Archive for January, 2008

PANTAU Jelang Sore Trans TV: Sebuah Catatan

Wednesday, January 16th, 2008

Mimpi pun enggak, ketika John Martin Tumbel (John, foto kanan) dan Pratomo Setiogroho (Atmo, kiri); tim PANTAU Jelang Sore Trans TV; John_atmomengajakku untuk ikut serta dalam proses peliputan PANTAU Jelang Sore Trans TV untuk episode TROTOAR. Memang sih, dari komunikasiku dengan John via Friendster selama ini, aku tahu bahwa ide-ideku banyak diangkat untuk segmen PANTAU di Jelang Sore Trans TV. Dari dia juga, aku juga tahu kalo ideku tentang penyalahgunaan fungsi trotoar ini akan diangkat dan digarap di Surabaya. Iseng-iseng aku juga minta pada John supaya bisa dilibatkan dalam proses peliputan, tapi sama sekali nggak nyangka kalo permintaanku itu dikabulkan oleh John dan Atmo….!!! Nggak nyangka…!!!

Ketika mereka berdua menghubungiku via handphone dan mendatangiku di kampus, itu sudah sangat menyenangkan karena akhirnya aku bisa juga berinteraksi dengan orang-orang yang selama ini aku kagumi aksinya di layar kaca. Ternyata, mereka malah mengajakku untuk ikut terlibat dalam proses peliputan kali ini. Senang…?? Wah, jangan ditanya, deh..!! Speechless.. sampe nggak bisa tidur semalaman…ngebayangin how excited the experience would be…

Bagi yang nonton Jelang Sore, Rabu, 16 Januari 2008, mungkin masih ingat bahwa saat itu PANTAU mengangkat sebuah fenomena bahwa saat ini yang namanya trotar tuh sudah banyak yang disalahgunakan bukan sebagai tempat pejalan kaki, tapi sebagai tempat berjualan PKL. Pantau_surabaya_006 Selain itu juga, banyak trotoar yang tidak ramah pada para penyandang cacat fisik, seperti tuna netra atau pengguna kursi roda. Struktur trotoar yang nggak rata, berlubang-lubang, banyak galian seringkali menyulitkan mereka yang memiliki keterbatasan fisik.

Pantau_surabaya_040

Intinya sih itu… Tapi, tantangannya adalah bagaimana konsep yang serius kayak gitu bisa dikemas dengan kocak. Karena konsep intinya PANTAU kan public-service watch yang dikemas dengan jenaka. Dan ini sulitnya bukan main. Di sini, aku harus mengacungkan dua jempol pada John dan Atmo yang dengan ide-ide dan imajinasinya yang kadang liar tak berbatas mampu mewujudkan femonena sosial yang sedikit sensitif itu (karena bersinggungan dengan PKL yang cari makan di trotoar, konsumen yang merasa membayar pajak, dan pemerintah melalui Satpol PP yang bertugas menjaga kenyamanan kota..) dengan cara yang jenaka.

Melibatkan instansi pemerintah, dalam hal ini Satpol PP, untuk bisa terlibat dalam proses razia PKL (hahaha…John, kabarnya pak Utomo gimana…?..) mungkin tidak terlalu sulit, mengingat dalam tiap kali tindakan razia biasanya Satpol PP memang melibatkan media, sebagai salah satu usaha public relation mereka tentu saja.

