Dewi Perssik & Tuntutan Pekerjaan
Sudah beberapa hari ini, media televisi ramai memberitakan kasus Dewi Perssik yang (lagi-lagi) dicekal, gak boleh manggung. Setelah Tangerang, sekarang giliran Bandung. Kalau ketika dicekal oleh Walikota Tangerang, ia bereaksi dengan emosi tinggi, berapi-api, dan melontarkan kalimat-kalimat yang pedas (yang justru menunjukkan kebodohannya…), sekarang ia lebih tenang dalam menghadapi cekal yang diberlakukan Walikota Bandung.
Sebenarnya sih, aku gak terlalu mengikuti gosip para selebriti yang sekarang terkesan begitu murahan. Cuma ketika kasus si Dewi Perssik ini, aku jadi agak terusik. Bukan karena si Dewi Perssik tetap keukeuh dengan sikapnya untuk tetap menjadi penyanyi erotis (kalo itu sih, udah jelas banget dia suka bererotis-ria..!! Ngapain juga kaget..!!). Yang bikin aku tertegun adalah ketika aku mendengar alasannya, kenapa kok dia ngeyel mau berpenampilan erotis. Alasan yang selalu dia kemukakan di televisi dan di media massa lainnya adalah bahwa penampilannya yang erotis, mengumbar dan membuka segala yang dia punya, dan menawarkan kemolekannya yang sintal dengan binal adalah karena hal itu merupakan TUNTUTAN PEKERJAAN.
Gedubrak..!!!! Ketik C..spasi D…cappeeek dehhhh…!!!
Rasanya ini adalah alasan klasik yang disodorkan oleh artis-artis berpenampilan "banyak amal" (karena banyak ngasih pemandangan yang menyenangkan…hehehe...) kepada publik ketika mereka ditodong pertanyaan "kenapa sih kok harus berbuka-buka ria…?" Aku masih ingat, jawaban seperti itu pulalah yang diberikan Sarah Azhari, Sally Marcelina, Julia Perez, dan artis-artis erotis lainnya yang mengandalkan pay****a, va***a, atau pant*t untuk bekerja ketika menjawab pertanyaan serupa.
Buat aku, jawaban itu adalah jawaban orang-orang bodoh..!!! Aku nggak bilang bodoh dalam pengertian akademis, tapi dalam pengertian umum yang lebih luas. TUNTUTAN PEKERJAAN adalah jawaban klasik yang sebenarnya menunjukkan bahwa yang bersangkutan justru menghalalkan segala cara untuk bekerja, termasuk mengeksploitasi sumber daya yang mereka miliki untuk menciptakan erotisme bagi laki-laki.
Sekarang coba aja pikirkan, seandainya Dewi Perssik berdalih bahwa menyanyi di panggung dengan pakaian yang begitu erotis dan seronok sambil menari-nari binal kayak kuda liar adalah karena tuntutan pekerjaan, berarti nanti tukang copet yang kepergok lagi nyopet di sebuah konser bisa juga berdalih "saya jangan dilarang nyopet dong, itu kan tuntutan pekerjaan saya sebagai tukang copet..!!". Begitu juga preman pasar atau pelaku industri narkoba.
Apa benar industri musik ndangdut plekenut itu menuntut penyanyinya berpenampilan ala Xena the Warrior Princess..? yang pakaiannya berfungsi bukan untuk menutupi, tapi justru untuk memperlihatkan..? apa memang industri musik ndangdut plekenut itu menuntut penyanyinya untuk tampil dengan goyang erotis seperti penari striptease atau pelacur kelas tinggi yang sedang tampil di depan ribuan penonton..?
Dan berani-beraninya pula si Dewi Perssik itu bilang bahwa apa yang dilakukannya selama ini masih dalam batas kewajaran dan sudah DIRESTUI OLEH ORANG TUANYA… Astaghfirullah...!!!! Apa iya orangtuanya, ayah ibunya, bersuka-cita melihat puterinya mengobral erotismenya di depan ribuan laki-laki..? Apa iya di Jember wanita-wanita penggemar musik ndangdut plekenut itu suka mengenakan baju yang lebih mirip kutang robek..? Apa iya gerakan-gerakan yang ia lakukan itu masih dalam batas kewajaran dan tidak menimbulkan birahi laki-laki..? Padahal banyak sekali kasus di daerah, para kaum pria melakukan tindakan pemerkosaan langsung setelah menonton konser Dewi Perssik.
Aku gak bisa membayangkan orangtua macam apa yang merelakan anaknya tampil begitu liar dan binal dengan kutang robek di atas panggung, disaksikan ribuan lelaki yang (mungkin) bernafsu untuk meraih dan meremas-remas pay****a-nya (seperti kejadian beberapa waktu lalu..)…
Amit-amit..!!!
