TRANS TV: Sebuah Catatan Ironi

Ketika pertama kali aku main-main ke Trans TV di daerah Mampang, Jakarta Selatan, aku melihat ada sesuatu yang menarik. Saat itu aku duduk di Coffee Bean; (persis di kursi sebelah Julie Estelle yang keliatan suntuk nungguin Moreno yang sedang didapuk menjadi komentator liputan Balap Mobil F1 Trans7) sambil nungguin Prabu Revolusi. Dari kursiku, aku bisa memandang begitu banyak orang berseragam hitam hitam berseliweran di lobi utama Trans Corp. Dan aku melihat adanya kebanggaan di wajah mereka semua mengenakan seragam hitam-hitam itu. Kata salah seorang campers (camera-person) Jelang Sore yang aku kenal, tiap karyawan Trans akan merasa bahwa seragam mereka itulah yang mengikat hati mereka dan membuncahkan kebanggaan mereka menjadi karyawan Trans. Terutama bagi anak-anak baru.

"Istilahnya, gak usah pake duit asal kamu pake tu seragam pasti bisa dah dipake buat ngelamar anak orang.." katanya.

Aku sendiri melihat bahwa Trans TV memang memiliki citra yang sangat positif sebagai salah satu perusahaan yang paling dituju oleh lulusan S1 setelah mereka lulus kuliah. Masih ingat kan, program rekrutmen Trans TV bulan Januari 2007 yang masuk rekor MURI karena jumlah pesertanya yang mencapai lebih dari 100.000 pelamar..? Itu saja sudah menunjukkan betapa tinggi citra merek Trans TV di mata masyarakat Indonesia. Dengan demikian, mestinya orang-orang berseragam hitam-hitam yang aku lihat di lobi TransCorp memiliki kebanggaan yang besar bisa lolos seleksi dan bekerja di salah satu perusahaan idaman para pencari kerja. Paling tidak, itulah dugaanku semula..

Namun sejak akhir 2007, aku mendengar kabar bahwa banyak karyawan Trans TV yang sudah dan akan mengundurkan diri dalam waktu dekat. Awal 2007, presenter-presenter handal Trans TV seperti Mohammad Rizky Hidayatullah, Tina Talissa, Afaf Bawazier, Budi Irawan, Hanum Rais, dan lain-lain sudah hengkang ke stasiun TV lain, pada akhir 2007 gelombang eksodus itu mengalir lagi. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung. Dalam empat bulan hingga Desember 2007, jumlah presenter, reporter, campers, dan karyawan produksi Trans TV yang hengkang mencapai lebih dari 60 orang!! Dan yang hengkang bukanlah orang-orang sembarangan..!! 90% dari mereka yang hengkang adalah mereka yang memiliki dedikasi yang tinggi pada pekerjaan dan kinerja yang luar biasa.

Mau contoh?

Ratna Dumila, presenter cantik lulusan Fakultas Hukum UNAIR yang sudah digadang-gadang Chairul Tanjung menjadi ikon Trans TV bersama Prabu Revolusi, secara mendadak hengkang ke TV-One. Tidak hanya Mila, yang juga memutuskan ikut dalam gelombang eksodus itu termasuk juga presenter kesayangan pemirsa Trans TV Githa Nafeeza, Reza Prahadian (wartawan kepresidenan Trans TV), Divi Lukmansyah (Koordinator seluruh presenter Trans TV), Iwan Sudirwan (Kepala Divisi - boss besar seluruh program berita Trans TV), bahkan sampai produser Reportase Investigasi yang menghasilkan liputan-liputan luar biasa tentang tahu berbahan formalin, bakso daging tikus, atau obat-obatan daur ulang. Bayangkan kalau 60 orang dengan kualitas sehebat itu kemudian pindah dalam waktu yang hampir bersamaan..!! Dan gelombang eksodus itu bahkan masih berlanjut sampai Maret 2008, meskipun jumlah yang keluar tidak sebanyak tahun 2007. Tapi, bila ditotal, jumlah mereka yang memutuskan untuk hengkang dari Trans TV sejak tahun 2007 sampai dengan Maret 2008 mencapai hampir 100 orang. Buatku, itu suatu jumlah yang luar biasa..!!!

