Archive for April, 2008

TRANS TV: Sebuah Catatan Ironi

Saturday, April 19th, 2008

Ketika pertama kali aku main-main ke Trans TV di daerah Mampang, Jakarta Selatan, aku melihat ada sesuatu yang menarik. Saat itu aku duduk di Coffee Bean; (persis di kursi sebelah Julie Estelle yang keliatan suntuk nungguin Moreno yang sedang didapuk menjadi komentator liputan Balap Mobil F1 Trans7) sambil nungguin Prabu Revolusi. Dari kursiku, aku bisa memandang begitu banyak orang berseragam hitam hitam berseliweran di lobi utama Trans Corp. Dan aku melihat adanya kebanggaan di wajah mereka semua mengenakan seragam hitam-hitam itu. Kata salah seorang campers (camera-person) Jelang Sore yang aku kenal, tiap karyawan Trans akan merasa bahwa seragam mereka itulah yang mengikat hati mereka dan membuncahkan kebanggaan mereka menjadi karyawan Trans. Terutama bagi anak-anak baru.

"Istilahnya, gak usah pake duit asal kamu pake tu seragam pasti bisa dah dipake buat ngelamar anak orang.." katanya.

Aku sendiri melihat bahwa Trans TV memang memiliki citra yang sangat positif sebagai salah satu perusahaan yang paling dituju oleh lulusan S1 setelah mereka lulus kuliah. Masih ingat kan, program rekrutmen Trans TV bulan Januari 2007 yang masuk rekor MURI karena jumlah pesertanya yang mencapai lebih dari 100.000 pelamar..? Itu saja sudah menunjukkan betapa tinggi citra merek Trans TV di mata masyarakat Indonesia. Dengan demikian, mestinya orang-orang berseragam hitam-hitam yang aku lihat di lobi TransCorp memiliki kebanggaan yang besar bisa lolos seleksi dan bekerja di salah satu perusahaan idaman para pencari kerja. Paling tidak, itulah dugaanku semula..

Namun sejak akhir 2007, aku mendengar kabar bahwa banyak karyawan Trans TV yang sudah dan akan mengundurkan diri dalam waktu dekat. Awal 2007, presenter-presenter handal Trans TV seperti Mohammad Rizky Hidayatullah, Tina Talissa, Afaf Bawazier, Budi Irawan, Hanum Rais, dan lain-lain sudah hengkang ke stasiun TV lain, pada akhir 2007 gelombang eksodus itu mengalir lagi. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung. Dalam empat bulan hingga Desember 2007, jumlah presenter, reporter, campers, dan karyawan produksi Trans TV yang hengkang mencapai lebih dari 60 orang!! Dan yang hengkang bukanlah orang-orang sembarangan..!! 90% dari mereka yang hengkang adalah mereka yang memiliki dedikasi yang tinggi pada pekerjaan dan kinerja yang luar biasa.

Mau contoh?

Ratna Dumila, presenter cantik lulusan Fakultas Hukum UNAIR yang sudah digadang-gadang Chairul Tanjung menjadi ikon Trans TV bersama Prabu Revolusi, secara mendadak hengkang ke TV-One. Tidak hanya Mila, yang juga memutuskan ikut dalam gelombang eksodus itu termasuk juga presenter kesayangan pemirsa Trans TV Githa Nafeeza, Reza Prahadian (wartawan kepresidenan Trans TV), Divi Lukmansyah (Koordinator seluruh presenter Trans TV), Iwan Sudirwan (Kepala Divisi - boss besar seluruh program berita Trans TV), bahkan sampai produser Reportase Investigasi yang menghasilkan liputan-liputan luar biasa tentang tahu berbahan formalin, bakso daging tikus, atau obat-obatan daur ulang. Bayangkan kalau 60 orang dengan kualitas sehebat itu kemudian pindah dalam waktu yang hampir bersamaan..!! Dan gelombang eksodus itu bahkan masih berlanjut sampai Maret 2008, meskipun jumlah yang keluar tidak sebanyak tahun 2007. Tapi, bila ditotal, jumlah mereka yang memutuskan untuk hengkang dari Trans TV sejak tahun 2007 sampai dengan Maret 2008 mencapai hampir 100 orang. Buatku, itu suatu jumlah yang luar biasa..!!!

