Trans TV & Kompetensi Seorang Konsumen

Suatu pagi, di akhir pekan bulan Januari 2008…

Seperti biasa, seusai sholat shubuh aku mengawali hariku dengan menonton acara berita pagi. Dan Reportase Pagi, program berita Trans TV, adalah pilihan utamaku untuk tayangan berita pagi. Dan senang sekali rasanya mengetahui bahwa presenter berita pagi hari ini adalah dua orang presenter kesayanganku. Yang pria, selalu tampil rapi, elegan, dan intelek. Sedang yang wanita, cantik dan anggun dengan balutan jilbab merah mudanya.

Beberapa saat menonton, aku mulai merasa terganggu dengan pembawaan sang presenter pria. Dia, sang presenter pria, dulu kuanggap sebagai presenter berita terbaik di Trans TV, bahkan salah satu yang terbaik di kalangan presenter muda di seluruh stasiun TV swasta nasional di tanah air. Namun, sudah tiga hari ini, ketika dia menjadi presenter acara berita pagi ini, dia nampak begitu lesu, cara penyajiannya tanpa gairah, tidak ada lagi senyum yg biasa menghiasi wajahnya, tidak ada lagi gairah yang mengalir lewat kata-katanya, dan nada suaranya yang biasanya bersemangat menyajikan informasi kini terdengar begitu datar dan tawar. Sekali dua kali, kuanggap dia sedang masa-masa yang kurang baik. Namanya manusia, kan pasti ada ups and downs-nya. Tapi kalo sudah sampai tiga kali penampilan masih jelek juga, rasanya kan perlu diingatkan…

Sebagai konsumen yang baik, aku berusaha memberikan saran kepadanya. Aku pun memutuskan untuk menghubunginya lewat sms. Kebetulan, beberapa hari yang lalu aku berhasil memperoleh nomor HP-nya lewat salah seorang temanku. Di sms, aku tanyakan, mengapa kok penampilannya selama beberapa hari ini nampak lesu, kurang tenaga, tidak bergairah, dan caranya membawakan berita seolah-olah ia tak menikmati pekerjaannya lagi. Kayak orang patah hati aja, tulisku juga.

Tak berapa lama, HP-ku berbunyi tanda ada sms masuk. Ternyata dari sang presenter pria tersebut. Kaget juga aku melihat begitu cepatnya respons darinya. Bagus juga nih, gumamku dalam hati. Kubaca sms yang aku terima dengan penuh rasa ingin tahu.

Ternyata isi sms itu agak mengejutkan aku.

"Untungnya produserku bilang penampilanku ok kok. Yang penting kan penilaian produser, orang yang lebih berkompeten dan lebih tahu tentang program ini. Kalo mereka bilang oke, ya sudahlah.."

Aku mengernyitkan dahiku. Keheranan. Kok kayak gini responsnya..? Jengkel atau marah sih enggak, cuma merasa agak aneh saja.

Aku jadi teringat ketika aku menjelaskan di kuliah Pemasaran, bahwa meskipun secara teoritis perusahaan seharusnya menerapkan konsep pemasaran yang berorientasi pada pemuasan konsumen, tapi pada kenyataannya masih banyak perusahaan besar yang lebih mendorong penerapan konsep produk yang berorientasi pada diri sendiri. Masih cukup banyak perusahaan yang menilai kualitas sebuah produk; baik barang atau jasa; hanya dari sudut pandang produsen. Tidak mengadopsi penilaian atas kualitas dari sudut pandang konsumen, yang notabene adalah pengguna produk yang ditawarkan tersebut. Tapi, yang membuatku heran adalah, salah satu perusahaan yang masih menganut prinsip yang sudah kuno itu adalah Trans TV. Trans TV!!! Yang bukan hanya stasiun TV ternama di Indonesia, namun juga terkenal sebagai stasiun TV yang digawangi pekerja-pekerja muda yang rata-rata usianya di bawah 30 tahun.