Tapi jangan disalahartikan bahwa aku ini gak suka dengan Dewi Perssik secara personal lho ya..!! Gak lah..!! Kenal aja nggak…. Justru aku ni merasa kasihan. Kasihan pada Dewi Perssik (dan para selebriti penjaja pay****a dan goyang vag**a). Begitu doyannya mereka pada duit, sampe-sampe mereka merelakan kehormatan mereka sendiri diobral di depan ribuan laki-laki. Masih mending para pelacur di lokalisasi yang menjual diri untuk bertahan hidup..!! Dan aku bisa membayangkan betapa nelangsanya orangtua mereka seandainya mereka bisa melihat secara langsung, dari dekat, betapa binalnya penampilan puteri-puteri mereka… Dengan busana seperti kutang robek, bongkahan pay****a tampak membungkah dengan jelas di sela-sela kutangnya, lalu lekuk tubuhnya yang sengaja dipertontonkan dengan jelas, dan kemudian bergoyang-goyang kesetanan seakan untuk memperjelas kebinalan dalam hati mereka…
Dan itu mereka lakukan, atas nama TUNTUTAN PEKERJAAN…

April 14th, 2008 at 7:48 am
Apa kabar Pak?
Temanya menarik juga, jadi kepengen komentar nih,
Terlepas dari unsur etis, do’i adalah seorang businesswoman unggul, tahu bagaimana mendayagunakan sumber daya yang dimiliki secara maksimal. Dewi Persik kapitalis sejati, seorang pemilik aset yang doyan mengeksploitasi propertinya untuk memaksimalkan kekayaan. Dia tidak bisa disalahkan selama mekanisme pasar masih berlaku, toh masih ada juga yang mau lihat goyangannya…
April 15th, 2008 at 5:07 am
pak, komen pertamaku nih…
saya stuju bgt pak, sbagai penikmat infotainment sejati, kayaknya dewi perssik baru sadar setelah dia dicekal di bandung,maklum nih, bandung kan lebih besar dari tangerang…
klo mnurut saya sih yang dia jual itu memang goyangnya yg seperti itu dan pakaiannya yang seperti itu…
perasaan sih klo dangdut bajunya kan ga harus kayak gitu, si inul itu perasaan bajunya rata2 lengan panjang sama clana panjang kan walopun ketat…
hehehe…
yang jelas sih saya suka bete duluan kalau dia lagi ngasih komen di infotainment, ga intelek bgt bahasanya… emosian banget,… walopun masih muda harusnya kan bisa disikapi dgn kata2 yg lebih sopan…
sip pak!
cheers..!!
=)
April 19th, 2008 at 10:00 am
Pak..Ajarin cara nulis dong…
katanya pak sony enak dibaca,, bukan kayak bacaan tapi kayak ngajak ngomong..hehehe
Notes: SIMnya jgn sulit2 ya pak..
April 21st, 2008 at 10:21 am
weeeww…jujur ni pak…kalo liat dewi perssik tu cenderung ke arah “jijik” d pak…gayanya tu lo pak…apalagi kalo ngomong dilebih2kan…contohnya waktu insiden towel2 beberapa waktu lalu, jelas terlihat klo fans usilnya tu cuma nowel aja…tapi dewi perssik membuat pengakuan yang sangat dilebih2kan di media massa bahwa p******anya diremas…yang lebih membuat gregetan, kenapa dia harus memperagakan gerakan meremas p******a itu…dia memperagakan dengan gamblang dengan gerakan tangan yang meremas dari bawah dan dia menekankan dengan kata-kata!! yang terlintas dipikiranku, gila ni orang, yang seperti itu seharusnya jadi “aib”, malah diomong2kan ke khalayak ramai…apa tendensinya dia berlaku seperti itu?entah cari sensasi,popularitas,mengumbar keseksian,ato memang dia sendiri yang senang dilecehkan?
