harus menjadi kacungnya dan membereskan semua kotoran yang ia tinggalkan di ruanganku

Apakah sikap si (mantan) mahasiswa, 24 tahun, yang sengaja tidur di ruang kerjaku, saat jam kerja, saat aku dan yang lain sibuk dengan urusan pekerjaan yang memusingkan, adalah satu-satunya contoh kekurangajaran itu..?? TIDAK..!!!

Ada seorang mahasiswi, 22 tahun, yang sering datang ke ruang kerjaku. Bukan untuk bertemu denganku, tapi dengan Syaiful, rekan kerjaku. Dia selalu datang jam 9.30 pagi, duduuuuuuuuk………terus di samping Syaiful, ngobrolin skripsi dan entah apa lagi, dan dia tidak beranjak dari kursinya saaaaaampe… jam 12 siang. Setiap hari..!!!! Berulang-ulang…!!!! Dan setiap kali dia datang, tak pernah ada salam atau ucapan permisif yang terlontar dari bibirnya. Bluduuuuusss…masuk begitu saja, bagaikan seekor anjing yang menyelinap masuk ke dalam rumah tuannya..!!! Dan keluarpun, plasss…..keluar aja, bagaikan anjing yang berkeliaran mencari makanannya…!!! Tanpa ada kata-kata pamit pada orang-orang yang ada di ruangan itu seolah tak ada manusia yang pantas ia hargai di situ.

Oke, deh, masalah etiket gak usah dibicarakan. (Yaa…mungkin aja kan, ortunya gak pernah ngajari gadis itu etiket bertamu..). Tapi, kenyataan bahwa dia datang setiap hari, dari pagi saaaampee siang, hanya karena pengen duduuuuuuk……dan ngobrooooool……di tengah kesibukan pekerjaan yang kami hadapi setiap hari, terus terang sangat menyebalkan…!!! Bikin sepet mata..!!! Apa ya dia itu termasuk orang yang gak punya sensitivitas, bahwa kalo jam 9 itu adalah waktunya orang bekerja. Dan yang namanya orang bekerja itu gak pantes kalo ditungguin sambil ngobrol. Apalagi ngobrolin hal yang nggak penting…!!! 

Sudah kucoba menunjukkan sikap tak sukaku padanya. Namun toh, kecuekannya ternyata punya kekuatan yang maha dahsyat sehingga rasa tak sukaku ia anggap sebagai angin lalu.

Apa cuma itu contoh mahasiswa FE Unair yang sedang sakit jiwanya…??? TIDAK..!!! Masih ada lagi contoh betapa kurang ajarnya sebagian mahasiswa FE Unair yang sering dolan ke ruang kerjaku. Kali ini contohnya adalah seorang (mantan) mahasiswa, 25 tahun.

Pernah suatu hari, aku selesai menghadiri sebuah rapat dengan rekan-rekan dosen. Saat itu, kulihat ada banyak sekali kue kotak yang masih tersisa. Daripada mubazir, aku langsung meraup beberapa kotak yang masih terisi. Kupisahkan kue-kue itu ke dalam dua buah kotak yang lebih besar. Yang satu untukku, dan yang lain untuk para mahasiswaku yang sering mampir di TPSDP. Telah kutuliskan yang mana kotak kue milikku dan yang mana milik anak-anak; di bagian luar kotak kue itu, dengan tulisan yang besar-besar dan jelas. Kebetulan Syaiful, rekan kerjaku, lewat di depan ruang rapat. Kuberikan kedua kotak kue itu disertai pesan, bahwa yang satu ini milikku dan yang lain silakan dibagi bersama teman-teman mahasiswa yang lagi nongkrong di TPSDP. 

Alangkah terkejutnya aku, ketika aku kembali ke ruang kerjaku, kotak kue milikku sudah berkurang sebagian besar isinya. Yang lebih kurang ajar, yang hilang adalah kue-kue yang terenak dalam kotak itu…!!!! Hanya tinggal dua potong kue yang tersisa dari enam buah isinya semula. Dan, tanpa rasa bersalah sedikitpun, si mahasiswa 25 tahun tersebut mengaku kalau dialah yang mengambil kue-kue dalam kotakku itu dan melahapnya..!!! Sambil tertawa terkekeh-kekeh, dia bercerita dengan nada penuh kemenangan. Dan setelah puas ia tertawa, ia menyodorkan kotak kue satunya lagi, "Ini aja lho, pak, yang nggak enak aja buat pak Sony..!!"

Kau tahu, sejak saat itu rasa respekku pada si mahasiswa itu jadi hilang tak berbekas. Bukan karena beberapa potong kue yang harganya gak sampai Rp 2500 per potongnya. Tapi karena melihat betapa kurang ajarnya ia bersikap. Betapa tidak tahu adatnya, ia bertingkah laku. Dan betapa rendahnya sopan santun yang ia miliki.

Aku sendiri tak pernah berani membuka atau menggeratak barang-barang milik orang lain yang tergeletak di ruang kerjaku. Entah barang milik mahasiswaku atau milik rekanku. Karena aku tahu bahwa itu bukanlah hal yang pantas dilakukan. Tapi ini, dia yang notabene mahasiswaku, orang yang lebih muda dari aku, dengan seenaknya membongkar-bongkar barang milikku dan mengambilnya begitu saja. Tanpa rasa bersalah..!!! Bagiku, itu sebuah kekurangajaran yang luar biasa!!! Aku sendiri tak pernah bisa membayangkan bagaimana seseorang yang punya dua gelar S1 dari dua PTN bisa melakukan tindakan serendah itu..!!!

Dan, asal kau tahu saja, kejadian seperti ini berulang lagi dan melibatkan orang yang sama. Ya, si (mantan) mahasiswa 25 tahun itu..!!!

Ketika seorang rekan dosenku berulang tahun, ia merayakan dengan syukuran kecil di kampus. Tiup lilin dan potong kue disertai makan siang bersama dengan menu sederhana. Saat itu aku tak bisa menghadiri acara itu karena harus mengajar. Rekanku itu kemudian menyisihkan sepotong besar kue dan mengirimkannya untukku dan untuk mahasiswa-mahasiswa yang ada di TPSDP. Karena dia juga tahu bahwa ruang kerjaku banyak dikunjungi mahasiswa.

Saat itu, ruang kerjaku lengang. Tak banyak mahasiswa yang muncul. Hanya dua orang plus Syaiful, termasuk si mahasiswa 25 tahun tersebut. Lalu Syaiful pun membagi potongan besar kue itu menjadi beberapa bagian. Seorang satu bagian. Dan aku diberinya dua potong. Dan bisakah kau menebak apa yang terjadi..?? Mahasiswa 25 tahun tersebut dengan enteng, tanpa berkata apa-apa, meraup dua potongan kue yang  tersisa untukku dan membawanya pulang ke kos-kosannya…!!! Bisakah kau bayangkan dirimu akan bisa melakukan tindakan serendah itu..??!! Untungnya, sebelum keluar, aku sempat bertemu dengannya dan kemudian ia mengeluarkan kue-kue itu kembali sambil berkata dengan enteng,"Wah pak Sony datang, gak jadi pesta besar nih di kos-kosan..!!"

Rekanku yang mengirimi aku kue tersebut sempat tersinggung berat ketika aku ceritakan kejadian itu. "Lha wong, kue itu aku kirim buat kamu kok, lha ngapain dia ngerampok kue itu semua.. Kok gak tau malu banget sih..!!"

Heran aku..!! Bagiku, masalahnya bukanlah kuenya. Penghasilanku sendiri sudah sangat besar kalau cuma buat dibelikan kue-kue seperti itu. Masalahnya adalah betapa rendahnya sopan santun dan tata krama yang ia miliki…!! Betapa ia tidak menghargai orang lain, terutama orang itu usianya jauh lebih tua darinya..!! Apa emang mereka-mereka adalah produk gagal dari sebuah keluarga yang tidak bisa mengajarkan nilai-nilai etika pergaulan kepada anak-anak mereka? Apakah memang mereka dilahirkan dari orang tua yang memang tidak bisa mengajarkan nilai-nilai itu karena emang mereka sendiri tak punya nilai-nilai itu..?? Ataukah emang mereka sendiri yang memiliki kelainan dalam diri dan hati mereka sehingga tak mampu mengenali rasa malu dan rasa menghargai orang lain..??

