Archive for August, 2007

Kisah Klasik, Agustus 2007 (1)

Sunday, August 19th, 2007

Aku berjalan menuju ruang akademik untuk mengembalikan daftar presensi kuliah Pengantar Bisnis. Tiba-tiba seorang mahasiswa menghampiri dan menyapaku. Aku mengenalinya sebagai salah satu dari beberapa mahasiswa yang tadi aku usir keluar kelas karena terlambat masuk kelas karena terlambat masuk kuliah lebih dari 30 menit. Tentu saja, aku bisa menebak maksudnya menyapaku. (Ya, apa lagi sih…kalo bukan merayuku….??)

"Pak, maaf saya tadi terlambat masuk kuliah," ujarnya mengawali pembicaraan.

"Oh, ya, nggak papa, nggak masalah kok. Toh kamu kan sudah saya usir keluar. Ya, udah beres." jawabku nyantai.

"Iya, pak, tapi masalahnya, karena tadi saya nggak boleh masuk kuliah, artinya saya sudah nggak masuk kuliah tiga kali. Dan itu artinya saya bakal kena tilang dong, nggak boleh ikut UAS." sahutnya.

Waaaahhh……bakal panjang nih ceritanya, aku membatin.

"Yaaa…itu kan bukan salah saya, mas. Itu kan salah kamu sendiri. Ngapain juga datang terlambat.."

"Yaa…saya telat juga bukan salah saya, pak. Tadi saya itu sudah sampai di pelataran parkir motor jam 10.15 menit. Tapi parkir motornya penuh dan susah nyari tempat. Makanya saya baru bisa masuk kelas jam 10.45," katanya menjelaskan.

Aku jadi terheran-heran mendengar penjelasan dan kata-katanya.

"Sebentar, sebentar, Anda bilang kalo Anda nggak salah..?" tanyaku (aku udah mengubah sapaan dari "kamu" menjadi "Anda"…..tanda bahaya, nih…!!!)," Lha wong Anda datang jam 10.15 aja sudah terlambat, mas!! Kok pake bilang, nggak salah, segalanya. Pikir dong!! Anda kan mahasiswa lama, udah tau kalo ini masanya KHS dan daftar ulang, pasti parkir motor penuh dan susah didapat. Gitu kok nggak merasa salah..!! Mbok nyadar!!" jawabku pedas.

"Yaaaa….tapi saya minta tolong, pak."

Sebel banget, dengarnya.. Tadi pake jurus nyalahin situasi parkir. Sekarang jurus melas-melas dikeluarkan. Tipikal banget, khas mahasiswa trouble-maker…!!!

"Minta tolong apa? Anda salah, dan Anda sudah dapat hukuman dengan saya usir dari kelas. Ya, sudah, saya anggap masalahnya selesai. Kalo Anda sekarang mengungkit-ungkit masalah itu lagi, justru Anda yang memperpanjang masalah." sahutku lagi.

"Iya, pak, tapi masalahnya saya kena tilang..!!" nada suaranya sudah mulai meninggi.

"Lho, masalah Anda dengan saya kan cuma satu kali ini tadi. Anda telat, saya usir. Soal Anda bolos dua pertemuan sebelum ini, ya itu bukan urusan saya. Saya kan gak nyuruh Anda bolos.." sahutku gak mau kalah.

"Pak, saya ini minta tolong..!!" kata dia dengan suara tinggi, bergetar menahan marah."Usia saya 28 tahun bulan ini, dan saya belum lulus Pengantar Bisnis. Saya udah berkali-kali mengulang. Sekarang saya minta tolong Bapak supaya bisa ikut UAS.."

Aku jadi terdiam. Heran mendengar nada marah di suaranya.

