Kurang Ajar atau Sakit Jiwa..??
Jam tanganku menunjukkan pukul 11 siang. Aku segera meninggalkan kelasku di MM-UNAIR dan menuju ke ruang kerjaku di TPSDP. Hari ini ada banyak hal yang perlu diurus berkaitan dengan keberangkatan beberapa teman ke New Zealand. Dari bawah, sudah terlihat bahwa ruang TPSDP nampak ramai dengan mahasiswa. Dan buatku itu wajar-wajar saja. Karena emang selama ini, ruang kerjaku sering dijadikan rumah singgah (eh..emangnya anak jalanan..?). Baik oleh mahasiswa yang lagi bete, lagi nunggu kuliah, lagi ngerjain tugas, lagi rendezvous ama si do’i, dan lain-lain. Buatku, kedatangan mereka selalu membawa keceriaan yang berbeda-beda.
Begitu aku masuk ruanganku dan hendak memulai aktivitasku siang itu, tiba-tiba saja gairah kerjaku merosot. Rasa jengkel bercampur sebal plus marah menggumpal menjadi satu..!! Apa sebab..?? Aku melihat ada seorang (mantan) mahasiswaku, 24 tahun, dengan asyiknya tidur menggeletak dengan menggelar kasur di ruang kerjaku. DI RUANG KERJAKU..!!!! Bayangin aja!! Di tengah orang-orang yang lagi sibuk bekerja dan beraktivitas, ada seseorang; yang sebenarnya adalah tamu di ruang kerjaku; numpang tidur..!!! Menggeletak tidur di lantai, menghalangi sebagian jalan, dan tanpa mempedulikan bahwa ini adalah kantor dan saat ini adalah jam kerja. Dan ini adalah kejadian kesekian-sekian kalinya di mana aku melihat dia melakukan hal itu (tidur menggeletak di lantai, pada jam kerja, di ruang kerjaku) dalam empat bulan terakhir ini.
Aku gak bisa membayangkan, apa sih yang ada dalam pikirannya…??? Pikirin deh!! Bayangin!!! Kamu datang bertamu ke tempat kerja temanmu. Temanmu itu udah biasa kamu kunjungi di ruang kerjanya. Suatu ketika, kamu datang pas temanmu lagi sibuk bekerja. Apa ya pantas kalo kemudian kamu numpang tidur di ruang kerja temanmu, saat temanmu sedang sibuk dan repot bekerja, banyak orang yang hilir mudik bekerja, sedangkan sebenarnya rumahmu sendiri gak jauh dari situ dan kamu sendiri gak ada alasan untuk gak pulang..??
Agaknya kebaikanku untuk membolehkan mahasiswa mendekat padaku, memasuki ruang kerjaku, dan lain-lain sudah mulai disalahartikan. Beberapa kekurangajaran nampaknya mulai berani ditampilkan. Mungkin dikiranya aku ini orang yang nggak bisa tersinggung. Mungkin juga dikiranya aku nggak bisa marah. Aku sendiri karena emang dasarnya gak biasa marah meledak-ledak, sehingga gak pernah bereaksi terlalu keras. Tapi, dari betapa dinginnya sikapku, dari betapa ketusnya kata-kataku, dari betapa judesnya pembawaanku, mestinya manusia yang punya hati bisa merasakan perubahan sikapku itu.
Yang lebih membuatku jengkel adalah selain kebiasaannya numpang tidur di ruang kerjaku itu, si mahasiswa tersebut ketika datang ke ruang kerjaku selalu membuat kotor…!! Memberantakkan segala sesuatu. Membuang sampah seenaknya. Meninggalkan kotoran seenaknya. Sehingga, setiap pagi ketika aku masuk ruanganku, aku harus menjadi kacungnya dan membereskan semua kotoran yang ia tinggalkan di ruanganku.