Apa mereka tidak sadar bahwa apapun yang kita lakukan di masyarakat adalah perwujudan dari keberhasilan orangtua kita mendidik budi pekerti kita..? Keburukan budi pekerti yang nampak pada contoh-contoh di atas tidak lain merupakan bukti kegagalan mereka dan orang tua mereka dalam mempelajari dan mengajari nilai-nilai etika pergaulan, budi pekerti, sopan santun, dan tata krama yang baik.

Mudah-mudahan saja, tiga contoh di atas hanyalah kasus dan bukanlah potret buram mahasiswa FE Unair dewasa ini…

Bayu; Tamu Istimewaku

September 20th, 2006 by sonykusumasondjaja

Aku menuliskan namaku pada lembar kuitansi yang ada di halaman belakang brosur permohonan bantuan takjil dan penyaluran zakat fitrah. Pada hari-hari menjelang Ramadhan seperti ini, permohonan bantuan seperti itu emang banyak berdatangan ke rumahku, dan aku selalu berusaha semampuku untuk memenuhi permohonan itu. Dan malam ini kebetulan aku bertemu langsung dengan salah seorang panitia yang menyerahkan permohonan itu ke rumahku. Ia mewakili sebuah yayasan yatim piatu di daerah Sepanjang, Sidoarjo. Kuajak masuk ke dalam rumah sembari menyiapkan segala sesuatunya. Aku kadang heran, kok bisa-bisanya mereka nyasar datang ke rumahku padahal setelah aku tanya, pengurusnya nggak ada yang aku kenal. Namun, aku sih tidak terlalu hirau dengan hal itu. Yang penting, kalo aku yakin permohonan bantuan itu emang layak untuk diperhatikan, biasanya aku tak segan menyisihkan sebagian rizkiku untuk mereka.

Setelah kuserahkan sejumlah uang pada lelaki muda yang duduk di depanku, urusan "bisnis" pun selesai. Aku mempersilakan lelaki muda itu untuk menikmati minuman dan makanan ringan yang kusediakan. Beberapa saat kami membicarakan berbagai macam hal, mulai dari permohonan bantuan yang menipu masyarakat, tentang panitia pembangunan masjid yang gak tau aturan, dan banyak hal lain. Tampak jelas betapa cerdas lelaki muda itu berpikir dan betapa lugasnya ia berucap. Setelah beberapa saat bercakap-cakap, pertanyaan klasikpun keluar. 

"Anda sendiri masih sekolah atau sudah kuliah, dik?"tanyaku.

Ia tersenyum simpul. Tak langsung menjawab.

"Saya baru lulus SMU, pak. Tahun ini. Tapi saya nggak kuliah. Nggak ada biaya. Jadi, sekarang ini pagi saya belajar sendiri di yayasan, dan kalo sore dan malam saya cari uang. Ngasih les matematika untuk anak-anak SD. Yaah..buat nambah-nambah uang saku, pak," jawabnya ringan.

Aku sedikit terkejut. Meskipun anak lulus SMU nggak bisa melanjutkan ke bangku kuliah bukanlah fenomena baru di kota besar, namun tetap saja aku merasa sedikit terpukul. Belum pernah aku berbincang langsung dengan anak SMU yang gak bisa kuliah karena gak ada biaya. Dan entah kenapa, aku merasa tercengang. Tak pantas rasanya anak dengan kecerdasan seperti dia harus memupus habis harapannya untuk melanjutkan sekolah karena alasan biaya. Aku perhatikan dia lebih dalam sambil mendengarkan ceritanya.

"Saya sudah tak punya orangtua, pak. Ayah ibu saya sudah lama meninggal. Keluarga dekat juga nggak kenal dan nggak tau ada di mana. Selama beberapa tahun terakhir ini saya tinggal di yayasan anak yatim piatu ini (ia menunjukkan kembali brosur permohonan takjil tadi). Begitu lulus SMU, karena gak ada biaya, ya saya bekerja. Mau kuliah sih, tapi nggak mungkin. Siapa yang mau ngasih biaya? Lagian, rasanya malu kalo saya masih harus ngerepotin kakak-kakak saya di yayasan, minta uang buat biaya kuliah. Mending uang yayasan buat adik-adik saya sekolah SD atau SMP. Saya bahkan harusnya udah bisa menghidupi diri saya sendiri. Dan kalau bisa ya, membantu adik-adik saya sekolah. Ya hitung-hitung, sekarang ini giliran saya membantu orang lain, setelah bertahun-tahun saya dibantu orang…"

Tak urung, hatiku luruh mendengar ucapannya. Tak mampu menahan rasa haru yang meluap di batinku. Mataku terasa panas. Kucoba sekuat tenaga menahan air mata yang akan tumpah berderai-derai.

Kupandangi dia. Lelaki muda bertubuh kurus dan berkacamata yang ada di depanku. Dalam kegetiran hidup yang dia alami, tak sedikitpun kudengar nada penyesalan dalam suaranya. Ia tetap duduk dengan tegak. Tak menundukkan matanya sekalipun untuk menekuri nasib yang tak berpihak padanya. Begitu tegar ia menghadapi kenyataan hidup yang begitu jauh berbeda dengan apa yang dia harapkan. Begitu bijak ia menerima segala apa yang memang menjadi haknya, meskipun ada dambaan lain yang belum ia dapatkan dalam hidup ini. Begitu bersahaja!!

Dan ketika kuantar ia sampai ke pintu, kudoakan ia supaya bisa meraih harapannya. Kutanyakan padanya, apakah ia masih memiliki harapan untuk suatu waktu nanti bisa meneruskan pendidikannya.

"Terima kasih, pak, atas doanya. Bapak baik sekali. Tapi, rasanya saya harus siap dengan kondisi saya seperti ini. Saya tetap berdoa kepadaNya. Saya yakin, apapun yang saya dapatkan, Insya Allah itu yang terbaik buat saya. Dan saya siap, apa pun itu.."

Menggeletar hatiku mendengar jawabannya. Begitu sederhana hatinya, namun begitu agung. Betapa ia begitu penuh harap namun juga begitu pasrah. Kucoba menghapus bulir air mata yang sudah bertengger di ujung mataku. Kagumku melihat kedewasaan yang terlihat jelas pada diri lelaki muda yang usianya lebih muda belasan tahun dariku. Dan, perlahan aku pun bertanya dalam hatiku,"Ya Allah, sudahkah aku mensyukuri nikmatMu seperti lelaki ini..??"

Malam ini, aku kedatangan tamu istimewa, yang mengingatkanku untuk selalu menghargai dan mensyukuri kenikmatan sekecil apapun yang kuterima dalam hidup ini. Tamu istimewa yang mengingatkanku untuk senantiasa tegar menerima apa pun suratan takdir yang memang telah tergores untukku. Tamu agung yang telah menampar hatiku untuk senantiasa ingat bahwa masih banyak manusia lain yang tak seberuntung aku dalam hidup ini.

Terima kasih, Bayu; tamu istimewaku…

Datanglah di lain waktu. Aku perlu banyak belajar darimu…

C’est la Vie..!

September 17th, 2006 by sonykusumasondjaja

Banyak yang bertanya-tanya; bahkan sedikit menggugat, kenapa kok yang aku kritik dan kupas habis-habisan dalam banyak tulisanku adalah mahasiswa. Terutama dalam dua rilisanku yang terakhir. Mereka mempertanyakan mengapa tidak ada "gugatan" dan "kritikan" bagi universitas sebagai institusi yang mewadahi para mahasiswa tersebut. Dalam beberapa komentar, tertulis bahwa pihak institusi toh juga tidak mampu menampilkan kinerja yang memuaskan, baik karyawan non-akademik maupun para dosennya. Kenapa gak disorot juga..??

