PANTAU Jelang Sore Trans TV: Sebuah Catatan
Wednesday, January 16th, 2008Mimpi pun enggak, ketika John Martin Tumbel (John, foto kanan) dan Pratomo Setiogroho (Atmo, kiri); tim PANTAU Jelang Sore Trans TV; mengajakku untuk ikut serta dalam proses peliputan PANTAU Jelang Sore Trans TV untuk episode TROTOAR. Memang sih, dari komunikasiku dengan John via Friendster selama ini, aku tahu bahwa ide-ideku banyak diangkat untuk segmen PANTAU di Jelang Sore Trans TV. Dari dia juga, aku juga tahu kalo ideku tentang penyalahgunaan fungsi trotoar ini akan diangkat dan digarap di Surabaya. Iseng-iseng aku juga minta pada John supaya bisa dilibatkan dalam proses peliputan, tapi sama sekali nggak nyangka kalo permintaanku itu dikabulkan oleh John dan Atmo….!!! Nggak nyangka…!!!
Ketika mereka berdua menghubungiku via handphone dan mendatangiku di kampus, itu sudah sangat menyenangkan karena akhirnya aku bisa juga berinteraksi dengan orang-orang yang selama ini aku kagumi aksinya di layar kaca. Ternyata, mereka malah mengajakku untuk ikut terlibat dalam proses peliputan kali ini. Senang…?? Wah, jangan ditanya, deh..!! Speechless.. sampe nggak bisa tidur semalaman…ngebayangin how excited the experience would be…
Bagi yang nonton Jelang Sore, Rabu, 16 Januari 2008, mungkin masih ingat bahwa saat itu PANTAU mengangkat sebuah fenomena bahwa saat ini yang namanya trotar tuh sudah banyak yang disalahgunakan bukan sebagai tempat pejalan kaki, tapi sebagai tempat berjualan PKL.
Selain itu juga, banyak trotoar yang tidak ramah pada para penyandang cacat fisik, seperti tuna netra atau pengguna kursi roda. Struktur trotoar yang nggak rata, berlubang-lubang, banyak galian seringkali menyulitkan mereka yang memiliki keterbatasan fisik.
Intinya sih itu… Tapi, tantangannya adalah bagaimana konsep yang serius kayak gitu bisa dikemas dengan kocak. Karena konsep intinya PANTAU kan public-service watch yang dikemas dengan jenaka. Dan ini sulitnya bukan main. Di sini, aku harus mengacungkan dua jempol pada John dan Atmo yang dengan ide-ide dan imajinasinya yang kadang liar tak berbatas mampu mewujudkan femonena sosial yang sedikit sensitif itu (karena bersinggungan dengan PKL yang cari makan di trotoar, konsumen yang merasa membayar pajak, dan pemerintah melalui Satpol PP yang bertugas menjaga kenyamanan kota..) dengan cara yang jenaka.
Melibatkan instansi pemerintah, dalam hal ini Satpol PP, untuk bisa terlibat dalam proses razia PKL (hahaha…John, kabarnya pak Utomo gimana…?..) mungkin tidak terlalu sulit, mengingat dalam tiap kali tindakan razia biasanya Satpol PP memang melibatkan media, sebagai salah satu usaha public relation mereka tentu saja.
Mewawancarai para pedagang PKL juga tidak akan terlalu sulit, malah mereka mungkin justru akan rebutan supaya wajah mereka terekam dalam kamera. Nah, tapi mewawancarai pedagang PKL pada saat petugas Satpol PP mengadakan razia, itu yang sulit..!!! Lebih sulit lagi, karena John dan Atmo pengennya mewawancarai para PKL beberapa menit sebelum razia dilakukan.. Bukan cuma sulit, bahkan bisa saja berbahaya..!!
Jelas sekali bahwa Satpol PP dan PKL bagaikan anjing dan kucing, yang selalu ada pada posisi yang berseberangan. Kalo misalnya, kami dituding para PKL sebagai antek-antek Satpol PP, terus dikeroyok massa karena jengkel, lha kan berabe…!! Yaaaa, kalo yang dikeroyok John dan Atmo sih nggak papa…hehehe..mereka kan bisa aja kemudian menyajikan liputan bahwa wartawan media elektronik dikeroyok PKL saat razia.. Lha kalo aku yang dikeroyok, kan gak lucu kalo muncul di surat kabar, atau muncul di Trans TV, dosen Unair dikeroyok PKL saat razia. Tapi, toh, dengan pendekatan yang halus dan sempurna, John dan Atmo ternyata berhasil mendekati para PKL tersebut dengan baik, sehingga mampu mendapatkan banyak sekali informasi yang penting untuk disajikan, dan bahkan sempat menjalin kedekatan dengan para PKL tersebut…!!! Bahkan ketika John nekad mendatangi kembali para PKL tersebut beberapa saat setelah razia (untuk meliput bahwa PKL itu akan menggelar kembali dagangannya setelah razia), para pedagang itu pun sama sekali tidak menampakkan permusuhan. Sebaliknya, mereka menyambut kami seolah-olah menyambut kedatangan teman lama…!!!
