Kurang Ajar atau Sakit Jiwa (Bag.2)

Coba kalian perhatikan komentar yang masuk untuk tulisanku sebelumnya, bagian pertama dari tulisan ini. Rata-rata komentarnya senada. Cuma ada satu komentar yang defensif dan balik menyerangku dengan tajam. Kenapa ya….???????

Sebagai seorang manusia yang dikarunia akal dan budi, tidaklah seharusnya kita mengandalkan orang lain untuk menegur kesalahan kita. Adalah lebih utama apabila kita mau selalu mengintrospeksi diri dan mengenali kesalahan-kesalahan yang kita lakukan SEBELUM kesalahan itu ditemukan orang lain. Dan memperbaikinya, tentu saja…!! Bukannya terus malah bersikap defensif dan berbalik menyalahkan orang lain.

Jadi komentar Hendry yang berbalik menyalahkan aku, tentu tidak beralasan. Kenapa, yaa…karena tiap orang punya tanggung jawab atas apa yang ia lakukan sendiri. Kesalahan yang dilakukan oleh si mahasiswa 25 tahun yang aku ceritakan sebelumnya, misalnya, itu ya murni salahnya dia. Atau bisa jadi, salah orangtuanya. Bukan salahnya orang lain. Dan yang bikin heran lagi, masa sih kekurangajaran seperti itu, yang sebagian besar tentu menganggap kekurangajaran tingkat tinggi, tidak bisa dikenali..??? Dilakukan dua kali, lagi..!! Siapa pun yang membaca ceritaku di bagian pertama, tentu akan sepakat bahwa si mahasiswa 25 tahun itu adalah sosok yang menampilkan sikap kurang ajar dalam perilakunya. And, I think, he can not blame on anyone, but himself. Or his parents for not educating him properly.

Kalau kalian berbuat salah, dan tanpa berkata apa-apa tiba-tiba orang bersikap negatif pada kalian, yaa..jangan bilang "Kamu sih, gak bilang-bilang aku kalo aku salah!!". Itu lucu, dong…!! Salahkanlah dirimu sendiri yang kurang sensitif!! (Btw, aku masih heran lo, kalo ada manusia yang berbuat kurang ajar kayak ceritaku itu, terus masih merasa PERLU DIBERITAHU bahwa itu adalah sesuatu yang salah. Kayak di komentar tulisanku kemarin. Normalnya, kan orang yang khilaf berbuat dan berkata-kata kayak gitu, akan sadar dan menyadari kesalahannya. Terlepas apakah dia minta maaf apa enggak).

Mengutip kata-kata di sebuah iklan TV, "kalau pintar itu ditampilkan lewat hati, itu baru cerdas namanya". Di sini peran hati kita sebagai pengontrol semua tindakan itu penting sekali. Hati adalah pengendali tindakan kita. Hati adalah yang bisa membedakan apakah kita adalah orang yang peka atau pekok. Kalau emang hati kita bersih, kekhilafan sekecil apapun pasti akan langsung membuat hati kita terasa tidak nyaman. Sebaliknya, kalau hati kita kotor, mbok kesalahan segede apapun juga nggak akan berdampak apa-apa pada hati kita.

Menurut aku, jangan mengandalkan orang lain supaya mau menegur kita dong, buatlah supaya hati kita menyadari kesalahan-kesalahan yang kita buat. Allah menganugerahi kita hati untuk menyaring segala yang kita lakukan. Pakailah hatimu!! Gunakan apa yang sudah dikaruniakan Yang Kuasa padamu, untuk mengendalikan dirimu sendiri.!! Kita tidak akan bisa menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kita lakukan sendiri..!!

Oya, sedikit komentar buat Hendry. Aku tidak pernah berusaha membuat tulisanku bermutu atau tidak bermutu. Kebetulan aja banyak yang suka sama tulisanku. Buat aku pribadi, tulisanku di blog ini biasa-biasa aja. Gak ada kelebihannya. Tapi, bagi orang lain, mungkin inspiring. Ada juga yang bilang, memberi pencerahan. But, I actually never give a damn on what people think about my writings. Mungkin saja, Hendry menganggap tulisanku yang kemarin tidak bermutu, karena merasa jadi salah seorang terdakwa dalam tulisan itu. Iya, enggak..?? Ayo, jujur..!! But, I don’t give a damn on your comments. Mau anggap bagus, kek! Mau enggak, kek! Bodo amat. Cuma, aku menangkap subyektifitas komentarmu karena (kebetulan) kamu terlibat langsung dalam kasus itu.