Apakah sikap si (mantan) mahasiswa, 24 tahun, yang sengaja tidur di ruang kerjaku, saat jam kerja, saat aku dan yang lain sibuk dengan urusan pekerjaan yang memusingkan, adalah satu-satunya contoh kekurangajaran itu..?? TIDAK..!!!
Ada seorang mahasiswi, 22 tahun, yang sering datang ke ruang kerjaku. Bukan untuk bertemu denganku, tapi dengan Syaiful, rekan kerjaku. Dia selalu datang jam 9.30 pagi, duduuuuuuuuk………terus di samping Syaiful, ngobrolin skripsi dan entah apa lagi, dan dia tidak beranjak dari kursinya saaaaaampe… jam 12 siang. Setiap hari..!!!! Berulang-ulang…!!!! Dan setiap kali dia datang, tak pernah ada salam atau ucapan permisif yang terlontar dari bibirnya. Bluduuuuusss…masuk begitu saja, bagaikan seekor anjing yang menyelinap masuk ke dalam rumah tuannya..!!! Dan keluarpun, plasss…..keluar aja, bagaikan anjing yang berkeliaran mencari makanannya…!!! Tanpa ada kata-kata pamit pada orang-orang yang ada di ruangan itu seolah tak ada manusia yang pantas ia hargai di situ.
Oke, deh, masalah etiket gak usah dibicarakan. (Yaa…mungkin aja kan, ortunya gak pernah ngajari gadis itu etiket bertamu..). Tapi, kenyataan bahwa dia datang setiap hari, dari pagi saaaampee siang, hanya karena pengen duduuuuuuk……dan ngobrooooool……di tengah kesibukan pekerjaan yang kami hadapi setiap hari, terus terang sangat menyebalkan…!!! Bikin sepet mata..!!! Apa ya dia itu termasuk orang yang gak punya sensitivitas, bahwa kalo jam 9 itu adalah waktunya orang bekerja. Dan yang namanya orang bekerja itu gak pantes kalo ditungguin sambil ngobrol. Apalagi ngobrolin hal yang nggak penting…!!!
Sudah kucoba menunjukkan sikap tak sukaku padanya. Namun toh, kecuekannya ternyata punya kekuatan yang maha dahsyat sehingga rasa tak sukaku ia anggap sebagai angin lalu.
Apa cuma itu contoh mahasiswa FE Unair yang sedang sakit jiwanya…??? TIDAK..!!! Masih ada lagi contoh betapa kurang ajarnya sebagian mahasiswa FE Unair yang sering dolan ke ruang kerjaku. Kali ini contohnya adalah seorang (mantan) mahasiswa, 25 tahun.
Pernah suatu hari, aku selesai menghadiri sebuah rapat dengan rekan-rekan dosen. Saat itu, kulihat ada banyak sekali kue kotak yang masih tersisa. Daripada mubazir, aku langsung meraup beberapa kotak yang masih terisi. Kupisahkan kue-kue itu ke dalam dua buah kotak yang lebih besar. Yang satu untukku, dan yang lain untuk para mahasiswaku yang sering mampir di TPSDP. Telah kutuliskan yang mana kotak kue milikku dan yang mana milik anak-anak; di bagian luar kotak kue itu, dengan tulisan yang besar-besar dan jelas. Kebetulan Syaiful, rekan kerjaku, lewat di depan ruang rapat. Kuberikan kedua kotak kue itu disertai pesan, bahwa yang satu ini milikku dan yang lain silakan dibagi bersama teman-teman mahasiswa yang lagi nongkrong di TPSDP.
Alangkah terkejutnya aku, ketika aku kembali ke ruang kerjaku, kotak kue milikku sudah berkurang sebagian besar isinya. Yang lebih kurang ajar, yang hilang adalah kue-kue yang terenak dalam kotak itu…!!!! Hanya tinggal dua potong kue yang tersisa dari enam buah isinya semula. Dan, tanpa rasa bersalah sedikitpun, si mahasiswa 25 tahun tersebut mengaku kalau dialah yang mengambil kue-kue dalam kotakku itu dan melahapnya..!!! Sambil tertawa terkekeh-kekeh, dia bercerita dengan nada penuh kemenangan. Dan setelah puas ia tertawa, ia menyodorkan kotak kue satunya lagi, "Ini aja lho, pak, yang nggak enak aja buat pak Sony..!!"
