Skripsi
Sejak awal tahun lalu, aku diminta menjadi pembimbing skripsi. Emang sih, belum menjadi pembimbing tunggal, tapi masih tandem dengan seorang dosen senior lain. Jadi, mahasiswa yang mendapat dosen pembimbing tersebut untuk mengerjakan skripsinya juga bisa berkonsultasi dengan aku sebagai pembimbing pendamping. Sebenarnya praktek ini sudah lazim dilakukan pada tingkat doktoral atau S3 di Indonesia, namun hal ini menjadi terobosan bagi FE Unair karena hanya konsentrasi Pemasaran yang menerapkan kebijakan tersebut.
Sampai saat ini, anak bimbinganku belum banyak. Masih bisa dihitung dengan jari tangan. Dan salah satu di antara sedikit orang itu akan maju sidang Rabu besok, tanggal 27 Februari 2008. Topik skripsi yang diangkatnya termasuk baru. Bahkan bisa dikatakan tidak ada jurnal akademik yang pernah meneliti topik tersebut. Memang sebagaimana dosen partnerku, aku memang tidak menyukai topik skripsi yang kacangan apalagi yang hanya merupakan replikasi dari tulisan yang sudah ada di jurnal. Jadi, ketika si mahasiswa ini menyodorkan topik itu, kami berdua pun tertarik untuk membimbingnya.
Bisa nggak kalian membayangkan, seorang mahasiswa mau menulis skripsi tentang sesuatu yang belum pernah ada acuannya di jurnal ilmiah sebelumnya..? Sama sekali..!! Coba aja cari di Proquest, cari topik tentang Iklan Testimonial, pasti gak ada..!! Ada juga cuma satu, itu pun hanya abstraksi proceeding yang tidak mungkin bisa diperoleh full textnya. Dan yang lebih parah, si mahasiswa bukanlah mahasiswa yang rajin membaca sehingga pemahamannya saat itu tentang apa yang mau ditulisnya bisa dikatakan kosong melompong..!! Ditanya soal alat statistik yang mau dipake aja sama sekali nggak ngerti..
Dosen pembimbing partnerku memiliki kebijakan untuk menyerahkan proses pembimbingan awal kepadaku; mulai meletakkan pondasi pemahaman atas permasalahan, sampai penulisan pra-proposal untuk memperjelas apa yang mau ditulis, dan hal-hal lain yang sifatnya fundamental. Beliau nanti akan menjalankan fungsi konfirmatif dan konsultatif atas apa-apa yang aku sarankan pada mahasiswa bimbingan. Jadilah, aku yang setengah mati "memaksa" mahasiswa yang bersangkutan untuk mau membaca dengan tekun, mencari semua literatur yang berkaitan dengan topik yang dibahas, bahkan aku sempat mengancamnya bahwa aku nggak mau diajak bimbingan kalau dia masih belum paham apa yang mau ditulisnya. Bukan cuma itu. Buku-buku dan jurnal-jurnal yang sekiranya bisa digunakan sebagai acuan pun aku pinjamkan. Sampai-sampai, ketika dia sadar bahwa dia harus memiliki iklan untuk bahan eksperimen skripsinya pun, aku pula yang membelikan beberapa iklan yang dia butuhkan tersebut. Bahkan untuk respondennya pun, aku mempersilakan dia meminta sedikit waktuku di kelas untuk menyebarkan kuesioner di beberapa kelasku…
Aku sih nggak pernah minta pamrih apa-apa melakukan hal itu semua, meski apa yang kulakukan kayaknya nggak bakal dilakukan oleh dosen pembimbing yang lain. Asal mahasiswaku bisa menghasilkan sebuah karya yang berkualitas, aku sudah seneng..