Pantau_surabaya_034

Mewawancarai para pedagang PKL juga tidak akan terlalu sulit, malah mereka mungkin justru akan rebutan supaya wajah mereka terekam dalam kamera. Nah, tapi mewawancarai pedagang PKL pada saat petugas Satpol PP mengadakan razia, itu yang sulit..!!! Lebih sulit lagi, karena John dan Atmo pengennya mewawancarai para PKL beberapa menit sebelum razia dilakukan.. Bukan cuma sulit, bahkan bisa saja berbahaya..!! Pantau_surabaya_022 Jelas sekali bahwa Satpol PP dan PKL bagaikan anjing dan kucing, yang selalu ada pada posisi yang berseberangan. Kalo misalnya, kami dituding para PKL sebagai antek-antek Satpol PP, terus dikeroyok massa karena jengkel, lha kan berabe…!! Yaaaa, kalo yang dikeroyok John dan Atmo sih nggak papa…hehehe..mereka kan bisa aja kemudian menyajikan liputan bahwa wartawan media elektronik dikeroyok PKL saat razia.. Lha kalo aku yang dikeroyok, kan gak lucu kalo muncul di surat kabar, atau muncul di Trans TV, dosen Unair dikeroyok PKL saat razia. Tapi, toh, dengan pendekatan yang halus dan sempurna, John dan Atmo ternyata berhasil mendekati para PKL tersebut dengan baik, sehingga mampu mendapatkan banyak sekali informasi yang penting untuk disajikan, dan bahkan sempat menjalin kedekatan dengan para PKL tersebut…!!! Bahkan ketika John nekad mendatangi kembali para PKL tersebut beberapa saat setelah razia (untuk meliput bahwa PKL itu akan menggelar kembali dagangannya setelah razia), para pedagang itu pun sama sekali tidak menampakkan permusuhan. Sebaliknya, mereka menyambut kami seolah-olah menyambut kedatangan teman lama…!!! Pantau_surabaya_025

Di saat itulah, aku benar-benar menyadari bahwa adalah sangat penting bagi seorang jurnalis untuk memiliki interpersonal skills yang tinggi. Bagaimana tidak..? Seandainya para jurnalis tersebut tidak memiliki kemampuan interpersonal yang bagus, bagaimana mereka bisa menjalin hubungan dengan narasumber..? Bagaimana mereka bisa mendapatkan informasi dari narasumber pada saat-saat yang kritis..?Sama ketika, si John mampu menginterview seorang PKL tepat pada saat pedagang tersebut kerepotan membereskan barang dagangannya dan melarikannya ke sebuah kampung supaya tidak disita Satpol PP. Lalu, bagaimana para jurnalis tersebut mampu menginterview para narasumber yang ada pada posisi bersalah tanpa mereka merasa dihakimi..? Tanpa interpersonal skills yang bagus, tugas-tugas jurnalisme pasti tak akan dapat terlaksana dengan baik.

Dari tayangan Jelang Sore yang berdurasi 30 menit (termasuk commercial break), tak pernah aku menduga betapa sulit dan rumitnya proses produksinya. Bayangkan saja, Pantau di Jelang Sore episode tanggal 16 Januari 2008 kemarin tayang tiga segmen. Satu segmen yang hanya 7-8 menit itu membutuhkan waktu pengerjaan sampai minimal dua hari..!!! Misalnya, adegan yang menampilkan berbagai spot trotoar yang digunakan untuk pedagang makanan kaki lima. Adegan yang cuma 5 menit itu membutuhkan waktu pengerjaan sampai dua hari..!! Dan itu dengan catatan, kebetulan cuaca sedang bersahabat. Dari satu titik ke titik yang lain, dari satu adegan ke adegan yang lain… Wah, ribet..!!! Belum lagi, untuk setiap adegan perlu diulang beberapa kali, termasuk adegan jatuh ke selokan yang harus diulang tiga kali, ya John…!! Sampe-sampe tangan dan kaki pada lecet-lecet…

Ada banyak hal yang aku pelajari dari kebersamaanku dengan tim Pantau Jelang Sore Trans TV selama mereka di Surabaya. Di antaranya adalah:

  • Betapa panjang dan berlikunya sebuah proses peliputan sebuah berita. Ya yang tadi aku bilang itu. Untuk tayangan durasi 5-7 menit saja butuh waktu dua hari..!! Proses taping-nya sendiri tidak terlalu lama. Setengah sampai dengan satu jam paling juga udah kelar. Tapi, proses persiapan sebelum taping itu dilakukan yang ternyata luar biasa menguras tenaga, waktu, dan pikiran..!! Dan sangat mengagumkan melihat John dan Atmo yang tetap ceria dan tetap gokil di tengah-tengah hambatan dan rintangan dalam perjalanan..
  • Betapa riskannya profesi seorang jurnalis. Aku nggak bisa membayangkan gimana jadinya seandainya para PKL tersebut ngamuk atas kehadiran Satpol PP dan melampiaskan kemarahannya pada jurnalis yang kebetulan hadir saat itu…!! Itu sih masih mendingan… Aku masih ingat betapa menggetarkannya pengalaman Meutya Hafid dan Budiyanto, jurnalis dari Metro TV, yang disandera kelompok Mujahidin selama 168 jam di Irak. Ternyata kematian juga merupakan salah satu risiko profesi seorang jurnalis..!!!
  • Betapa indahnya arti sebuah idealisme. Banyak orang awam yang paham bahwa Trans TV adalah sekolahnya para jurnalis TV, yang karena dianggap sebagai sekolah maka you wont get any good money there… Tapi, sosok John dan Atmo telah menunjukkan padaku bahwa kerja keras yang mereka lakukan untuk menghadirkan sesuatu yang bernilai bagi masyarakat memiliki arti yang lebih besar daripada uang.. Kepuasan kerja yang mereka rasakan tidaklah muncul ketika perusahaan mengapresiasi kinerja mereka dengan imbalan tertentu. Kepuasan kerja itu muncul pada saat mereka berhasil menyajikan sesuatu yang berarti bagi masyarakat, dengan ide dan konsep yang matang, eksekusi yang mulus, dan sambutan masyarakat yang positif. Sangatlah indah dan menyenangkan apabila idealisme kerja berjalan seiring dengan kepuasan kerja, karena artinya apapun yang kita kerjakan akan menghasilkan sesuatu yang terbaik dari diri kita. Dan menurutku, orang-orang yang memiliki idealisme dalam profesinya dan mampu menjunjung tinggi idealisme itu akan merasakan kebahagiaan yang besar saat mereka merasakan bahwa apa yang mereka lakukan sangat bernilai bagi orang lain.. Dan kebahagiaan seperti itu tak akan terbeli dengan uang..

Buat John dan Atmo, terima kasih banyak atas memorable and unforgettable experience yang telah kalian berikan buatku selama hari-hari kalian ada di Surabaya…. entah apa akan ada lagi pengalaman indah serupa itu….. terima kasih juga karena telah mengajarkanku bagaimana idealisme profesi yang sebenarnya, yang entahlah apa sudah kumiliki saat ini….. aku berharap, bisa memiliki idealisme yang sama agar aku bisa merasakan kepuasan yang kalian rasakan ketika apa yang kalian lakukan bisa berarti bagi orang lain…

Semoga….

Pantau_surabaya_065_2      

Aku bersama teman-teman tim liputan Jelang Sore: Hakim, Ine, John, dan Atmo…. see you around guys..!! kapan-kapan aku main ke Tendean, yah..!

Trans TV & Kompetensi Seorang Konsumen (2)

Tuesday, January 8th, 2008

Ini sebenarnya adalah comment on comments atas postingan-ku sebelumnya, tentang Trans TV. Karena kayaknya tanggapanku bakal terlalu panjang untuk dimasukkan ke comment, maka aku jadikan postingan baru.