Kau tahu, sejak saat itu rasa respekku pada si mahasiswa itu jadi hilang tak berbekas. Bukan karena beberapa potong kue yang harganya gak sampai Rp 2500 per potongnya. Tapi karena melihat betapa kurang ajarnya ia bersikap. Betapa tidak tahu adatnya, ia bertingkah laku. Dan betapa rendahnya sopan santun yang ia miliki.
Aku sendiri tak pernah berani membuka atau menggeratak barang-barang milik orang lain yang tergeletak di ruang kerjaku. Entah barang milik mahasiswaku atau milik rekanku. Karena aku tahu bahwa itu bukanlah hal yang pantas dilakukan. Tapi ini, dia yang notabene mahasiswaku, orang yang lebih muda dari aku, dengan seenaknya membongkar-bongkar barang milikku dan mengambilnya begitu saja. Tanpa rasa bersalah..!!! Bagiku, itu sebuah kekurangajaran yang luar biasa!!! Aku sendiri tak pernah bisa membayangkan bagaimana seseorang yang punya dua gelar S1 dari dua PTN bisa melakukan tindakan serendah itu..!!!
Dan, asal kau tahu saja, kejadian seperti ini berulang lagi dan melibatkan orang yang sama. Ya, si (mantan) mahasiswa 25 tahun itu..!!!
Ketika seorang rekan dosenku berulang tahun, ia merayakan dengan syukuran kecil di kampus. Tiup lilin dan potong kue disertai makan siang bersama dengan menu sederhana. Saat itu aku tak bisa menghadiri acara itu karena harus mengajar. Rekanku itu kemudian menyisihkan sepotong besar kue dan mengirimkannya untukku dan untuk mahasiswa-mahasiswa yang ada di TPSDP. Karena dia juga tahu bahwa ruang kerjaku banyak dikunjungi mahasiswa.
Saat itu, ruang kerjaku lengang. Tak banyak mahasiswa yang muncul. Hanya dua orang plus Syaiful, termasuk si mahasiswa 25 tahun tersebut. Lalu Syaiful pun membagi potongan besar kue itu menjadi beberapa bagian. Seorang satu bagian. Dan aku diberinya dua potong. Dan bisakah kau menebak apa yang terjadi..?? Mahasiswa 25 tahun tersebut dengan enteng, tanpa berkata apa-apa, meraup dua potongan kue yang tersisa untukku dan membawanya pulang ke kos-kosannya…!!! Bisakah kau bayangkan dirimu akan bisa melakukan tindakan serendah itu..??!! Untungnya, sebelum keluar, aku sempat bertemu dengannya dan kemudian ia mengeluarkan kue-kue itu kembali sambil berkata dengan enteng,"Wah pak Sony datang, gak jadi pesta besar nih di kos-kosan..!!"
Rekanku yang mengirimi aku kue tersebut sempat tersinggung berat ketika aku ceritakan kejadian itu. "Lha wong, kue itu aku kirim buat kamu kok, lha ngapain dia ngerampok kue itu semua.. Kok gak tau malu banget sih..!!"
Heran aku..!! Bagiku, masalahnya bukanlah kuenya. Penghasilanku sendiri sudah sangat besar kalau cuma buat dibelikan kue-kue seperti itu. Masalahnya adalah betapa rendahnya sopan santun dan tata krama yang ia miliki…!! Betapa ia tidak menghargai orang lain, terutama orang itu usianya jauh lebih tua darinya..!! Apa emang mereka-mereka adalah produk gagal dari sebuah keluarga yang tidak bisa mengajarkan nilai-nilai etika pergaulan kepada anak-anak mereka? Apakah memang mereka dilahirkan dari orang tua yang memang tidak bisa mengajarkan nilai-nilai itu karena emang mereka sendiri tak punya nilai-nilai itu..?? Ataukah emang mereka sendiri yang memiliki kelainan dalam diri dan hati mereka sehingga tak mampu mengenali rasa malu dan rasa menghargai orang lain..??
