Menanggapi komentar yang muncul di Quo Vadis….
Kutipan dari komentarnya Adika
"…jadi untuk mereka yang dianugerahi otak yang cemerlang tidak semestinya mengejek dan mencerca mereka yang tidak mampu bersaing di bidang akademis…..Apa sih alasan mahasiwa ber-IPK 2 masuk ke FE Unair..pasti karena dorongan gengsi, tuntutan orangtua, atau sebab-sebab lain dan bukan karena haus akan ilmu, atau merasa bahwa di kampus Unair mereka akan menjadi manusia yang lebih baik. Sebagai seorang yang berprofesi dosen maka tidak baik jika hanya diam dan mencerca dari belakang, sebaiknya harus berdiri paling depan mencegah kampus ini dimasuki manusia-manusia muda yang tidak mampu berkompetisi di dalam kemampuan akademik."
Kalo kalian amati dengan cermat, tulisanku Quo Vadis itu sama sekali tidak mengejek atau mencerca mereka-mereka yang kurang secara akademis. Aku hanya mengungkapkan fakta (yang ada data otentiknya) dengan gamblang…!!! Adalah kenyataan bahwa itulah profil mahasiswa aktivis kita saat ini. Apakah kenyataan itu dianggap sebagai sesuatu yang pahit atau tidak, itu kan kembali pada individu masing-masing, kan..?
Masalahnya adalah, profil itu, yang aku ungkapkan dengan gamblang tadi, tidak disadari oleh banyak orang..!!! Emang pahit, dan pedasnya luar biasa tulisanku itu. Tidak banyak yang tahu gimana sih profil mahasiswa FE Unair saat ini. Tidak banyak yang tahu, apakah mahasiswa aktivis itu memang terdiri dari mereka-mereka yang cukup berhasil secara akademis. Tapi, aku tahu, karena emang kerjaanku adalah melakukan riset atas hal-hal itu semua. Tapi, karena aku menuliskannya dengan nada yang sangat gamblang, kayaknya terkesan seperti mencerca. Padahal, karena apa yang aku tulis itu didukung data otentik dan angka-angka resmi, maka itu bukan cercaan. Itu pengungkapan. Sama seperti seorang jaksa yang mengungkapkan apa yang telah dilakukan oleh terdakwa.
Setau aku, Adika hanya ikut satu mata kuliah yang aku pegang, yaitu SIM. Di semua mata kuliah yang aku pegang, aku selalu menekankan pentingnya soft-skills. Dan di sini, aku tidak tinggal diam. Aku tidak tinggal diam dan hanya mencerca dari belakang…!! Itu statement yang salah dan menyakitkan, karena aku sama sekali tidak tinggal diam, atau mencerca dari belakang.
Justru kalo aku bilang, komentar Adika yang terlalu emosional karena TIDAK MELIHAT DAN TIDAK MENGETAHUI APA YANG SUDAH AKU LAKUKAN UNTUK MENGUBAH PROFIL ITU…iya kan??? Apa yang aku lakukan dan ucapkan di kelas dan di rapat-rapat dosen..?? Apa yang aku rancang dalam program perkuliahan..?? Sekarang, coba deh, dalam kelasku yang banyak presentasi, kebanyakan mahasiswaku yang kebanyakan juga aktivis justru tidak bisa mengungkapkan pendapatnya dengan baik (termasuk Adika, kayaknya, ya..?? Dulu Adika dapet nilai A di SIM hanya karena topik yang diangkat bagus, tapi komunikasinya n ngomongnya kan kurang bagus n kurang terstruktur. Itu pula yang membuat Adika cuma dapet nilai B di ujian skripsi)…. Kalau saja Adika mau mencari tau apa saja yang sudah aku lakukan untuk mahasiswaku, niscaya kamu nggak akan membuat statement menyakitkan seperti yang kau tulis di atas.. (aku rasa aku tidak pernah mencerca di belakang, aku selalu mencerca di depan…!!!)
Kemampuan menuliskan pendapat secara obyektif kan juga menunjukkan kedewasaan emosional seseorang. Apakah seseorang tersebut mampu menyampaikan pendapat secara logis, tidak emosional, rasional, dan didukung data dan fakta yang akurat, atau asal menulis saja tanpa ada back-up argumen yang bisa dipertanggungjawabkan… Kita kan masyarakat ilmiah, rek..!! Masa udah sarjana, bicaranya gak pake data…malu-maluin Unair aja dong…!
