PANTAU Jelang Sore Trans TV: Sebuah Catatan

Mimpi pun enggak, ketika John Martin Tumbel (John, foto kanan) dan Pratomo Setiogroho (Atmo, kiri); tim PANTAU Jelang Sore Trans TV; John_atmomengajakku untuk ikut serta dalam proses peliputan PANTAU Jelang Sore Trans TV untuk episode TROTOAR. Memang sih, dari komunikasiku dengan John via Friendster selama ini, aku tahu bahwa ide-ideku banyak diangkat untuk segmen PANTAU di Jelang Sore Trans TV. Dari dia juga, aku juga tahu kalo ideku tentang penyalahgunaan fungsi trotoar ini akan diangkat dan digarap di Surabaya. Iseng-iseng aku juga minta pada John supaya bisa dilibatkan dalam proses peliputan, tapi sama sekali nggak nyangka kalo permintaanku itu dikabulkan oleh John dan Atmo….!!! Nggak nyangka…!!!

Ketika mereka berdua menghubungiku via handphone dan mendatangiku di kampus, itu sudah sangat menyenangkan karena akhirnya aku bisa juga berinteraksi dengan orang-orang yang selama ini aku kagumi aksinya di layar kaca. Ternyata, mereka malah mengajakku untuk ikut terlibat dalam proses peliputan kali ini. Senang…?? Wah, jangan ditanya, deh..!! Speechless.. sampe nggak bisa tidur semalaman…ngebayangin how excited the experience would be…

Bagi yang nonton Jelang Sore, Rabu, 16 Januari 2008, mungkin masih ingat bahwa saat itu PANTAU mengangkat sebuah fenomena bahwa saat ini yang namanya trotar tuh sudah banyak yang disalahgunakan bukan sebagai tempat pejalan kaki, tapi sebagai tempat berjualan PKL. Pantau_surabaya_006 Selain itu juga, banyak trotoar yang tidak ramah pada para penyandang cacat fisik, seperti tuna netra atau pengguna kursi roda. Struktur trotoar yang nggak rata, berlubang-lubang, banyak galian seringkali menyulitkan mereka yang memiliki keterbatasan fisik.

Pantau_surabaya_040

Intinya sih itu… Tapi, tantangannya adalah bagaimana konsep yang serius kayak gitu bisa dikemas dengan kocak. Karena konsep intinya PANTAU kan public-service watch yang dikemas dengan jenaka. Dan ini sulitnya bukan main. Di sini, aku harus mengacungkan dua jempol pada John dan Atmo yang dengan ide-ide dan imajinasinya yang kadang liar tak berbatas mampu mewujudkan femonena sosial yang sedikit sensitif itu (karena bersinggungan dengan PKL yang cari makan di trotoar, konsumen yang merasa membayar pajak, dan pemerintah melalui Satpol PP yang bertugas menjaga kenyamanan kota..) dengan cara yang jenaka.

Melibatkan instansi pemerintah, dalam hal ini Satpol PP, untuk bisa terlibat dalam proses razia PKL (hahaha…John, kabarnya pak Utomo gimana…?..) mungkin tidak terlalu sulit, mengingat dalam tiap kali tindakan razia biasanya Satpol PP memang melibatkan media, sebagai salah satu usaha public relation mereka tentu saja.

Pantau_surabaya_034

Mewawancarai para pedagang PKL juga tidak akan terlalu sulit, malah mereka mungkin justru akan rebutan supaya wajah mereka terekam dalam kamera. Nah, tapi mewawancarai pedagang PKL pada saat petugas Satpol PP mengadakan razia, itu yang sulit..!!! Lebih sulit lagi, karena John dan Atmo pengennya mewawancarai para PKL beberapa menit sebelum razia dilakukan.. Bukan cuma sulit, bahkan bisa saja berbahaya..!! Pantau_surabaya_022 Jelas sekali bahwa Satpol PP dan PKL bagaikan anjing dan kucing, yang selalu ada pada posisi yang berseberangan. Kalo misalnya, kami dituding para PKL sebagai antek-antek Satpol PP, terus dikeroyok massa karena jengkel, lha kan berabe…!! Yaaaa, kalo yang dikeroyok John dan Atmo sih nggak papa…hehehe..mereka kan bisa aja kemudian menyajikan liputan bahwa wartawan media elektronik dikeroyok PKL saat razia.. Lha kalo aku yang dikeroyok, kan gak lucu kalo muncul di surat kabar, atau muncul di Trans TV, dosen Unair dikeroyok PKL saat razia. Tapi, toh, dengan pendekatan yang halus dan sempurna, John dan Atmo ternyata berhasil mendekati para PKL tersebut dengan baik, sehingga mampu mendapatkan banyak sekali informasi yang penting untuk disajikan, dan bahkan sempat menjalin kedekatan dengan para PKL tersebut…!!! Bahkan ketika John nekad mendatangi kembali para PKL tersebut beberapa saat setelah razia (untuk meliput bahwa PKL itu akan menggelar kembali dagangannya setelah razia), para pedagang itu pun sama sekali tidak menampakkan permusuhan. Sebaliknya, mereka menyambut kami seolah-olah menyambut kedatangan teman lama…!!! Pantau_surabaya_025

