Cak & Ning Suroboyo
Hampir sebulan tinggal di Inggris, terus terang aku emang ketinggalan banget berita tentang Indonesia. Apalagi di Inggris, tepatnya di Bournemouth (sebuah kota wisata pantai di kawasan Dorset, bagian selatan Inggris Raya) aku tidak bisa terlalu sering menggunakan Internet. So, akses berita tentang Indonesia, apalagi Surabaya, yaa sangat terbatas kuperoleh. Makanya ketika aku pulang, begitu sudah santai, yang pertama kali aku lahap bukanlah bakso atau tahu campur, tapi koran. Dan berita pertama di Jawa Pos yang menarik perhatianku adalah berita kemenangan Chitra Tania Anindhita (bener kan nulis namanya, ya, Chit..?? Ntar kalo salah tulis ngambek, maklum, kan udah jadi selebritis…he..he..) di ajang pemilihan Cak Ning Suroboyo 2006. Chitra, mahasiswiku yang kukenal cerdas, very lovely, dan kalem banget. Nggak pernah duduk di barisan terdepan, malah lebih sering di deretan belakang (bareng Ayukki, atau…ehm..siapa ya??!!) tapi jawaban-jawabannya atas pertanyaanku hampir selalu tepat. Ide-idenya cemerlang, dan enak untuk dikupas.
Jadi, tersenyum sendiri membayangkan Chitra jadi Ning Suroboyo 2006…!! Selama ini emang banyak mahasiswa/mahasiswiku yang ikut pemilihan Cak Ning Suroboyo. Tapi, kebanyakan sih, cuma sampe level finalis atau gelar pendamping lain. Gak sampe dapet gelar utamanya. Jadi, kemenangan Chitra nih kayaknya menjadi intermezzo yang cukup menarik. She’s the one. She’s beautiful, adorable, charming, dan very intelligent. Yaah, paling enggak, Chitra gak bakal bilang "Surabaya is my beautiful country" atau "Indonesia is the most beautiful city" seperti kasusnya putri cantik kita, Nadine Candradimuka… eh … Candrawinata…!! (Tapi, asli deh, Chitra, aku pengeeeen bener ngeliat pas kamu dialog pake bahasa Suroboyo-an, pasti lucu banget..!!!)
Dari jaman dahulu kala, aku selalu tertarik membaca berita-berita tentang Cak dan Ning Suroboyo. Kenapa? Karena Cak dan Ning Suroboyo itu (dulunya, sih…) identik dengan acara pemilihan bintang berbakat, yang menginginkan sosok ideal anak muda yang cerdas, mudah bergaul, komunikatif, dan berwajah rupawan (yang terakhir ini bukan syarat utama, tapi syarat mutlak kayaknya). Dan gelegar acaranya (dulunya, sih…) selalu heboh diberitakan di koran. Bahkan sempat beberapa kali ditayangkan di televisi. Aku jadi bisa melihat bagaimana sih sosok anak muda Suroboyo yang dianggap ideal oleh para dewan juri. Selama ini sih, emang yang terpilih adalah mereka-mereka yang berwajah rupawan (tapi yang cowok kok banyak yang kenes dan centil ya..?) dan terlihat smart ketika menjawab pertanyaan Dewan Juri. Tapi, anehnya, setelah hingar bingar pemilihan itu selesai, plassss…..hilanglah sudah jejak langkahnya. Hilang ditelan kegelapan….
Lha trus, ngapain aja setelah mereka capek-capek berkompetisi jadi Cak atau Ning..? Apa setelah pulang bawa piala dan setumpuk hadiah, mereka pulang, trus ngapain kalo udah gitu? Ntar sebulan sekali, ngumpul di markas, trus rujakan bareng dua-tiga jam, trus pulang lagi..?? Cuman gitu doang..??