Sebenarnya jawabannya cukup sederhana. Alasan pertama, jelas karena aku adalah bagian dari sistem pendidikan di Indonesia, specifically FE Unair. Menyampaikan kritik tentang institusi tentu bukan di sini tempatnya. Tidak pantas rasanya kalo aku, meminjam istilahnya Adika, mencerca dari belakang. Maka komentar-komentar tentang institusi pun aku salurkan lewat wahana lain. Bukan di sini. Apalagi mengingat yang membaca tulisan ini sebagian besar mahasiswa. Lha buat apa aku; seorang dosen, mengkritik institusiku di forum yang audiens-nya mahasiswa..?? Tidak akan ada solusi dan benefit yang akan muncul. Mendingan aku keluarkan omonganku ke forumnya para dosen.

Ada alasan lain kenapa aku jarang sekali mengaitkan juuueleknya…prestasi mahasiswa FE Unair saat ini dengan kinerja institusi. Meskipun emang keduanya punya hubungan yang cukup erat. Mau tau alasannya? Aku ingin supaya mahasiswaku menyadari bahwa kondisi dan kinerja institusi yang buruk adalah situasi yang boleh dibilang sudah "given". Sudah ada sejak mereka belum masuk ke kampus ini. Sudah berurat berakar sejak aku sendiri masih kuliah di kampus ini. Kondisi yang sudah given ini tidaklah dapat dijadikan alasan di balik rendahnya prestasi mahasiswa akhir-akhir ini. Kenapa..?? Lha wong dulu, pegawainya juga orang-orang itu kok..!! Dosen yang dihadapi mahasiswaku juga dosen-dosenku dulu..!! Istilahnya, ini udah state condition.

Kalo ada yang nanya,"Yaa, gimana mungkin mahasiswa bisa berprestasi kalo kampusnya jelek layanannya, dosennya kalo ngajar seenaknya, dst dst..!!"

Emang bener sih. Cuumaaaa…..please, deh, jangan jadikan situasi dan kondisi yang kalian hadapi sebagai alasan di balik rendahnya prestasi dan kemampuan kalian..!!! Kenapa..?? Karena yang bertanggung jawab atas keberhasilan diri kalian adalah kalian sendiri. Yang akan memperoleh manfaat terbesar kalo kalian berhasil adalah kalian sendiri.

Dalam setiap kelasku, aku sering bertanya kepada mahasiswaku yang mengulang mata kuliahku lebih dari sekali. Kenapa dia gagal di mata kuliahku? Sedangkan tingkat kelulusan di setiap kelas yang aku pegang rata-rata 80%. Trus aku tanya lagi, siapa dosen yang paling mereka sukai. Setelah mereka memberikan satu dua nama dosen, aku tanya lagi, dapat nilai apa di mata kuliah dosen favorit kalian? Boleh percaya boleh enggak, aku belum pernah mendapatkan jawaban bahwa mereka (yang mengulang lebih dari sekali di kelasku, dan aku tanyain) bisa memperoleh nilai A, AB, atau B di mata kuliah yang diasuh oleh dosen yang mereka sukai. Lha terus, apa relevansinya kalo mereka kemudian mengeluh bahwa mereka harus berkali-kali mengulang mata kuliahku (sampai ada 2 orang yang tahun ini terancam DO karena gak lulus di mata kuliahku, dan 15 orang lainnya akan terancam juga kalo gak bisa lulus mata kuliahku tahun depan)..lha wong di mata kuliah yang dosennya mereka sukai aja mereka gak bisa dapet nilai yang lumayan..??? Dan, yang lebih aneh, mereka mereka yang ngulang berkali-kali itu berasal dari SMA Negeri di Surabaya, keluarganya rata-rata cukup berada, kebanyakan malah kuliah naik mobil, dan….mereka tidak dipusingkan karena harus bekerja. Mereka cuma kuliah thok..!!! Dan biasanya, mereka-mereka inilah yang cenderung menyalahkan dosen sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas jeleknya prestasi mereka.

Buat aku pribadi, orang yang cenderung menyalahkan lingkungan sekitarnya atas apa-apa yang gagal yang ia lakukan adalah orang yang tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Ia adalah orang yang hanya mengandalkan situasi dan kondisi yang kondusif untuk bisa maju. Orang yang tidak bisa berdiri sendiri. Selalu menggantungkan pada orang lain.

Aku sering menyampaikan di kelasku, "Jangan pernah bilang, bahwa kalian gagal dapat nilai bagus karena dosennya galak, judes, isinya marah-marah melulu, ngajarnya nggak enak, suasana kelasnya mencekam, tugasnya nggak diperiksa, atau alasan-alasan lainnya yang intinya adalah your performance is bad because other’s is bad as well..." Ini adalah sebuah prinsip hidup yang aku anggap sangat penting. Kenapa..??? Karena nantinya, entah di dunia pekerjaan atau di dunia profesi atau di dunia bisnis, kalian tidak akan dapat memilih kondisi yang kalian hadapi. Kalian mau tidak mau harus mampu beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang bagaimanapun jeleknya, agar kalian bisa mencapai apa yang kalian inginkan. Apa kalo kalian diterima kerja di sebuah MNC, dengan jenjang karir yang bagus dan reward yang lumayan, terus ternyata suasana kerja di sana tidak menyenangkan buat kalian, orang-orangnya nggak kalian sukai, dan lain-lain….apa kalian juga akan menyalahkan kondisi itu kalo kalian nggak bisa maju..?? Siapa yang akan mau peduli kalo kalian bilang,"aku keluar aja deh dari perusahaan itu, habis atasanku galak dan judes." Dalam hidup ini, kalian akan selalu menghadapi bahwa kalian berada dalam lingkungan yang tidak menyenangkan bagi kalian. Dan kalian harus hadapi itu!! Entah gimana caranya, pokoknya kalian survive dan mengatasi hambatan itu!! Seseorang yang menghadapi situasi dan kondisi yang tidak menguntungkan bagi dirinya hanya bisa memilih, mau keluar dari situasi kondisi itu, mau menerimanya sebagai bagian dari nasib, atau mau bersikap adaptif dan menyesuaikan diri.

Kalo emang kalian bener-bener gak cocok dengan situasi kondisi yang kalian hadapi, ya udah keluar aja dari situasi kondisi itu..!! Cari situasi dan kondisi yang lebih baik. Kalo dalam konteks FE Unair, aku yakin kok kalian bisa merasakan betapa jeleknya layanan FE Unair sejak kalian semester awal. Kenapa nggak keluar dari dulu aja..cari kampus yang lebih kondusif dan bener-bener sesuai seperti yang kalian harapkan…?? Kalo emang kalian nggak bisa pindah karena alasan switching cost yang tinggi, yaaa…itu pilihan kalian..!! And, as I told you repeatedly, you must be responsible with any choices you have made..!!  Kalo udah sadar bahwa kondisinya kayak gitu, yaa jangan cuma komplain aja donk. You must struggle for your own life..!! And that’s basic principle of life..!!

Mau menganggap bahwa kalian masuk FE Unair dan mendapat layanan yang buruk dari karyawan dan dosen adalah bagian dari nasib..?? Trus mengatakan pada dunia bahwa, kalian tidak bisa perform dengan baik karena kalian kuliah di kampus yang emang jelek..? Siapa yang mau tau akan hal itu..?? Apakah perusahaan yang kalian lamar akan peduli bahwa IP kalian jembrot karena dosennya nggak becus ngajar..?? Apakah rekan bisnis kalian akan peduli bahwa kalian nggak tau banyak hal tentang konsep-konsep aplikatif bisnis karena dosen kalian text-book oriented..?? No way..!! Kalo emang dosen kalian nggak becus ngajar, apa kalian udah berusaha keras untuk belajar sendiri..?? Memperkaya wawasan kalian sendiri..?? Memperluas pengalaman kalian sendiri..?? Kalau kalian emang mau jadi wirausahawan, apa kalian udah berupaya untuk melatih sense of business kalian..?? Sudah berusaha untuk mengasah jiwa itu dan menceburkan diri dalam kegiatan-kegiatan kewirausahaan…??

Intinya, APA YANG SUDAH KALIAN LAKUKAN UNTUK MEMPERBAIKI JELEKNYA SITUASI DAN KONDISI YANG KALIAN HADAPI, DEMI MASA DEPAN KALIAN SENDIRI..???