Sebelumnya, thanks banget buat Yudha - one of the best TV journalists di Trans TV, one of the persons I admire the most at Trans TV - yang mau ikut urun pendapat di blog-ku ini, dan mau memberikan pendapat yang obyektif. Emang Yudha menggariskan point yang penting banget, bahwa presenter adalah orang yang ada pada garda paling depan, yang mengemban semua hasil pekerjaan jurnalistik orang-orang yang ada di belakang layar. Audiens nggak akan bisa tahu, apa yang terjadi di belakang layar. Kalo dosen datang terlambat, meminjam contohnya Jay, mahasiswa bisa bertanya langsung dan menerima jawabannya dari dosen yang bersangkutan. Saya sendiri akan menjawab pertanyaan itu dengan jujur, kenapa kok saya terlambat. Dan yang penting, saya nggak akan pernah menjawab "Ah, buat saya, yang penting Kajur atau Dekan menganggap dosen terlambat 15 menit tuh nggak apa-apa, kok, toh kuliah bisa jalan terus.." Tapi kalau presenter yang tampilnya kurang bagus, pemirsa tidak akan bisa mendapat penjelasan (kecuali kalo ada yang nekat ngirim sms kayak aku, ya..). Jadi, apabila seorang presenter berita tampil tiga kali berturut-turut dengan performance yang selalu di bawah standar performancenya yang biasanya, tentu orang akan bertanya-tanya.

Penyedia jasa adalah orang yang mengemban fungsi public relation, terutama apabila karakter bisnisnya tidak memungkinkan konsumen untuk terlibat aktif dalam proses produksinya. Ini juga beda, lho Jay. Kalo di jasa pendidikan seperti di kampus, kalian kan bisa terlibat langsung dalam gerak langkah institusi. Kalian bisa terlibat langsung di dalamnya. Tapi, pada industri pertelevisian, konsumen tidak bisa terlibat terlalu aktif, karena konsumen hanya bisa menilai kualitas performance sebuah stasiun TV dari penampilan sang presenter dan setting yang ada di sekitarnya. Hal ini menyebabkan peran presenter menjadi sangat penting. Dia yang akan "bercerita" dan "mendongengkan" informasi yang berhasil diperoleh reporter di lapangan kepada audiens, bukan hanya sekedar membaca saja. Mengutip kata-kata Yudha, lha kalo presenter berita hanya sekedar duduk dan nampang di TV sambil membaca berita, tanpa menjiwai apa yang ia bacakan, lalu apa bedanya dengan MC..?

Satu poin penting lagi, khususnya buat Jay nih, bahwa (sekali lagi) penyedia jasa itu selalu berperan sebagai public relation officer untuk perusahaan di mana ia bekerja. Jadi, meskipun ia dalam kondisi capek, marah (pada orang lain), sedih, jengkel, dan lain-lain, tidak sepantasnya ia melampiaskan situasi pribadinya yang kurang nyaman itu pada konsumen. Apalagi konsumen yang memberikan kritik. Ingat, kritik itu seharusnya dianggap sebagai hadiah bagi perusahaan. Bagi konsumen sendiri, memberikan kritik itu membutuhkan effort lho, butuh pengorbanan. Jadi, terlepas bagaimanapun situasi dan kondisi penyedia jasa pada saat itu, maka tidak sepantasnya ia bersikap defensif.

Terlepas dari kemungkinan bahwa kritik yang diajukan konsumen untuk cuma satu di antara seribu pujian. Terlepas dari kemungkinan bahwa presenternya lagi kecapekan atau lagi pusing karena nggak punya duit buat bayar utang. Terlepas dari kenyataan bahwa presenter itu dituntut untuk memenuhi apa yang diminta oleh produser (meskipun dalam kasus ini, tidak begitu ceritanya). Terlepas dari itu semua, penyedia jasa, atau dalam hal ini presenter, punya peran penting sebagai public relation yang seharusnya malah mau dan mampu menjaring masukan dari pelanggannya. Sehingga, terlepas dari benar atau tidaknya masukan, kritik, atau saran yang masuk, maka paling tidak, dia harus mau berkata "Terima kasih atas kritik yang diberikan…"

Soal apakah nanti setelah itu kritik dan sarannya tidak diperhatikan karena nggak masuk akal atau karena beda persepsi, itu urusan lain. Karena memang, seperti kata Jay sendiri, mungkin saja perusahaan punya standar penilaian yang berbeda. Tapi, keharusan untuk berterima kasih atas semua masukan, kritik, dan saran yang datang dari konsumen itu tidak berubah..!! Ini kan masalah sopan santun dan etika pergaulan bisnis..

