Behind the Scene: PANTAU Jelang Sore TRANS TV

Sampai saat ini, ide-ideku banyak yang diadopsi oleh program Trans TV Jelang Sore, khususnya segmen PANTAU, yang tayang hari Rabu atau Kamis dua minggu sekali. Dari lima kali tayangan sampai akhir Januari 2008 lalu, empat tayangan di antaranya diangkat dari ideku yang aku sampaikan melalui John Martin, presenter Pantau. Keempat ide itu adalah: penumpang KRL tanpa tiket (tayang 6 Desember 2007), jembatan penyeberangan yang disalahgunakan (27 Desember 2007), trotoar yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya (17 Januari 2008), dan terakhir PNS yang keluyuran saat jam kerja (31 Januari 2008). Sepertinya masih ada beberapa ideku yang nantinya akan diangkat juga untuk Pantau, seperti (1) penegakan aturan non-smoking area, (2) warga Jakarta yang justru menikmati banjir, (3) penyalahgunaan bahu jalan, (4) motor-mobil-MPU yang parkir sembarangan, dan lain-lain. Sayang sekali ya, Trans TV nggak memberikan penghargaan dalam bentuk apapun whatsoever buat pemirsa setianya seperti aku ini.. (Hehehe, boro-boro penghargaan buat aku ya, John..? Dihargai sebagai manusia aja udah untung-untungan…)

Setelah ikut terlibat dalam proses liputan trotoar di Surabaya, akhir Januari lalu aku juga ikut terlibat kembali dalam proses liputan Pantau di Bandung. Saat itu, topik yang digarap juga salah satu ideku, yaitu PNS yang keluyuran pada saat jam kerja. Aku sendiri sih nggak tau apa pertimbangan produser memilih kota Bandung sebagai setting, karena menurutku PNS di Yogya atau Solo lebih mudah diketahui sedang keluyuran dibandingkan di Bandung.

Semula aku mengira bahwa perjalanan liputan kali ini akan lancar seperti liputan trotoar di Surabaya yang hanya makan waktu 4 hari. Tapi ternyata bayanganku keliru besar!!! Saat kami menyoroti trotoar, ya kami kan tinggal mencari spot lokasi di mana trotoar tidak berfungsi dengan baik. Nah, kalo soal PNS bolos, kami kan harus mencari di mana atau ke mana bolosnya PNS ini. Berarti kami kan harus hunting ke berbagai lokasi. Dan hunting itu ternyata pekerjaan yang sangaaaaat melelahkan…!!! Ikuti aja perjalanan liputan yang aku lalui di Bandung, pada hari Kamis 24 Januari 2008. Sengaja yang aku tulis hanya satu hari, karena di hari itulah puncak-puncaknya kelelahan hunting liputan ini. Aslinya sih, proses liputannya sendiri berlangsung dari 21-25 Januari trus dilanjutkan 28-29 Januari 2008.

PUKUL 07.30. Aku sampe di Grand Serela Hotel Bandung. Sengaja aku nyusul tim liputan Pantau, karena dari gelagatnya kayaknya tim Pantau ini sedang kesulitan menggarap topik ini. Bayangin, dua hari ngecengin Bandung belum dapat gambar dan ide apapun..!!

John_arif_1 Saat aku tiba di hotel, John Martin (presenter, tiga dari kiri belakang) dan Arif Hakim (campers, paling kiri) masih baru terjaga. Dari mereka, aku tahu bahwa selama dua hari itu Bandung hujan deras sehingga tidak bisa menggarap liputan. Gambar yang tertangkap hanyalah gambar PNS yang sedang boncengan naik motor. Tapi, karena hanya gambar-gambar sepotong doang yang diambil dari dalam mobil, tentu gambar ini gak bisa diangkat.

Setelah beberapa saat berdiskusi, rencana pun ditetapkan. Usulku untuk memulai liputan dari dalam kantor instansi pemerintahan disepakati. Dan setelah dipikir-pikir, kami pun memutuskan untuk mengawali petualangan kami dari Gedung Pemerintahan Kota Bandung di Jl. Merdeka.