Mengkritik dan mencerca jeleknya layanan kampus dan tidak becusnya dosen mengajar memang wajar-wajar saja mengingat kalian (dalam konteks ilmu pemasaran) adalah pelanggan. Tapi, apakah itu cukup..??? Apa itu memberikan solusi buat kalian sendiri..?? Sekali lagi, yang bertanggung jawab atas diri dan masa depan kalian adalah kalian sendiri. Situasi dan kondisi yang negatif memang menjadi faktor yang tidak menguntungkan, namun aku selalu percaya bahwa situasi dan kondisi itu hanyalah supporting factors. Bukanlah faktor utama. Yang aku yakini adalah yang paling menentukan keberhasilan kita adalah diri kita sendiri (atas izin-Nya tentu saja..).. ..bukan orang lain..!!

Makanya kalo ada komentar-komentar yang berkata bahwa sekarang ini situasinya berubah, tantangan lebih banyak, sementara pihak dosen gak terlalu peduli pada mahasiswa, layanan karyawan juga nyebelin banget, dan mahasiswa dihadapkan pada berbagai macam kondisi yang bisa menggoyahkan motivasi mereka untuk maju dan berprestasi….aku selalu berpikir. C’est la vie..!!! Ya, inilah hidup..!!! Mau nggak mau, kalian harus hadapi. Siapapun di antara kalian yang bisa menemukan cara paling efektif untuk mengatasi situasi dan kondisi yang jelek ini adalah yang paling mampu bersaing di dunia bisnis dan dunia pekerjaan..!!!

Tiap jaman dan tiap generasi memang dihadapkan pada tantangannya sendiri-sendiri. Emang benar..!! Tapi tuntutan untuk menjadi manusia yang berhasil, lulusan yang berkualitas, SDM yang unggul, dan tuntutan-tuntutan lain dalam hidup tidak pernah berhenti…!!! Bahkan tuntutan itu makin tinggi saja..!! Dulu, tahun 1980an yang namanya mahasiswa kuliah di kampus itu diharapkan untuk lulus dalam waktu sesingkat mungkin, dengan nilai sebaik mungkin, dan dapat penghasilan setinggi mungkin. Tuntutan itu saat ini pun ada..!! Sama..!! Bahkan lebih ketat lagi. Kalo tahun 1980an, lulus dengan IPK 3,10 aja udah jadi lulusan ber-IPK tertinggi, akhir 1990an ketika aku wisuda, lulusan IPK di atas 3,5 bertebaran. Dulu, melamar kerja IPK 2,75 udah bisa dapat posisi bagus di perusahaan ngetop. Sekarang kalo belum 3,25 kayaknya masih agak sulit. Kalo dulu, nggak usah kuliah juga bisa bikin bisnis yang bagus dan hebat. Tapi sekarang, pengetahuan dan teori bisnis ternyata semakin diperlukan oleh wirausahawan sekalipun. See..?? Tuntutannya sama…!!! Dengan level of demand yang lebih tinggi.

Nah, kalo pasar tenaga kerja alias perusahaan-perusahaan pencari tenaga kerja hanya peduli bahwa you failed on your study dan tidak peduli you failed because your lecturers didn’t teach you well, so ngapain dari dulu kalian berkilah terus bahwa "harap maklum kalo IPK saya jelek, karena dosen saya nggak bisa ngajar..!!" Who cares..!! Bukankah sebaiknya, kalian mulai belajar menerima jeleknya kualitas dan layanan dosen dan karyawan kampus sebagai hambatan dan kalian cari gimana caranya supaya hambatan ini tidak menyebabkan kalian meraih prestasi studi yang buruk.

Aku tidak menulis rilisan ini untuk membuat pembelaan atas jeleknya kualitas layanan dosen dan karyawan. Aku tau juga bahwa kualitas layanan dosen dan karyawan FE Unair masih jauh dari menyenangkan. Namun, aku ingin, supaya mahasiswaku bisa menganggap hambatan-hambatan ini sebagai kondisi yang harus mereka hadapi dan pecahkan agar tujuan hidup mereka bisa tercapai dengan baik. Yakin deh, selama kalian masih melulu menyalahkan dosen dan karyawan atas jeleknya prestasi kalian..maka kalian tidak akan bisa memperbaiki kinerja kalian sendiri..!!

So, start thinking on how you can perform well in your study…!! Please stop blaming others and try to be more responsible for your own sake..!! You are the only one who is responsible for your own future and no one else is.

Quo Vadis? (Tanggapan Komentar)

September 12th, 2006 by sonykusumasondjaja

Menanggapi komentar yang muncul di Quo Vadis….

Kutipan dari komentarnya Adika

"…jadi untuk mereka yang dianugerahi otak yang cemerlang tidak semestinya mengejek dan mencerca mereka yang tidak mampu bersaing di bidang akademis…..Apa sih alasan mahasiwa ber-IPK 2 masuk ke FE Unair..pasti karena dorongan gengsi, tuntutan orangtua, atau sebab-sebab lain dan bukan karena haus akan ilmu, atau merasa bahwa di kampus Unair mereka akan menjadi manusia yang lebih baik. Sebagai seorang yang berprofesi dosen maka tidak baik jika hanya diam dan mencerca dari belakang, sebaiknya harus berdiri paling depan mencegah kampus ini dimasuki manusia-manusia muda yang tidak mampu berkompetisi di dalam kemampuan akademik."

Kalo kalian amati dengan cermat, tulisanku Quo Vadis itu sama sekali tidak mengejek atau mencerca mereka-mereka yang kurang secara akademis. Aku hanya mengungkapkan fakta (yang ada data otentiknya) dengan gamblang…!!!  Adalah kenyataan bahwa itulah profil mahasiswa aktivis kita saat ini. Apakah kenyataan itu dianggap sebagai sesuatu yang pahit atau tidak, itu kan kembali pada individu masing-masing, kan..?

Masalahnya adalah, profil itu, yang aku ungkapkan dengan gamblang tadi, tidak disadari oleh banyak orang..!!! Emang pahit, dan pedasnya luar biasa tulisanku itu. Tidak banyak yang tahu gimana sih profil mahasiswa FE Unair saat ini. Tidak banyak yang tahu, apakah mahasiswa aktivis itu memang terdiri dari mereka-mereka yang cukup berhasil secara akademis. Tapi, aku tahu, karena emang kerjaanku adalah melakukan riset atas hal-hal itu semua. Tapi, karena aku menuliskannya dengan nada yang sangat gamblang, kayaknya terkesan seperti mencerca. Padahal, karena apa yang aku tulis itu didukung data otentik dan angka-angka resmi, maka itu bukan cercaan. Itu pengungkapan. Sama seperti seorang jaksa yang mengungkapkan apa yang telah dilakukan oleh terdakwa.

Setau aku, Adika hanya ikut satu mata kuliah yang aku pegang, yaitu SIM. Di semua mata kuliah yang aku pegang, aku selalu menekankan pentingnya soft-skills. Dan di sini, aku tidak tinggal diam. Aku tidak tinggal diam dan hanya mencerca dari belakang…!! Itu statement yang salah dan menyakitkan, karena aku sama sekali tidak tinggal diam, atau mencerca dari belakang.

Justru kalo aku bilang, komentar Adika yang terlalu emosional karena TIDAK MELIHAT DAN TIDAK MENGETAHUI APA YANG SUDAH AKU LAKUKAN UNTUK MENGUBAH PROFIL ITU…iya kan??? Apa yang aku lakukan dan ucapkan di kelas dan di rapat-rapat dosen..?? Apa yang aku rancang dalam program perkuliahan..?? Sekarang, coba deh, dalam kelasku yang banyak presentasi, kebanyakan mahasiswaku yang kebanyakan juga aktivis justru tidak bisa mengungkapkan pendapatnya dengan baik (termasuk Adika, kayaknya, ya..?? Dulu Adika dapet nilai A di SIM hanya karena topik yang diangkat bagus, tapi komunikasinya n ngomongnya kan kurang bagus n kurang terstruktur. Itu pula yang membuat Adika cuma dapet nilai B di ujian skripsi)…. Kalau saja Adika mau mencari tau apa saja yang sudah aku lakukan untuk mahasiswaku, niscaya kamu nggak akan membuat statement menyakitkan seperti yang kau tulis di atas.. (aku rasa aku tidak pernah mencerca di belakang, aku selalu mencerca di depan…!!!)