Komentar dari Ulan juga bilang bahwa orang-orang jadul belum tentu bisa menghadapi kompleksitas milenia hari ini, begitu juga sebaliknya… (He..he..ternyata aku udah termasuk orang jadul, ya..??)
Justru itu yang aku herankan…!!! Aku sering berkata di kelas, mahasiswa FE Unair masa kini, sudah dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas, mulai dari Internet gratis, koleksi buku melimpah, jurnal gratis, ada semester pendek, ruang kelas ber-AC, dan sebagainya. Dulu, kalo mahasiwa mau nulis skripsi dan butuh jurnal, pasti semua mahasiswa akan berkunjung ke Petra, karena saat itu Unair hanya punya koleksi jurnal tahun 1970an. Kalo butuh buku baru, lari ke library-nya Ubaya, karena Unair masih belum ada ruang baca. Di perpustakaan pusat Unair pun bukunya usang dan penuh debu. Internet masih mahal..!! Apalagi jurnal elektronik. Bandingkan dengan kondisi saat ini. Sekarang sudah begitu banyak buku diterjemahkan, mau beli text book asli pun gampang sekali… Pokoknya begitu banyak kemudahan yang sudah dapat dirasakan mahasiswa sekarang.
Tapi, bagaimana prestasi akademis mahasiswanya…???? TURUN DRASTIS…!!!! Delapan sampai sepuluh tahun yang lalu, tiap angkatan pasti menelorkan lulusan ber-IPK 3 minimal 50%. Sekarang…????? Dari 300 mahasiswa, paling banter hanya 50 orang yang dapet IPK 3. Sebagian besar malah bergelimpangan di area di bawah 2,5….lebih dari 50%…!!!! Mengapa justru mahasiswa yang berada dalam kondisi dengan fasilitas yang serba berkecukupan justru menunjukkan prestasi yang sangat merosot…???
Angkatan tahun 2000 dan 2001 tuh (era-nya Budi Purwono, Ayu, Sotya, dll) yang namanya mahasiswa masih terlihat sangat sangat aktif kalo udah ada di kelas diskusi. Kelasku itu sampe harus dihentikan dengan terpaksa, karena udah mau dipake kelas pada jam berikutnya. Kalo dibiarin aja, mungkin dari sore sampe malem, kuliah diskusinya gak berhenti. Seruuu…banget!!! Tapi, sekarang…??? Melempem kan…?? Padahal mata kuliahnya sama, dosennya sama, materinya sama, jumlah mahasiswanya sama, ruang kelasnya pun sama…!!
Dulu, yang namanya kursus bahasa Inggris tuh jaraaang banget dan mahaaal banget. Tapi kenapa justru mahasiswa2 jaman dulu lebih jago bahasa Inggrisnya dibanding anak-anak sekarang. Padahal sekarang udah banyak lagu dan film berbahasa Inggris yang masuk. Kursus juga sudah cukup murah dan tersebar ke mana-mana. Buku-buku asing lebih banyak. Dan lain-lain..!! Tapi, kenapa dari sekian ratus mahasiswa kok cuma sedikiiiiiiit….. banget yang bisa bahasa Inggris dengan cukup baik.
Kalo mahasiswa mau jujur pada diri mereka sendiri, sebenarnya mereka punya banyak peluang yang bisa mereka manfaatkan. Tapi, kesannya mereka sudah terlalu dimanja dengan berbagai fasilitas yang enak-enak dan nyaman sehingga fighting spirit itu sudah luntur.. Itu yang aku tidak bisa terima..!!!
Pernahkah kalian ini berpikir, bahwa untuk tingkat nasional, mahasiswa FE Unair udah jaraaaaangg banget yang bisa berprestasi. Tiap ada event kaliber nasional yang berbau akademis, kita seringkali kalah dari Unibraw…!!! Bayangin coba..!! Apa itu masih kurang menunjukkan bukti betapa banyaknya hal yang perlu diperbaiki dari mahasiswa kita.
Beda dengan Adika, kayaknya (dan mestinya) Ulan tau bahwa aku udah berbuat cukup banyak untuk meningkatkan kualitas mahasiswa FE Unair. Tapi, usaha yang berasal dari satu pihak itu tidak cukup..!!! Masalahnya sekarang, apakah emang mahasiswa kita udah sadar bahwa ketika mereka lulus nanti, mereka akan menghadapi kondisi pasar kerja yang luar biasa kejamnya…????
