Cak & Ning Suroboyo
Monday, November 27th, 2006Hampir sebulan tinggal di Inggris, terus terang aku emang ketinggalan banget berita tentang Indonesia. Apalagi di Inggris, tepatnya di Bournemouth (sebuah kota wisata pantai di kawasan Dorset, bagian selatan Inggris Raya) aku tidak bisa terlalu sering menggunakan Internet. So, akses berita tentang Indonesia, apalagi Surabaya, yaa sangat terbatas kuperoleh. Makanya ketika aku pulang, begitu sudah santai, yang pertama kali aku lahap bukanlah bakso atau tahu campur, tapi koran. Dan berita pertama di Jawa Pos yang menarik perhatianku adalah berita kemenangan Chitra Tania Anindhita (bener kan nulis namanya, ya, Chit..?? Ntar kalo salah tulis ngambek, maklum, kan udah jadi selebritis…he..he..) di ajang pemilihan Cak Ning Suroboyo 2006. Chitra, mahasiswiku yang kukenal cerdas, very lovely, dan kalem banget. Nggak pernah duduk di barisan terdepan, malah lebih sering di deretan belakang (bareng Ayukki, atau…ehm..siapa ya??!!) tapi jawaban-jawabannya atas pertanyaanku hampir selalu tepat. Ide-idenya cemerlang, dan enak untuk dikupas.
Jadi, tersenyum sendiri membayangkan Chitra jadi Ning Suroboyo 2006…!! Selama ini emang banyak mahasiswa/mahasiswiku yang ikut pemilihan Cak Ning Suroboyo. Tapi, kebanyakan sih, cuma sampe level finalis atau gelar pendamping lain. Gak sampe dapet gelar utamanya. Jadi, kemenangan Chitra nih kayaknya menjadi intermezzo yang cukup menarik. She’s the one. She’s beautiful, adorable, charming, dan very intelligent. Yaah, paling enggak, Chitra gak bakal bilang "Surabaya is my beautiful country" atau "Indonesia is the most beautiful city" seperti kasusnya putri cantik kita, Nadine Candradimuka… eh … Candrawinata…!! (Tapi, asli deh, Chitra, aku pengeeeen bener ngeliat pas kamu dialog pake bahasa Suroboyo-an, pasti lucu banget..!!!)
Dari jaman dahulu kala, aku selalu tertarik membaca berita-berita tentang Cak dan Ning Suroboyo. Kenapa? Karena Cak dan Ning Suroboyo itu (dulunya, sih…) identik dengan acara pemilihan bintang berbakat, yang menginginkan sosok ideal anak muda yang cerdas, mudah bergaul, komunikatif, dan berwajah rupawan (yang terakhir ini bukan syarat utama, tapi syarat mutlak kayaknya). Dan gelegar acaranya (dulunya, sih…) selalu heboh diberitakan di koran. Bahkan sempat beberapa kali ditayangkan di televisi. Aku jadi bisa melihat bagaimana sih sosok anak muda Suroboyo yang dianggap ideal oleh para dewan juri. Selama ini sih, emang yang terpilih adalah mereka-mereka yang berwajah rupawan (tapi yang cowok kok banyak yang kenes dan centil ya..?) dan terlihat smart ketika menjawab pertanyaan Dewan Juri. Tapi, anehnya, setelah hingar bingar pemilihan itu selesai, plassss…..hilanglah sudah jejak langkahnya. Hilang ditelan kegelapan….
Lha trus, ngapain aja setelah mereka capek-capek berkompetisi jadi Cak atau Ning..? Apa setelah pulang bawa piala dan setumpuk hadiah, mereka pulang, trus ngapain kalo udah gitu? Ntar sebulan sekali, ngumpul di markas, trus rujakan bareng dua-tiga jam, trus pulang lagi..?? Cuman gitu doang..??