Lokasi 1: Gedung Pemerintahan Kota Bandung

PUKUL 09.30. Kami bertiga memasuki area Gedung Pemkot Bandung. Sempat kebingungan juga, mau ketemu siapa nih. John memutuskan untuk menemui Bagian Humas Pemkot. Dengan diantar Satpam, kami pun berjalan menuju ruangan Bagian Humas Pemkot. Sedikit panik, John kebingungan,"Eh..ntar kalo ditanya, ini liputan tentang apa ya? Kan nggak mungkin kita bilang yang sebenarnya.." Aku langsung nyeletuk aja,"Bilang aja, mau meliput kesiapan Bandung buat Visit Indonesia Year…"  Fiuhh…satu masalah teratasi…!!

Buat apa kami ketemu Humas..? Kami pengen minta ijin mengambil gambar suasana kerja di kantor ini. Kan biar keliatan kalo kosong..! Tapi kan nggak mungkin kalo kami bilang terus terang, kami mau bikin tayangan tentang PNS yang suka bolos kerja..!! Bisa diusir mentah-mentah..

Setelah mendapat ijin untuk mengambil gambar DI DALAM gedung Pemkot tersebut, kami pun langsung beraksi. John segera menghadap Kepala Bagian Umum dan berbincang-bincang, sedangkan aku dan Arif langsung membidik meja-meja dan kursi-kursi di Bagian Umum yang kosong melompong…!! Beberapa PNS yang ada di situ dan asyik bersenda gurau tak luput disorot, lengkap dengan background berupa jam dinding yang menunjukkan pukul 10 lebih sedikit.

Keluar dari Bagian Umum, kami melanjutkan petualangan ke Gedung Dispenda Jabar yang masih ada di dalam kompleks Gedung Pemkot Bandung. Setelah menjelaskan bahwa kami sudah diijinkan oleh Bagian Humas, kami pun leluasa mengambil gambar di gedung Dispenda. Dan di situlah berbagai gambar menarik kami peroleh. Beberapa PNS yang asyik merokok di luar gedung sambil nongkrong, ada yang asyik memilih-milih kacamata hitam yang ditawarkan pedagang asongan, ada juga yang keliatan lagi asyik baca koran, wah macem-macem pokoknya…!!! Di lantai dua gedung yang sama, ruangan kosong melompong kembali terlihat. Dari belasan meja yang ada, manusia yang terlihat hanya tiga orang saja. Di ruangan yang lain, bahkan sempat tertangkap dengan jelas dua orang ibu berseragam PNS sedang khusyuk banget main Zuma…!!! Dan ketika mereka sadar ada kamera yang menyorot komputer mereka, dengan malu-malu mereka mematikan permainan itu..

Saat itu, kami sudah mulai sadar bahwa keberadaan kami di gedung itu sudah mulai dicurigai oleh karyawan di situ. Ya, iyalah..!! Masa sih, untuk Visit Indonesia Year perlu menyorot ruang kantor yang pada kosong melompong..!! Kami nggak tau apakah para PNS di gedung ini bisa bertindak represif seandainya mereka tahu apa yang kami kejar. Tapi, kami nggak mau mengambil risiko. Bayangan bahwa kedok kami akan terbongkar lalu hasil rekaman tadi disita dan dirusak cukup mencekam kami, sehingga puas nggak puas kami bergegas cabut dari tempat itu..

Sayang banget, pada saat itu kami nggak ada yang membawa kamera digital. Aku sendiri, yang biasanya nggak lepas dari kameraku, karena terburu-buru berangkat dari Surabaya, hanya membawa kamera digital TANPA MEMBAWA BATTERY-NYA…Cerdas kan.??!!

Lokasi 2: Bengkel Mobil, Jl. Aceh Bandung

PUKUL 11.15. Sebelum makan siang, kami memutuskan untuk meminjam kamera digital. Kebetulan, Prabu Revolusi sedang shooting untuk Reportase Investigasi di Bandung, dan dia bisa meminjamkan kameranya. Selepas dari Gedung Pemkot, kami pun bergegas menuju lokasi pengambilan gambar Reportase Investigasi di sekitar Jl. Aceh. Di tengah perjalanan, sekitar pukul 12.30, kami melewati Restoran Suis Butcher. Dan ketika kami melihat ada sekelompok tamu restoran berseragam PNS di kursi luar, kami pun langsung panik mencari tempat parkir yang enak untuk menyorot mereka. Restoran itu memang menyediakan beberapa kursi di luar gedung sehingga dapat terlihat jelas dari luar. Dapat lagi…!!! Cuma, kalo aku pikir-pikir, hebat juga PNS Bandung ya, bisa makan siang di Suis Butcher. Aku nggak tau ya, apa PNS Surabaya ada yang makan siang di Bon Cafe atau Prime Steak..?