Saat ini, 85% posisi manajerial perusahaan terkenal di Indonesia sudah diduduki oleh sarjana dan master lulusan luar negeri. Dan mereka bukanlah orang Indonesia, tapi warga negara India, China, Hongkong, Thailand, Philipina, Vietnam, Malaysia, Bangladesh, Pakistan, bahkan…dari Myanmar…!!!! Kenapa mereka lari ke Indonesia..??? Ya, itu tadi, karena mereka tahu bahwa SDM Indonesia tuh kualitasnya jelek…!!! Manja, minta bayaran mahal, tapi gak punya skill yang mumpuni..!! Banyak ngomong muluk-muluk tapi enggak ada isinya..!! Itu masukan dan kritikan dari seorang manajer perusahaan asing buat FE Unair, lho..!!
Nah, kalo kondisi di lingkungan sudah sebegitu sengitnya, persaingan bisnis sudah begitu kejamnya, apa perlunya mahasiswa-mahasiswa yang akademisnya pas-pasan itu menghambur-hamburkan waktu untuk kegiatan yang kurang bernilai tambah untuk masa depan mereka..??? Coba deh, tanya sama mahasiswa aktivis di FE Unair yang IPK-nya 2 koma, berapa banyak di antara mereka yang menutupi kekurangan IPK mereka dengan kemampuan bahasa Inggris yang bagus, atau dengan kemampuan lain seperti perpajakan, financial planner, statistika, dan lain-lain…???? Aku kok yakin, jawabannya akan sangat mengecewakan..!!!
Tulisan ini, dan tulisan sebelumnya, memang ditujukan untuk mereka yang masih belum sadar. Apakah harus begitu pedasnya..??? Ya, harus..!!! Ibaratnya, membangunkan orang yang tertidur lelap dan bangun kesiangan dan sulit dibangunkan, yaaa…caranya ditampar aja, atau diguyur air seember…!!!! Kalo orang yang terlena dalam tidurnya, dan dia harus cepat bangkit, terus dibangunkan dengan cara diusap-usap dengan halus, yaaa…..gak bangun bangun deh..!!
Aku sadar, bahwa tidak semua orang bisa menerima apa yang aku sampaikan. Tapi, kalo ada satuuu…. saja mahasiswaku yang membaca tulisanku ini, lalu tergerak hatinya dan mengubah hidupnya dengan sungguh-sungguh, itu sudah cukup bagiku…!!
Coba kalian perhatikan komentar yang masuk untuk tulisanku sebelumnya, bagian pertama dari tulisan ini. Rata-rata komentarnya senada. Cuma ada satu komentar yang defensif dan balik menyerangku dengan tajam. Kenapa ya….???????
Sebagai seorang manusia yang dikarunia akal dan budi, tidaklah seharusnya kita mengandalkan orang lain untuk menegur kesalahan kita. Adalah lebih utama apabila kita mau selalu mengintrospeksi diri dan mengenali kesalahan-kesalahan yang kita lakukan SEBELUM kesalahan itu ditemukan orang lain. Dan memperbaikinya, tentu saja…!! Bukannya terus malah bersikap defensif dan berbalik menyalahkan orang lain.
Jadi komentar Hendry yang berbalik menyalahkan aku, tentu tidak beralasan. Kenapa, yaa…karena tiap orang punya tanggung jawab atas apa yang ia lakukan sendiri. Kesalahan yang dilakukan oleh si mahasiswa 25 tahun yang aku ceritakan sebelumnya, misalnya, itu ya murni salahnya dia. Atau bisa jadi, salah orangtuanya. Bukan salahnya orang lain. Dan yang bikin heran lagi, masa sih kekurangajaran seperti itu, yang sebagian besar tentu menganggap kekurangajaran tingkat tinggi, tidak bisa dikenali..??? Dilakukan dua kali, lagi..!! Siapa pun yang membaca ceritaku di bagian pertama, tentu akan sepakat bahwa si mahasiswa 25 tahun itu adalah sosok yang menampilkan sikap kurang ajar dalam perilakunya. And, I think, he can not blame on anyone, but himself. Or his parents for not educating him properly.
Kalau kalian berbuat salah, dan tanpa berkata apa-apa tiba-tiba orang bersikap negatif pada kalian, yaa..jangan bilang "Kamu sih, gak bilang-bilang aku kalo aku salah!!". Itu lucu, dong…!! Salahkanlah dirimu sendiri yang kurang sensitif!! (Btw, aku masih heran lo, kalo ada manusia yang berbuat kurang ajar kayak ceritaku itu, terus masih merasa PERLU DIBERITAHU bahwa itu adalah sesuatu yang salah. Kayak di komentar tulisanku kemarin. Normalnya, kan orang yang khilaf berbuat dan berkata-kata kayak gitu, akan sadar dan menyadari kesalahannya. Terlepas apakah dia minta maaf apa enggak).