Kemampuan menuliskan pendapat secara obyektif kan juga menunjukkan kedewasaan emosional seseorang. Apakah seseorang tersebut mampu menyampaikan pendapat secara logis, tidak emosional, rasional, dan didukung data dan fakta yang akurat, atau asal menulis saja tanpa ada back-up argumen yang bisa dipertanggungjawabkan… Kita kan masyarakat ilmiah, rek..!! Masa udah sarjana, bicaranya gak pake data…malu-maluin Unair aja dong…!

Komentar dari Ulan juga bilang bahwa orang-orang jadul belum tentu bisa menghadapi kompleksitas milenia hari ini, begitu juga sebaliknya… (He..he..ternyata aku udah termasuk orang jadul, ya..??)

Justru itu yang aku herankan…!!! Aku sering berkata di kelas, mahasiswa FE Unair masa kini, sudah dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas, mulai dari Internet gratis, koleksi buku melimpah, jurnal gratis, ada semester pendek, ruang kelas ber-AC, dan sebagainya. Dulu, kalo mahasiwa mau nulis skripsi dan butuh jurnal, pasti semua mahasiswa akan berkunjung ke Petra, karena saat itu Unair hanya punya koleksi jurnal tahun 1970an. Kalo butuh buku baru, lari ke library-nya Ubaya, karena Unair masih belum ada ruang baca. Di perpustakaan pusat Unair pun bukunya usang dan penuh debu. Internet masih mahal..!! Apalagi jurnal elektronik. Bandingkan dengan kondisi saat ini. Sekarang sudah begitu banyak buku diterjemahkan, mau beli text book asli pun gampang sekali… Pokoknya begitu banyak kemudahan yang sudah dapat dirasakan mahasiswa sekarang.

Tapi, bagaimana prestasi akademis mahasiswanya…???? TURUN DRASTIS…!!!! Delapan sampai sepuluh tahun yang lalu, tiap angkatan pasti menelorkan lulusan ber-IPK 3 minimal 50%. Sekarang…????? Dari 300 mahasiswa, paling banter hanya 50 orang yang dapet IPK 3. Sebagian besar malah bergelimpangan di area di bawah 2,5….lebih dari 50%…!!!! Mengapa justru mahasiswa yang berada dalam kondisi dengan fasilitas yang serba berkecukupan justru menunjukkan prestasi yang sangat merosot…???

Angkatan tahun 2000 dan 2001 tuh (era-nya Budi Purwono, Ayu, Sotya, dll) yang namanya mahasiswa masih terlihat sangat sangat aktif kalo udah ada di kelas diskusi. Kelasku itu sampe harus dihentikan dengan terpaksa, karena udah mau dipake kelas pada jam berikutnya. Kalo dibiarin aja, mungkin dari sore sampe malem, kuliah diskusinya gak berhenti. Seruuu…banget!!! Tapi, sekarang…??? Melempem kan…?? Padahal mata kuliahnya sama, dosennya sama, materinya sama, jumlah mahasiswanya sama, ruang kelasnya pun sama…!!

Dulu, yang namanya kursus bahasa Inggris tuh jaraaang banget dan mahaaal banget. Tapi kenapa justru mahasiswa2 jaman dulu lebih jago bahasa Inggrisnya dibanding anak-anak sekarang. Padahal sekarang udah banyak lagu dan film berbahasa Inggris yang masuk. Kursus juga sudah cukup murah dan tersebar ke mana-mana. Buku-buku asing lebih banyak. Dan lain-lain..!! Tapi, kenapa dari sekian ratus mahasiswa kok cuma sedikiiiiiiit….. banget yang bisa bahasa Inggris dengan cukup baik.

Kalo mahasiswa mau jujur pada diri mereka sendiri, sebenarnya mereka punya banyak peluang yang bisa mereka manfaatkan. Tapi, kesannya mereka sudah terlalu dimanja dengan berbagai fasilitas yang enak-enak dan nyaman sehingga fighting spirit itu sudah luntur..  Itu yang aku tidak bisa terima..!!!

Pernahkah kalian ini berpikir, bahwa untuk tingkat nasional, mahasiswa FE Unair udah jaraaaaangg banget yang bisa berprestasi. Tiap ada event kaliber nasional yang berbau akademis, kita seringkali kalah dari Unibraw…!!! Bayangin coba..!! Apa itu masih kurang menunjukkan bukti betapa banyaknya hal yang perlu diperbaiki dari mahasiswa kita.

Beda dengan Adika, kayaknya (dan mestinya) Ulan tau bahwa aku udah berbuat cukup banyak untuk meningkatkan kualitas mahasiswa FE Unair. Tapi, usaha yang berasal dari satu pihak itu tidak cukup..!!! Masalahnya sekarang, apakah emang mahasiswa kita udah sadar bahwa ketika mereka lulus nanti, mereka akan menghadapi kondisi pasar kerja yang luar biasa kejamnya…????

Saat ini, 85% posisi manajerial perusahaan terkenal di Indonesia sudah diduduki oleh sarjana dan master lulusan luar negeri. Dan mereka bukanlah orang Indonesia, tapi warga negara India, China, Hongkong, Thailand, Philipina, Vietnam, Malaysia, Bangladesh, Pakistan, bahkan…dari Myanmar…!!!! Kenapa mereka lari ke Indonesia..??? Ya, itu tadi, karena mereka tahu bahwa SDM Indonesia tuh kualitasnya jelek…!!! Manja, minta bayaran mahal, tapi gak punya skill yang mumpuni..!!  Banyak ngomong muluk-muluk tapi enggak ada isinya..!! Itu masukan dan kritikan dari seorang manajer perusahaan asing buat FE Unair, lho..!!

Nah, kalo kondisi di lingkungan sudah sebegitu sengitnya, persaingan bisnis sudah begitu kejamnya, apa perlunya mahasiswa-mahasiswa yang akademisnya pas-pasan itu menghambur-hamburkan waktu untuk kegiatan yang kurang bernilai tambah untuk masa depan mereka..??? Coba deh, tanya sama mahasiswa aktivis di FE Unair yang IPK-nya 2 koma, berapa banyak di antara mereka yang menutupi kekurangan IPK mereka dengan kemampuan bahasa Inggris yang bagus, atau dengan kemampuan lain seperti perpajakan, financial planner, statistika, dan lain-lain…???? Aku kok yakin, jawabannya akan sangat mengecewakan..!!!

Tulisan ini, dan tulisan sebelumnya, memang ditujukan untuk mereka yang masih belum sadar. Apakah harus begitu pedasnya..??? Ya, harus..!!! Ibaratnya, membangunkan orang yang tertidur lelap dan bangun kesiangan dan sulit dibangunkan, yaaa…caranya ditampar aja, atau diguyur air seember…!!!! Kalo orang yang terlena dalam tidurnya, dan dia harus cepat bangkit, terus dibangunkan dengan cara diusap-usap dengan halus, yaaa…..gak bangun bangun deh..!!

Aku sadar, bahwa tidak semua orang bisa menerima apa yang aku sampaikan. Tapi, kalo ada satuuu…. saja mahasiswaku yang membaca tulisanku ini, lalu tergerak hatinya dan mengubah hidupnya dengan sungguh-sungguh, itu sudah cukup bagiku…!!

Quo Vadis?

September 11th, 2006 by sonykusumasondjaja

Lulusan yang laris diserap oleh pasar kerja adalah lulusan yang memiliki kualitas akademis bagus (IPK-nya minimal 3,0), punya kemampuan berbahasa Inggris yang cukup baik, punya pengalaman berorganisasi, punya kemampuan komunikasi dan interpersonal yang hebat, dan punya kemampuan untuk mengatur dirinya sendiri dengan baik. Secara teknis, mungkin gambarannya seperti itu, meskipun tidak sama persis.

Lulusan yang lain, yang lebih suka menjadi wirausahawan, juga dituntut untuk punya kelebihan. Mereka dituntut untuk punya kemampuan konseptual yang kontekstual (tapi tidak dilihat dari IPK), sense of business yang tinggi, kemampuan menyusun planning yang hebat dan tepat, kemampuan komunikasi dan interpersonal yang unggul, punya fighting spirit yang luar biasa, dan in many occasions punya kemampuan bahasa Inggris yang memadai.   