Beberapa saat kemudian, kami sampai di sebuah bengkel mobil tempat shooting Reportase Investigasi untuk tayangan 2 Februari 2008. Setelah berhalo-halo sebentar dengan Prabu Revolusi dan mendapatkan kameranya, kami pun langsung cabut menuju spot berikutnya..

Me_prabu_2 (ini sih, foto pas aku dan Prabu Revolusi ngopi di Coffe Bean, Trans TV..)

Lokasi 3: Makan Siang di BMC, Bandung

PUKUL 12.30. Kami merencanakan untuk makan siang dulu sebelum berburu PNS di Pasar Baru, tempat yang kata banyak orang jadi jujukan PNS yang keluyuran saat jam kerja. John yang sedang nggak enak badan dan Arif yang nggak pernah rewel memasrahkan pilihan makan siang kepadaku. PIlihanku adalah Restoran BMC. BMC adalah singkatan dari Bandoengsche Melk Centrale atau Bandung Milk Centre. Ini adalah restoran peninggalan jaman Belanda, didirikan tahun 1928, yang arsitekturnya kuno dan cantik dan makanannya (terutama yoghurt dan es krimnya) enak. Dan, yang tidak aku bilang pada John dan Arif adalah, ini restoran milik Pemkot Bandung. Dan setahuku, di sini buuanyyaaaak banget PNS yang makan siang sambil ngobrol panjang sampai melewati jam kerja. Dan benar saja. Ketika kami datang, ikut berdatangan pula beberapa PNS berseragam biru dan coklat. Kami pun berniat untuk menyanggong mereka, apakah mereka bisa keluar restoran sebelum pukul 13.

Setelah menghabiskan makan siang kami pukul 13.15, kami pun berusaha memperoleh gambar dan melakukan interview pada orang-orang berseragam PNS yang berjalan keluar dari restoran dan menuju tempat parkir. Kebayang kan reaksi mereka, ketika John bertanya "Wah, pak, bu, kok masih di sini, bukannya ini sudah jam kerja? Kan terlambat masuk kantornya..?" Apalagi pertanyaan itu diajukan di depan sorotan kamera…!!!

Ada yang semula berwajah ramah langsung berubah beringas, ada yang menjawab dengan ketus, ada yang melengos dan buru-buru pergi…nggak ada deh yang mau menjawab dengan tersenyum manis dan menjelaskan dengan panjang lebar. (Ya iyalah, siapa juga yang mau menjelaskan boroknya sendiri dengan senyum di depan kamera TV.. jangan gila doooonggg!!!).. Puas dengan beberapa wawancara di sekitar lahan parkir, kami keluar area restoran dan mendapati di sekitar bangunan restoran itu banyak PNS yang masih berseliweran untuk berangkat makan siang. Jam 13.40…!!!

Lokasi 4: Pasar Baru, Bandung

PUKUL 14.00. Pasar Baru adalah lokasi yang sering dijadikan tujuan PNS Bandung kalo mau keluyuran. Kami pun segera ke sana. Dan benar saja!! Tak sulit kami menangkap basah orang-orang berseragam PNS yang sedang asyik memilih-milih barang di pusat perkulakan itu. Memang sih, nggak semuanya PNS bandel karena ada sebagian guru-guru yang baru pulang mengajar, tapi nggak bisa dipungkiri bahwa PNS bandelnya juga banyak. Bahkan, ada salah seorang yang begitu dihampiri John dan Arif dengan kameranya dan ditanya soal jam kerja, dia langsung lari kencang menerabas kepadatan lalu lintas Bandung..!! Rasa takutnya masuk TV mengalahkan takutnya ketabrak mobil..!!

Pasar_baru1_1

(John dan PNS yang lagi belanja di Pasar Baru)

Lokasi 5: Gedung Pemerintah Kota, Bandung

PUKUL 15.15. Sepulang dari Pasar Baru, kami memutuskan untuk kembali sejenak ke Gedung Pemkot. Tapi tidak ada sesuatu yang menarik.