Biasanya, perusahaan yang banyak dikawal oleh tenaga muda selain lebih inovatif dalam menghasilkan karya, juga cenderung lebih responsif dan lebih mudah menerima kritik. Sebaliknya perusahaan-perusahaan yang sudah mapan dan dikawal oleh SDM-SDM yang sudah berusia mapan cenderung lebih susah dalam menerima kritik dan biasa bersikap defensif bila ada kritikan yang mereka terima.

Tapi, ini kan Trans TV..!!!! Trans TV…!!!!

Rasa heranku tak habis-habisnya. Bagaimana mungkin seseorang atau sebuah perusahaan, apalagi perusahaan sebesar dan sehebat Trans TV, masih lebih mengandalkan penilaian produsen dan menganggap penilaian konsumen itu tidak kredible karena konsumen tidak punya kompetensi dalam hal proses produksi…??!! Sebenarnya aku ingin mendebatnya bahwa, memang produser itu lebih kompeten dalam proses produksi sebuah program berita, namun bukankah konsumen jauh lebih berpengalaman dalam mengkonsumsi berita. Si produsen paling-paling baru 5-8 tahun punya pengalaman memproduksi program berita.  Tapi, aku sudah punya pengalaman lebih dari 13 tahun dalam mengkonsumsi berita..!!! Tapi, ya nggak lucu lah kalo aku harus berdebat dengan orang yang belum aku kenal secara pribadi. Lewat sms lagi…!! Maka, jawaban sms itu pun aku biarkan saja, dan tidak kuhapus sampai saat ini (siapa tahu bisa dijadikan bahan diskusi kasus di kelas Pemasaran…)

Namun, aku juga harus bersikap adil. Aku sih berprasangka baik saja, bahwa kata-kata itu keluar dari seseorang yang (mungkin) sedang mengalami masalah di balik layar. Entah utangnya banyak, anaknya sakit, atau lagi patah hati, atau baru dimarahi atasan, atau yang lainnya.. Cuma, tetap saja, situasi yang tidak mengenakkan di belakang layar tidak bisa digunakan sebagai alasan oleh seorang penyedia jasa (service provider) untuk bersikap arogan.

Karyawan atau penyedia jasa, termasuk presenter berita, memang harus menghadapi tantangan profesi yang disebut sebagai Boundary Spanning Role. Mereka memiliki peran yang harus dimainkan ketika berinteraksi dengan konsumen, di mana peran itu menuntut mereka untuk tetap bersikap responsif, empati, dan ramah, meskipun kehidupan pribadi mereka sendiri sedang dalam situasi yang kurang enak. Ini yang namanya tuntutan pekerjaan..!! Bahkan siapapun yang bekerja di sebuah perusahaan jasa harus mampu bertindak sebagai public relation officer, dan senantiasa bersikap ramah dan terbuka pada konsumen yang datang padanya.

Memang ini bukanlah hal yang mudah. Tapi, justru hal yang tidak mudah inilah yang seringkali digunakan sebagai competitive weapons oleh banyak perusahaan yang bergerak di bidang jasa. Mereka berlomba-lomba melatih seluruh karyawannya, dari posisi yang paling atas sampe yang paling bawah seperti satpam atau office boy, agar mereka semua mampu bertindak selaku public relation officer.

Rasanya ingin sekali mengirimkan tulisan ini kepadanya, si presenter Trans TV tersebut, agar ia bisa memahami karakter pekerjaannya dengan lebih baik. Tapi, gimana caranya..

Sambil berpikir-pikir kubaca lagi sms itu, sambil berusaha menghapus rasa takjub dan heranku yang masih belum juga hilang….

2 Responses to “Trans TV & Kompetensi Seorang Konsumen”

  1. J A Y Says:

    PERTAMAX….

    langsung aja ya pak, menurut saya sih penilaian bapak disamping terlalu subjektif, tapi juga seolah mengira2 pemandangan dibalik pintu padahal pintunya cuma kebuka 1cm aja.

    Pertama, saya simpulkan sendiri, bahwa penilaian bapak cuma dari cuilan kalimat di sms yang bunyinya
    “Untungnya produserku bilang penampilanku ok kok. Yang penting kan penilaian produser, orang yang lebih berkompeten dan lebih tahu tentang program ini. Kalo mereka bilang oke, ya sudahlah..”
    kalimat seperti ini bisa muncul dari berbagai macam situasi juga kan.. yah mungkin sang presenter lagi capek dan waktu di kritik kaya gitu alamiah pake pembelaan bahwa produser bilang oke.