Kalo menurut ceritanya si Adiel dan Ratna, mahasiswiku finalis Ning Suroboyo masa lalu (kira-kira tahun 1800an, lah..!!), kegiatan mereka di Paguyuban Cak Ning Suroboyo sangat padat. Dan, kalo aku dengar sih, emang bagus-bagus…!! Tapi, aku selalu bertanya dalam hati, kenapa semua acara yang sangat padat dan bagus itu tak pernah terekspos oleh media massa, ya? Dan kenapa acara yang sangat padat dan bagus itu kebanyakan hanya diikuti oleh mereka para Cak-ers dan Ning-ers? Kenapa gak ikut melibatkan anak muda lainnya di Surabaya? Apa memang pemilihan Cak dan Ning Suroboyo itu kini menjadi semacam acara untuk membentuk komunitas eksklusif anak muda yang "tidak menerima" keterlibatan anak muda lain yang mungkin saja dalam hal-hal lain, jauh lebih bagus kualitasnya daripada para Cak-ers dan Ning-ers..?
Coba, deh, ayo kita sama-sama pergi ke perpustakaannya koran Jawa Pos atau Surya atau Memo, trus kita cari berita yang memuat kegiatan Cak dan Ning Suroboyo selain acara pemilihannya..?? Ada enggak…? Yaaa, ada sih. Aku pernah baca kok. Yaitu Cak dan Ning Suroboyo jadi pembawa baki kalo Presiden RI atau pejabat negara datang ke Surabaya. Atau Cak dan Ning Suroboyo pas bagi-bagi kembang atau suvenir saat memperingati suatu event. Tapi, what’s beyond the Paguyuban is nothing. Nothing at all. Coba kita cari di Internet, apapun yang berkaitan dengan Cak dan Ning Suroboyo. Hasilnya sama juga. Nothing. At all.
Apa memang pemilihan Cak dan Ning Suroboyo, sama dengan pemilihan Abang None, yang emang banyak dijadikan stepping stone untuk menjadi seorang artis..? Sekedar itu..?? Kalo emang enggak, kenapa kebanyakan Cak-ers dan Ning-ers langsung masuk ke dunia selebritis (at least, selebritis level JTV lah..!!) tanpa kedengaran kiprahnya dan kontribusinya bagi anak muda Suroboyo kebanyakan? Kalo emang Cak dan Ning Suroboyo adalah sesuatu yang lebih dari sekedar "Ken & Barbie" yang bagus untuk dipajang, mana sesuatu yang kongkrit yang menunjukkan bahwa Cak dan Ning Suroboyo adalah sosok yang menggambarkan profil ideal anak muda Suroboyo..?? Tidak banyak yang tahu. Yang aku tahu, alumnus Cak dan Ning Suroboyo, kalo enggak jadi artis JTV (yaa.. pokoknya punya wajah rupawan dan bisa ngomong), atau jadi istri simpanan pejabat negara (ini kisah pribadi dua orang pemenang Ning Suroboyo beberapa tahun lalu, kebetulan teman dekatku), atau jadi anggota baru Dugem-mania (beberapa temanku, alumnus Cak Suroboyo, jadi judi-mania dan pecandu narkoba. Mereka kenal narkoba setelah sering diajak dugem oleh sesama Cak-ers). Hampir tak ada yang pernah kudengar, anggota Paguyuban Cak dan Ning jadi juara nyanyi, atau jadi pembicara terkenal di seminar-seminar, atau jadi wisudawan terbaik, atau jadi bintang film ngetop (seperti alumnus Abang None Jakarta), atau jadi penulis terkenal, atau jadi musisi yang berkualitas, atau apa deh yang lain yang bisa menunjukkan bahwa by being Cak & Ning Suroboyo, someone can achieve something special. It’s nothing. Seolah-olah Cak dan Ning Suroboyo itu adanya dan tiadanya tak ada bedanya.
Kalo emang, pemilihan Cak dan Ning Suroboyo hanya digunakan untuk membentuk perkumpulan eksklusif anak muda "pilihan" di Surabaya, untuk dijadikan sebagai batu loncatan meniti karir sebagai selebritis, waaah……….. sayang banget..!! Betapa mubazirnya uang rakyat ratusan juta yang dihamburkan untuk aktivitas pemilihan itu..!! Dan betapa sayangnya sekumpulan anak muda yang berkualitas cemerlang seperti Chitra atau Niko atau Adiel atau Ratna atau finalis lainnya yang sudah terhimpun dari hasil acara pemilihan itu tidak didayagunakan secara optimal untuk meningkatkan kualitas anak muda Surabaya saat ini.
Kalo memang seperti itu, what’s the point of being Cak & Ning Suroboyo…??? What’s so special for being Cak & Ning Suroboyo..??