Satu hal yang perlu diingat di sini, tiap industri punya karakter sendiri-sendiri. Punya model bisnis yang berbeda-beda. Sehingga tidak fair kalo harus membandingkan situasi yang berlangsung di suatu industri dengan industri lain yang memiliki karakter yang berbeda, seperti membandingkan jasa pertelevisian (yang persaingannya ketat dan konsumen atau audiens bisa berpindah dari satu channel ke channel yang lain) dengan jasa pendidikan (yang kalo kalian sudah memilih masuk Unair, akan sulit untuk "pindah channel" karena switching cost-nya yang tinggi). Pada jasa dengan karakter yang pertama, sudah wajar kalau konsumen menuntut kesempurnaan yang konsisten dari penyedia jasa (itu yang namanya reliabilitas), karena kalau tidak sempurna konsumen bisa saja pindah ke penyedia jasa yang lain. Tapi pada jasa dengan karakter yang kedua, penyedia jasa bisa saja bersikap masa bodoh dengan semua masukan, saran, dan kritik, karena toh konsumen sulit sekali mau pindah ke penyedia jasa yang lain. (Ibaratnya nih, kalo kamu komplain ke saya karena nilai yang saya berikan ke kamu, kamu anggap nggak fair, maka saya bisa saja bilang,"Ya itu nasibmu.." Dan kamu tidak akan bisa pindah ke "channel" lain, apalagi pindah ke kampus lain). Karena perbedaannya sangat mendasar, maka perbandingan keduanya tentu tidak fair.

Dan satu lagi, mengutip kata-kata Yudha, mengingat presenter itu tampil di televisi yang ditonton jutaan manusia di Indonesia tentu kesalahan dan kekurangan yang dia lakukan akan sangat mudah dikenali oleh orang lain (yang jumlahnya jutaan orang itu). Bandingkan dengan dosen, yang kesalahannya paling-paling akan disaksikan oleh maksimal 100 orang mahasiswa. Sekali lagi, ini akan menunjukkan bahwa pembandingan kedua jenis penyedia jasa ini jelas tidak berimbang.

Tapi, inti dari postingan ini adalah,

  • Setiap karyawan perusahaan yang tampil dan berinteraksi dengan konsumen atau pelanggan; langsung maupun tidak langsung; harus mampu menjalankan fungsi sebagai "Public Relation Officer" bagi perusahaannya
  • Mereka yang berfungsi sebagai Public Relation dituntut untuk mampu menempatkan konsumen sebagai stakeholders utama, terutama apabila perusahaan tersebut berada pada lingkungan kompetisi yang ketat dan konsumen mudah untuk berpindah provider. Sehingga, apapun yang disampaikan oleh konsumen hendaknya diterima dengan baik, terbuka dan tidak defensif.
  • Semua karyawan yang berinteraksi dengan pelanggan memang berhadapan dengan situasi Boundary Spanning, di mana mereka harus tetap tersenyum meskipun hati mereka sedang marah atau sedih. Karyawan tersebut tidak akan pernah dibenarkan untuk melampiaskan kesedihan atau kemarahannya pada konsumen yang kebetulan memberikan kritikan kepadanya. Bagi pemasar, itu dosa besar!

Dan, terakhir Jay, ketakjuban saya justru karena menyadari pada pada industri pertelevisian saat ini (ini dunia nyata, lho!!) yang sangat kompetitif ini, kok ya masih ada seseorang dari perusahaan yang sangat terkenal, yang tidak memahami pernyataan bahwa "pelanggan adalah raja…" yang perlu disayang-sayang dan diperlakukan dengan baik.