Di saat itulah, aku benar-benar menyadari bahwa adalah sangat penting bagi seorang jurnalis untuk memiliki interpersonal skills yang tinggi. Bagaimana tidak..? Seandainya para jurnalis tersebut tidak memiliki kemampuan interpersonal yang bagus, bagaimana mereka bisa menjalin hubungan dengan narasumber..? Bagaimana mereka bisa mendapatkan informasi dari narasumber pada saat-saat yang kritis..?Sama ketika, si John mampu menginterview seorang PKL tepat pada saat pedagang tersebut kerepotan membereskan barang dagangannya dan melarikannya ke sebuah kampung supaya tidak disita Satpol PP. Lalu, bagaimana para jurnalis tersebut mampu menginterview para narasumber yang ada pada posisi bersalah tanpa mereka merasa dihakimi..? Tanpa interpersonal skills yang bagus, tugas-tugas jurnalisme pasti tak akan dapat terlaksana dengan baik.

Dari tayangan Jelang Sore yang berdurasi 30 menit (termasuk commercial break), tak pernah aku menduga betapa sulit dan rumitnya proses produksinya. Bayangkan saja, Pantau di Jelang Sore episode tanggal 16 Januari 2008 kemarin tayang tiga segmen. Satu segmen yang hanya 7-8 menit itu membutuhkan waktu pengerjaan sampai minimal dua hari..!!! Misalnya, adegan yang menampilkan berbagai spot trotoar yang digunakan untuk pedagang makanan kaki lima. Adegan yang cuma 5 menit itu membutuhkan waktu pengerjaan sampai dua hari..!! Dan itu dengan catatan, kebetulan cuaca sedang bersahabat. Dari satu titik ke titik yang lain, dari satu adegan ke adegan yang lain… Wah, ribet..!!! Belum lagi, untuk setiap adegan perlu diulang beberapa kali, termasuk adegan jatuh ke selokan yang harus diulang tiga kali, ya John…!! Sampe-sampe tangan dan kaki pada lecet-lecet…

Ada banyak hal yang aku pelajari dari kebersamaanku dengan tim Pantau Jelang Sore Trans TV selama mereka di Surabaya. Di antaranya adalah:

  • Betapa panjang dan berlikunya sebuah proses peliputan sebuah berita. Ya yang tadi aku bilang itu. Untuk tayangan durasi 5-7 menit saja butuh waktu dua hari..!! Proses taping-nya sendiri tidak terlalu lama. Setengah sampai dengan satu jam paling juga udah kelar. Tapi, proses persiapan sebelum taping itu dilakukan yang ternyata luar biasa menguras tenaga, waktu, dan pikiran..!! Dan sangat mengagumkan melihat John dan Atmo yang tetap ceria dan tetap gokil di tengah-tengah hambatan dan rintangan dalam perjalanan..
  • Betapa riskannya profesi seorang jurnalis. Aku nggak bisa membayangkan gimana jadinya seandainya para PKL tersebut ngamuk atas kehadiran Satpol PP dan melampiaskan kemarahannya pada jurnalis yang kebetulan hadir saat itu…!! Itu sih masih mendingan… Aku masih ingat betapa menggetarkannya pengalaman Meutya Hafid dan Budiyanto, jurnalis dari Metro TV, yang disandera kelompok Mujahidin selama 168 jam di Irak. Ternyata kematian juga merupakan salah satu risiko profesi seorang jurnalis..!!!
  • Betapa indahnya arti sebuah idealisme. Banyak orang awam yang paham bahwa Trans TV adalah sekolahnya para jurnalis TV, yang karena dianggap sebagai sekolah maka you wont get any good money there… Tapi, sosok John dan Atmo telah menunjukkan padaku bahwa kerja keras yang mereka lakukan untuk menghadirkan sesuatu yang bernilai bagi masyarakat memiliki arti yang lebih besar daripada uang.. Kepuasan kerja yang mereka rasakan tidaklah muncul ketika perusahaan mengapresiasi kinerja mereka dengan imbalan tertentu. Kepuasan kerja itu muncul pada saat mereka berhasil menyajikan sesuatu yang berarti bagi masyarakat, dengan ide dan konsep yang matang, eksekusi yang mulus, dan sambutan masyarakat yang positif. Sangatlah indah dan menyenangkan apabila idealisme kerja berjalan seiring dengan kepuasan kerja, karena artinya apapun yang kita kerjakan akan menghasilkan sesuatu yang terbaik dari diri kita. Dan menurutku, orang-orang yang memiliki idealisme dalam profesinya dan mampu menjunjung tinggi idealisme itu akan merasakan kebahagiaan yang besar saat mereka merasakan bahwa apa yang mereka lakukan sangat bernilai bagi orang lain.. Dan kebahagiaan seperti itu tak akan terbeli dengan uang..