Cuma, kenapa ya, aku menjadi agak sakit hati ketika aku mendengar dari beberapa orang, bahwa dia; si mahasiswa tersebut, secara eksplisit menyatakan kepada beberapa mahasiswa lain, bahwa aku bukanlah dosen pembimbingnya. Dia mengatakan bahwa dosen pembimbingnya hanya satu, yaitu dosen partner seniorku tadi. Padahal dia sendiri tahu, bahwa dia harus melalui aku dulu sebelum bimbingan ke dosen senior tadi.. Entah di benaknya apa sebenarnya posisiku dalam pengerjaan skripsinya.
Aku juga nggak tahu, apa artinya selama ini dia datang kepadaku setiap kali akan menghadap dosen pembimbing satunya untuk menyodorkan tulisannya… Apa artinya dia mengajakku diskusi panjang lebar tentang apa yang akan ditulisnya dalam skripsi…. Apa artinya interaksi yang selama ini terjadi antara aku dan dia yang begitu intens… Aku nggak tau apa artinya semua yang aku lakukan ini buat dirinya…
Dan, aku lebih kecewa lagi ketika melihat di dalam skripsinya, namaku pun bahkan tak tercantum dalam ucapan terima kasih…
Aku nggak tau ya, apakah apa yang aku rasakan ini merupakan salah satu bentuk pamrih yang aku minta dari seorang mahasiswa… Aku hanya merasa kecewa menyadari bahwa ternyata apa yang aku lakukan buat dia; ya diskusi panjang lebar, ya minjemin buku-buku, ya nyariin jurnal-jurnal, ya beliin beberapa iklan TV, ya bantu nyebarin kuesioner, dan hal lain-lain yang dimintanya dariku dan kemudian aku lakukan ternyata masih belum cukup berarti bagi dirinya… Tidak cukup berarti untuk diakui.. Dan tidak cukup berarti untuk diberi ucapan terima kasih…
February 27th, 2008 at 8:47 am
dan doi dapet B buat skripsinya ya pak… hehehe… mungkin ucapan terimakasihnya belum lengkap pak, ntar paling di revisi lagi abis sidang kemaren.
pak aku barusan daftar sidang, mohon doanya… biar dapet hasil terbaik…
February 28th, 2008 at 1:56 am
kalau mahasiswanya nggak ngelupa’in semua bantuan dari Bapak, kira-kira hasil ujian skripsinya bisa A dong…:)
February 29th, 2008 at 8:41 pm
well, semuanya sudah selesai kok.. biar tulisan ini menjadi pelajaran bagi yang lain untuk bisa lebih menghargai orang lain, siapapun dia…
March 26th, 2008 at 7:10 pm
bapak… bantuin akuuuu dong aku lg bikin TA tentang pra produksi tv & produksi acara tv tapi aku bingung nentuin teory….
plissss bantuin kau binguuung
April 4th, 2008 at 2:25 am
Ya…ikhlas itu memang berat Mas…batasan antara ikhlas dan pamrih itu sangat tipis sekali…..Menurut saya juga keterlaluan tuch mahasiswanya…meskipun gak diakui sebagai dosen pembimbing ya minimal harus diakui sebgai pahlawan lah buat dia seharusnya gitu….Coba dilihat di ucapan terima kasihnya apa ada nama pacarnya gak…kalau ada keterlaluan banget tuch mahasiswa…Apa mungkin gitu ya profil mahasiswa sekarang…?
April 22nd, 2008 at 10:51 pm
Wah,tdnya mau ikutan comment. tapi kayaknya semuanya udah selesai. oya pak saya gak lupa koq sama pak sony yg dulu (tahun 1800SM) menghantu hantui saya utk nyerahin student grant, pdhl wktu itu mikirnya ga penting toh dah ikut jg cm skdr ngeramein dan dah lulus pula. Maaf baru ngucapin terima kasih sekarang.
August 28th, 2008 at 10:32 pm
tetap berusaha ikhlas dan memilik niat yang baik untuk apapun juga pak.
meski terkadang niat baik tidak selamanya kembali dalam bentuk yang baik pula.
tapi saya yakin tuhan tetap mengetahui niat kita.
AMIN
July 11th, 2009 at 9:54 am
whatss…sabar sabar..aku mau konsul tesisku pak soni.boleh kan ?