November 27th, 2006 at 6:17 pm
aloha.. pa kabar ni yg dari UK, eh pak bener ga si disana udah dilarang pake jilbab?kata tmn2 kok gt ya?
Selamat ya buat mbak Chitra, salam kenal mbak!!
anyway, kalo mau kasi comment diatas, adel sendiri baru setaun di Cak Ning, (jadi takut ni salah comment)
so far that I know, kenyataannya emang bner si kata pak sony ttg “stepping stone jadi artis” ato “penggemar dugem mania”, dan emang kalo dibanding2in ma yg taun2 bahula kaya nya kwalitas nya emang stepping backward jg. tapi jgn judging smua “Cakers + Ningers” (duh istilah e!!) bgitu, ada beberapa yg care ma jalannya organisasi kok.
Selama aku disana, aku jd kenal ma street kids di LSM, bisa dpt benefit untuk CV ngelamar scholarship (jujur bgt yak??), bisa kenal “orang” dr berbagai lapisan, ngerasain conflict antar anggota and at least I know what to do in which situation….
Emang kebanyakan benefit nya ke pribadi si, adel sendiri ngerasa kurang berkontribusi ke Paguyuban (I wish I was there to work with u all guys!!)..
Actually we do something!! Kalo ttg kurang publikasi, I reckon that’s because the news was only a very small piece of column, on the last page!! “kenapa yak kok bisa gt??” padahal kita ga pernah lupa undang wartawan, mungkin yg kita lakukan emang kurang greget nya, kurang beda, kurang inovatif kali ya??(ajarin dong pak!! Pemasaran…pemasaran…
Nah tu dia pe-er kita2 ini…+ gimana caranya biar lebih “down to earth” and ga dianggep “kalangan exclusive” (padahal gak blass!!!)…
Yah sgitu aja curhat + comment nya,
Sepur anggrek, ditumpa’i manuk emprit
Sepurane rek, ne’ ono’ sing nyelekit!!
Everyone is invited to give me (us) feedback!!
Cheers,
Adiel Mursodo
p.s: pak kok males mulih yo??tiket ku tak undur ke ena’en kerjo ndo’ kene!! What a lucky Country mate!!
November 29th, 2006 at 3:13 am
Coba bayangkan kalo Mas Sony kepilih jadi Cak Suroboyo….saya yakin untuk jadi Cak Suroboyo itu butuh perjuangan….ada proses….ada seleksi…dan mungkin bertahap-tahap.Paling ngga, nilai positifnya kita diajarin berkompetisi dengan catatan harus fair…Sama halnya kalo Mas Sony bisa kepilih dapat beasiswa ke luar gitu…
Btw bawa baki itu pake ndredek segala lho…he…he…ada sekolahnya itu meskipun cuman bawa baki he,…he….
Cak Ning itu kan semacam maskot sama waktu PON XV di JATIM maskotnya pitik jago.
Ya itu memang seperti simbol aja….
Memang kalo dipikir itu ngeluarin biaya besar…saya ngga tau itu ditanggung sponsor ato PEMDA.
Selama itu ada unsur bisnisnya saya kira well2 aja.
Sebagai seorang muslim menurut saya memang lebih baik buat nyantuni anak yatim aja…daripada kontes2an begitu.
Tapi wong negara kita ini abu-abu…sekuler…pasti selalu ada kontroversi2.Miss Universe,goyang Inul, Smack Down, Playboy itu akan terus ada.Tugas kita bagaimana bikin negara kita ini jd lebih islami gitu lho….
November 29th, 2006 at 3:41 am
Sorry Adiel, kalo tulisanku kesanny judging everybody. Cuma, yg aku tulis kan kesanku aja. Persepsi.
Buat Firdaus, apa emang Pemilihan Cak dan Ning itu butuh proses yg luar biasa yg bisa mengubah seseorang? Aku kira enggak deh. Coba aja nanya sama mereka2 yg pernah ikut ajang serupa.
Lagian, itu bukan point tulisanku lo! Point-ku adalah kalo emang Cak & Ning itu gak ada apa-apanya setelah kontes pemilihannya selesai, so what’s the point of arranging that sort of event..?? Gitcu..!