Kalau dibilang bahwa tulisanku kemarin itu kasar dan tidak menunjukkan kaliber-ku yang sebenarnya, itu juga tidak aku pedulikan. Bodo amat!! Aku tidak pernah merasa punya kaliber. Coba deh, para fans blog-ku yang tercinta, kalau kalian perhatikan seluruh tulisanku, aku kadang menulis sesuatu dengan lembut mendayu-dayu. Bahkan sampe bikin orang menangis. Tapi, kadang juga berkata keras, tegas, sampe banyak yang enggak terima (he..he..jadi inget kasus IPK, nih..!!). Nah, masalahnya, yang aku hadapi kali ini adalah manusia-manusia yang nampaknya berhati keras dan tidak sensitif, yang mungkin tidak akan goyah dengan kalimat-kalimat yang lembut merayu. Dokter aja kalo ngasih obat, liat-liat pasiennya. Kalo sakitnya ringan, obatnya ringan. Kalo sakitnya parah, ya dosisnya diperkuat. Kan gitu..?? Jadi, yang namanya nulis juga liat-liat audiesnya dan juga liat topik yang diangkat.

Banyak sekali dosen FE Unair yang bilang bahwa mahasiswa FE Unair ini lagi "sakit hati". Dalam arti, gak tau sopan santun, gak tau etika pergaulan, gak tau tata krama, ya kan..?? Itu fenomena yang bisa kita lihat di lapangan. Aku pikir, kasus kepergoknya mahasiswa yang lagi ML di toilet kampus, atau beberapa mahasiswa yang ketahuan lagi "petting", "kissing", dan "touching" di koridor kampus pada jam kuliah, dan kejadian sehari-hari lainnya, merupakan bukti nyata bahwa mahasiswa FE Unair sedang mengalami masalah dengan hatinya. Dengan rasa malunya. Dengan akhlaknya. Dan aku ingin menunjukkan pada teman-temanku tercinta (termasuk yang jadi terdakwa dalam kuegate, tidurgate, dan dudukgate), terutama mahasiswaku yang lain, inilah beberapa contoh "sakit"-nya mahasiswa FE Unair. Harapanku apa? Yaa, supaya gak ada yang meniru. Atau kalau udah terlanjur meniru, ya diperbaiki. Kalau ternyata, yang aku jadikan contoh ternyata kamu, yaaa, anggap aja lagi apes…!!!

Aku tidak pernah menyalahkan atau menjelek-jelekkan orangtuaku. Sama sekali. Aku menjunjung tinggi kehormatan keluargaku dan orang tuaku. Dan juga kehormatan orangtua mahasiswaku. Justru mereka-mereka yang bertingkah laku tidak sopan, gak aturan, gak punya tata krama itulah yang tidak menghargai dan sengaja mempermalukan orangtua mereka sendiri. Kenapa? Dengan bertingkah laku seperti itu, otomatis mereka menunjukkan pada dunia dan berkata bahwa "inilah hasil kerja keras orang tuaku, mendidik aku, sampe jadi manusia yang gak punya aturan seperti ini". Iya, nggak..?

Pertanyaannya, kan, apa emang orangtuanya yang gak bisa mendidik anak mereka itu? Atau emang si anak yang pergaulannya rusak sampe gak bisa membedakan mana yang pantas dan mana yang nggak pantas? Coba, deh, kalian tunjukkan tulisanku kemarin pada orangtua kalian, trus bilang ke mereka "Pak, Bu, yang diceritakan di tulisan itu, yang sikapnya kurang ajar dan gak aturan itu aku, lho..!!" Kira-kira gimana ya respon mereka…????

Blog ini, Insya Allah, tidak menjadi fitnah. Kenapa? Karena yang aku sampaikan adalah kebenaran. Iya kan..??? Ayo, ngaku…!!! Tulisan kemarin aku rilis karena aku yakin banyak yang akan memperoleh pelajaran berharga dari kasus itu. Harapanku sih, terutama ketiga terdakwa di situ. Tapi, kalo emang terdakwanya merasa gak salah dan balik menyalahkan aku, yaaa….bodo amat!! Yang penting, aku mencoba supaya mahasiswaku yang (masih) manis-manis dan terjaga tutur kata dan perbuatannya, tidak ketularan virus berbahaya ini.