Ketika kami memutuskan untuk mengakhiri liputan hari itu, karena jam kerja PNS toh sudah hampir berakhir, kami pun beristirahat. Coffee break di sebuah warung Surabi di daerah Dago Atas, dan kemudian mampir ke Rumah Mode. Rumah_mode

(mejeng bentar di Rumah Mode…)

Dan, sedikit terkejut, aku menyadari bahwa petualangan kami dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore menghasilkan gambar yang kalo sudah digarap di meja editor durasinya paling-paling empat menit..!! Bayangin..!! Kerja hampir 7 jam, hasilnya cuma gambar durasi 4-5 menit..!! Padahal durasi Pantau itu 10-15 menit bersih, tanpa iklan.

Aku jadi lemeeees banget…!!! Buseettt..!! Pantas aja dari beberapa hari yang lalu John sudah mengeluh kesulitan mengerjakan tayangan ini. Padahal sejak kedatanganku tadi pagi, mereka bilang sudah ada arah yang lebih jelas tentang "mau dibuat kayak gimana tayangan ini". Tapi, aku gak nyangka aja, kalo untuk adegan 4-5 menit saja kami harus menghabiskan waktu sampai 7 jam..!! Oh, my God..!!

Dan, seperti kata pepatah, bencana tuh nggak pernah datang sendirian. John yang sudah sejak kemarin mengeluh tidak enak badan, sore itu mulai demam. Setiba kembali di hotel, dia langsung menelan obat dan meringkuk di balik selimutnya. Dan kalian tentu bisa paham bahwa dalam kondisi demam seperti itu, sulit sekali kita bisa berpikir dengan baik, apalagi menghasilkan ide-ide kreatif yang gila. Padahal, asal kalian tahu aja, segmen Pantau ini bisa dibilang segmennya John Martin. Dia yang responsible mulai dari penggalian ide (yaa, meskipun kebanyakan ide datang dari aku ya John..?), menulis skrip atau skenarionya, merancang eksekusi di lapangan, menghubungi narasumber, dan lain-lain. Produser hanya ada untuk dimintai pendapat (dan bukan solusi…), sedangkan campers juga hanya bisa memberi sedikit masukan.. Kalau John Martin demam, dia masih bisa beraksi di depan kamera. Tapi, siapa yang bisa jadi think tank-nya…?

Apakah masalah berhenti sampai di situ…? Tentu tidak..!! Karena besok hari Jumat, maka kami nggak bisa lagi mewawancarai PNS karena pada hari Jumat PNS Bandung mengenakan baju batik. Bukan baju PNS..!! Jadi, skenario awal harus diubah..!! Bahkan sempat kepikiran untuk membatalkan liputan itu dan menggantinya dengan liputan lain yang lebih masuk akal. Tapi, dengan keteguhan dan kegilaan seorang John Martin, kami tetap bertahan pada topik PNS itu..

Aku mengusulkan, untuk hari Jumat besok, kami nggak usah berburu PNS, karena toh sudah nggak mungkin dilakukan. Tapi, kami bisa mewawancarai masyarakat umum. Aku bilang,"Tanyai mereka, bagaimana pendapat mereka kalo ada PNS keluyuran saat jam kerja.." Aku juga memberi John ide-ide tentang banyak hal, tentang sequence tayangan itu, bagaimana adegan opening sampai closing-nya. Sehingga, hari Jumat besok tetap ada yang bisa diperoleh untuk menambah durasi.

Apakah sudah sampai di situ masalahnya..? Hehehehe…masih belum cukup..!! Tayangan Pantau selalu menghadirkan narasumber yang biasanya dari kalangan pejabat pemerintah. Dan atas bantuan salah seorang kenalan John, kami bisa menghadirkan narsum pejabat teras Jawa Barat, yaitu Wakil Gubernur Jawa Barat..!! Ini termasuk prestasi karena biasanya pejabat yang menjadi narsum hanya di tingkatan Kepala Dinas. Janji interview dengan Wagub adalah Jumat pukul 9 pagi. Tapi, pada sekitar pukul 7.30, ketika kami sudah agak gembira karena ada rencana cadangan yang baru kami susun, kami mendapat kabar bahwa Wagub tidak bisa interview hari itu karena DIARE…!!!! Kebayang nggak sih, gimana lemesnya kami semua…!!!