Para mahasiswaku tersayang, sebagaimana mahasiswa pada umumnya di masa aku kuliah S1 dulu, adalah orang-orang yang penuh vitalitas, penuh keceriaan, penuh semangat, dan punya banyak keinginan. Mereka saat ini terlibat dalam berbagai macam kegiatan yang luar biasa banyaknya. Organisasi yang mereka libati pun buanyak banget, mulai dari BEM, HIMA, SKI, Fosma, forum-forum kajian ilmiah, dan serangkaian organisasi ekstra kampus lainnya. Dan, sebagai orang yang pernah merasakan manis pahitnya kehidupan berorganisasi, aku tahu pasti bahwa hidup berorganisasi memang sesuatu yang layak untuk diicipi karena begitu manis rasanya.

Namun, ada beda antara kehidupan mahasiswa aktivis ormawa dewasa ini dengan, yah..katakan sepuluh tahun lalu. Di masa lalu, mahasiswa aktivis ormawa sering kali identik dengan mahasiswa yang memiliki prestasi akademis yang tinggi. Dan itu bukan hal yang disengaja. Artinya memang mahasiswa yang memiliki prestasi unggul-lah yang melibatkan diri untuk aktif dalam organisasi. Ada juga sih, yang IP-nya tidak terlalu bagus; cuma IPK 2,5, yang ikut-ikutan aktif, namun jumlahnya tidak terlalu banyak. Yang lainnya, yang IPKnya pas pasan merasa cukup sadar diri bahwa mereka lebih baik memusatkan diri pada studi mereka saja. Anehnya, justru mahasiswa aktivis-lah, yang lebih banyak repot dan lebih banyak kegiatannya yang biasanya lulus duluan (karena emang pada dasarnya mereka punya kemampuan akademis yang bagus).

Kalo aku liat sekarang ini, waduuuh…..yang aktif di ormawa kok justru mereka yang IPK-nya pas pasan yaaaa…..?????????? Buuuaanyak yang langganan dapat IP di bawah 2,5 yang melibatkan diri di ormawa. Bahkan di antara mahasiswa yang sangat aktif, sedikit banget yang punya prestasi akademis yang berkilau. Dalam konteks kepanitiaan, waah…malah lebih parah…!!!! Liat aja aktivitas PIKMEN kemarin. Panitianya, dari yang paling atas sampe paling bawah, kebanyakan justru dari kalangan mahasiswa ber-IPK pas-pasan. (Apa emang ini ya, positioning-nya ormawa FE Unair saat ini?). Yang lebih parah,  aku bahkan tau sendiri bahwa beberapa mahasiswa yang namanya sudah masuk dalam Daftar Mahasiswa yang Diusulkan untuk Mendapat Sanksi Drop Out tahun ini, masih asyik berkeliaran ngurusin PIKMEN. Beberapa di antara mereka bahkan masuk dalam Tim Evaluator, yang tugasnya mengoreksi kesalahan mahasiswa dan memberikan bentakan-bentakan manis (apa ya nggak malu ya…??? wong dirinya sendiri hampir kena DO kok mengevaluasi orang lain..!! atau mungkin di rumah, mereka gak punya cermin?). Atau kalo ngeliat acara MNC atau Malam Keakrabannya mahasiswa baru Manajemen. Sebagian besar senior yang lantang berteriak-teriak kepada para mahasiswa baru adalah mereka yang IPKnya di bawah 2,75…!!! Bahkan buanyak yang cuma punya IPK berkisar 2,2 atau 2,3..(aku tahu pasti IPK mereka karena kebetulan aku punya daftar nama mahasiswa dan IPK yang mereka capai sampai semester ini)…. Memalukan banget, deh..!!! Aku gak yakin, mereka mau dengan suka rela dan lantang menyebutkan berapa IPK mereka di depan mahasiswa baru….abis, emang mereka mahasiswa level bawah, kok..!! Bukan mahasiswa pintar!! Udah IPK-nya pas-pasan, kalo ngambil mata kuliah harus ngulang berkali-kali sebelum bisa dapat nilai C, eeeh…..studinya molor lagi..!! Isiiin reeek…!!!!

Nah, yang menjadi pertanyaanku adalah, sebenarnya apa ya yang mereka cari dalam kehidupan kemahasiswaan mereka? Dalam bayanganku, kehidupan menjadi mahasiswa adalah moment yang sangat menentukan dalam pembentukan diri dan pribadi kita, sebelum kita terjun ke dunia yang lebih keras dan kejam, yaitu dunia pekerjaan. Apabila kita tidak menyiapkan diri dengan baik, membekali diri dengan sebanyak mungkin keahlian, kemampuan, ketrampilan, maka kita tidak akan punya kesempatan untuk mengulang masa-masa lalu dan memperbaikinya. THERE’S NO COMING BACK..!! IT’S ONE WAY TICKET, BABY..!!

Mahasiswa yang aktif di ormawa memang akan memperoleh pengalaman berorganisasi. Tapi, apakah dengan itu mereka akan dapat menjadikan diri mereka seseorang yang punya keunggulan kompetitif di pasar kerja…??? Bisa ya, bisa enggak. Liat aja..!!

Apakah mereka yang aktif di ormawa adalah mahasiswa yang ber-IPK 3..?? Sebagian besar saat ini, TIDAK..!! Bahkan lebih banyak yang IPK-nya bergelimpangan di level 2,1 sampai 2,3. Apakah mereka yang aktif di ormawa adalah mahasiswa yang punya kemampuan berbahasa Inggris yang bagus..?? Hampir semuanya, TIDAK..!!! Jaaaaraaang banget mahasiswa aktivis saat ini yang punya kemampuan bahasa Inggris yang bagus. Sebagian besar hanya bisa ngomong YES, NO, atau I LOVE YOU aja. Boro-boro mau ngomong bahasa Inggris, ngertiin maksudnya lirik lagu bahasa Inggris aja gak bisa kok..!! Apakah mereka yang aktif di ormawa bisa menjadi orang yang punya sikap kepemimpinan yang bagus, kemampuan presentasi yang tinggi, dan kemampuan komunikasi yang hebat..?? Sebagian besar, jawabannya masih TIDAK..!! Sebagian besar mahasiswa aktivis saat ini masih menjadi laid-back people yang nggak bisa ngomong di depan publik dan nggak bisa menyampaikan pendapat dengan sistematis dan konsisten. Kebanyakan mahasiswa aktivis ketika presentasi di kelas masih menunjukkan bahwa mereka adalah mahasiswa kualitas diskonan dalam hal communication skills. Apakah mahasiswa yang aktif di ormawa adalah orang-orang yang mampu mengelola dirinya sendiri..?? Sebagian besar jawabannya, TIDAK…!!! Liat aja, di antara mahasiswa aktivis, masih buaanyak yang IPK-nya pas-pasan karena terlalu asyik berorganisasi (bukan karena gak mampu atau karena bekerja). Masih buanyak yang kena tilang karena terlalu sering membolos. Masih buanyak yang kalo masuk kelas terlambat. Masih banyak yang nggak tau kapan waktunya belajar dan kapan boleh ngurusi organisasi. Apakah mahasiswa yang aktif di ormawa adalah mereka yang punya bakat untuk menjadi wirausahawan? Mungkin aja, tapi yang jelas sampai sekarang mereka yang aktif di ormawa belum pernah atau jaraaang sekali mengasah kemampuan entrepreneurship mereka…!!! Mereka jarang mengasah sense of business mereka. Dan mestinya, ketika mereka aktif di ormawa, waktu yang mereka miliki untuk mengasah jiwa kewirausahaan jadi berkurang kan..??

Lha kalo sudah gitu, mau jadi apa…???? Apa mahasiswaku tersayang ini mau jadi lulusan yang serba nanggung…??? Lulusan yang mau masuk jadi karyawan perusahaan top, IPK-nya hemat banget. Mau jadi wirausahawan, sense of business gak punya. Mau jadi dosen, gak bisa public speaking. Yaaa…kalo mahasiswi sih enak, kalo emang gak punya "apa-apa" yang bisa dijual ke pasar kerja, sih, udah….kawin aja cepat-cepat, punya anak banyak, jadi ibu rumah tangga, beres..!!! LHa kalo mahasiswaku, yang cowok-cowok, kalo mereka jadi lulusan yang serba nanggung, mau dibawa ke mana hidup mereka kelak..?? Mau dibawa ke mana masa depan keluarga (anak istri) mereka kelak, mengingat merekalah pemimpin keluarga?? Apa mereka emang orang yang nantinya hanya bisa pasrah kalo ijazah S1 mereka hanya bisa mereka gunakan untuk melamar pekerjaan menjadi salesman door to door? Atau pegawai rental komputer? Atau buka warung kelontong kecil di kampung?