Kedekatanku dengan beberapa reporter, presenter, dan campers Trans TV memungkinkan aku untuk bertanya-tanya pada mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mereka semua menyampaikan jawaban yang senada, yaitu bahwa mereka merasa bahwa Trans TV kurang memberikan penghargaan atas apa yang mereka lakukan buat perusahaan. Dedikasi dan loyalitas yang mereka berikan ternyata tidak disambut dengan sepadan oleh perusahaan. Hal ini membuat kebanyakan orang-orang terbaik Trans TV memilih untuk hengkang, meskipun kenyamanan atmosfir kerja di Trans TV masih belum bisa ditandingi oleh stasiun TV lainnya di Indonesia.

Dengan informasi sebatas itu, saat itu aku masih bertanya-tanya. Karena menurutku, biasanya orang-orang media, apalagi yang memiliki kinerja yang bagus, kebanyakan lebih mementingkan kondisi kerja yang kondusif. Kenyamanan lingkungan kerja bagi pekerja profesi, biasanya, jauh lebih penting dibandingkan penghargaan, apalagi penghargaan berupa uang. Jadi, aku merasa bahwa mestinya ada hal lain yang membuat orang-orang terbaik Trans TV hengkang dan mencari pelabuhan baru pada waktu yang hampir bersamaan.

Baru pada awal bulan lalu aku menemukan jawabnya. Dari perbincangan dengan beberapa orang teman Trans TV, aku menemukan sesuatu yang sangat menarik. Sekaligus mengherankan. Ternyata di antara Stasiun TV swasta nasional lain di Indonesia, Trans TV adalah stasiun TV yang menawarkan penghasilan PALING RENDAH. Bahkan, standar gaji Trans TV setara dengan standar gaji stasiun TV lokal seperti Banten-TV atau JTV..!!

Ingat, program rekrutmen Trans TV Januari 2007 yang masuk MURI yang tadi sempat aku singgung? Mereka yang direkrut dari program itu menerima take home pay Rp 1.500.000,- plus uang makan Rp 10.000 per hari masuk. Pernah lihat iklan rekrutmen presenter, reporter, dan campers yang dilaksanakan di kampus-kampus di Surabaya (UNAIR), Yogyakarta (UPN), Bandung (UNPAD) pada bulan April 2008? Mereka yang lolos rekrutmen itu akan (masih rencana nih…) menerima take home pay Rp 1.700.000,- plus uang makan Rp 10.000 per hari masuk. Mereka yang memiliki jatah sebagai presenter acara di TV, seperti Prabu Revolusi (Reportase Sore dan Reportase Investigasi), Ryan Wiedaryanto (Reportase Sore dan Reportase Akhir Pekan), atau Sharah Aryo (Jelang Sore) lebih beruntung. Karena mereka juga mendapat honor presenter, yaitu kurang lebih Rp 70.000 untuk sekali tampil.

Aku begitu kagetnya mendengar informasi itu. Terbayang olehku ketika aku ikut proses liputan Jelang Sore di Surabaya dan Bandung yang begitu melelahkan. Dan untuk itu hanya mendapat penghasilan segitu..?? Pantaskah..??? Gak usah bilang pantas atau tidak pantas deh. Cukupkah untuk hidup..??? Uang kos di daerah Mampang berkisar Rp 600.000 sebulan dengan fasilitas minimal dan langganan banjir, buat beli makan malam kurang lebih Rp 15.000 sekali makan di warung sederhana, belum buat beli pulsa HP, buat transpor ojek yang Rp 5000 dari tempat kos ke kantor Trans TV, buat sekedar jajan atau nonton kalo lagi malam mingguan. Berapa yang masih tersisa dan cukup untuk ditabung…???