Buat John dan Atmo, terima kasih banyak atas memorable and unforgettable experience yang telah kalian berikan buatku selama hari-hari kalian ada di Surabaya…. entah apa akan ada lagi pengalaman indah serupa itu….. terima kasih juga karena telah mengajarkanku bagaimana idealisme profesi yang sebenarnya, yang entahlah apa sudah kumiliki saat ini….. aku berharap, bisa memiliki idealisme yang sama agar aku bisa merasakan kepuasan yang kalian rasakan ketika apa yang kalian lakukan bisa berarti bagi orang lain…

Semoga….

Pantau_surabaya_065_2      

Aku bersama teman-teman tim liputan Jelang Sore: Hakim, Ine, John, dan Atmo…. see you around guys..!! kapan-kapan aku main ke Tendean, yah..!

8 Responses to “PANTAU Jelang Sore Trans TV: Sebuah Catatan”

  1. ø IPÚÑKd ø Says:

    Wah asik juga bisa ikutan behind the scenenya proses reportase Trans TV. Pekerjaan jurnalisme memang bukan pekerjaan mudah, apalagi reportase pada saat terjadi huru-hara.. yang lebih mantap lagi reporter yang diturunkan di medan perang. Seperti reportase2 dari IraQ, atau pada saat ingin mewawancarai “GAM”. Kalo sudah bertugas di medan seperti itu, sang jurnalis tentu harus sangat berhati-hati. Nyawa taruhannya. Dan untuk sang Kameramen, harus benar-benar bisa menampilkan realita yang ada dan tidak kehilangan momen berharga.
    Kalo di dunia fotografi, menurut saya..”kasta” yang tertinggi bisa dibilang adalah fotografi jurnalistik. Why ? Karena momen yang sama tidak bisa terulang dua kali, bisa jadi yang ada dihadapannya adalah sebuah sejarah dunia, dan sang fotografer harus bisa menyajikan manis dan pahit dari realita yang ada di hadapannya. Serta seorang fotografer jurnalistik tidak boleh mengurangi ataupun menambahkan content yang ada di dalam fotonya.

    “Biar foto yang bicara”

    Trans tv memang selalu menampilkan program-program yang fresh, sehingga selalu membuat kita tertarik untuk menontonnya.
    Aku juga pernah denger kalo di Trans Tv tuh ..”kerja keras, bayaran dikit”. Dan hebatnya para kru tetap pada semangat kerja yang tinggi.. bener apa yang dikatakan pak Sony, Trans Tv sudah seperti “sekolah”, tempat mereka menambah wawasan, memperdalam ilmu, dan juga menuangkan ide dan kreatifitas “fresh” mereka.

    nb buat Jay : Pertamax !! ^^

  2. TOEZ baru Says:

    Bapak cerdas sekali ya,, adaaa aja ide untuk bisa ikut liputannya trans. Hehehe.. that’s what networking and friendster are for. Ya pak? :p

    aq aja yg magang sebulan di JTV lum sempet ikut liputan di luar, Pak. Kru2 banyak yg ngajakin sih, tp waktunya slalu tabrakan ama jadwal program acara yang saya pegang. Kebetulan live semua, gak bisa ditinggal, produser saya gak bolehin saya off. hikzz..

    emang pak, ribet banget kalo qt perna liat secara langsung proses produksi untuk sebuah program. Pas magang saya ditempatkan di bagian produksi, bukan news. Saya sendiri gak nyangka serumit itu prosesnya. Jam kerja formal di kantor mulai pukul 10.00 mpe 15.00 tiap hari nonstop. Tapi di luar itu, harus stand by 24 jam untuk koordinasi dg pengisi acara. Fiuhh..

    Untung saya cuma sebulan, andai ada rasa malas masuk studio, at least saya bisa tetap masuk studio dg membayangkan hari ke 30 akan datang.. Lha tapi produser saya gimana?? Kan gak cuma sebulan?