Apa mereka tidak sadar bahwa apapun yang kita lakukan di masyarakat adalah perwujudan dari keberhasilan orangtua kita mendidik budi pekerti kita..? Keburukan budi pekerti yang nampak pada contoh-contoh di atas tidak lain merupakan bukti kegagalan mereka dan orang tua mereka dalam mempelajari dan mengajari nilai-nilai etika pergaulan, budi pekerti, sopan santun, dan tata krama yang baik.
Mudah-mudahan saja, tiga contoh di atas hanyalah kasus dan bukanlah potret buram mahasiswa FE Unair dewasa ini…
October 9th, 2006 at 2:14 pm
Son, mungkin kamunya yang harus lebih tegas dan kalau perlu galak..krn sesuai pengalamanku, kalau mahasiswa “terlalu” diakrabi, kadang mereka “ngelunjak”. Ya..tidak semua seperti itu seh..ada juga yang masih punya tata krama. Dekat dengan mahasiswa bukan berarti harus dikurangajari oleh mereka. Dulu sewaktu aku masih jadi dosen di Uni swasta, yg notabene mahasiswanya anak2 orang kaya, aku dekat banget dengan mereka, tapi in some ways aku tegas, jadi tidak ada yang berani kurang ajar. Smoga ga terjadi lagi yah..
October 9th, 2006 at 9:14 pm
waduh untung aq ga sering2 ke tpsdp. Memang naluri mahasiswa yg kos selalu ingin yg enak2 dan gratisan, tapi ga smua sih. Lain kali bawa gorengan aja pak, biar ga berebutan. Tapi kl kasusnya kayak gitu dan nemen buanget puool
October 10th, 2006 at 9:23 am
Hiks..
astaghfirullah ..
kaget baca ini..
kayak nya anak2 macam itu harus di masukin john robert power. Hmm…tapi paling ya mreka 2 bulan udah di d.o dari sana. produk gagal ..yang makin gagal ^^
October 10th, 2006 at 10:08 pm
ha ha ha ha . . . .!!
October 11th, 2006 at 2:21 am
setuju dengan mba lidia… klo emang udah berasa deket sama orang walaupun lebih tua mereka pasti udah berasa temen sebaya…. yah mungkin kelewatan seperti itu…
October 11th, 2006 at 2:26 am
eeemmm…makasih ya pak kalo dah seneng dengan kehadiran aq n tmen2 di ruang kerja bapak. maaf juga kalo qt sering bikin kacau.
kalo ntar ditengah2 sisa masa study-ku di sini aku membuat bapak marah, langsung bilang ya pak, aku takut kalo bapak marah. skalian aja mau bilang ‘Thanx sir!!!!’
tadinya sempet kaget juga, kirain aq tmasuk salah satu dari orang yang tertulis di blog bapak (coz aji smangat banget buat nyuruh aku, dewi, kokom n tmen2 yang biasa k sana buat baca).