"Mas, saya cuma bisa bilang, Selamat Ulang Tahun yang ke-28..!! Tapi, lainnya tidak. Kalo Anda tiap hari masuk kelas, ngerjain tugas, kalo nggak bisa nanya ke saya, saya mungkin akan mempertimbangkan usia Anda. Anda pantas minta tolong ke saya. Mungkin memang kemampuan akademis Anda kurang. Tapi, sekarang ini kasusnya beda banget!! Dari tiga pertemuan sejak UTS, Anda bolos pada dua pertemuan awal. Pertemuan ketiga Anda telat masuk kelas 45 menit. Dari mana, Anda bisa bilang bahwa Anda punya niat untuk lulus..? Jelas itu menunjukkan kalo Anda sendiri nggak berjuang. Lha, buat apa saya repot-repot menolong orang yang nggak mau menolong dirinya sendiri..? Apalagi Anda sudah dewasa, sudah tua, hampir seumuran saya, harusnya sudah tahu  dan sadar kalo Anda perlu berjuang supaya bisa cepat lulus dari mata kuliah Semester satu..!!" jawabku. Pedas banget emang. Lha, abis, jengkel banget aku!!

Dia terdiam.

"Saya mau nanya dulu. Dua pertemuan lalu, Anda nggak kuliah PB. Kenapa?" tanyaku lebih lunak.

"Pertemuan pertama, saya nggak enak badan. Saya di rumah."

"Bikin surat ijin ke saya..?"

"Nggak, pak.."

"Oh, bagus itu!!" sahutku sinis," trus yang kedua..?"

"Saya pulang kampung. Ada sepupu yang menikah."

Aku terperangah heran. Melongo. Sedikit meragukan kewarasan mahasiswa yang ada di hadapanku ini.

"Anda sadar nggak sih…? Anda tadi bilang, Anda sudah 28 tahun dan belum lulus mata kuliah semester satu, dan Anda masih menyempatkan diri untuk pulang kampung untuk urusan yang nggak penting dan nggak relevan dengan studi Anda..? Anda juga nggak mau merepotkan diri Anda untuk mengurus surat ijin sakit..? Anda juga nggak mau merepotkan diri untuk datang ke kampus lebih awal supaya nggak terlambat masuk kelas..? Kalau sudah begini, jelas sudah bahwa Anda memang tidak punya semangat untuk memperjuangkan diri Anda sendiri. Dan jelas sekali saya nggak akan mau menolong Anda supaya bisa ikut UAS besok. Saya tidak mau menolong orang yang nggak mau menolong dirinya sendiri. Sampai ketemu semester depan di mata kuliah ini. Dan sekarang, silakan keluar!!" ujarku menutup pembicaraan.

"Jadi, kesempatan saya untuk ikut ujian sudah hilang, pak?" tanyanya dengan nada gemetar menahan marah.

"Ya!! Silakan keluar," jawabku dingin.

Dan dia pun langsung keluar menahan marah. Entah sumpah serapah apa saja yang ia lontarkan.

Heran, deh..!! Kisah di atas bukanlah kisah baru. Udah klasik banget. Yang namanya mahasiswa, apalagi yang tipe-tipe pecundang seperti lakon di atas, emang punya tipikal khas. Ketika dia menghadapi suatu masalah di kuliah, pertama kali dia akan menyalahkan situasi. Kalo situasi sudah nggak bisa disalahkan, dia akan menyalahkan orang lain. Kalo udah mentok, baru deh, merayu dan mencoba meluluhkan hati. Tanpa sedikitpun perasaan bersalah atau menyesal atas apa yang telah mereka lakukan.

Begitu banyak mahasiswa tipikal seperti itu, yang mengulang suatu mata kuliah berkali-kali, entah dengan alasan apapun. Rekor untuk mata kuliahku sendiri adalah tujuh kali, alias ada mahasiswaku yang harus tujuh kali mengulang sebelum dapat nilai lulus. Ada juga yang ngulang tujuh kali, mau ngulang yang ke-delapan, sudah kena DO. Tipikal anaknya ya hampir sama dengan lakon di atas. Seenaknya sendiri gitu…!!! Pernah lho, aku punya mahasiswa yang sejak 30 menit sebelum kuliah dimulai (jam 15.30) selalu nguber-uber aku "Ayo, pak, kok belum masuk kelas…? Nggak kuliah tah pak..?" meskipun arloji di tangannya dan jam dinding di ruanganku masih menunjukkan pukul 15.00. Dan ketika aku masuk kelas, dia malah bolos kuliah. Tau alasannya? Mau nganterkan adik kursus..!! Makanya, ketika dia dapat nilai E untuk yang ketujuh kali dan harus kena DO, aku tidak merasa perlu menolong dia, mengangkat nilainya menjadi C. Biar aja, dia minta nilai C sama adiknya yang dianterin kursus tadi!!