Kedekatanku dengan beberapa reporter, presenter, dan campers Trans TV memungkinkan aku untuk bertanya-tanya pada mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mereka semua menyampaikan jawaban yang senada, yaitu bahwa mereka merasa bahwa Trans TV kurang memberikan penghargaan atas apa yang mereka lakukan buat perusahaan. Dedikasi dan loyalitas yang mereka berikan ternyata tidak disambut dengan sepadan oleh perusahaan. Hal ini membuat kebanyakan orang-orang terbaik Trans TV memilih untuk hengkang, meskipun kenyamanan atmosfir kerja di Trans TV masih belum bisa ditandingi oleh stasiun TV lainnya di Indonesia.

Dengan informasi sebatas itu, saat itu aku masih bertanya-tanya. Karena menurutku, biasanya orang-orang media, apalagi yang memiliki kinerja yang bagus, kebanyakan lebih mementingkan kondisi kerja yang kondusif. Kenyamanan lingkungan kerja bagi pekerja profesi, biasanya, jauh lebih penting dibandingkan penghargaan, apalagi penghargaan berupa uang. Jadi, aku merasa bahwa mestinya ada hal lain yang membuat orang-orang terbaik Trans TV hengkang dan mencari pelabuhan baru pada waktu yang hampir bersamaan.

Baru pada awal bulan lalu aku menemukan jawabnya. Dari perbincangan dengan beberapa orang teman Trans TV, aku menemukan sesuatu yang sangat menarik. Sekaligus mengherankan. Ternyata di antara Stasiun TV swasta nasional lain di Indonesia, Trans TV adalah stasiun TV yang menawarkan penghasilan PALING RENDAH. Bahkan, standar gaji Trans TV setara dengan standar gaji stasiun TV lokal seperti Banten-TV atau JTV..!!

Ingat, program rekrutmen Trans TV Januari 2007 yang masuk MURI yang tadi sempat aku singgung? Mereka yang direkrut dari program itu menerima take home pay Rp 1.500.000,- plus uang makan Rp 10.000 per hari masuk. Pernah lihat iklan rekrutmen presenter, reporter, dan campers yang dilaksanakan di kampus-kampus di Surabaya (UNAIR), Yogyakarta (UPN), Bandung (UNPAD) pada bulan April 2008? Mereka yang lolos rekrutmen itu akan (masih rencana nih…) menerima take home pay Rp 1.700.000,- plus uang makan Rp 10.000 per hari masuk. Mereka yang memiliki jatah sebagai presenter acara di TV, seperti Prabu Revolusi (Reportase Sore dan Reportase Investigasi), Ryan Wiedaryanto (Reportase Sore dan Reportase Akhir Pekan), atau Sharah Aryo (Jelang Sore) lebih beruntung. Karena mereka juga mendapat honor presenter, yaitu kurang lebih Rp 70.000 untuk sekali tampil.

Aku begitu kagetnya mendengar informasi itu. Terbayang olehku ketika aku ikut proses liputan Jelang Sore di Surabaya dan Bandung yang begitu melelahkan. Dan untuk itu hanya mendapat penghasilan segitu..?? Pantaskah..??? Gak usah bilang pantas atau tidak pantas deh. Cukupkah untuk hidup..??? Uang kos di daerah Mampang berkisar Rp 600.000 sebulan dengan fasilitas minimal dan langganan banjir, buat beli makan malam kurang lebih Rp 15.000 sekali makan di warung sederhana, belum buat beli pulsa HP, buat transpor ojek yang Rp 5000 dari tempat kos ke kantor Trans TV, buat sekedar jajan atau nonton kalo lagi malam mingguan. Berapa yang masih tersisa dan cukup untuk ditabung…???

Bukan cuma itu. Dari informasi itu pula, aku jadi tahu bahwa take home pay karyawan Trans TV yang sudah menduduki jabatan Produser sebuah program (yang notabene tinggal di Jakarta) ternyata masih lebih rendah dibandingkan take home pay rata-rata PNS dosen Universitas Airlangga..!!!