    Namanya Pak Basuki. Beliau pegang 3-4 program acara baik live maupun taping, 3 diantaranya tayang tiap hari. Gak jarang Pak Baz telp saya jam 12 malam untuk koordinasi, dan ternyata beliau masi ada di studio. Belum lgi kalo ada masalah dg pengisi acara ato konsep yg tiba2 harus diubah, bisa ampe gak pulang beliau.

    Pada mulanya saya kira Pak Baz sudah kaya dg jadi produser acara 4 program sekaligus. Tapi begitu mendengar gajinya minim, saya jadi tidak tega kalo ingat pak baz sering nraktir saya makan.

    Jadi jelas, orientasi Pak Baz bukan uang. Saya baaanyak sekali ambil pelajaran ketika magang, Pak. sama seperti pengalaman Bapak, selain ilmu broadcast gratis, paling utama adalah saya mengerti arti dari komitmen dan idealisme terhadap suatu pekerjaan.

    Meskipun banyak kejanggalan di mata saya tentang manajemen JTV, tapi saya beruntung dapat bertemu dan belajar dari orang2 hebat di bidangnya (seniman jawa timur, pengarah program, kameramen,dan kru2 lain). Mereka punya komitmen tinggi. (meskipun itu JTV!! saya lihat secara dekat ketika mereka bekerja, para kru yg bukan jajaran eksekutif. Jadi sy tahu lebih banyak daripada yg diliat org di layar kaca).

    Sebenarnya, saya pengen magang di Trans ato Metro, Pak. Jika ada kesempatan, pasti saya ambil. Sangat menyenangkan bekerja di balik layar. Ada kepuasan yg.. puaaassss banget kalo acara berjalan sesuai konsep dan rundown. Tapi kalo ada yg mleset, nyeselnya sampe kebawa tidur.

    Kalo Bapak denger ada lowongan dr tmn2 Bapak yg d Trans, mbok ya saya diberi tahu, he he..

    Pak, tau nominal gaji penyiar dan reporter JTV?? saya tau pak.. kalo bapak tau, mungkin Bapak akan lebih berdecak kagum, betapa idealisnya mereka.. :p

    senang punya dosen yg senang mencoba hal baru seperti bapak. So inspiring, sir. Lanjutkan petualanganmu Pak. dan jgn lupa dibagi dg mahasiswanya..

    c ya, sir

  3. J A Y Says:

    Pak…. saya juga jurnalis lho… ehm… walaupun jurnalis yang sesat… saya juga gak kalah idealis lho… ehm.. bahkan gak pernah mengeruk keuntungan sama sekali… uhuk….

    ahaiiiyyy….

    buat ipunk, no pertamax!!!! mau ditimpuk bata merah, hah? hehe

  4. e M C e Says:

    Wow…
    Tulisan Bapak emank bagus yah..
    Tapi kalo cuman di FS kayaknya sayang deh…
    Yang baca terbatas…
    Coba Bapak ikut ngisi di forum Kaskus…
    Pasti lebih banyak yang baca,trus lebih bermanfaat deh…

    BTW…
    Di Trans Bapak pernah liat acara kalo ga salah namanya “Sttt…
    Usil Banget Sih” mirip bgt ama acara di jepang…
    Aku ga tau nama acaranya yang pasti aku liat dr tmnku yang donlot dari metacafe…
    Emang Trans uda beli lisensi acara itu…
    Ato maen tiru aja…?

  5. dARmoCuTe Says:

    here we go…

    oke deh…
    boleh juga tuh pak pengalamannya, bolehlah trans tv memenangi berbagai macam acara televisi, tapi menurut emce juga betul tuh..apa trans tipi udah beli linsensi acara dari jepang itu? kalo saya udah liat versi jepangnya. di trans tipi kayak dibikin2 tuh..hehehe…

  6. paul Says:

    acara john pantau keren punya, jadi baik pemerintah ataupun lembaga2 terkait yang nonton ini bisa pada melek kalo banyak sekali pelanggaran2 di luar sono. btw, keren juga kalo dapetin pelanggaran2 yang lakukan oleh pejabat pemerintah tuh, misal DPR/MPR gitu…

  7. Abigail Says:

    Hai John “Pantau” main2 donk ke Bekasi, aq masih inget loh waktu John dtg sbg duta/arjuna pajak (waktu itu ada acara promo ttg pajak di Metropolotan Mall Bekasi, iya khan)tapi jg memantau org2 yg sering melanggar peraturan or anythinglah…
    John “pantau” jgn lupa dtg ke Bekasi yahh,,nanti aq ajak kerumahku dehh (klo mau seeh) :P Ditunggu kedatangannya yahh
    C U :)

  8. Arania Says:

    HAi John Kapan ke jogja lagi Aku pengen ikut kaka John Donk…………………………… Boleh ya????????????
    DITUNGGU

Leave a Reply