ya, smoga kalaupun suatu saat namaku dan tmen2 tpampang d blog bpak adalah hal2 bae2 dari kita
October 11th, 2006 at 7:42 am
matur nuwun …
sedaya kalepatan dalem nyuwun pangapunten ingkang katah …
October 11th, 2006 at 7:43 am
matur nuwun …
sedaya kalepatan dalem nyuwun pangapunten inkang katah …
October 12th, 2006 at 3:08 am
Komentar pertama serta saran setelah membaca tulisan ini adalah: Bapak seharusnya menegur langsung pada mahasiswa/i kurang ajar itu, yang tidak diajarkan nilai-nilai kesopanan dalam keluarganya. Karena menurutku dengan begitu sesuai dengan tugas bapak sebagai pendidik, saya pikir dengan kapasitasnya sebagai seorang mahasiswa/i FE Unair, mereka akan mengerti dan yang paling penting akan tercipta dialog yang lebih enak selayaknya Dosen dengan mahasiswanya (tidak ada mantan untuk hubungan guru dengan muridnya, karena ilmu yang diberikan tidak bisa terputus). Karena kalo disimpen didalam hati nanti jadinya sakit hati(seperti yang Bapak rasakan sekarang). Dan yang lebih penting tidak akan ada saling fitnah (mungkin)dibelakang hari nanti.
Saya juga baru tahu kalo Bapak yang selama ini kukenal “Nyantai” dan terbuka sama para mahasiswanya mampu membuat tulisan yang menurutku tidak sesuai dengan karakter Bapak seperti yang kukenal(mungkin aku belum mengenal Bapak ya?!). Apalagi ditulis pada Blog Bapak, yang biasanya berisi topik-topik yang menarik dan berbobot. Kalo meminjam istilah anak balikpapan “Gak Kelas”. Apalagi tulisan tersebut sangatlah kasar untuk dituliskan oleh sorang sekaliber Bapak (lulusan universitas luarnegeri, Aussie, yang terkenal dengan budaya keterbukaannya) apalagi sampai menyalahkan orang tua segala. Seperti yang kita ketahui orang tua adalah orang yang paling kita hormati didunia ini, orang yang telah membesarkan kita dengan cucuran keringat atau bahkan darah, sangatlah tidak pantas kita mencaci atau mencela orang tua kita yang musti kita jaga kehormatannya dan kita sayangi,apalagi orang tua orang lain. Sangatlah tidak sebanding pengorbanan mereka dibandingkan dengan tidurgate, dudukgate, dan kuegate. Tapi itu semua hak prerogatif Bapak sebagai pemilik Blog yang rame dikunjungi teman-teman ini. Saya cuma mau mengingatkan, semoga Blog ini jangan sampai menjadi fitnah, dan merusak ukhuwah yang sudah terjalin.
Dengan membaca tulisan Bapak yang mengebu-gebu dan kayaknya penuh emosi (banyaknya yang digaris bawahi, dipertebal dan tanda seru), katanya dibulan puasa orang musti bersabar(menyadur sebuah iklan )semoga Bapak diberi kelapangan dada, dan kesabaran dalam menjalankan tugas sebagai seorang pendidik yang memiliki mahasiswa yang kadang-kadang “extra ordinary”. Kata orang sich salah satu amal yang gak terputus adalah ilmu yang bermanfaat. Makanya menjadi seorang pendidik menjadi salah satu impian saya, meski nantinya saya akan menghadapi cobaan yang berat, seperti digangguin mahasiswa yang kurang ajar dan gak punya sopan santun (seperti yang Bapak rasakan saat ini)atau mungkin “Kres” dengan rekan pendidik lainnya yang akan menambah kesal dan beban di hati-Semoga saja cobaan kali ini yang Bapak hadapi tidak akan mengganggu aktivitas dan kreativitas Bapak-. Apalagi saya sudah memiliki seorang role model, yaitu Bapak Sony.
Tapi saya salut juga, karena bagaimanapun tulisan-tulisan pada Blog Bapak selalu menjadi inspirasi bagi para pembacanya(dilihat dari comment2 yang masuk). Begitu juga dengan yang ini, semoga dapat menjadi pelajaran bagi semuanya,wa bil khusus bagi saya sendiri.
Dan perlu saya tambahkan bahwa tidak selamanya diam itu emas. Karena dengan diam kadang-kadang maksud kita tidak tersampaikan, atau tersampaikan dengan arti lain. karena itu kita musti bersyukur kepada Allah dengan karunia memberikan mulut untuk bisa berkomunikasi dengan yang lain. Meski banyak media lain dalam berkomunikasi tapi kita tidak bisa kita pungkiri bahwa komunikasi verbal adalah komunikasi yang paling mudah dan paling sering kita lakukan.