Ketika kami bertiga kembali ke Jakarta malam itu (dan memutuskan untuk kembali ke Bandung melanjutkan liputan hari Senin), rasanya badan ini capeeeekk… banget..!! Yang namanya halangan itu kok adaaaa..aja. Muncul dari sudut-sudut yang tak diperhitungkan sebelumnya..!!

Tapi, yang membuat aku ngenes adalah bahwa pekerjaan yang begitu melelahkan itu; tujuh jam sehari selama lima hari kerja; paling-paling untuk tayangan 10-15 menit (tanpa iklan). Dan John Martin beserta campers-nya (Arif Hakim atau Atmo, salah satu) melakoni rutinitas itu setiap hari. Bayangkan, Senin John menyiapkan skenario, proposa, budget, dan lain-lain. Selasa sampai Sabtu liputan dengan situasi yang tadi aku gambarkan. Minggu libur (tapi nanggung banget, capeknya belum ilang..!!). Ditambah lagi waktu untuk mendampingi editor merangkai gambar-gambar dari kamera tadi menjadi suatu tayangan yang utuh. Proses editingnya sendiri rata-rata berlangsung selama DELAPAN JAM…!!! Dan itu semua hanya untuk tayangan berdurasi 10-15 menit..!!!

Aduuuhhhh…duh…duh…duh…!!!! Gak kebayang, gimana rasanya ngerjain program lain yang jauh lebih kompleks. Seperti Reportase Investigasi, misalnya, yang harus berhari-hari bahkan berminggu-minggu menemukan narasumber. Lalu berhadapan dengan ancaman yang nggak main-main karena berhadapan dengan preman-preman dan sindikat besar di pasar. Atau bahkan berhadapan dengan pihak kepolisian yang tentu tertarik atas tayangan itu dan narasumber pelakunya, tapi tidak bisa dilayani karena kode etik jurnalistik yang melindungi keamanan narasumber…. Kebayang nggak sih betapa hebat tantangan yang dihadapi oleh para jurnalis saat ini…?? Ampuun…dehh!! Masih jaaaauuuuh….lebih mending ngajar.. Kerja dua jam, bayarannya lebih gede dari mereka yang kerja tujuh jam sehari..

Dan itu membuatku lebih menghargai mereka-mereka pejuang informasi…

7 Responses to “Behind the Scene: PANTAU Jelang Sore TRANS TV”

  1. AsramaUI TigaAn Says:

    Waaah pengalaman Bapak seru sekali! Saya jadi sirik karena saya adalah penggemar John Pantau dan sangat ingin mendapat kesempatan seru spt Bapak. “John Pantau” itu gokil tapi smart! Tapi, saya jadi penasaran…sampai sebesar itukah peran bapak dalam produksi John Pantau? Karena saya nonton acara tersebut dari episode pertama, yaitu pantau timbangan. Dan saya menemukan pola atau pengemasan yang sama di pantau2 selanjutnya.Aku melihat John emang smart, tapi kalau dari cerita Bapak…kok John kesannya tidak sepintar kelihatannya, ya? Seolah2, Bapak lah aktor intelektual dari acara tersebut. Jika benar begitu, saya sangat salut, karena Bapak yang bukan orang TV bisa punya peran yang sampai sejauh itu, hingga mengalahkan orang2 yang sehari2 berkutat dengan pekerjaan tersebut. Jadi….penghargaan seperti apa ya kira2 yang layak diberikan Trans TV pada Bapak? Cuma aku juga jadi penasaran, apa motivasi Bapak memberikan bantuan sebesar itu? Untuk menerima penghargaan kah atau ada alasan lain?
    Tapi nih Pak….saya punya beberapa kenalan yang kerja di Trans TV….kesan yang saya dapat dari mereka…they are smart and very innovative…So I believe that John Pantau is originally made by them. Abis yang yang aku tangkap dari cerita Bapak, mulai John-nya sendiri, kameramennya, sampai produsernya…perannya sangat minim. Masak sih?!

  2. dARmoCuTe Says:

    wauwww….

    memang bener pak buat film itu mang ga gampang..saya aja yang buat film pendek durasi 10menit,waktunya yang diabisin sekitar 1 minggu n itu belum termasuk editing, yang bisa sampai 24 jam(tergantung kemampuan kompnya) hehehe…tapi kayaknya seru ni kalo kpn2 kita bikin film buat festival tahun ini bersama (hehehe)…ya saya yang garap, bapak yang bikin idenya..gimana?