Tiap mahasiswa emang cenderung untuk memiliki satu atau dua mata kuliah momok. Yang perlu dua-tiga kali untuk mengulang sebelum dinyatakan lulus (atau lolos..?). Ada di antara yang mengulang itu karena memang kemampuannya yang terbatas, tapi kebanyakan justru karena si mahasiswa sendiri yang tidak berjuang untuk hidup mereka. Banyak di antara mahasiswa yang kalo nggak lulus, menyalahkan si dosen yang dianggap terlalu pelit nilai, terlalu banyak ngasih tugas, terlalu begini, begitu, dll. Tapi, adakah dosen yang sempurna bagi mahasiswa2 itu..? Aku kira, nggak ada. Karena yang bermasalah bukanlah dosennya, melainkan mereka sendiri.

Aku sendiri sih nggak menampik kenyataan bahwa ada juga dosen yang kurang mampu mengelola kelas atau kurang bijak dalam memberikan nilai, tapi apakah situasi itu bisa dijadikan alasan atau dijadikan kambing hitam atas kemalasan dan kegagalan seseorang..? Nggak bisa, dong!! Lha, kalo seorang mahasiswa selalu mengkambinghitamkan dosen yang ngajarnya nggak enak, nilainya pelit, dan sebagainya, apakah mereka yakin akan ada dosen yang benar-benar sesuai dengan keinginan mereka? Apakah mereka yakin ketika memperoleh pekerjaan, mereka akan bisa bekerja di bawah supervisi orang yang memang mereka sukai..? Kalo mereka harus bekerja dengan atasan yang karakternya tidak sesuai dengan yang mereka harapkan, apakah mereka lalu mau keluar dan cari kerjaan lain..? Yang sering, justru orang yang harus menghabiskan bertahun-tahun hidupnya untuk bekerja dengan partner atau atasan yang tidak mereka sukai..!! Terus, mau keluar begitu saja dan ganti pekerjaan lain…? Gimana kalo udah dapat kerjaan baru, ternyata supervisornya juga memiliki karakter yang nggak sesuai…?

Welcome to the real world….my students…!! In this real world, you have to struggle for your life..!! You can’t expect others will come to you and help you everytime you have problems in your life..

Dan kalo emang itu kenyataan yang ada dalam hidup ini, kenapa nggak mulai belajar untuk hidup, sejak masih ada di bangku kuliah..? Mumpung masih ada waktu dan masih ada banyak orang yang bisa dan mau membantu tiap kali kalian gagal dalam belajar hidup tadi…

17 Agustus

Thursday, August 16th, 2007

aduuuuh……udah dekat 17 Agustus…!!! tiap kali menjelang 17 Agustus, bawaanku biasanya bete melulu. gimana enggak, coba!! kalo udah seminggu menjelang 17 agustus, yang namanya pengendara jalan umum pasti harus berbekal kesabaran berlimpah. lagi enak-enak jalan, belok…ehhh…ditutup buat lomba. belok jalan satunya, eh ditutup juga… akhirnya, yang namanya waktu habis cuman buat muter-muter nyari jalan mana yang boleh dilewati.

kadang aku berpikir, ngapain juga ya, tu orang-orang mau-maunya kerja keras, ngurusin lomba voli, lomba balap karung, lomba nyunggi tempeh, dan segala macam lomba-lomba, baik lomba yang wajar dan sehat sampe lomba yang rada sinting (seperti, lomba sepakbola sambil joget-joget…)…? coba deh, kita pikir dengan lebih obyektif. pas menjelang 17 Agustus, tu yang namanya lapisan masyarakat kerja keras menyelenggarakan lomba-lomba begituan. bahkan orang-orang kampung yang statusnya pengangguran abadi jadi semangat banget kalo disuruh ngurusin acara 17an. mahasiswa-mahasiswa yang lagi repot kuliah, ujian, atau ngerjain skripsi, juga merelakan waktunya tersita untuk ngurusin acara-acara begituan.