Blum lagi,beberapa kali aq liat di talkshow macam dorceshow & empat mata,gaya ngomonga tu…astopirulloohh…jelas sekali dia pengen mengumbar aurat…belum lagi dia ngomong sendiri nggak jelas dengan gaya yang sangat dibuat-buat untuk mengundang “birahi” dan menurut saya sudah mengambil wilayah presenter selaku “penguasa” acara…kesannya dia tu cari perhatian banget dengan segala cara…
trus, mengomentari pemerkosaan yang dilakukan habis nonton konser dangdut…selain penyanyinya yang emang agak “mengundang”,kadang2,penontonnya itu juga agak keterlaluan deh pak…apa iya,habis nonton konser seperti itu langsung “turned on”? menurut saya,kebanyakan pelaku pemerkosaan dengan modus seperti itu,nuwunsewu sebelumnya,kan dari golongan menengah ke bawah yang notabene latar belakang pendidikan dan psikologisnya agak kurang bagus ya pak,jadi menurut saya dibeberapa kasus,pelaku sendiri yang “oversensitive” he27x…jadi ya bisa dibilang EQ sm SQnya kurang bagus gitulah…:p”
tapi, seandainya aq jadi saipul jamil,kliatannya aq juga bakal melakukan langkah yang sama,yaitu menceraikan dewi perssik…udah nggak nurut suami,ngumbar aurat,tapi masih saja dia memakai kedok agama dan tuntutan pekerjaan untuk membuat pembelaan…
trus,berhubung dalam suasana hari kartini…menurutq dewi perssik malah menjatuhkan kodrat,harkat,martabat wanita yang sudah susah payah dibangun oleh Ibu Kartini…Ya…sayang sekali kalo perbuatan seorang dewi perssik mencemarkan kodrat,harkat,martabat wanita Indonesia…
April 28th, 2008 at 10:53 am
siapa tau memang tuntutan pekerjaan di kontraknya emang disuruh ber-erotis ria gitu lho pak… huhuhu…
yang agak aneh lagi julia perez benernya pal. gak tau lagi sih kalo salah info, soalnya saya baru sekali liat beritanya. katanya album julia perez dicekal dan dihujat sama menteri peranan wanita kalo gak salah. nah itu karena di albumnya bonus kondom.
menurut saya ini konyol, dan sekali lagi menggambarkan dengan jelas wajah pemerintah saat ini. bisanya cuma reaktif. sama kayak kasus M.Nuh beberapa saat lalu (masih dendam nih saya, sama si roy suryo juga tuh!).
Balik ke masalah kondom, kenapa ngasi bonus kondom kok dibilang menghalalkan perzinaan dan pake dicekal segala macam? kenapa tidak disikapi sebagai upaya pencegahan HIV AIDS atau SAFE SEX? saya pernah menjumpai ada amajalah indo ngasih bonus kondom di salah satu edisi, dan gak ada yang ribut. ternyata walopun kelas menteri, keputusannya masih emosional juga. payah nih. saya dukung jupe untuk kasus ini.
satu lagi tentang jupe, kalo gak salah info lagi. kenapa album jupe yang album musik, diprotes oleh LSF (Lembaga Sensor Film) karena belum diproses di LSF sebelum dirilis? itu kan album musik bukan film… perasaan temen saya yang rilis album bandnya secara nasional juga ga perlu ke LSF segala. kenapa pemerintah menjadi begini rupa ya…? saya malu…
kembali ke dewi perssik, dan dunia dangdut. sepertinya konser dangdut di daerah daerah itu emang udah jamak sebagai ajang mendem n ngaceng (sori) buat para penontonnya. emang udah diniatin kok pak nafsu-nafsuan kayak gitu itu. konser dangdut jauh lebih negatif daripada konser metal.
btw, kenapa ngetik payudara, vagina dan pantatn pake disensor? di buku biologi aja ga disensor.. hahahaha…
CMIIW….
whisper words of wisdom, let it be…
April 28th, 2008 at 7:30 pm
hahaha…lha kamu dendam ama pak Nuh & Roy Suryo gara2 kamu gak bisa liat situs porno lagi yaaaa…???
emang sih, meski aku gak suka sama tingkah polahnya artis yg jual payudara dan vagina (lho, wis tak tulis komplit gak pake sensor..), tapi aku setuju dgn kamu Jay kalo pemerintah kita emang rada childish dalam merespon perilaku salah masyarakat. terlalu parno gitu..!
bukannya berusaha mengedukasi masyarakat, malah berusaha menutup-nutupi.. lha kan jadi tambah penasaran, opo toh sing ditutupi iku..??
April 30th, 2008 at 10:23 am
hahaha… ya iyalah pak salah satunya karena ga bisa liat situs porno… hwahahahaha… tapi yang gara2 video fitna itu parah, masa multiply, youtube, myspace sampe di blok. ibarat menangkat kanker jadi harus dibius total dulu katanya pak. apalagi sama Roy Suryo, masa pake nyalah2in blogger waktu situs depkominfo di hack. hacker, cracker dan blogger katanya… halah….
sedikit lagi kita kembali ke jaman orba, dimana informasi dikebiri. wuih sok kritis nih aku…
April 30th, 2008 at 8:19 pm
btw pak saya lahir di jember lo pak. tapi saya suka pake baju normal. aduh gak nyaman dunk kalu pake kutang robek. katanya dewi persik cuma takut sama TUHAN la kok malah UDO! betina yg aneh…
July 18th, 2008 at 7:17 am
oh alah pak, istilah ndangdut plekenut itu dapet dari mana tho ? ana-ana bae.
Pantesan dicerai ama bang ipul soalnya bang ipul capek baca istighfar. He…3x
Btw nih pak, ndangdut plekenuter kok pada demen yah? kalo ditambah dua penari erotis aja pasti uda mbentuk TRIO MICIN NDANGDUT PLEKENUTERS.
Hwe…kkkk…gak penting kok