Jelas beda jauh dengan seleksi beasiswa ke LN. Karena beasiswa ke LN justru menekankan apa yg bisa diperbuat calon peraih beasiswa (kalo dia dapet beasiswa) sepulangnya kembali ke Indonesia. Analogimu salah, Dus!!
November 29th, 2006 at 8:31 am
kalo kata koran koran sih, pemerintah yang notabene sang pemilik cak dan ning kurang memanfaatkan cak dan ning itu sendiri. yaa itu kata koran - koran sih.. kalo soal kegitan yang tidak terekspose, kayaknya emang kegitannya ga ada yang ‘mantap’ gitu ya.. soalnya selama ini juga aku ga pernah tau kegiatan cak ning yang top dan stand out.. atau emang aku yang kurang cari tau?
kalo stepping stone jadi artis yang ga kedengeran kiprahnya, kalo katanya VOX, band indie dari surabaya yang musiknya sip itu, “surabaya itu jauh dari pusat arus informasi dan lingkaran bisnis yang ada di jakarta. jadi kalo emang mau top kelas nasional, larilah ke jakarta.” sepertinya band VOX ini memang sedikit sok tau ya.. kalo yang jadi dugem mania, kata saudara saya yang tinggal di jakarta, kota dengan budaya termodern di Indonesia, “itu tuh yang namanya culture shock. baru ngetop dikit, gaul dikit udah seneng dugem, nyoba - nyoba narkoba. norak banget tuh.” ini kata saudara saya yang ga suka dugem walopun tinggal di jakarta.
kalo benefit yang didapet dari cak ning cuma ’sekedar’ kenal banyak orang, bisa ngerasain conflict dll, thats what we got in life! aku, dengan ‘cuma’ bikin zine musik kelas lokal juga bisa kenal orang banyak, penulis majalah rolling stones, pengurus label ffwd rec. band kelas nasional dll dkk.. dan konflik sangat banyak lah, mengingat diri saya yang sangat egois dan keras kepala tapi sok tau ini..
jadi, cak ning, kalo ngerasa kurang publikasi, make your own media! gak bisa lah kalo terus bergantung sama orang. media massa kelas jawapos itu harus jual drama lho! ga bisa kalo cuma jual info ga terlalu penting. masalahnya, masih banyak orang diluar sana yang concern sama pergerakan positif macam cak ning. so, make your own media, get your own audience! JTV itu nothing! mereka cuma peduli duit! coba kalo dari paguyuban cak ning ada berita kalo ada yang terlibat skandal dengan pejabat pemkot, atau ada yang memalsukan umur, padahal aslinya umur 80 tahun, atau da yang gay/lesbian/biseksual/transeksual, atau ada yang mantan pembunuh. pasti deh jawapos group jadi nomor satu nge-blow up nya.
Kalo memang seperti itu, what’s the point of being Cak & Ning Suroboyo…??? What’s so special for being Cak & Ning Suroboyo..??
masih belum terjawab deh.. bahkan penggagas acara juga bisa mati kutu kalo ditanyain gini.. mungkin jawabannya adalah : “malu dong kota sebsar surabaya kalo ga ada kontes putra putri daerah. ini semua cuma masalah gengsi lah.. poin dari acara ini ya di acara pemilihannya! harus di blow up untuk menunjukkan ke eksistensiannya. exist or dead! yang penting ada! thats it,,”
November 29th, 2006 at 9:22 am
I think that’s a very good thought of you, Jay!! Kayaknya comment-nya Jay perlu lo diforward oleh Adiel atau Chitra atau Niko atau para Cak-ers dan Ning-ers yg listed dalam FS-ku ini, kepada mereka mereka para CEO Paguyuban Cak Ning.
November 29th, 2006 at 7:40 pm
thank you sir! kalo mau di forward silakan - silakan aja kok.. hehehe..
December 1st, 2006 at 6:11 pm
huahaha…. kinda flattered banget loh my name jadi topik buat blog-nya bapak yang satu ini…
nedo nrimo Cak… =)
Emang sebenernya fungsi utama Cak Ning tu untuk mendukung kegiatan Pemerintah (Kota) khususnya. Porsi terbanyak sampai saat ini untuk kegiatan yang bersifat protokoler. Namun 2 tahun ini fungsi Cak Ning sendiri ingin dikembangkan oleh Disparta.