ntar, kalo pas acara lomba berlangsung, biasanya malam hari atau minggu siang, yang namanya panitia SELALU menyemarakkan lomba dengan memutar lagu dangdut dengan volume tinggi yang bikin kuping sakit. mending kalo lagunya enak. dan mending kalo cuma sebentar. nampaknya panitia 17 Agustus tuh banyak yang lupa kalo bukan cuma mereka yang punya kuping. walhasil, acara dangdutan berlangsung sejak ba’da Isya saaaaaampeeeee…. jam 12 malam..!!!! bisa nggak ngebayangin, aku yang butuh tidur cepet karena besok pagi ngajar SP. harus mencoba tidur dengan backsound "Kucing Garong" yang diputar berulang-ulang dari jam 7 sore saaaaaampeeee… jam 12 malam… dengan volume jor-joran….dan dengan salon loudspeaker yang dihadapkan dengan manis menghadap ke depan rumahku…

ayo, deh, sekarang kita coba lakukan Cost Benefit Analysis pada kegiatan-kegiatan 17 Agustus kayak gitu. Benefit-nya nih, kata para pemuka dan aktivis kampung, adalah meningkatkan kebersamaan antar warga dan meningkatkan jiwa nasionalisme, mengingat jasa-jasa pahlawan… apa iya…???? gimana logikanya, kita bisa mengingat jasa para pahlawan dengan cara lomba lari karung sambil diiringi lagu Kucing Garong….???? mana mungkin, kita bisa meningkatkan jiwa nasionalisme dengan cara ngadain acara bazaar, panggung gembira sambil joget-joget dan megol-megol….???? dan benarkah segala perselisihan antar warga bisa diatasi dengan mengikuti lomba-lomba atau bazaar…?? c’mon, get real….!!!!

dengan manfaat yang gak terlalu jelas itu, kita sudah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan kita juga mengorbankan kepentingan banyak orang. belum lagi berapa duit yang harus dibuang untuk mengadakan aktivitas seperti itu. mubazir banget..!! kalo saja, duit yang dihambur-hamburkan buat acara lomba-lomba gak jelas itu disalurkan untuk hal-hal yang lebih bernilai, yang lebih produktif, tentu duit tersebut bisa jadi lebih bermakna.

belum lagi acara renungan malam yang (biasanya) diadakan pas malam tanggal 16 agustus. dengan berbagai macam hidangan lauk pauk, semua warga diminta berkumpul, baca doa gak jelas, bahkan ada yang sampe tahlilan gak jelas gitu…..ampuuuuunnnn….!!!! kebodohan apa pula ini……..????!!!!

tapi, yah…inilah Indonesia. sebuah negara yang begitu cinta pada upacara, meski upacara itu hanya sekedar tampilan formalitas tanpa ada realita. upacara bendera tiap tahun untuk mengenang jasa pahlawan, tapi bubar upacara tiap orang tetep sibuk ngurusin dompetnya sendiri-sendiri. lomba-lomba, bazaar, dan entah kegiatan apa lagi yang dilakukan tiap tahun, tapi toh, ketika semuanya berlalu, dan 17 agustus sudah terlewat, Indonesia kembali menjadi bangsa yang miskin hati, pemimpinnya (kebanyakan) kembali menjadi orang yang korup, dan rakyatnya kembali menjadi rakyat yang egois dan bersikap seenaknya sendiri dalam kehidupan sehari-hari….

lha kalo kondisi itu tidak berubah sama sekali, ngapain juga repot-repot ngabisin waktu, dana, tenaga untuk lomba-lomba dan semua kegiatan ini….????

PS: blog ini merupakan moment come-back blog-ku, dan blog ini aku tulis di sebuah warnet, setelah aku terjebak dalam sebuah kampung yang tak bisa kulalui gara-gara jalannya ditutup total….f%$#*@%….!!!!