Bukan cuma itu. Dari informasi itu pula, aku jadi tahu bahwa take home pay karyawan Trans TV yang sudah menduduki jabatan Produser sebuah program (yang notabene tinggal di Jakarta) ternyata masih lebih rendah dibandingkan take home pay rata-rata PNS dosen Universitas Airlangga..!!!

Aku tak mampu berkata apa-apa. Karena aku jadi langsung tahu, sangat rasional kalau seorang presenter berita Trans TV yang sudah cukup senior dengan take home pay berkisar Rp 2,5 juta sampai 3 juta per bulan langsung memutuskan untuk pindah begitu ditawari oleh TV-One take home pay tiga kali lipatnya. Seorang presenter berita Trans TV dengan gaji sebesar Rp 2,5 - 3 juta sebulan masih punya kewajiban untuk turun ke lapangan melakukan liputan seharian penuh, kembali ke kantor untuk mengedit liputannya sekaligus melakukan VO (Voice Over atau Dubbing), lalu menyiapkan materi liputan besok atau bersiap-siap tampil menyajikan berita, dan baru pulang ke rumah pukul 21 untuk kembali masuk pukul 8 pagi esok harinya.

Kebayang gak, gimana kehidupan presenter atau reporter Trans TV yang sudah berkeluarga..? Dengan jam kerja yang begitu panjang, deadline yang begitu ketat, dan penghasilan yang begitu seadanya, apa yang dapat mereka berikan dengan layak untuk istri dan anak mereka..? Seorang karyawan dengan loyalitas dan dedikasi tinggi sekalipun pasti akan terpaksa berpikir rasional dan menerima tawaran lain yang lebih manusiawi. Mungkin saja mereka tidak akan dapat merasakan suasana kerja yang senyaman di Trans TV, tapi aku yakin mereka akan dapat menerimanya (dengan terpaksa) demi tuntutan hidup yang harus mereka penuhi.

Aku bisa memahami itu semua kini, mengapa begitu banyak orang-orang hebat Trans TV yang memilih untuk mencari tempat yang baru. Money is not everything, but sometimes without money everything is nothing.. Sangat manusiawi apabila mereka-mereka yang memiliki kinerja yang bagus dan dedikasi serta loyalitas yang tinggi harus takluk pada kebutuhan yang paling mendasar yaitu uang.

Tapi, ada satu hal yang masih menggelitik pikiranku. Aku pernah membaca di majalah SWA pada edisi yang membahas tentang para eksekutif muda dan eksekutif yang diburu oleh headhunters (para pencari, pemburu, dan pembajak tenaga kerja level eksekutif dari perusahaan lain). Di artikel itu, tertulis bahwa dua pucuk pimpinan Trans TV, yaitu Ishadi SK dan Wishnutama adalah dua eksekutif yang menerima take home pay lebih dari Rp 100 juta per bulan. Mengingat struktur organisasi Trans TV yang cenderung flat, ketimpangan ini membuatku kembali bertanya-tanya….

Apa yang sebenarnya terjadi…?? 

26 Responses to “TRANS TV: Sebuah Catatan Ironi”

  1. Sir Bayu Says:

    Pertamax!

    Saya pernah denger di forum kalo gaji karyawan Trans TV itu paling kecil di antara stasiun TV yang laen.

    Kenapa?

    Soalnya Trans TV banyak pake SDM fresh graduate yang belum banyak pengalaman kerja makanya mereka mau digaji segitu. Cuman saya ga tau kalo yang karyawan senior masih digaji sedikit.

    Sekarang jamannya susah cari kerja. Banyak perusahaan carinya karyawan kontrakan bukan karyawan tetap. Orang² yang masuk ke Trans TV itu mayoritas buat batu loncatan aja, nyari pengalaman kerja abis itu pindah ke stasiun lain yang gajinya lebih layak. Lagipula keliatannya environment kerjanya mendukung.

    btw pak, bukannya gaji 1,5jt itu gaji standar fresh graduate yah?