Mungkin ada juga ektrimis2 kaya JAY gitu, tapi perlu diketahui juga kalo Cak Ning itu kan di bawah naungan Disparta, Pemkot, dan Walikota, jadi mau ga mau ya kita harus taat pada birokrasi, ga kaya musik indie yang hajar bleh dalam mengambil keputusan toh??
Having a network dimanapun itu sama pentingnya, pemerintahan kek, bidang pendidikan kek, anak band kek… Kalo soal narkoba ato jadi simpenan mah itu personality orang aja, ga ada hubungannya ma Cak Ning, manajer ato penyanyi dangdut profesinya..
Hehe… Yah ada si beberapa senior juga yang well known sbg Cak Ning taun2 kemarin, kaya Mas Yudi Rizard-nya Sampoerna atopun Bu Monik dosen FE.
Abang NOne juga ga semua finalisnya kan jadi “orang”.
Kalopun kiprah Cak Ning kurang terdengar atau diekspos di media, perlu dipahami juga itu dapat terjadi karena berbagai faktor penyebab. Namun yang pasti Paguyuban Cak Ning tidak pernah berhenti membenahi diri ke arah yang lebih baik. Mohon doa & dukungannya.
Nedo Nrimo =)
December 10th, 2006 at 4:12 am
seharusnya nih pak, pemilihan cak dan ning itu gratis ga perlu bayar dan utk foto ;langsung ditempat pendaftaran, jadi semua warga surabaya yang berminat bisa ikut. Padahal setahuku banyak calon peserta “meski ga sampai jadi finalis” rela mengeluarkan tatusan tibu bahkan lebih hanya untuk foto aja….
January 18th, 2008 at 4:46 pm
klo gto, ayo sama sama saling bantu membantu utk yg terbaik
May 26th, 2008 at 2:34 am
Kunjungi juga blogsite saya di http://yulyanidewi07.multiply.com
June 24th, 2008 at 11:57 pm
saya terobsesi jadi cak surabaya .
July 9th, 2008 at 12:47 am
alow cak met knal, sory jgn banyangkan “Cak” seperti “teman” malam yg ada di monkasel, jgn bayangkan “Ning” seperti sosok “penghibur” masyarakat, jgn pikirkan “Cak&Ning” Surabaya seperti “pelayan” yang ad d restorant, tp Banyangkan kita semua juga makhluk ciptaan TUHAN… Bukan kami yg ingin dibuat seperti itu, tp suatu “sistem” yg membuat “Cak&Ning” Surabaya seperti ini Trim atas kata-katanya
TaNkiDs Surabaya Tercinta
July 9th, 2008 at 4:54 am
kok gak nyambung ya comment yg terakhir…??
August 12th, 2008 at 6:00 am
Salam Cak&Ning Surabaya !!!
Cak&Ning Surabaya memang masih banyak yang harus dibenahi, untuk kearah organisasi yang lebih baik.
Namun kalo saya menyikapi opini anda,menurut saya anda terlalu idealis dan apakah anda sendiri telah instropeksi diri apa yang anda telah kontribusikan untuk Cak&Ning Surabaya dan masyarakat kota Surabaya? Boleh kita cek bersama.
KARENA,TIDAK ADA AGAMA / KEPERCAYAAN / IDEOLOGI MANAPUN JUGA DI DUNIA INI YANG MAMPU MENJAMIN MANUSIA AKAN MENJADI BAIK&SEMPURNA.
Jadi kalaupun ada saudara2x dari Paguyuban Cak&Ning Surabaya yang melakukan hal-hal yang anda tulis.Sungguh ironis sekali,dan itu tidak bisa anda kaitkan dengan Paguyuban Cak dan Ning Surabaya, karena saya setuju dengan Ning Chitra.Karena itu tergantung pada individu masing-masing, sedangkan saya menjadi bingung,apa keuntungan anda dalam memberitakan hal tersebut?(Cak&Ning Surabaya sebagai pemegang nampan dan jadi simpanan pejabat).Dan apakah opini/tulisan anda ini membawa dampak yang lebih baik?Kalau saya pribadi tulisan anda terkesan seperti membeberkan aib seseorang atau sebuah organisasi dan membentuk opini negatif masyarakat akan Paguyuban Cak dan Ning Surabaya.Inilah salah satu yang akan menjadi penghambat laju bergeraknya roda organisasi.Saya akan appreciate sekali ketika anda menyikapi dan memberikan solusi tentang Paguyuban Cak&Ning Surabaya ke depan agar lebih baik.Saya pribadi memang merasa Paguyuban Cak&Ning Surabaya banyak kekurangan yang harus dibenahi,namun ini menjadi tugas bersama (Bagi yang merasa mempunyai sense of belonging dengan Cak dan Ning).