Mengutip kata-kata di sebuah iklan TV, "kalau pintar itu ditampilkan lewat hati, itu baru cerdas namanya". Di sini peran hati kita sebagai pengontrol semua tindakan itu penting sekali. Hati adalah pengendali tindakan kita. Hati adalah yang bisa membedakan apakah kita adalah orang yang peka atau pekok. Kalau emang hati kita bersih, kekhilafan sekecil apapun pasti akan langsung membuat hati kita terasa tidak nyaman. Sebaliknya, kalau hati kita kotor, mbok kesalahan segede apapun juga nggak akan berdampak apa-apa pada hati kita.
Menurut aku, jangan mengandalkan orang lain supaya mau menegur kita dong, buatlah supaya hati kita menyadari kesalahan-kesalahan yang kita buat. Allah menganugerahi kita hati untuk menyaring segala yang kita lakukan. Pakailah hatimu!! Gunakan apa yang sudah dikaruniakan Yang Kuasa padamu, untuk mengendalikan dirimu sendiri.!! Kita tidak akan bisa menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kita lakukan sendiri..!!
Oya, sedikit komentar buat Hendry. Aku tidak pernah berusaha membuat tulisanku bermutu atau tidak bermutu. Kebetulan aja banyak yang suka sama tulisanku. Buat aku pribadi, tulisanku di blog ini biasa-biasa aja. Gak ada kelebihannya. Tapi, bagi orang lain, mungkin inspiring. Ada juga yang bilang, memberi pencerahan. But, I actually never give a damn on what people think about my writings. Mungkin saja, Hendry menganggap tulisanku yang kemarin tidak bermutu, karena merasa jadi salah seorang terdakwa dalam tulisan itu. Iya, enggak..?? Ayo, jujur..!! But, I don’t give a damn on your comments. Mau anggap bagus, kek! Mau enggak, kek! Bodo amat. Cuma, aku menangkap subyektifitas komentarmu karena (kebetulan) kamu terlibat langsung dalam kasus itu.
Kalau dibilang bahwa tulisanku kemarin itu kasar dan tidak menunjukkan kaliber-ku yang sebenarnya, itu juga tidak aku pedulikan. Bodo amat!! Aku tidak pernah merasa punya kaliber. Coba deh, para fans blog-ku yang tercinta, kalau kalian perhatikan seluruh tulisanku, aku kadang menulis sesuatu dengan lembut mendayu-dayu. Bahkan sampe bikin orang menangis. Tapi, kadang juga berkata keras, tegas, sampe banyak yang enggak terima (he..he..jadi inget kasus IPK, nih..!!). Nah, masalahnya, yang aku hadapi kali ini adalah manusia-manusia yang nampaknya berhati keras dan tidak sensitif, yang mungkin tidak akan goyah dengan kalimat-kalimat yang lembut merayu. Dokter aja kalo ngasih obat, liat-liat pasiennya. Kalo sakitnya ringan, obatnya ringan. Kalo sakitnya parah, ya dosisnya diperkuat. Kan gitu..?? Jadi, yang namanya nulis juga liat-liat audiesnya dan juga liat topik yang diangkat.
Banyak sekali dosen FE Unair yang bilang bahwa mahasiswa FE Unair ini lagi "sakit hati". Dalam arti, gak tau sopan santun, gak tau etika pergaulan, gak tau tata krama, ya kan..?? Itu fenomena yang bisa kita lihat di lapangan. Aku pikir, kasus kepergoknya mahasiswa yang lagi ML di toilet kampus, atau beberapa mahasiswa yang ketahuan lagi "petting", "kissing", dan "touching" di koridor kampus pada jam kuliah, dan kejadian sehari-hari lainnya, merupakan bukti nyata bahwa mahasiswa FE Unair sedang mengalami masalah dengan hatinya. Dengan rasa malunya. Dengan akhlaknya. Dan aku ingin menunjukkan pada teman-temanku tercinta (termasuk yang jadi terdakwa dalam kuegate, tidurgate, dan dudukgate), terutama mahasiswaku yang lain, inilah beberapa contoh "sakit"-nya mahasiswa FE Unair. Harapanku apa? Yaa, supaya gak ada yang meniru. Atau kalau udah terlanjur meniru, ya diperbaiki. Kalau ternyata, yang aku jadikan contoh ternyata kamu, yaaa, anggap aja lagi apes…!!!