PS: Jay, kamu dulu gak ngambil Services Marketing ya..?

Trans TV & Kompetensi Seorang Konsumen

Saturday, January 5th, 2008

Suatu pagi, di akhir pekan bulan Januari 2008…

Seperti biasa, seusai sholat shubuh aku mengawali hariku dengan menonton acara berita pagi. Dan Reportase Pagi, program berita Trans TV, adalah pilihan utamaku untuk tayangan berita pagi. Dan senang sekali rasanya mengetahui bahwa presenter berita pagi hari ini adalah dua orang presenter kesayanganku. Yang pria, selalu tampil rapi, elegan, dan intelek. Sedang yang wanita, cantik dan anggun dengan balutan jilbab merah mudanya.

Beberapa saat menonton, aku mulai merasa terganggu dengan pembawaan sang presenter pria. Dia, sang presenter pria, dulu kuanggap sebagai presenter berita terbaik di Trans TV, bahkan salah satu yang terbaik di kalangan presenter muda di seluruh stasiun TV swasta nasional di tanah air. Namun, sudah tiga hari ini, ketika dia menjadi presenter acara berita pagi ini, dia nampak begitu lesu, cara penyajiannya tanpa gairah, tidak ada lagi senyum yg biasa menghiasi wajahnya, tidak ada lagi gairah yang mengalir lewat kata-katanya, dan nada suaranya yang biasanya bersemangat menyajikan informasi kini terdengar begitu datar dan tawar. Sekali dua kali, kuanggap dia sedang masa-masa yang kurang baik. Namanya manusia, kan pasti ada ups and downs-nya. Tapi kalo sudah sampai tiga kali penampilan masih jelek juga, rasanya kan perlu diingatkan…

Sebagai konsumen yang baik, aku berusaha memberikan saran kepadanya. Aku pun memutuskan untuk menghubunginya lewat sms. Kebetulan, beberapa hari yang lalu aku berhasil memperoleh nomor HP-nya lewat salah seorang temanku. Di sms, aku tanyakan, mengapa kok penampilannya selama beberapa hari ini nampak lesu, kurang tenaga, tidak bergairah, dan caranya membawakan berita seolah-olah ia tak menikmati pekerjaannya lagi. Kayak orang patah hati aja, tulisku juga.

Tak berapa lama, HP-ku berbunyi tanda ada sms masuk. Ternyata dari sang presenter pria tersebut. Kaget juga aku melihat begitu cepatnya respons darinya. Bagus juga nih, gumamku dalam hati. Kubaca sms yang aku terima dengan penuh rasa ingin tahu.

Ternyata isi sms itu agak mengejutkan aku.

"Untungnya produserku bilang penampilanku ok kok. Yang penting kan penilaian produser, orang yang lebih berkompeten dan lebih tahu tentang program ini. Kalo mereka bilang oke, ya sudahlah.."

Aku mengernyitkan dahiku. Keheranan. Kok kayak gini responsnya..? Jengkel atau marah sih enggak, cuma merasa agak aneh saja.

Aku jadi teringat ketika aku menjelaskan di kuliah Pemasaran, bahwa meskipun secara teoritis perusahaan seharusnya menerapkan konsep pemasaran yang berorientasi pada pemuasan konsumen, tapi pada kenyataannya masih banyak perusahaan besar yang lebih mendorong penerapan konsep produk yang berorientasi pada diri sendiri. Masih cukup banyak perusahaan yang menilai kualitas sebuah produk; baik barang atau jasa; hanya dari sudut pandang produsen. Tidak mengadopsi penilaian atas kualitas dari sudut pandang konsumen, yang notabene adalah pengguna produk yang ditawarkan tersebut. Tapi, yang membuatku heran adalah, salah satu perusahaan yang masih menganut prinsip yang sudah kuno itu adalah Trans TV. Trans TV!!! Yang bukan hanya stasiun TV ternama di Indonesia, namun juga terkenal sebagai stasiun TV yang digawangi pekerja-pekerja muda yang rata-rata usianya di bawah 30 tahun.