    (wew, komen di blog FS ga bisa dikasi HTML code yah… )

  2. J A Y Says:

    gak pake pertamax-pertamax! solar aja murah… (jadi kaskus deh…)

    oke, terima kasih infonya pak, saya gak akan ngelamar ke transtv. busuk tuh! (belum tentu keterima juga kalo ngelamar)

    money for living, not living for money.

    harus ada uang buat hidup….

    1.5jt standar fresh graduate? kayaknya kalo di jakarta ga banget deh… pacar saya aja dapet hampir 3jt dan sekarang udah lebih dari itu, padahal baru bbrapa bulan kerja. dan doi lulus agustus 2007 kemaren.

    trans tv gak banget deh….

  3. sony Says:

    iya, gaji standar fresh graduate di Surabaya aja lebih dari segitu.. (tapi gak tau lagi ya kalo Gresik… Bayu kan wong Gresik..)

    setauku, kalo utk perusahaan sekelas Trans TV, gaji pertama fresh graduate mestinya berkisar 2-3 juta perbulan (tergantung fasilitas apa aja yg diperoleh karyawan..)

  4. Herry Says:

    standar fresh graduate biasanya 1,5jt maybe lama kelaman naik..

  5. Dany Says:

    KAn dirut Trans TV ga cuman 2.. ada 3…
    yg urusan bagian keuangan tuw mestinya …

  6. Narindra Says:

    wow…
    benarkah demikian??
    sebuah stasiun TV yang besar seperti trans TV memperlakukan karyawan seperti ini??

  7. Jury Says:

    ngeri nih tans tv ….
    keliatanya aja gede ehhh dalemanya cuman begituan aja ..
    masa kalah ama software house hahahaha

  8. sony Says:

    wuaduh, standar gaji fresh graduate bukan 1,5 juta ya.. di Surabaya aja mestinya seorang fresh graduate bisa dapat 2 juta per bulan. di jakarta at least 2,5 juta per bulan. itu rata-rata, lho. artinya standar untuk perusahaan kelas rata-rata.

    kalo perusahaan besar, mestinya lebih dari itu.. tapi perusahaan kecil, apalagi utk kerjaan yg gak jelas baru dapat 1,5 juta. ini hasil tracer study lho, bukan cuma perkiraan doang.

    info aja nih, gaji 1,5 juta itu setara standar gajinya karyawan magang di perusahaan lokal di Surabaya

  9. Adie Says:

    ya itulah sedikit gambaran kapitalis. sama halnya ama SPG/SPB di mall yg selama kerja mereka bergaya yg necis dan rapi tp cuma d gaji amat sangat kecil oleh pihak dept.store.

    aku dulunya jg mengira gaji kecil hanya untuk mereka yg fresh graduate, tp ternyata yg udah senior kecil jg. gak kebayang kerja di TV yg jam kerjanya gak beres tp gaji na kecil bgt.
    turut prihatin, semoga HRD Trans TV baca tulisan ini dan mau meng review kesehjateraan karyawan.

  10. VR Says:

    wah ternyata seperti itu ya.. tak disangka.. di balik kemegahan dan kehebatan dari Trans TV ternyata ada sebuah fenomena yang terlipat rapih di balik pakaian kebangsaan..

    turut prihatin deh..

  11. AngGie Says:

    BOZ!!!! Mending buka warung pecel lele yuk, labanya Rp 50.000,- sehari cuman buka dari jam 16.00 - 21.000! Zaman sekarang yang di cari adalah Manager yang mampu menekan pengeluaran!!
    LIFE IS GAME BRO!!

  12. IQBAL Says:

    he..he.. saya 2,5 tahun di Trans TV, sebelum akhirnya juga memutuskan hengkang per Agustus 2007 kemarin. yah.. begitulah gambaran TRANS TV adanya!