Ada media komunikasi yang sebenarnya pada prakteknya dipahami oleh manusia normal, terutama di Indonesia, khususnya di Jawa. Yaitu, media komunikasi non-verbal, seperti gesture, raut wajah, bahasa tubuh, dan lain-lain. Dalam budaya Jawa dan budaya ketimuran lainnya, komunikasi non-verbal bahkan menjadi alat yang lebih utama dibandingkan komunikasi verbal.

Aku sudah menyampaikan "pesan" melalui komunikasi non-verbal kepada ketiga terdakwa di tulisanku kemarin, bahwa "something is wrong". Aku nggak percaya kalau ketiga orang tersebut gak pernah merasakan bahwa sikapku kepada mereka berbeda dibandingkan sikapku pada mahasiswaku yang lain. Lebih kasar, lebih galak, lebih judes, lebih ketus, lebih kaku. Padahal biasanya, yaaaa….tau sendiri deh (Asli..!! Gakk enak ngomongnya, entar dikira narsis, kalo aku bilang diriku ini penuh perhatian, open-minded, nyantai, sabar, kalem, lembut..!! Biarlah orang lain aja yang ngomong, ya..? He..he..). Mestinya, orang yang punya hati yang cukup sensitif bisa menyadari perubahan itu dan bertanya-tanya "mengapa"..?? Apa salahku..?? Justru setelah semua komunikasi non-verbal itu tidak mempan (mungkin ya, karena hati mereka yang mengeras dan membatu itu..) aku gunakan komunikasi verbal. Yaitu melalui blog ini. Ingat, komunikasi verbal tidak harus dilakukan secara lisan. Bisa juga tulisan. Kenapa kok gak pake komunikasi lisan..?? Yaa, karena manusia yang aku hadapi berhati batu, daripada entar diajak ngomong lisan malah bikin sakit hati, ya udah…pake tulisan saja. Biar jelas semuanya. Dan, seperti yang aku bilang sebelumnya, biar semua orang juga mendapatkan pembelajaran bahwa ada pergeseran nilai-nilai moral, etika pergaulan, sopan-santun yang dipakai oleh mahasiswa dewasa ini. Biar para mahasiswaku yang manis-manis bisa terhindar dari virus maut ini. Lagian, toh aku tidak menyebutkan nama. Kalo ada yang ngaku (baik ngaku eksplisit maupun implisit), kan bukan salahku. Ya, nggak..???

Oke, deh..!! Moga-moga aja, ada yang bisa mendapatkan pembelajaran dari apa yang aku tuliskan. Biarpun cuma seorang… Itu pun sudah sangat berarti bagiku.

7 Responses to “Kurang Ajar atau Sakit Jiwa (Bag.2)”

  1. andry Says:

    Maju terus mas Sony!
    Go to hell w/ the people with no point of view!
    Ttp istiqomah!

    Buat kawan-kawan mhs FE UNAIR, nunut titip pesan buat adik2 mhs ya mas sony :

    jangan bangga karena anda semua sudah diterima di FE Unair, buat almamatermu bangga kepadamu! Jangan malah bikin malu almamatermu!

    Malu saya kl baca tulisan mas Sony, sudah sebegitu parahnya kah kampus ku tercinta?
    Layak kah anda semua diterima di FE Unair?

  2. J A Y Says:

    hhhggghh…..
    kulonuwun sebelumnya… pak, kalo bisa bapak juga liat dari dalam diri bapak sendiri juga.. biasanya orang bertindak kayak gitu kalo mereka sudah merasa akrab dan dekat dengan orang yang menjadi ‘korban’nya. see this point of view : para terdakwa tadi merasa sudah begitu akrabnya dengan pak sony, sehingga menanggap bapak sebagai teman akrab, bahkan sobat atau bahkan teman sepermainan mereka. kalo konteksnya kaya gini, saya rasa ga aneh kalo ada sesama teman (atau yang mereka anggap teman) yang bertindak kayak gitu. dalam konteks ini mereka bakal merasa, ini masih dalam batasan bercanda atau bisa ditoleransi, toh teman sendiri, pasti mengerti.