Kalo menurut ceritanya si Adiel dan Ratna, mahasiswiku finalis Ning Suroboyo masa lalu (kira-kira tahun 1800an, lah..!!), kegiatan mereka di Paguyuban Cak Ning Suroboyo sangat padat. Dan, kalo aku dengar sih, emang bagus-bagus…!! Tapi, aku selalu bertanya dalam hati, kenapa semua acara yang sangat padat dan bagus itu tak pernah terekspos oleh media massa, ya? Dan kenapa acara yang sangat padat dan bagus itu kebanyakan hanya diikuti oleh mereka para Cak-ers dan Ning-ers? Kenapa gak ikut melibatkan anak muda lainnya di Surabaya? Apa memang pemilihan Cak dan Ning Suroboyo itu kini menjadi semacam acara untuk membentuk komunitas eksklusif anak muda yang "tidak menerima" keterlibatan anak muda lain yang mungkin saja dalam hal-hal lain, jauh lebih bagus kualitasnya daripada para Cak-ers dan Ning-ers..?
Coba, deh, ayo kita sama-sama pergi ke perpustakaannya koran Jawa Pos atau Surya atau Memo, trus kita cari berita yang memuat kegiatan Cak dan Ning Suroboyo selain acara pemilihannya..?? Ada enggak…? Yaaa, ada sih. Aku pernah baca kok. Yaitu Cak dan Ning Suroboyo jadi pembawa baki kalo Presiden RI atau pejabat negara datang ke Surabaya. Atau Cak dan Ning Suroboyo pas bagi-bagi kembang atau suvenir saat memperingati suatu event. Tapi, what’s beyond the Paguyuban is nothing. Nothing at all. Coba kita cari di Internet, apapun yang berkaitan dengan Cak dan Ning Suroboyo. Hasilnya sama juga. Nothing. At all.
Apa memang pemilihan Cak dan Ning Suroboyo, sama dengan pemilihan Abang None, yang emang banyak dijadikan stepping stone untuk menjadi seorang artis..? Sekedar itu..?? Kalo emang enggak, kenapa kebanyakan Cak-ers dan Ning-ers langsung masuk ke dunia selebritis (at least, selebritis level JTV lah..!!) tanpa kedengaran kiprahnya dan kontribusinya bagi anak muda Suroboyo kebanyakan? Kalo emang Cak dan Ning Suroboyo adalah sesuatu yang lebih dari sekedar "Ken & Barbie" yang bagus untuk dipajang, mana sesuatu yang kongkrit yang menunjukkan bahwa Cak dan Ning Suroboyo adalah sosok yang menggambarkan profil ideal anak muda Suroboyo..?? Tidak banyak yang tahu. Yang aku tahu, alumnus Cak dan Ning Suroboyo, kalo enggak jadi artis JTV (yaa.. pokoknya punya wajah rupawan dan bisa ngomong), atau jadi istri simpanan pejabat negara (ini kisah pribadi dua orang pemenang Ning Suroboyo beberapa tahun lalu, kebetulan teman dekatku), atau jadi anggota baru Dugem-mania (beberapa temanku, alumnus Cak Suroboyo, jadi judi-mania dan pecandu narkoba. Mereka kenal narkoba setelah sering diajak dugem oleh sesama Cak-ers). Hampir tak ada yang pernah kudengar, anggota Paguyuban Cak dan Ning jadi juara nyanyi, atau jadi pembicara terkenal di seminar-seminar, atau jadi wisudawan terbaik, atau jadi bintang film ngetop (seperti alumnus Abang None Jakarta), atau jadi penulis terkenal, atau jadi musisi yang berkualitas, atau apa deh yang lain yang bisa menunjukkan bahwa by being Cak & Ning Suroboyo, someone can achieve something special. It’s nothing. Seolah-olah Cak dan Ning Suroboyo itu adanya dan tiadanya tak ada bedanya.
Kalo emang, pemilihan Cak dan Ning Suroboyo hanya digunakan untuk membentuk perkumpulan eksklusif anak muda "pilihan" di Surabaya, untuk dijadikan sebagai batu loncatan meniti karir sebagai selebritis, waaah……….. sayang banget..!! Betapa mubazirnya uang rakyat ratusan juta yang dihamburkan untuk aktivitas pemilihan itu..!! Dan betapa sayangnya sekumpulan anak muda yang berkualitas cemerlang seperti Chitra atau Niko atau Adiel atau Ratna atau finalis lainnya yang sudah terhimpun dari hasil acara pemilihan itu tidak didayagunakan secara optimal untuk meningkatkan kualitas anak muda Surabaya saat ini.
Kalo memang seperti itu, what’s the point of being Cak & Ning Suroboyo…??? What’s so special for being Cak & Ning Suroboyo..??