  3. J A Y Says:

    Wuih semakin nge-Trans TV aja ya bapak ini…. kok bisa sih pak ide-idenya diwujudkan sama stasiun TV gitu? apa emang bapak udah kenal sebelumnya ato gimana?

    Soalnya saya punya ide buat acara SUPERMAMA punya indosiar, idenya adalah gimana kalo durasinya dipotong setengahnya. hahahahaha…

    pak tapi, paragraf2 awal tulisan kali ini terkesan agak “show off” lho… gak kayak biasanya aja… no offense… CMIIWWW….

  4. sony Says:

    Buat DANIEL
    Kamu sih enak, cuma bikin film sekali doang.. lha kebayang nggak gimana mereka yg kerjaannya emang ngerjain barang kayak begituan everyday of their life.. tiap hari dikejar deadline..!!

    Buat JAY
    Show off, ya Jay…? ehmm, mungkin ya, meski aku gak ngerasa gitu. tapi, seandainya iya pun, aku rasa aku deserve utk show off. yaa, sekarang berapa orang sih temanmu yg ide-idenya banyak diadopsi sebuah stasiun TV, dan bukan cuma ide mentah tapi sudah matang, dan nggak cuma sekali, tapi beberapa kali..

    Buat Mbak-UI-ENTAH-SIAPA-NAMANYA-YANG-TAU-TAU-NONGOL-TANPA-PERMISI
    Well, Anda boleh aja meragukan benar tidaknya kontribusi saya buat Pantau, tapi silakan tanya langsung aja sama John Martin biar lebih yakin.
    lagian, mana saya berani cerita bluffing yg gak bener, sedangkan saya tau John Martin dan buanyak temen2 Trans TV yg juga ikut baca blog saya ini… hehehe, nggak terima ya, idolanya ternyata gak secerdas sangkaannya….????
    lagian, kan saya udah bilang, kalo saat itu John lagi sakit, jadi wajarlah kalo dia nggak bisa menelurkan ide-ide cemerlangnya seperti biasa.
    tapi, soal ide topik Pantau, itu emang murni ide saya. kalo masih nggak percaya juga, datang aja ke Surabaya, ntar saya bukain deh message2 saya ke John yg isinya ide-ide saya itu.. ok..??
    (btw, lain kali, kalo mau kasih comment, kenalan dulu, dong…. biar lebih sopan, gitu…)

  5. Abe Says:

    Baapak, saya biasa dipanggil Abe mahasiswa bapak angkatan 2000 yang baru lulus 2007 kemaren (7thn Kuliah.com)… sblmnya Salut!! oya pak kalo ngomongin Trans TV niy, kayaknya ada sesuatu yang janggal juga masalah Wisata Kuliner, Om Bondan Repot Cari Objek “Kuliner Kaki lima” soalnya PKL-nya udah pada digusur.. pendapat PANTAU gimana tentang hal ini? -dalam arti kalo mo digusur Relokasinya gimana? soalnya tetangga saya banyak yang nganggur setelah “Obrakan”. Anehnya, PKL yang rada besar warungnya mereka tahu kalo ada obrakan jadi pada hari “H” (Obrakan) mereka tidak buka aliass Tutup.

  6. Abe Says:

    Baapak, saya biasa dipanggil Abe mahasiswa bapak angkatan 2000 yang baru lulus 2007 kemaren (7thn Kuliah.com)… sblmnya Salut!! oya pak kalo ngomongin Trans TV niy, kayaknya ada sesuatu yang janggal juga masalah Wisata Kuliner, Om Bondan Repot Cari Objek “Kuliner Kaki lima” soalnya PKL-nya udah pada digusur.. pendapat PANTAU gimana tentang hal ini? -dalam arti kalo mo digusur Relokasinya gimana? soalnya tetangga saya banyak yang nganggur setelah “Obrakan”. Anehnya, PKL yang rada besar warungnya mereka tahu kalo ada obrakan jadi pada hari “H” (Obrakan) mereka tidak buka aliass Tutup.

  7. RiLeY aMmY Says:

    eh,,

    John Pantau-nya cakep yawh,,

    aq ngefans banged loh,,,

Leave a Reply