Saya bangga menjadi Cak Surabaya!
Banyak ilmu&pengalaman yang saya dapatkan dengan menjadi Cak Surabaya.
en tenkyu 4 ur attention!!!
Yo wis sa’mono ae Cak teko aku.Nedho Nrimo.
HIDUP CAK&NING SURABAYA!!!
BERRY FEBRIO SILVIO PARIELA,SH ( Cak Surabaya Berbakat 2006 ).
August 18th, 2008 at 6:22 am
Salam kenal bapak Sony.
Meski saya belum kenal benar dengan bapak. Saya sangat setuju dengan beberapa hal yang yg anda tulis.
Antara lain tentang cak dan ning surabaya yg dijadikan “stepping stone”, pembawa nampan dan mereka menjadi dugem mania” seperti yang adiel tulis diatas ataupun menjadi simpanan dan lain sebagainya.
Saat pertama saya mengetahui itu, ada juga perasaan “errggh..” or gregetan jg.
Itu memang terjadi.
“It’s many but not all”
Sama halnya seperti :”kita tidak bisa mengatakan seorang wanita itu adalah wanita nakal atau pelacur hanya karena kita melihat mereka merokok”
Mengapa saya berani mengatakan ini, karena memang tidak sedikit juga dari beberapa diantara kami yang memang berusaha dan concern utk merubah Paguyuban ini menjadi lebih baik.
(mungkin saya orang kesekian yang berbicara ini,karena udah keduluan ma adiel n chitra,hehehe…)
Tapi mari kita sama-sama renungkan, didalam organisasi apa dan dalam lingkungan serta kehidupan yang manakah tidak terdapat hal2 yang semacam itu. (Jadi mau tidak mau memang apa yang chitra bilang diatas benar, tidak ada hubungannya dengan Cak dan Ning atau siapapun. Semua bisa seperti itu.)
Saya yakin dan kita semua sama-sama tau jawabannya. “TIDAK ADA”
Semua pasti memiliki permasalahan yang sama walau mungkin dalam bentuk dan kondisi yang berbeda.
Tapi yang paling penting adalah kemauan kita untuk menyadari dan usaha untuk melakukan perubahan.
Contoh saja KPK,meski mereka sudah dibentuk, tapi nyatanya korupsi jg masih saja gila-gilaan (walau sdh banyak yang ketangkep). Atau Pemilihan Presiden, negara ini sudah kesekian kalinya memilih presidennya, tapi nyatanya negara ini masih seperti ini. Tapi itu semua juga bukan berarti hal2 atau usaha semacam itu
tidak perlu dilakukan.
Rasanya kita jg memang tidak bisa dan jangan membandingkan or comparing Pemilihan Cak dan Ning dengan perolehan Program beasiswa atau juga dengan apapun yang lainnya. Karena memang berbeda.
Karena juga kan mendiskreditkan salah satu pihak dan menajadikan arogansi komunitas atau individu. Saya yakin apapun itu entah program pemilihan Cak dan Ning, Beasiswa, Putri Indonesia dan sebagainya sama2 memiliki maksud dan tujuan yang baik.
Esensi dari pemilihan sendiri sebenarnya memang dari tahun ketahun mengalami penurunan. Kami mengakui.
Untuk mengingatkan kita semua, Cak dan Ning Surabaya merupakan Duta Wisata kota ini, bukan yang lain (agar tidak timbul ekspektasi yang keliru tentang apa yang harus diperbuat oleh Cak dan ning Surabaya). Karena itu sejak terbentuknya STPB (Surabaya Tourism Promotion Board)dibentuk oleh Pemerintah Kota.PEMKOT Surabaya, pihak Swasta yang concern dengan Pariwisata kota ini (antara lain Casa Grande) dan Cak Ning Surabaya, bersinergi untuk mempromosikan Surabaya. (Hal ini dapat dilihat dari data angka pertumbuhan wisatawan dan pemasukan dari sektor wisata diSuarabaya yang meningkat daripada tahun2 sebelumnya).Kita semua bisa cari dan buktikan itu sendiri.