Buat Bapak dan Teman-teman yang membaca Blog ini Slamat berpuasa. Semoga mendapatkan berkah dan wisuda menjadi orang yang bertakwa. Mohon maaf lahir batin (Telat gak papa y!)
October 12th, 2006 at 3:12 am
ass..
akhirnya munCul juga rilisan terbaru nya ^_^..
yang sabar aja pak..
pak, apa perlu kalo kita sampe saling menyalahkan… apalagi jadi produk gagalnya keluarga, kan belum tentu juga salahnya orang tua dia “_’
ulan yakin bapak lebih faseh n lebih ngerti kalo soal siapa yang lebih bertanggung jawab…
diingetin baik2, biCara dari hati ke hati (dengan i’tikad baik), insya4JJl lebih bermanfaat…
glad 2 see u baCk, n nice 2 talk with u!! btw, thanx b4..
met shaum…
October 13th, 2006 at 10:18 pm
Astaghfirullahal adzim…..saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika hal itu terjadi pada saya, sangatlah wajar jika pak Sony begitu marah kepada mahasiswa tersebut. Namun alangkah baiknya jika kita bisa mengambil hikmah dari kejadian itu. Mungkin ini adalah ujian terberat bagi pak Sony untuk bersabar…..(tentu kesabaran ada batasnya) Bukankah di bulan Ramadhan segala amal baik kita akan dilipatgandakan pahalanya???? Menurut saya di sinilah kesempatan pak Sony untuk mendapatkannya (pahala, red). Alangkah mulianya jika pak Sony mampu menahan amarah dan menyelesaikannya dengan baik.
Saya setuju dengan salah satu komentar mahasiswa (Hendry) bahwa: sebaiknya pak Sony menegur langsung mahasiswa tersebut, tentunya dengan perkataan & nasihat yang baik. Jika tidak demikian bagaimana mungkin mahasiswa tersebut bisa mengerti? Padahal dia sendiri tidak sadar dengan perbuatannya.
Memetik dari sabda Rasulullah: “Man ra’a minkum munkaron falyugoyyir hu biyadihi, fain lam yastathi’ fabilisanihi, fain lam yastathi’ fabiqalbihi wa dzalika adh’aful iman….” Jika kita melihat kemungkaran maka hendaknya kita merubahnya dengan tangan (perbuatan), mungkin dengan cara memberi contoh yang baik. Dan saya yakin pak Sony sudah memberi contoh dan tauladan yang baik kepada para mahasiswanya. Jika tidak bisa dengan perbuatan maka dengan lisan, artinya dengan perkataan & nasihat yang baik. Dan jika tidak berhasil dengan lisan maka dengan hati kita, hendaknya kita mendo’akannya agar Allah berkenan memberi petunujuk dan hidayah kepada mahasiswa tersebut.Sehingga dia sadar akan perbuatannya. Allahu a’lam bis Showab.
Nah sudahkah kita melaksanaknnya?? (maaf tidak b’maksud menggurui, tapi ini adalah kewajiban qt untuk saling mengingatkan).
Jika melihat dari keluh kesah pak Sony bisa dibayangkan betapa tidak pantasnya mahasiswa tesebut dengan perbuatannya, apalagi dengan statusnya sebagai mahasiswa/lulusan S1 dua PTN. Namun bukan berarti itu juga kesalahan kedua orang tuanya. Bisa jadi dia terpengaruh oleh lingkungan teman-temannya sehingga tidak mengindahkan tata krama & adab bertamu yang baik. Boleh jadi dari sisi IQ mungkin dia unggul tapi dari sisi SQ minim sekali.
Maka bersyukurlah kita yang telah dianugerahi keseimbangan antara IQ,PQ,EQ dan yang paling penting SQ.