  13. Rizal Says:

    saya masih berstatus sebagai karyawan Transtv sampai sekarang. Sudah 3thn terjebak disini. Semoga ada perusahaan lain yg bisa menawarkan penghidupan lebih layak dari ini. mengingat istri dan anak yg butuh biaya hidup.

  14. Yogi Says:

    hehehe ironi hidup dan hal keduniawian! cari pengalaman and untuk batu loncatan! ok tapi untuk meneruskan hidup aduh pak! berat jakarta pak take hom pay segitu mah, tgl 10 udah kas bon!hahahaha. ada tapinya Trans TV itu tv pencetak tenaga jurnalis handal dan bermental tangguh! itu yg selalu ditanamkan sehingga mereka mau bekerja dan menjadikan batu loncatan. info yg bgs, mrk jd tau kerja carinya sulit, apalagi bagi mereka yang pilih2! terus tulis and berbagi pengalaman bapak agar kami tau dan belajar! makasih bapak

  15. sony Says:

    first, baru kemarin mantan mahasiswaku, fresh graduate S1 Unair dapet kerja di sebuah perusahaan nasional sekelas Trans TV dapet gaji pertama 3,5 juta, ditempatkan di kota kecil di Jawa Timur. Duit segitu belum termasuk tunjangan kesehatan dll. mahasiswaku fresh graduate yg kerja di jakarta pd perusahaan sekelas Trans TV biasanya dapat gaji pertama sekitar 4juta..

    Duit segitu adalah utk kerja selama 8jam sehari, bukan 15-20 jam sehari kayak di Trans TV..

  16. sony Says:

    oya, apa karena ini juga ya, akhirnya Prabu Revolusi - the most well-known icon of Trans TV, jadi juga pindah ke Metro TV…??? krn merasa kurangnya perhargaan dr perusahaan…??

  17. Dwi Says:

    Baru baca nih. Yah, emang pegel ko kerja di Trans TV. Suami saya disana 5 tahun & cabut tanpa banyak penyesalan.

    Karyawan aja parkir bayar ko. Bawa motor 100rb/3 bln. Bawa mobil 500rb/ 3 bulan.

    Baru denger ada karyawan yg ngantor di gedung sendiri masih harus bayar parkir. Oh lucu sekali kamu Trans TV…

  18. ø IPÚÑKd ø Says:

    ..aku semakin terkesima setelah membaca komennya Dwi , busyet dah di pajekin di kantor sendiri. Aku pas ke jkt sempet ngobrol ma sodaraku yang lulusan broadcast UI,
    “kenapa nggak nyoba masuk Trans?, takut kena perbudakan kah ?”
    “busyet punk, kamu koq sampe tau, berarti udah sampe surabaya donk kabarnya?”
    “iya donk ”
    “males dah ama trans, dulu pernah freelance ngedit’in acara trans (sory lupa namanya ^^), masa satu shift kerja cuma dibayar 100rebu ! berhubung lagi bokek ya aku sikat aja”
    “hehe iya jual mahal donk jadinya, masa ilmumu yang udah mantep kayak gitu cuma dihargai nggak pantes”
    “buat temen2ku,, masuk trans bukan suatu pilihan !”

    demikian adanya..

    romanticpurple.blogspot.com

  19. neeNo Says:

    Untuk masalah ataupun kabar “hijrah”nya para punggawa Trans TV (itu memang bukan rahasia lg)saya sdh mengetahui sejak awal-awal thn 2007 langsung dari salah seorang punggawanya (tanpa saya perlu sebutkan nama).
    Kebanyakan mereka memang melabuhkan diri keTV One.

    Mereka sdh hijrah sejak pra-Lativi akan berubah menjadi TV One.
    Yang lebih mengejutkan adalah, ternyata yang pindah memang bukan hanya para punggawa berita dan produksi saja melainkan hingga ke staff keuangan dan sebagainya.