Sedih banget, kalo aku memikirkan mereka..!! 

Ada begitu banyak kesempatan yang bisa diambil saat ini. Ada begitu banyak hal yang harus disiapkan saat ini agar masa depan bisa lebih bagus dan tertata rapi. Ada begitu banyak hal yang harus dibenahi dan dihilangkan agar masa depan mereka bisa lebih cerah dan menjanjikan. Tapi, berapa banyak di antara mahasiswa yang sadar akan semua itu..?? Kapan mereka akan sadar bahwa besok mungkin sudah sangat terlambat…???

Ospek

August 29th, 2006 by sonykusumasondjaja

Agak heran juga aku mendengar bahwa di almamaterku tercinta, ternyata masih juga berlangsung yang namanya Ospek..!! Sejak kepulanganku dari Australia setahun yang lalu, semula aku menduga bahwa kegiatan Ospek (yang entah apa namanya kini) itu sudah dihapus total dari bumi Airlangga. Eee…ternyata kok enggak, ya? Ternyata, aktivitas yang diusung sejak jaman Orde Lama itu masih dipraktekkan oleh mahasiswa-mahasiswa FE UNAIR yang (mengaku) berasal dari golongan beradab dan intelek.

Sejak aku masih aktif di BEM atau OSIS (pas di SMP dan SMA), aku memang termasuk orang yang menentang Ospek. Kenapa..? Karena, yang namanya Ospek itu pasti dekat dengan aksi kemarahan, aksi bentak-bentakan, dan aksi-aksi lain yang jelas-jelas overacting.

Dulu, pas aku pegang pucuk pimpinan di BEM maupun OSIS, aku selalu berusaha keras supaya acara yang namanya Ospek itu kental dengan irama kekonyolan dan keakraban. Bebas dari kekerasan, baik kekerasan fisik maupun kekerasan mental. Hukuman yang aku berikan pada adik-adik kelas pun tidak ada satupun yang berbau kekerasan. Semuanya fun, lucu, menyegarkan, baik buat aku (sebagai pelaku) maupun bagi si adik manis (sebagai korban).

Sama sekali aku gak menyangka bahwa di era milenium saat ini, model Ospek jaman baheula masih diterapkan di FE UNAIR. Emang sih, hukuman fisik seperti push up atau squad jump udah gak ada lagi. Tapi ada bentuk kekerasan lain yang dipraktekkan di FE UNAIR, yaitu kekerasan mental. Main bentak-bentakan, lah..!! Marah-marah lah!!

Kalau kita mau jujur pada diri kita sendiri, apa sih yang bisa diperoleh dari semua aksi overacting tadi…?? Kata mereka-mereka yang tergila-gila dengan Ospek sih, acara Ospek tuh bisa mendekatkan diri antara senior dengan anak baru. Ada juga yang bilang, Ospek tuh bisa membuat mahasiswa baru cinta almamater. Apa iya..?? Apa bener..?? Ayo, coba jawab…!!!!!

Apa memang Ospek itu berangkat dari niat tulus senior untuk membimbing adik-adiknya menjadi seseorang yang punya pemikiran dewasa?? Apa memang Ospek itu melatih mahasiswa baru untuk jadi seorang yang cinta almamater???

BULLSHIT..!! BULLSHIT..!! BULLSHIT..!!

Kalo emang, Ospek itu diadakan supaya mahasiswa cinta almamater, apa relevansinya acara bentak-bentakan itu..?? Bahkan, apa perlunya sampe Panitia Ospek FE Unair (namanya PIKMEN, ya…??) menyediakan satu ruang khusus yang digunakan untuk melakukan aksi bentak-bentakan tadi..?? Apa hal itu bisa membuat mahasiswa baru jadi cinta almamater? Apa bisa buat mereka jadi lebih dewasa?

Saya lulusan FE-UNAIR yang tidak pernah sama sekali merasakan aksi Ospek, karena saya emang sengaja bolos pas acara bentak-bentakan itu.. Tapi, sekarang saya sangat cinta pada almamater saya ini…!!! Saya sudah berbuat cukup banyak bagi almamater saya ini. Kemudian, saya lulusan University of New South Wales yang juga tidak pernah merasakan Ospek, karena emang di sana gak ada acara Ospek. Apalagi yang modelnya kayak di FE UNAIR ini. Tapi, sampai saat ini saya bangga pada sekolah saya tersebut..!! Coba, tanyakan pada mereka-mereka yang lulus dari Harvard, dari NUS-Singapore, dari Tammasat Uni-Thailand, dari Univ of Melbourne, dari Monash, dari UCLA, dari Erasmus-Belanda, …….apa ada di antara mereka yang merasakan "manis"-nya dibentak-bentak senior dalam acara Ospek..?? Jawabannya pasti TIDAK…!!!! Karena emang di luar negeri, gak ada yang namanya acara konyol seperti bentak-bentakannya Ospek. Tapi, ada gak di antara mereka yang nggak bangga dan nggak cinta dengan almamater mereka itu…??? Gak ada..!! Mungkin bahkan rasa cinta mereka lebih besar daripada rasa cinta kita pada almamater Airlangga..

Trus, apa bener yang namanya Ospek bertujuan untuk mendorong mahasiswa baru untuk bisa menjadi seorang yang dewasa..??? Kalo iya, kenapa dan apa perlunya ada acara bentak-bentakan di Ospek..? Apa relevansiny..?? Apapun alasannya, acara bentak-bentakan di PIKMEN atau Ospek itu tidak ada gunanya, tidak ada relevansinya dengan tujuan yang ingin dicapai..!!! Apapun alasannya, it doesn’t make sense..!! Mau KTM ketinggalan, gak bawa pita, gak bawa buku, atau entah pelanggaran apa lagi. Apakah kalau panitia Ospek itu mengumpulkan mahasiswa yang melakukan pelanggaran, trus dibentak-bentak, dimarah-marahi bahkan sampai pingsan, itu adalah cara memperlakukan manusia dewasa…!!! TIDAK..!!! Dan, setahu aku, acara bentak-bentakan itu tidak hanya dilakukan pada mahasiswa yang berbuat pelanggaran, tapi juga mereka yang sebenarnya baik-baik saja dan tidak bermasalah…!!!

Kalo kita melihat dari sudut pandang lain, apakah pantas mahasiswa yang SAAT INI menjadi Panitia PIKMEN itu mendidik dan mengajari mahasiswa baru untuk menjadi mahasiswa yang bisa berpikir dewasa…??? Apa para senior yang jadi panitia PIKMEN adalah mereka-mereka yang MEMANG sudah dewasa..??? Apa mereka memang termasuk mahasiswa senior yang sukses dalam studi..?? Apa mereka termasuk mahasiswa yang berprestasi besar atau berkontribusi luar biasa untuk menunjukkan cinta almamater..??

Setahu aku, kebanyakan Panitia PIKMEN (termasuk pejabat terasnya, kayaknya) adalah mahasiswa yang masih belum berhasil meraih IPK 3,00. Apa ya enggak malu mereka-mereka itu mengajari adik-adik mereka untuk "dewasa" lha wong mereka sendiri belum bisa berhasil dalam studinya..!! Apa ya pantas..?? Lebih memalukan lagi, kalo di antara Panitia PIKMEN ternyata ada yang pernah ketangkap nyontek, ada yang pernah ketilang nggak boleh ikut UTS/UAS gara-gara sering bolos, ada yang di luar kampus masih suka minum-minum, ada yang masih sering dapet IP di bawah 2,5, ada yang studinya molor…. MALU DOOOOONK…..!!!!! Apa mereka-mereka adalah orang-orang yang tidak punya hati nurani dan rasa malu..???