Aku tidak pernah menyalahkan atau menjelek-jelekkan orangtuaku. Sama sekali. Aku menjunjung tinggi kehormatan keluargaku dan orang tuaku. Dan juga kehormatan orangtua mahasiswaku. Justru mereka-mereka yang bertingkah laku tidak sopan, gak aturan, gak punya tata krama itulah yang tidak menghargai dan sengaja mempermalukan orangtua mereka sendiri. Kenapa? Dengan bertingkah laku seperti itu, otomatis mereka menunjukkan pada dunia dan berkata bahwa "inilah hasil kerja keras orang tuaku, mendidik aku, sampe jadi manusia yang gak punya aturan seperti ini". Iya, nggak..?
Pertanyaannya, kan, apa emang orangtuanya yang gak bisa mendidik anak mereka itu? Atau emang si anak yang pergaulannya rusak sampe gak bisa membedakan mana yang pantas dan mana yang nggak pantas? Coba, deh, kalian tunjukkan tulisanku kemarin pada orangtua kalian, trus bilang ke mereka "Pak, Bu, yang diceritakan di tulisan itu, yang sikapnya kurang ajar dan gak aturan itu aku, lho..!!" Kira-kira gimana ya respon mereka…????
Blog ini, Insya Allah, tidak menjadi fitnah. Kenapa? Karena yang aku sampaikan adalah kebenaran. Iya kan..??? Ayo, ngaku…!!! Tulisan kemarin aku rilis karena aku yakin banyak yang akan memperoleh pelajaran berharga dari kasus itu. Harapanku sih, terutama ketiga terdakwa di situ. Tapi, kalo emang terdakwanya merasa gak salah dan balik menyalahkan aku, yaaa….bodo amat!! Yang penting, aku mencoba supaya mahasiswaku yang (masih) manis-manis dan terjaga tutur kata dan perbuatannya, tidak ketularan virus berbahaya ini.
Ada media komunikasi yang sebenarnya pada prakteknya dipahami oleh manusia normal, terutama di Indonesia, khususnya di Jawa. Yaitu, media komunikasi non-verbal, seperti gesture, raut wajah, bahasa tubuh, dan lain-lain. Dalam budaya Jawa dan budaya ketimuran lainnya, komunikasi non-verbal bahkan menjadi alat yang lebih utama dibandingkan komunikasi verbal.
Aku sudah menyampaikan "pesan" melalui komunikasi non-verbal kepada ketiga terdakwa di tulisanku kemarin, bahwa "something is wrong". Aku nggak percaya kalau ketiga orang tersebut gak pernah merasakan bahwa sikapku kepada mereka berbeda dibandingkan sikapku pada mahasiswaku yang lain. Lebih kasar, lebih galak, lebih judes, lebih ketus, lebih kaku. Padahal biasanya, yaaaa….tau sendiri deh (Asli..!! Gakk enak ngomongnya, entar dikira narsis, kalo aku bilang diriku ini penuh perhatian, open-minded, nyantai, sabar, kalem, lembut..!! Biarlah orang lain aja yang ngomong, ya..? He..he..). Mestinya, orang yang punya hati yang cukup sensitif bisa menyadari perubahan itu dan bertanya-tanya "mengapa"..?? Apa salahku..?? Justru setelah semua komunikasi non-verbal itu tidak mempan (mungkin ya, karena hati mereka yang mengeras dan membatu itu..) aku gunakan komunikasi verbal. Yaitu melalui blog ini. Ingat, komunikasi verbal tidak harus dilakukan secara lisan. Bisa juga tulisan. Kenapa kok gak pake komunikasi lisan..?? Yaa, karena manusia yang aku hadapi berhati batu, daripada entar diajak ngomong lisan malah bikin sakit hati, ya udah…pake tulisan saja. Biar jelas semuanya. Dan, seperti yang aku bilang sebelumnya, biar semua orang juga mendapatkan pembelajaran bahwa ada pergeseran nilai-nilai moral, etika pergaulan, sopan-santun yang dipakai oleh mahasiswa dewasa ini. Biar para mahasiswaku yang manis-manis bisa terhindar dari virus maut ini. Lagian, toh aku tidak menyebutkan nama. Kalo ada yang ngaku (baik ngaku eksplisit maupun implisit), kan bukan salahku. Ya, nggak..???
Oke, deh..!! Moga-moga aja, ada yang bisa mendapatkan pembelajaran dari apa yang aku tuliskan. Biarpun cuma seorang… Itu pun sudah sangat berarti bagiku.