Biasanya, perusahaan yang banyak dikawal oleh tenaga muda selain lebih inovatif dalam menghasilkan karya, juga cenderung lebih responsif dan lebih mudah menerima kritik. Sebaliknya perusahaan-perusahaan yang sudah mapan dan dikawal oleh SDM-SDM yang sudah berusia mapan cenderung lebih susah dalam menerima kritik dan biasa bersikap defensif bila ada kritikan yang mereka terima.

Tapi, ini kan Trans TV..!!!! Trans TV…!!!!

Rasa heranku tak habis-habisnya. Bagaimana mungkin seseorang atau sebuah perusahaan, apalagi perusahaan sebesar dan sehebat Trans TV, masih lebih mengandalkan penilaian produsen dan menganggap penilaian konsumen itu tidak kredible karena konsumen tidak punya kompetensi dalam hal proses produksi…??!! Sebenarnya aku ingin mendebatnya bahwa, memang produser itu lebih kompeten dalam proses produksi sebuah program berita, namun bukankah konsumen jauh lebih berpengalaman dalam mengkonsumsi berita. Si produsen paling-paling baru 5-8 tahun punya pengalaman memproduksi program berita.  Tapi, aku sudah punya pengalaman lebih dari 13 tahun dalam mengkonsumsi berita..!!! Tapi, ya nggak lucu lah kalo aku harus berdebat dengan orang yang belum aku kenal secara pribadi. Lewat sms lagi…!! Maka, jawaban sms itu pun aku biarkan saja, dan tidak kuhapus sampai saat ini (siapa tahu bisa dijadikan bahan diskusi kasus di kelas Pemasaran…)

Namun, aku juga harus bersikap adil. Aku sih berprasangka baik saja, bahwa kata-kata itu keluar dari seseorang yang (mungkin) sedang mengalami masalah di balik layar. Entah utangnya banyak, anaknya sakit, atau lagi patah hati, atau baru dimarahi atasan, atau yang lainnya.. Cuma, tetap saja, situasi yang tidak mengenakkan di belakang layar tidak bisa digunakan sebagai alasan oleh seorang penyedia jasa (service provider) untuk bersikap arogan.

Karyawan atau penyedia jasa, termasuk presenter berita, memang harus menghadapi tantangan profesi yang disebut sebagai Boundary Spanning Role. Mereka memiliki peran yang harus dimainkan ketika berinteraksi dengan konsumen, di mana peran itu menuntut mereka untuk tetap bersikap responsif, empati, dan ramah, meskipun kehidupan pribadi mereka sendiri sedang dalam situasi yang kurang enak. Ini yang namanya tuntutan pekerjaan..!! Bahkan siapapun yang bekerja di sebuah perusahaan jasa harus mampu bertindak sebagai public relation officer, dan senantiasa bersikap ramah dan terbuka pada konsumen yang datang padanya.

Memang ini bukanlah hal yang mudah. Tapi, justru hal yang tidak mudah inilah yang seringkali digunakan sebagai competitive weapons oleh banyak perusahaan yang bergerak di bidang jasa. Mereka berlomba-lomba melatih seluruh karyawannya, dari posisi yang paling atas sampe yang paling bawah seperti satpam atau office boy, agar mereka semua mampu bertindak selaku public relation officer.

Rasanya ingin sekali mengirimkan tulisan ini kepadanya, si presenter Trans TV tersebut, agar ia bisa memahami karakter pekerjaannya dengan lebih baik. Tapi, gimana caranya..

Sambil berpikir-pikir kubaca lagi sms itu, sambil berusaha menghapus rasa takjub dan heranku yang masih belum juga hilang….