Kalo udah seperti itu keadaannya, trus apa yang mau diberikan para senior kepada adik-adik mereka melalui Ospek ini..??? Apa yang mau dihasilkan dengan acara bentak-bentakan gak jelas itu..?? Mau mendewasakan mereka..??? Mau membuat mereka sukses dalam studi..?? Mau membuat mereka cinta almamater..???

HOW CAN YOU TEACH PEOPLE SOMETHING YOU CAN’T DO YOURSELF…?!?!?!

Senior yang masih belum dewasa, mau mengajari ma-ba supaya mereka bisa bersikap dewasa. Senior yang IP-nya biasanya di bawah 2,5 dan IPK-nya gak sampe 3,00 mau ngajari ma-ba supaya mereka bisa sukses dalam studi… Apa ini bukan sesuatu yang sangat menggelikan…???????

Bukankah lebih baik kalo Ospek itu diisi penuh dengan acara-acara ilmiah, pengenalan kampus, pengenalan studi, pengenalan sistem belajar, dan hal-hal lain yang akan jauh lebih bermanfaat buat mereka daripada dibentak-bentak gak karuan…!!! Coba liat apa yang dilakukan universitas-universitas ternama di luar negeri. Tanpa acara bentak-bentakan, mereka selalu berhasil menelorkan lulusan yang sangat berkualitas. Dalam acara Ospek, mereka selalu menekankan pada pemahaman tentang hal-hal yang ada dan diterapkan di kampus.. Sama sekali bebas dari acara bentak-bentakan konyol seperti yang terjadi di kampus Airlangga ini…!!!

Bollywood

August 15th, 2006 by sonykusumasondjaja

Film India…?

Mungkin banyak yang akan mengernyitkan kening kalo diajak nonton film India. India…?? Gak salah…??

Seorang temanku pernah ngomel-ngomel pas aku pinjamin sebuah VCD film India. "Aaah….ngomongnya panjang banget!! Mana banyak nyanyi! Banyak joget!! Seneng, joget! Sedih, joget! Jatuh cinta, joget! Patah hati, joget! Ketawa, joget! Nangis, joget juga!!" Saking panjang dan lamanya lagu-lagu dan tarian yang menghiasi film India, dia sempat ketiduran pas sang aktor mulai berjoget. Dan betapa geram dan jengkelnya ia, ketika ia terbangun 15 menit kemudian, eeehh…si aktor mulai berjoget lagi…!!

Emang banyak temanku (apalagi teman semasa kuliah, baik di Surabaya maupun di Sydney) tau kalo aku itu maniak sama yang namanya film. Liat aja di profilku. Mau film Prancis, film Argentina, film Bosnia, film Italia, semuanya aku suka…! Tapi, gak banyak yang tau kalo aku juga suka film India. Yaaa….meskipun gak se-fanatik Rini dan Shahrukh Khan-nya (yg dia anggap sebagai lelaki paling keren di jagad ini!!), tapi paling tidak aku bisa menikmati film-film produksi Bollywood itu.

Awalnya aku suka India sih, gara-gara temen-temenku dari kampung Sasak sono. Tau sendiri khan, kalo orang-orang keturunan Arab kebanyakan seneng nonton film India. Suatu ketika, aku bersama enam orang temanku; yang semuanya Arabian, udah nongkrong di Mitra. Kami bingung mau nonton apa.. Karena aku maniak film, dua dari empat film yang dipasang di Mitra udah aku tonton. Jadi aku minta, pilihannya tinggal dua. Yang satu film drama suspense Hollywood. Dan yang satu…the one and only KUCH KUCH HOTA HAI.. Mulanya aku emoh-emoh banget nonton film India itu. Jijai..ih!! Tapi, pikiranku tergerak juga mendengar alasan temanku yang (saat itu) kedengarannya masuk akal.

"Pikir aja, Son! Kalo kita nonton film franji (itu sebutan mereka buat film Barat), nonton paling-paling satu jam setengah, maksimal dua jam!! Lha kalo nonton Hindi, nontonnya bisa tiga jam..!! Kan lebih murah…!!! Harga tiketnya sama, tapi bisa nonton lebih lama…! Sip, kan..?"

Dan, begitu kami berenam sepakat membeli karcis, lha kok ketemu teman-teman Arabian lainnya. Gak tanggung-tanggung. Mereka berduabelas mau nonton KUCH KUCH juga.. Dan entah gimana caranya mereka bisa memperoleh tempat duduk yang berdekatan dengan kami berenam.

Dan yang terjadi di dalam gedung bioskop benar-benar membuatku geleng-geleng kepala..!! Dasar Arabian gendheng..!! Lha gimana enggak…coba..!!

Tiap kali si Shahrukh Khan joget ama Kajol, mereka bertujuh belas langsung ikut berdiri dan joget di tempat masing-masing..!!!! Mereka berjoget dan bergoyang dangdut begitu Shahrukh Khan joget sampai musiknya berhenti…!!! Bisa gak kalian bayangkan, nonton berdelapan belas di deretan bangku paling belakang…. Begitu musik intro berbunyi, ketujuh belas temanku langsung berdiri semua, ambil kuda-kuda, dan langsung bergoyang begitu Shahrukh Khan bergoyang..!!! Edaaan…!!! Aku sih cuma duduk aja sambil menyumpah-nyumpah dalam hati…!!! Tengsin berat, jreeengg… diliatin orang satu bioskop, joget-joget tiap kali Shahrukh Khan joget..!!! Ampuun, deh..!!

Tapi, entah kenapa, sejak saat itu aku jadi tertarik nonton film India. Mulai dari Sirf Tum, Pardes, Kareeb, Mohabbat, Dilwale Dulhania Le Jayenge, Hum Dil De Chucke Sanam, dan puluhan judul lainnya. Begitu poster film India naik di Surabaya Theatre, aku langsung kontak teman-temanku dan kami biasa nonton rame-rame.

Bisa nebak nggak, apa yang membuat aku suka pada film India..?

Kalo kalian sering nonton film India, kalian akan bisa menangkap adanya ciri khas pada film India, yang membuat film India itu memiliki posisi yang sangat unik di hati para pecintanya. (Tentu saja selain nyanyi dan joget..!!) Ciri khas itu adalah bahwa betapa luar biasa kentalnya film India itu mengusung dan menampilkan budaya lokalnya dalam setiap filmnya. Dalam tiap film India, pasti ditampilkan wanita yang menggunakan kain sari. Pasti ditampilkan, betapa pentingnya menghormati sosok yang dituakan, baik ayah, ibu, atau saudara tua. Pasti ditampilkan begitu banyak hal yang sangat kental dengan ciri-ciri Indianya. Ya bajunya, ya adat budayanya.. Segalanya..!!

Kalo aku bandingkan dengan film-film Indonesia atau sinetron-sinetron di TV kita, kayaknya jaraaaaaang…banget yang begitu kental menampilkan nilai-nilai kecintaan pada budaya Indonesia. Semuanya mengarah pada hal yang orientasinya kebarat-baratan..? Mending kalo bagus..!! Apa emang karena yg membuat film-film dan sinetron Indonesia itu orang India, dan bukan orang Indonesia asli, yaaa…gak tau juga sih..!!

Coba aja liat film kita, mulai dari AADC, EIFFEL I’M IN LOVE, VIRGIN, DETIK TERAKHIR, GIE, JANJI JONI, BROWNIES, dan lain-lain. Jarang banget ada film yang bisa memotret budaya Indonesia dengan lebih jujur dan lebih kental….. Jadi kalo aku nonton film Indonesia, kayaknya gak ada sesuatu yang spesifik menyatakan identitasnya bahwa ini lho film produksi Indonesia. Coba pikir, ceritanya udah kebarat-baratan, life-style yang ditampilkan juga kebarat-baratan, eeh….pemainnya pun wajahnya bule semua…!!! Norak..!!

Anyway, emang susah kalo di benak kita sudah timbul persepsi bahwa film India itu adalah film buat para pembokat, yang biasa ditayangkan di bioskop "HARI INI BIOSKOP MAIN SEPERTI BIASA", bukan film-film buat kaum elite…!! jadinya, yaa…kita tidak bisa bersikap lebih obyektif..!!

Tapiiii……., btw, ngapain tiba-tiba aku nulis tentang film India, yaa………..?????