    Kedua, yang bilang penampilan sang presenter itu nggak oke kan bapak sendiri -walaupun ketidak optimalan performa diakui sang presenter sendiri misalnya-, yang tentu saja bagaimanapun juga gak bisa jadi sampel yang memenuhi untuk populasi seluruh penonton program TransTV itu. bisa aja yang lain bilang ok, tapi who knows…

    Ketiga, Trans TV dan semua perusahaan lain di dunia tentu saja tidak bisa mengakomodir setiap komplain dan pendapat dari setiap-every single-konsumen mereka, kemudian menempatkannya sebagai dasar evaluasi dan tindakan berikutnya. saya kira salah satu fungsi produser ya memang itu tadi, menjadi orang yang mengevaluasi performa produknya. masak harus polling dulu ke pemirsa sih… jangan lupa, penampilan prima sang presenter pada hari-hari sebelumnya juga tidak lepas dari campur tangan sang produser yang kata bapak mungkin baru berpengalaman 5-8 tahun (walaupun bisa aja sudah 15 tahun atau lebih, hihihi…)

    Keempat, mengkritisi sang presenter dengan tulisan bapak ini misalnya, saya rasa gak akan terlalu tepat juga. presenter tentu saja dituntut memenuhi instruksi produser dan pihak lain dibalik layar. kalau misalnya dia mengikuti kritik bapak mentah2 dan mengabaikan produsernya misalnya, ya salah si presenter dong. si presenter memang bisa menilai dan memperbaiki performanya sendiri melalui reaksi pemirsa seperti bapak, tapi yang lebih berkompeten dalam hal ini tentu saja sang produser yang memang pekerjaannya untuk mengemas produk dengan bagus. sama kayak pemain bola misalnya, david beckham dikritik supporter karena bermain dibawah form biasanya. tentu saja beckham akan mengikuti instruksi pelatih daripada mengikuti arahan supporter yang memang tidak kompeten di bidang tersebut.

    Kelima, saya rasa menuntut setiap penyedia ajsa untuk selalu tampil sempurna adalah hal yang sedikit berlebihan. kan kata teori juga setiap kali jasa disediakan, maka akan selalu berbeda kualitasnya. yah, hal yang alami aja kan pak… dan memang alami juga kalo konsumen minta jasa harus selalu sempurna, karena mereka membayar dan mengorbankan sesuatu. bisa aja kan mahasiswa ngambek minta spp dikembalikan karena dosen terlambat datang mengajar. kalo mengikuti pendapat bapak, nggak ada alasan dosen bisa terlambat mengajar, konsumen nggak mau tau dong. tapi kenyataan tidak sekejam itu kok.

    saya pikir sudah waktunya bapak membuang rasa takjub bapak. get real, this is real life. not as seen on TV.

  2. Zudhawan Says:

    Hmm. Industri Teve atau broadcast tak bisa disangkal dan tak mungkin dilepaskan dari Audio dan Visual.Dua point tersebutlah yang membedakan dengan media cetak dan radio..

    Mungkin kali ini Visuallah yang jadi concern pak sony Sebenarnya tak cuma gaya dan pembawaan sang pembawa berita saja yang menggangu namun mau dibilang apa News presenter lah yang menggemban semuanya..
    Karena merekalah yang nampak diLayar Teve Pemirsa. Namun Boleh jadi bila audio mati, atau suara presenter yang cempreng akan menggangu paket tayangan berita yang disampaikan.. Toh percuma naskah bagus, gambar indah nan dramatis namun audio tak anda dengar. Mulai suara sang dari dubber, suara Nara sumber, dan natural soundnya gak terdengar? maka akan sangat percuma tayangan sebaik apapun yang disiarkan!!!..