Tapi di sisi lain saya sangat salut dengan kesabaran yang dimiliki oleh Pak Sony. Bagaimana bisa kita bersabar selama 4 bulan jika terus menerus diperlakukan seperti itu? Mungkin jika orang lain yang mengalaminya akan langsung meluapkan amarah dengan caci maki dan perkataan kotor lainnya.
**********************************************************
Selain untuk pak Sony mungkin saya bisa memberi masukan bagi mahasiswa tersebut (semoga dia membacanya):
Menghormati tamu/tuan rumah adalah wajib hukumnya, apalagi saudara semuslim. jika kita ingin banyak rizki dan berumur panjang, maka hendaknya kita mempererat tali silatur rahim dan ikromu dhuyuf (menghormati tamu).
Cobalah evaluasi diri, sudah tepatkah perbuatan itu???
Cobalah untuk memperbaiki hubungan vertikal (hubungan dengan Sang Khalik) dan horizontal (hubungan dengan sesama manusia).
**********************************************************
Terakhir….saya berdo’a semoga 10 hari ke depan, di hari yang fitri, akan menjadi momen yang indah bagi kita untuk saling memaafkan. AMIN
Selamat M’jalankan Ibadah Puasa buat para pembaca.
October 14th, 2006 at 6:05 am
you know what you can do, sir?
teach your children to behave.
so that when they grow up, there wont be any lecturer sulking over their behaviour.
cheers.
October 15th, 2006 at 9:17 pm
wah… wah…
kaget juga setelah mbaca blog pak sony,jarang-jarang loh dengan karakter pak sony yang aku kenal, pak sony bisa marah sedemikian rupa. biasanya pak sony gak pernah marah, nyantai pool, cuek, ibarat kata, meski ada bom mbledag, pak sony tetep cuek dan melaju dengan pede. tapi kalo pak sony marah kayak gini, aku yakin itu udah pada batas puncaknya dan penyebabnya keterlaluan dan beralasan sekali.
sebagai mantan mahasiswa yang pernah merasakan menghuni di “rumah singgah” tpsdp selama hampir satu tahun lebih bersama budi dan kawan kawan, aku merasa prihatin kalo tpsdp sudah berubah fungsi. memang di jamanku dulu atmosfer kedekatan dan rasa kekeluargaan antara dosen dan mahasiswa juga gak jauh berbeda dengan yang di ceritakan. dulu tpsdp juga sering dijadikan arena “cangkrukan” bagi mahasiswa yang ingin melepas lelah, namun insyaAllah masih dijaga batas-batas tata krama dan sopan santunnya.
namun aku disini gak mau berkomentar mana yang salah mana yang benar, cuma sekalian melalui blog ini, sebagai mantan mahasiswa yang dulu juga pernah menghuni tpsdp dan mungkin juga mewakili rekan2 seangkatan (budi dkk), mohon maaf yang sebesar2nya pada bapak ibu dosen apabila ada kekeliruan di masa lalu, dan mungkin kami pernah memberikan contoh perilaku yang tidak baik yang kemudian diteruskan oleh rekan2 mahasiswa penerus tpsdp berikutnya.
sekalian, selamat memasuki ramadhan 10 hari terakhir, semoga kita semua diberi magfirah oleh Allah SWT
October 17th, 2006 at 7:33 pm
February 4th, 2007 at 5:27 am
Hehehe, late comment….
Tapi i cant help myself to give a li’l comment on this interesting blog, and maybe, one of THE HOTTEST BLOG 2006… Hehehe…
Sabar ya pak, itulah manusia, selama kita emang berurusan dengan manusia, pasti terjadi sesuatu yang unexpected, entah itu yang enak atau nggak… Tidak menutup kemingkinan juga saya khilaf suatu saat nanti… Jadi bukakan pintu maaf sebesar-besarnya ya pak kalo saya pernah begitu dan kalau suatu saat tanpa saya sadari bertindak salah…