    “Money is not everything, but sometimes without money everything is nothing..”

    benar sekali.

    dewasa ini saya mengamati bukan hanya kejadian Trans TV saja, klo berbicara TV lokal (tanpa saya perlu menyebutkan perusahaan ataupun namanya) banyak sekali hal2 semacam itu memang yang terjadi.

    dari beberapa yang sempat sampai ketelinga saya adalah pandangan tentang :
    ” orang-orang masuk TV itu sudah bagus, mereka bisa terkenal dan populer. jadi kompensasinya ya dilarikan dari salary itu tadi”
    (itu juga langsung dari oknum TV lokal-nya sendiri)

    Pertama saya mendengar itu, saya berfikir, luar biasa sekali penerapan mindset yang dipakai. Tapi lalu saya berfikir kembali :
    ” when we talk about TV so we talk about entertainment also.when we’ve already talked about entertainment we can not run from industry.THIS IS INDUSTRY n INDSUSTRY is cruel”

    Tapi salah satu ironi yang berkembang juga pak sony, hal itu tidak hanya terjadi di perusahaan tv saja. banyak perusahaan-perusahaan lain juga yang sayangnya melakukan hal-hal serupa, dengan kurang menghargai SDM yang mereka miliki.

    Dan yang paling ironi merupakan
    “tidak jelasnya orientasi para pekerja saat ini. ”

    Pandangan bahwa perusahaan dengan nama besar merupakan dan dapat dijadikan jaminan masih sangat banyak sekali terjadi. Tak kadang juga merupakan sebuah “KEBANGGAN” yang salah kaprah, apabila mampu bekerja dalam sebuah perusahaan besar.

    Tanpa mereka melihat dan melakukan observasi terlebih dahulu terhadap perusahaan tersebut, bagaiman kondisi pekerja nya saat ini dan prospek kedepannya.

    Tak kadang juga beberapa orang melamar pekerjaan ataupun posisi yang sama dengan temannya tersebut hanya karena banyak dari teman-teman seperjuangan yang melakukan hal yang serupa dan karena takut dipikir tertinggal oleh yang lainnya.

    Mungkin kalau kita hidup beberapa belas ataupun beberapa puluh tahun yang lalu hal-hal semacam ini masih lumrah terjadi.

    Tapi saat ini…?
    saya rasa sulit sekali menerapkan pemikiran dan pandangan seperti itu.

    Dulu mungkin orang berpandangan:
    “kita bekerja dimana dan sebagai apa?”

    Namun saat ini pemikirannya mulai berkembang pada :
    ” apa yang mampu kita hasilkan dari apa yang kita lakukan?(baik tentang salary/income ataupun mungkin sumbangsih dalam bentuk apapun,tetap dalam konteks yang baik dan halal tentunya)”

    Itupun masih berkembang lagi ke pemikiran berikutnya:
    “apa yang kita lakukan berikutnya dengan apa yang kita telah dapatkan?”

    Semoga banyak dari teman-teman yang dapat memiliki atau mengembangkan pemikiran-pemikiran baru tentang orientasi untuk memilih bekerja dmn dan sebagai apa.Jangan hanya menuruti emosi dalam memilih pekerjaan. sesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan kita semua saat itu.Agar tidak melakukan hal-hal ataupun kesalahan yang sama

    “try to much more appreciate yourself”

    Semoga juga bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia dapat juga berubah dan mulai menghargai karyawannya.

    Sukses buat kita semua
    Amin

  20. princecarl Says:

    wah itu mah dah cerita lama dari akhir tahun 2006 saya di jkt…
    kl aku sih males pak kl kerja ngga di multinational company, secara slalary da benefit lainnya menggiurkan…

    apalagi temen samping kost saya di pancoran waktu itu yg kerja di transTV harus berangkat malam2 pulang dini hari atau sebaliknya, kadang di jemput mobil trans TV kadang tidak… capek dech….