Aku tak mampu berkata apa-apa. Karena aku jadi langsung tahu, sangat rasional kalau seorang presenter berita Trans TV yang sudah cukup senior dengan take home pay berkisar Rp 2,5 juta sampai 3 juta per bulan langsung memutuskan untuk pindah begitu ditawari oleh TV-One take home pay tiga kali lipatnya. Seorang presenter berita Trans TV dengan gaji sebesar Rp 2,5 - 3 juta sebulan masih punya kewajiban untuk turun ke lapangan melakukan liputan seharian penuh, kembali ke kantor untuk mengedit liputannya sekaligus melakukan VO (Voice Over atau Dubbing), lalu menyiapkan materi liputan besok atau bersiap-siap tampil menyajikan berita, dan baru pulang ke rumah pukul 21 untuk kembali masuk pukul 8 pagi esok harinya.

Kebayang gak, gimana kehidupan presenter atau reporter Trans TV yang sudah berkeluarga..? Dengan jam kerja yang begitu panjang, deadline yang begitu ketat, dan penghasilan yang begitu seadanya, apa yang dapat mereka berikan dengan layak untuk istri dan anak mereka..? Seorang karyawan dengan loyalitas dan dedikasi tinggi sekalipun pasti akan terpaksa berpikir rasional dan menerima tawaran lain yang lebih manusiawi. Mungkin saja mereka tidak akan dapat merasakan suasana kerja yang senyaman di Trans TV, tapi aku yakin mereka akan dapat menerimanya (dengan terpaksa) demi tuntutan hidup yang harus mereka penuhi.

Aku bisa memahami itu semua kini, mengapa begitu banyak orang-orang hebat Trans TV yang memilih untuk mencari tempat yang baru. Money is not everything, but sometimes without money everything is nothing.. Sangat manusiawi apabila mereka-mereka yang memiliki kinerja yang bagus dan dedikasi serta loyalitas yang tinggi harus takluk pada kebutuhan yang paling mendasar yaitu uang.

Tapi, ada satu hal yang masih menggelitik pikiranku. Aku pernah membaca di majalah SWA pada edisi yang membahas tentang para eksekutif muda dan eksekutif yang diburu oleh headhunters (para pencari, pemburu, dan pembajak tenaga kerja level eksekutif dari perusahaan lain). Di artikel itu, tertulis bahwa dua pucuk pimpinan Trans TV, yaitu Ishadi SK dan Wishnutama adalah dua eksekutif yang menerima take home pay lebih dari Rp 100 juta per bulan. Mengingat struktur organisasi Trans TV yang cenderung flat, ketimpangan ini membuatku kembali bertanya-tanya….

Apa yang sebenarnya terjadi…?? 

Dewi Perssik & Tuntutan Pekerjaan

Monday, April 14th, 2008

Sudah beberapa hari ini, media televisi ramai memberitakan kasus Dewi Perssik yang (lagi-lagi) dicekal, gak boleh manggung. Setelah Tangerang, sekarang giliran Bandung. Kalau ketika dicekal oleh Walikota Tangerang, ia bereaksi dengan emosi tinggi, berapi-api, dan melontarkan kalimat-kalimat yang pedas (yang justru menunjukkan kebodohannya…), sekarang ia lebih tenang dalam menghadapi cekal yang diberlakukan Walikota Bandung.

Sebenarnya sih, aku gak terlalu mengikuti gosip para selebriti yang sekarang terkesan begitu murahan. Cuma ketika kasus si Dewi Perssik ini, aku jadi agak terusik. Bukan karena si Dewi Perssik tetap keukeuh dengan sikapnya untuk tetap menjadi penyanyi erotis (kalo itu sih, udah jelas banget dia suka bererotis-ria..!! Ngapain juga kaget..!!). Yang bikin aku tertegun adalah ketika aku mendengar alasannya, kenapa kok dia ngeyel mau berpenampilan erotis. Alasan yang selalu dia kemukakan di televisi dan di media massa lainnya adalah bahwa penampilannya yang erotis, mengumbar dan membuka segala yang dia punya, dan menawarkan kemolekannya yang sintal dengan binal adalah karena hal itu merupakan TUNTUTAN PEKERJAAN.

Gedubrak..!!!! Ketik C..spasi D…cappeeek dehhhh…!!!