Di saat itulah, aku benar-benar menyadari bahwa adalah sangat penting bagi seorang jurnalis untuk memiliki interpersonal skills yang tinggi. Bagaimana tidak..? Seandainya para jurnalis tersebut tidak memiliki kemampuan interpersonal yang bagus, bagaimana mereka bisa menjalin hubungan dengan narasumber..? Bagaimana mereka bisa mendapatkan informasi dari narasumber pada saat-saat yang kritis..?Sama ketika, si John mampu menginterview seorang PKL tepat pada saat pedagang tersebut kerepotan membereskan barang dagangannya dan melarikannya ke sebuah kampung supaya tidak disita Satpol PP. Lalu, bagaimana para jurnalis tersebut mampu menginterview para narasumber yang ada pada posisi bersalah tanpa mereka merasa dihakimi..? Tanpa interpersonal skills yang bagus, tugas-tugas jurnalisme pasti tak akan dapat terlaksana dengan baik.
Dari tayangan Jelang Sore yang berdurasi 30 menit (termasuk commercial break), tak pernah aku menduga betapa sulit dan rumitnya proses produksinya. Bayangkan saja, Pantau di Jelang Sore episode tanggal 16 Januari 2008 kemarin tayang tiga segmen. Satu segmen yang hanya 7-8 menit itu membutuhkan waktu pengerjaan sampai minimal dua hari..!!! Misalnya, adegan yang menampilkan berbagai spot trotoar yang digunakan untuk pedagang makanan kaki lima. Adegan yang cuma 5 menit itu membutuhkan waktu pengerjaan sampai dua hari..!! Dan itu dengan catatan, kebetulan cuaca sedang bersahabat. Dari satu titik ke titik yang lain, dari satu adegan ke adegan yang lain… Wah, ribet..!!! Belum lagi, untuk setiap adegan perlu diulang beberapa kali, termasuk adegan jatuh ke selokan yang harus diulang tiga kali, ya John…!! Sampe-sampe tangan dan kaki pada lecet-lecet…
Ada banyak hal yang aku pelajari dari kebersamaanku dengan tim Pantau Jelang Sore Trans TV selama mereka di Surabaya. Di antaranya adalah:
- Betapa panjang dan berlikunya sebuah proses peliputan sebuah berita. Ya yang tadi aku bilang itu. Untuk tayangan durasi 5-7 menit saja butuh waktu dua hari..!! Proses taping-nya sendiri tidak terlalu lama. Setengah sampai dengan satu jam paling juga udah kelar. Tapi, proses persiapan sebelum taping itu dilakukan yang ternyata luar biasa menguras tenaga, waktu, dan pikiran..!! Dan sangat mengagumkan melihat John dan Atmo yang tetap ceria dan tetap gokil di tengah-tengah hambatan dan rintangan dalam perjalanan..
- Betapa riskannya profesi seorang jurnalis. Aku nggak bisa membayangkan gimana jadinya seandainya para PKL tersebut ngamuk atas kehadiran Satpol PP dan melampiaskan kemarahannya pada jurnalis yang kebetulan hadir saat itu…!! Itu sih masih mendingan… Aku masih ingat betapa menggetarkannya pengalaman Meutya Hafid dan Budiyanto, jurnalis dari Metro TV, yang disandera kelompok Mujahidin selama 168 jam di Irak. Ternyata kematian juga merupakan salah satu risiko profesi seorang jurnalis..!!!
- Betapa indahnya arti sebuah idealisme. Banyak orang awam yang paham bahwa Trans TV adalah sekolahnya para jurnalis TV, yang karena dianggap sebagai sekolah maka you wont get any good money there… Tapi, sosok John dan Atmo telah menunjukkan padaku bahwa kerja keras yang mereka lakukan untuk menghadirkan sesuatu yang bernilai bagi masyarakat memiliki arti yang lebih besar daripada uang.. Kepuasan kerja yang mereka rasakan tidaklah muncul ketika perusahaan mengapresiasi kinerja mereka dengan imbalan tertentu. Kepuasan kerja itu muncul pada saat mereka berhasil menyajikan sesuatu yang berarti bagi masyarakat, dengan ide dan konsep yang matang, eksekusi yang mulus, dan sambutan masyarakat yang positif. Sangatlah indah dan menyenangkan apabila idealisme kerja berjalan seiring dengan kepuasan kerja, karena artinya apapun yang kita kerjakan akan menghasilkan sesuatu yang terbaik dari diri kita. Dan menurutku, orang-orang yang memiliki idealisme dalam profesinya dan mampu menjunjung tinggi idealisme itu akan merasakan kebahagiaan yang besar saat mereka merasakan bahwa apa yang mereka lakukan sangat bernilai bagi orang lain.. Dan kebahagiaan seperti itu tak akan terbeli dengan uang..
Buat John dan Atmo, terima kasih banyak atas memorable and unforgettable experience yang telah kalian berikan buatku selama hari-hari kalian ada di Surabaya…. entah apa akan ada lagi pengalaman indah serupa itu….. terima kasih juga karena telah mengajarkanku bagaimana idealisme profesi yang sebenarnya, yang entahlah apa sudah kumiliki saat ini….. aku berharap, bisa memiliki idealisme yang sama agar aku bisa merasakan kepuasan yang kalian rasakan ketika apa yang kalian lakukan bisa berarti bagi orang lain…
Semoga….
Aku bersama teman-teman tim liputan Jelang Sore: Hakim, Ine, John, dan Atmo…. see you around guys..!! kapan-kapan aku main ke Tendean, yah..!