    Tampilanpun tak kalah penting karena itu yang membedakan dengan dunia cetak dan radio. Ini bisa diwakili oleh look atau tampilan pada layar . Tapi tak hanya penampilan sang presenter saja yang jadi hal utama, ada hal lain yang perlu diingat seperti (visual baik itu grafis dengan komposisi warna yang pantas dilayar ,)lighting, serta wardrobe, make up dan tentunya sang Pembawa berita..

    Pembawa beritalah yang memegang peranan penting dalam berita yang disampaikan. Namun tak hanya wajah cantik dan tampan, saja yang utama.Namun juga bagaimana sang pembaca berita menghayati dan memahami isi berita yang disampaikan.Tak harus berwajah rupawan layaknya model dan artis saja yang pantas jadi seorang presenter !! Jujur Banyak yang salah kaprah dengan hal itu.Penonton masih terbuai dengan wajah rupawan sang preseter. Padahal itu bukan hal utama.Ganteng cantik semua bisa dipoles dengan sapuan make up, tata cahaya dan wardrobe yang tepat. Tengoklah Oprah winfrey dengan wajah africanya dan kulita gelapnya mampu menggebark dunia showbis dunia. tau Lary King yang sudah bongkotan tapi masih dipercaya membawakan Talk show yang terlama di dunia. Rosi O donnel dengan tubuh tambunnya??hmmm semua bisa survive khan??

    Semua orang bisa tampil baik.Bagi saya presenter yang menarik ataupun baik itu harus berkarkter.Tak harus tampan dan cantik,punya jiwa dalam membawakan berita mungkin karena dia ada rasa empati,saat mebawakan berita bencana, duka cita dll>Bagi saya kecerdasan dari mata dan gesture tubuh tak bisa dipungkiri. Itu akan akan terbina apabila Dia (presenter)memperdalam ilmu wawasan, dengan membaca, belajar dari sekitar dan perduli dengan lingkungannya.
    Itulah yang membedakan dengan dunia entertainment yang hanya mengagung-angungkan layar dan penampilan .

    Tengoklah BBC dan CNN dimana kedua teve ini masih memberikan kesempatan bagi presenter berumur untuk tetap naik layar. Togh bagi saya tampilan mereka dilayar tak kalah dengan mereka yang muda..
    sebenarnya dalam dunia teve itu ada istilah NEWs Presenter dan Anchor.Setahu saya anchor itu berasal dari kata anchor atau dalam bhs ingrisnya jangkar. Ialah yang sepantasnya memegang garda terdepan dalam dunia teve untuk menggali secara dalam, segala sesuatu yang detail tentang hal yang tak terungkap. Biasanya diwjudkan dengan Sosok presenter yang bisa membawakan Talk Show, dan live report dengan baik dan benar.

    Berbeda dengan gaya newspresenter atau biasa kita kenal atau sebut dengan pembaca berita. keberadaan mereka hanya membacakan berita saja, tanpa tau isi konten berita,tidak turut meliput berita dan gak memahami bagaimana proses berita itu dibuat!!!jadinya ya maap Dia (presenter gak punya Soul atau jiwa pada saat siaran ) apa bedanya dengan MC atau artis yah? anda bisa telaah sendiri

    Bagi saya pekerjaan apapaun itu butuh profesionalitas, dan bagi seoarang presenter dengan menjaga layar dnegan baik bagi pemirsanya adalah tanggung jawab yang mau tak mau harus Mereka Emban. Tak perduli caci maki dan sanjungan togh ini konsekwensi yang harus mereka terima. tak pantas rasanya seoarang presenter menagbaikan dan mengacuhkan kritikan sekecil apapun dari pemirsa. tanpa Pemirsa apalah artinya mereka sang Presenter!!!Basicly pekerjaan News presenter maupun anchor, hanyalah pekerjaan biasa sama halnya dengan yang lain. Prsenter maupun artis bleh jadi ” maap bila saya mengutip mereka kasarnya dibayar untuk tampil”Mereka harus siap untuk itu, untuk ada dilayar dengan sanjungan dan popularitas dan siap turun layar dengan caci maki dan hujatan..Pekerjaan ini sama dengan jenis profesi lain didunia ini,bedanya mungkin mereka ada dilayar dan Kita tidak..

Leave a Reply