    but that’s life, supply lulusan S-1 lebih banyak dr demandnya… so apakah yg harus disalahkan adalah kampus2 negeri dan swasta yang tiap tahun menambah quota jumlah mahasiswa dan menambah jumlah jurusan tanpa diimbangin dengan qualitas…

    jd yang salah bukan nya trans TV doankk… mungkin bg yg masih kuliah itulah kenyataannya dunia kerja… loe mau terima job offer dr sebuah perusahaan meski gaji kecil atau mending nganggur sampai cari yg lebih baik… trus sampai brapa lama akan nganggur…

    bener banget iklan nya A Mild

    ( ) mending ngga dapat gelar
    ( ) mending ngga dapat kerja

  21. sonykusumasondjaja Says:

    wah, aku bingung dgn komentarmu Carl.. kalo dilihat, anak2 Trans itu kan orang2 yg punya skill bagus, penampilan fisik bagus, performance akademis yg cukup bagus juga…. relatif komplit lah… so, kita gak ngomongin isu kualitas lulusan di sini.. jd komentarmu di paragraf 3 itu gak jelas arahnya..

    trans TV mungkin emang memposisikan diri sbg learning firm.. tempat di mana fresh grad belajar, dan lalu terbang kalo udah pinter.. makanya mereka bayarnya kecil.. cuma, kalo dibilang gak salah sih…. ehm.. gimana ya, aku si ngeliatnya bahwa mereka gak fair dengan karyawan mereka.. mereka bayar Ishadi SK dan Wishnutama ratusan juta sebulan, sedangkan karyawan inti yg justru menjadi ikon perusahaan malah dibayar setara dengan karyawannya JTV.. isu fairness ini yg sebenarnya aku angkat

    seandainya aja aku boleh ngomong lebih dalam gimana busuknya kondisi di dalam trans tv….

  22. agus Says:

    hampir sama dengan mahasiswa magang dikantor gua dong.. !
    huhuhuhuhu

  23. Lutfi Prasetyo Says:

    Walah walah…. parah banget y???
    padahal q kira Trans gajinya lebih besar dari kerjaanq dulu jadi call center Telkomsel sekitar 2,3 jt…..
    Jadi Trans Corp g bonafit dong???

  24. only Me! Says:

    Hayoo Transcorp..
    tahun ini juga buktikan bahwa Transcorp peduli terhadap kesejahteraan karyawannya, I know U could!!
    ————– Rememmber your become BiG because them too ————–
    ga mungkin khaann program2 keren cuma dikerjakan ama 3 dirut saja,
    tentu mereka tetap membutuhkan karyawannya untuk mbuat itu smua..
    apalgi Transcorp di th 2009 mmpu MENDOMINASI Panasonic Award, salut!
    sama aja khann seperti kepala membutuhkan tangan dan kaki,
    semua saling membutuhkan..
    yang Atasan butuh karyawan, yg karyawan pun demikian.
    kesejahteraan SDM = kesejahteraan Perusahaan.
    ayo bag.Keuangan.. inisiatif!
    aku yakin..
    Transcorp mampu menghargai karyawannya lebih dari yang mereka harapkan, because Transcorp is about Family.
    SEMANGAT TRANSCORP, PAsti BIsa!!!

  25. budi Says:

    Kemana tuh uang keuntungan ratusan miliar ?? kok cuman bubuk dan ampas doang ke karyawannya?
    Aneh…. banget ya perusahan yang untung gede kaya transtv. menghargai karyawan seperti lulusan smp.

    inisih bukan lagi kapal keruk tapi udah vacum cleaner. semua disedot owner.

  26. budi Says:

    http://www.tempointeractive.com/hg/ekbis/2006/06/21/brk,20060621-79220,id.html

    Anak perusahaan Para Group itu mentargetkan pendapatan usaha 2006 naik 30 persen menjadi Rp 910 miliar dari tahun sebelumnya Rp 700 miliar.

    WAHHHHH………… ITU UANG PEDAPATAN DIMAKAN SENDIRI BULAT2x

    amit2x ya.

Leave a Reply