Rasanya ini adalah alasan klasik yang disodorkan oleh artis-artis berpenampilan "banyak amal" (karena banyak ngasih pemandangan yang menyenangkan…hehehe...) kepada publik ketika mereka ditodong pertanyaan "kenapa sih kok harus berbuka-buka ria…?" Aku masih ingat, jawaban seperti itu pulalah yang diberikan Sarah Azhari, Sally Marcelina, Julia Perez, dan artis-artis erotis lainnya yang mengandalkan pay****a, va***a, atau pant*t untuk bekerja ketika menjawab pertanyaan serupa.

Buat aku, jawaban itu adalah jawaban orang-orang bodoh..!!! Aku nggak bilang bodoh dalam pengertian akademis, tapi dalam pengertian umum yang lebih luas. TUNTUTAN PEKERJAAN adalah jawaban klasik yang sebenarnya menunjukkan bahwa yang bersangkutan justru menghalalkan segala cara untuk bekerja, termasuk mengeksploitasi sumber daya yang mereka miliki untuk menciptakan erotisme bagi laki-laki.

Sekarang coba aja pikirkan, seandainya Dewi Perssik berdalih bahwa menyanyi di panggung dengan pakaian yang begitu erotis dan seronok sambil menari-nari binal kayak kuda liar adalah karena tuntutan pekerjaan, berarti nanti tukang copet yang kepergok lagi nyopet di sebuah konser bisa juga berdalih "saya jangan dilarang nyopet dong, itu kan tuntutan pekerjaan saya sebagai tukang copet..!!". Begitu juga preman pasar atau pelaku industri narkoba.

Apa benar industri musik ndangdut plekenut itu menuntut penyanyinya berpenampilan ala Xena the Warrior Princess..? yang pakaiannya berfungsi bukan untuk menutupi, tapi justru untuk memperlihatkan..? apa memang industri musik ndangdut plekenut itu menuntut penyanyinya untuk tampil dengan goyang erotis seperti penari striptease atau pelacur kelas tinggi yang sedang tampil di depan ribuan penonton..? 

Dan berani-beraninya pula si Dewi Perssik itu bilang bahwa apa yang dilakukannya selama ini masih dalam batas kewajaran dan sudah DIRESTUI OLEH ORANG TUANYAAstaghfirullah...!!!! Apa iya orangtuanya, ayah ibunya, bersuka-cita melihat puterinya mengobral erotismenya di depan ribuan laki-laki..? Apa iya di Jember wanita-wanita penggemar musik ndangdut plekenut itu suka mengenakan baju yang lebih mirip kutang robek..? Apa iya gerakan-gerakan yang ia lakukan itu masih dalam batas kewajaran dan tidak menimbulkan birahi laki-laki..? Padahal banyak sekali kasus di daerah, para kaum pria melakukan tindakan pemerkosaan langsung setelah menonton konser Dewi Perssik.

Aku gak bisa membayangkan orangtua macam apa yang merelakan anaknya tampil begitu liar dan binal dengan kutang robek di atas panggung, disaksikan ribuan lelaki yang (mungkin) bernafsu untuk meraih dan meremas-remas pay****a-nya (seperti kejadian beberapa waktu lalu..)…

Dewi1

Amit-amit..!!!

Tapi jangan disalahartikan bahwa aku ini gak suka dengan Dewi Perssik secara personal lho ya..!! Gak lah..!! Kenal aja nggak…. Justru aku ni merasa kasihan. Kasihan pada Dewi Perssik (dan para selebriti penjaja pay****a dan goyang vag**a). Begitu doyannya mereka pada duit, sampe-sampe mereka merelakan kehormatan mereka sendiri diobral di depan ribuan laki-laki. Masih mending para pelacur di lokalisasi yang menjual diri untuk bertahan hidup..!! Dan aku bisa membayangkan betapa nelangsanya orangtua mereka seandainya mereka bisa melihat secara langsung, dari dekat, betapa binalnya penampilan puteri-puteri mereka… Dengan busana seperti kutang robek, bongkahan pay****a tampak membungkah dengan jelas di sela-sela kutangnya, lalu lekuk tubuhnya yang sengaja dipertontonkan dengan jelas, dan kemudian bergoyang-goyang kesetanan seakan untuk memperjelas kebinalan dalam hati mereka…

Dan itu mereka lakukan, atas nama TUNTUTAN PEKERJAAN…