    mungkin bapak memang terlalu ‘dekat’ dengan mahasiswa. setidaknya menurut pendapat saya, seharusnya dosen juga menciptakan sedikit jarak dengan mahasiswanya untuk menjaga posisi hubungan dosen dan mahasiswa tadi. dan jangan lupa, dosen juga orang tua dan pendidik. kastanya adalah sebagai orang tua. jadi tidak seharusnya sejajar dengan mahasiswa. mmm.. maaf, bukan maksud saya untuk menggurui kalo emang dirasa jadi kaya menggurui.. hehe..

    seharusnya mahasiswanya nyadar juga sih, kalo dosennya adalah seorang dosen! orang tua mereka yang harus dihormati layaknya orang tua, bukannya diperlakukan seperti teman sebayanya. walaupun mahasiswa merasa dekat dengan dosennya.
    maaf lagi pak sebelumnya, soalnya saya juga merasa kedekatan bapak dengan mahasiswa cenderung dekat seperti teman sebaya. mungkin bapak harus lebih menjaga wibawa dan ketegasan, terutama di luar kelas. karena diluar konteks kelas, saya rasa sih, mahasiswa yang bisa dekat dengan bapak akan lebih mudah meng-convert bapak menjadi ‘teman’ mereka. karena bapak juga tidak jarang berkomunikasi tentang hal diluar dunia akademik dengan mahasiswa yang dekat dengan bapak. just like a friend! and those kids wouldn’t have any doubt to say ‘hey mate!’ to you!

    dan… saya kaget juga waktu bapak bawa2 orang tua.. please… itu terlalu sensitif pak.. you ask them to be sensitive, tapi bapak udah mengangkat hal yang sangat sensitif. siapapun yang punya keburukan apapun kalo keburukan itu dikatakan berhubungan dengan orang tuanya juga pasti bakal meradang. thats never be a solution. but symtomp.

    saya rasa sebetulnya, dari pada menulis di blog begini, lebih baik bapak ngomong langsung ke orangnya. kalo bapak ngomong dengan sungguh - sungguh mereka juga pasti bakal dengerin. kalo bapak merasa cukup dengan komunikasi non-verbal, akibatnya tidak pernah membuktikan kalo cukup dengan itu saja kan? tidak semua budaya ketimuran itu baik. komunikasi non-verbal yang sudah mengakar di budaya jawa sebenarnya bukan cara paling efisien dalam komunikasi. bapak pasti lebih paham. karena bapak juga dosen kombis dan kpt yang semuanya kuliah komunikasi. anak muda jaman sekarang juga tidak semuanya peduli dan give a damn pada budaya ketimuran. dunia sudah semakin sempit. mungkin anak muda jaman sekarang juga sudah semakin cuek, dan komunikasi verbal menjadi jauh lebih bertaji untuk berkomunikasi. salah siapa? please dont blame anyone parents again.. if you want to be heard, then talk, loudly if necessary..

    buat comment di atas, “layakkah anda semua diterima di FE Uniar?” yaa, FE Unair yang menerima kami bukan? Layakkah FE Unair menyandang predikat Univ. favorit di Indonesia Timur? masih begitu banyak kekacauan kok disini.. hehehe…

  3. sony Says:

    Hmmm…masalah kedekatan aku tulis di posting berikutnya ya..?

    Jay, kalo seseorang itu punya keburukan seperti malas, bodoh, suka mbolos, atau jorok, mungkin yang dituding adalah si anak itu sendiri. Tapi kalau seseorang itu bermasalah dengan akhlaknya, maka orangtua pasti ikut terbawa. Kenapa? Karena orangtualah yang mengajarkan akhlak pada orang tsb sejak mereka masih kecil. Akhlak tidak diajarkan oleh dosen. Sehingga, wajar kalo seseorang bermasalah dengan akhlaknya, orangtuanyalah yang dituding. Itu wajar aja. Seperti yg aku bilang di blog di atas, bukan aku yg menjelekkan ortu mereka, mereka sendirilah yang (gak sengaja, kali.?) merendahkan ortu mereka sendiri. Emang berat untuk diakui, but that’s the truth. Jadi, meski pahit, ya terima aja.