Selain itu untuk menjadikan Cak dan Ning Surabaya lebih baik kedepannya, sejak dari tahun 2005 hingga sekarang (insyaallah sampai seterusnya) teman2 Paguyuban yang concern, memegang dan mengadakan sendiri proses penyelenggaraan dan pengembangan mereka yang terpilih sebagai finalis setelah Pemilihan, dan kami sangat berusaha sekali dengan itu. (Kami berusaha untuk mengembalikan pemilihan, Paguyuban dan Cak Ning sendiri tentunya kearah yang ideal,meski kita semua sekali lagi tau bahwa membentuk sesuatu yang ideal itu tidak lah mudah).
Paguyuban juga sering melakukan acara2 pengembangan SDM untuk para Cak dan Ning sebagai Duta Wisata dan pengembangan kepedulian dan sumbangsih terhadap Surabaya tentunya, Kegiatan Donor Darah dan lain sebagainya.(Meski rasanya tidak perlu untuk disebutkan satu persatu).
Yang diperlukan bukanlah tentang ekspos tetapi tentang apa yang bisa Paguyuban berikan kepada masyarakat.Walau tidak ter-ekspos tapi yang pasti ADA.
(Insyaallah Paguyuban sudah berusaha untuk itu meski masih dalam tingkat yang masih belum memuaskan banyak pihak,mohon doa dan dukungannya juga dari semua,dan meski juga terkadang ekspos itu perlu)
Kalupun beredar sentimen negatif diluar tentang Paguyuban Cak dan Ning saya rasa itu juga wajar. mungkin ada yang merasa tidak puas, pernah dikecewakan atau apapun.Kami hanya menerimanya sebagai sebuah masukan yang membangun saja. Tapi masih banyak juga yang sangat mendukung Paguyuban. INILAH HIDUP
Dan insyaallah teman-teman Paguyuban Cak dan Ning yang concern dan sedang berusaha untuk itu akan tetap konsisten untuk melakukan perubahan.
Terimakasih untuk masukan dan kritikan nya Pak Sony.
Mohon doa dan bantuan nya apabila suatu hari kami butuhkan masukan2 yang lain.
* semoga dengan semua wacana kita semua bersama ini tidak menjadikan siapapun di semua pihak untuk merasa bahwa diri kita semua lebih baik dari yang pada lainnya.
Hidup Cak dan Ning Surabaya
Hidup orang2 yang peduli tentang perubahan
dan
Jayalah Indonesiaku
–Amin–
August 20th, 2008 at 6:15 am
naaaahhhh, comment seperti NeeNo ini yg sebenarnya perlu utk lebih dikedepankan…!!! bukan comment2 yg sekedar berkilah tanpa memberikan penjelasan yg membantah apa yg aku tulis..
seandainya rekan2 Paguyuban Cak Ning sadar bahwa apa yg aku tulis di blog ini adalah bentuk kepedulian seorang Sony, yg notabene adalah orang luar Paguyuban, Insya Allah tanggapannya akan lebih positif dan tidak malah berkilah tidak jelas…
memang tidak ada yg sempurna di dunia ini, tapi pertanyaannya adalah APA YG TELAH KITA PERBUAT UNTUK MEMPERBAIKI YG TIDAK SEMPURNA ITU…??? kalo jawabannya adalah tidak ada, yaaa… jangan salahkan kalo muncul image negatif seperti yg selama ini berkembang.
jadi, buat yg lain yg mau ngasih comment (terutama yg background-nya dr Paguyuban), please berpikir positif dgn tenang dan tidak emosional.. comment seperti NeeNo yg secara terbuka mengakui kekurangan sekaligus menginformasikan apa yg sudah dilakukan utk mengatasi kekurangan2 tsb itu jauh lebih berharga dan sangat terhormat, dibandingkan comment yg justru menudingku dgn apriori yg tidak-tidak..
July 23rd, 2009 at 2:19 am
Semuanya warga surabaya….adalah cak dan ning surabaya.
mari kita berikan tindakan yang positif untuk surabaya.
Cak Avy
Bakoel Kopi Thok…