    Ngomong langsung itu juga tidak selalu memberi solusi. Apalagi kalo kamu paham konteks kasus tsb. Dan nilai-nilai etika yg berlaku di Indonesia (bukan cuma Jawa lo) mengajarkan bahwa it is important to pay attention to non-verbal messages. Kalian kan hidup di Indonesia, so otomatis kalian harus hidup dengan nilai-nilai itu. Suka gak suka. Mau gak mau. Lagian, sejak ruang TPSDP buka tahun 2001, puluhan bahkan ratusan mahasiswa yg pernah cangkruk di TPSDP bahkan sampe saat ini, cuma tiga orang tsb yg bikin masalah serius di TPSDP. So….???

    Btw, yg aku lakukan dg nulis blog ini adalah melakukan KOMUNIKASI VERBAL. Ingat Jay, komunikasi verbal adalah komunikasi dg menggunakan kata. Bisa lisan bisa tulisan. (Buka lagi buku KOmbis-mu, deh. Dulu kamu bolos ya, pas mbahas bab ini..?) And I did it!! Dan emang lebih bertaji. Aku tau. Buktinya, banyak yg respon. And I was heard. He..he..!!

  4. it's just dita Says:

    hidup pak sonnyyyyy!!!

    anggep aja org yg mendebat bapak adalah anugerah tuhan buat bapak to keep ur mind sharp, ur spirit alive, and ur blogs entertaining!!

    hidup pak sonnyyyy!!!

  5. J A Y Says:

    “Btw, yg aku lakukan dg nulis blog ini adalah melakukan KOMUNIKASI VERBAL. Ingat Jay, komunikasi verbal adalah komunikasi dg menggunakan kata. Bisa lisan bisa tulisan. (Buka lagi buku KOmbis-mu, deh. Dulu kamu bolos ya, pas mbahas bab ini..?) And I did it!! Dan emang lebih bertaji. Aku tau. Buktinya, banyak yg respon. And I was heard. He..he..!!”

    hehehe.. iya de.. you rocks!
    tapi.. waahhh saya bolosnya ga waktu bab itu lo pak, mentang2 waktu itu saya ketilang…hehe
    satu lagi… ‘MEMbahas’ not mbahas.. hehe

    btw, guys, berdebat adalah salah satu jalan menuju sesuatu yang lebih baik.. so, bukan cuma anugrah buat pak sony, tapi buat yang mendebat juga dong.. daripada cuma ’setujuu…’ aja.. haha.. piss beybeh

  6. pancer Says:

    wah… wah…
    kaget juga setelah mbaca blog pak sony,jarang-jarang loh dengan karakter pak sony yang aku kenal, pak sony bisa marah sedemikian rupa. biasanya pak sony gak pernah marah, nyantai pool, cuek, ibarat kata, meski ada bom mbledag, pak sony tetep cuek dan melaju dengan pede. tapi kalo pak sony marah kayak gini, aku yakin itu udah pada batas puncaknya dan penyebabnya keterlaluan dan beralasan sekali.
    sebagai mantan mahasiswa yang pernah merasakan menghuni di “rumah singgah” tpsdp selama hampir satu tahun lebih bersama budi dan kawan kawan, aku merasa prihatin kalo tpsdp sudah berubah fungsi. memang di jamanku dulu atmosfer kedekatan dan rasa kekeluargaan antara dosen dan mahasiswa juga gak jauh berbeda dengan yang di ceritakan. dulu tpsdp juga sering dijadikan arena “cangkrukan” bagi mahasiswa yang ingin melepas lelah, namun insyaAllah masih dijaga batas-batas tata krama dan sopan santunnya.
    namun aku disini gak mau berkomentar mana yang salah mana yang benar, cuma sekalian melalui blog ini, sebagai mantan mahasiswa yang dulu juga pernah menghuni tpsdp dan mungkin juga mewakili rekan2 seangkatan (budi dkk), mohon maaf yang sebesar2nya pada bapak ibu dosen apabila ada kekeliruan di masa lalu, dan mungkin kami pernah memberikan contoh perilaku yang tidak baik yang kemudian diteruskan oleh rekan2 mahasiswa penerus tpsdp berikutnya.

    sekalian, selamat memasuki ramadhan 10 hari terakhir, semoga kita semua diberi magfirah oleh Allah SWT

  7. guntur Says:

    :) NO COMMENT :)

Leave a Reply