Archive for October, 2006

Kedekatan Hati

Friday, October 13th, 2006

Udah ada dua mahasiswa (dua-duanya anak 2003) yang bilang kalo aku terlalu dekat dengan mahasiswaku. Dan mereka juga bilang, gak seharusnya aku bersikap demikian karena entar mahasiswaku ngelunjak. Bahkan, ada yang bilang kalo ntar mahasiswaku ngelunjak, itu sebagian juga salahku, for being closer to my students.

Apa emang bener bahwa itu adalah permasalahannya..?

Kalo kita pikirin, kedekatan hati (dalam kasus dekatnya mahasiswa dengan dosen) itu adalah sebuah proses yang resiprokal. Alias timbal balik. Gak bisa seseorang mendekati orang yang emang gak mau didekati. Dan itu juga merupakan sesuatu yang terjalin dari sebuah proses interaksi yang intens. Kalo kita bergaul dengan orang yang sama, hampir tiap hari ketemu, hampir tiap hari ngobrol, tentu secara otomatis kedekatan itu tercipta. And, I believe, there is nothing wrong with it..!! Just as I believe that there is nothing wrong with the close emotional relationships I have with my students. Aku selalu percaya bahwa hubunganku dengan mahasiswaku, dekat, tulus, namun tetap terjaga jaraknya. Emang sih, jarak antara aku dengan mahasiswaku cenderung jauh lebih dekat dibandingkan dengan dosen lainnya. Dan itu sudah aku lakukan sejak aku ngajar mahasiswaku angkatan 1997..!!! Dan selama ini, hampir gak ada yang ngelunjak atau istilah Suroboyo-nya, ngelamak, tuh…!! Aman-aman aja (kecuali kasus yang kemarin aku tulis). Jadi, aku masih percaya bahwa kedekatanku dengan mahasiswaku, yang selama ini aku lakukan, dari dulu sampai saat ini, adalah sesuatu yang biasa saja. Murni dan tulus. Bagaikan teman. Atau bahkan saudara.

Tentu saja kedekatan itu tidak akan bisa menjadi alasan bagi seseorang untuk bisa bersikap seenaknya. Pikirin aja, kalian sendiri. Kalian tentu punya orang yang kalian anggap dekat di hati. Bisa pacar. Bisa saudara kandung. Atau sepupu. Atau malah sahabat. Bahkan mungkin juga kalian termasuk orang yang mudah sekali akrab dengan orang lain. Mulai dari saudara, kerabat lain yg lebih tua, guru, dosen, teman kampus, teman main, dan lain-lain. Apakah kedekatan kalian pada mereka itu boleh diekspresikan dengan cara yang sama..??? Jawabannya, tentu TIDAK. Kedekatan dengan om atau tante yg usianya masih muda atau sebaya dengan kita, misalnya, tentu harus diekspresikan berbeda dengan kedekatan kita dengan saudara sepupu kita. Meski sama-sama punya hubungan darah dan sama-sama sebaya, karena posisinya dalam keluarga berbeda, maka kedekatan emosional yang sama itu mestinya diekspresikan secara berbeda. Kalau enggak, ya kita akan dicap kurang ajar. Atau ngelunjak. Gitu kan..??

Sama juga dengan aku. Mahasiswa yang dekaaat banget dengan aku tuh buanyaaaak banget. Sebut aja nama Hersan, Rusydi, Iwan, Imam, Rani, Wowot, Aiman, Andry, Dody, Ferly, Bela, Ikhlas, Rusjdi, Ashwin, Rozak, (liat aja di profil teman-temanku) dan entah siapa lagi, yg saat kami semua belum nikah, seriiiiiiiing banget jalan bareng, nonton bareng, makan bareng, saling mengunjungi ke rumah, dan lain-lain. Pernah mereka kurang ajar sama aku..??? Gak pernah..!! Begitu juga mahasiswaku angkatan millennium, Ricky, Syaiful, Andri, Memed, Sigit, Ayukki, Citra, dan entah siapa lagi, mereka kayaknya udah kayak teman aja. Pernah mereka ngelunjak padaku? Gak pernah. Juga, yang sekarang lagi beredar, Suska, Dewi, Rini, Kokom, Bayu, Karti, Daniel, Hendri H, Tyas, Agus, Ongki, Glorya, Tara, Dony Habibie, (eh…siapa lagi, ya.??) semuanya dekat padaku. Apa ada udang di balik batu..?? Nggak. Aku yakin mereka tulus. Seperti juga aku pada mereka. Pernah mereka ngelunjak karena mereka dekat dengan aku..?? Nggak pernah tuh..!! (jadi, kasus yang aku tulis di posting beberapa hari yang lalu, jelas merupakan KASUS. Dan karena dari ratusan mahasiswa yang dekaaaat banget denganku, hanya beberapa gelintir yang bermasalah, aku masih yakin bahwa kesalahan itu bukan pada hubunganku yang terlalu dekat dengan mahasiswa)

Mereka gak pernah ngelunjak padaku. Trus, sebaliknya, apa aku pernah mengistimewakan mereka..?? Nggak juga. Imam Murtadho; yang sekarang jadi juragan cleaning service, dulu ngulang SIM 5X, meski dia dari dulu teman baikku. Hersan, Fajar, Dody, Ashwin, Alfie dan yang lain juga ALK-nya aku kasih nilai jelek, sampe mereka ngulang, meski kedekatanku dengan mereka kayak dekatnya aku dengan anak 2003 saat ini. Liat aja, Karti yang nilai Seminar dan PJ-nya jelek, meskipun kita dekat banget. Hendry Haryanto, anak keuangan 2003 juga pernah aku semprot keras karena telat ngumpulin tugas opini sampe dia bete abis, meski kami dekat banget. Belum lagi, anak lain, yang juga cukup dekat denganku, yang meskipun nangis-nangis minta dibebaskan dari tilang ujian akhir, gak aku gubris sama sekali. Aku tahu dan mereka tahu, bahwa ada saat di mana mereka bisa mendekat dan kapan mereka harus menjauh.

Kenapa yaa..kami bisa menjalin hubungan dengan begitu dekat, tapi juga begitu jelas batasnya. Karena ada yang namanya “TAHU DIRI”. Aku gak akan terlibat dalam hal-hal yang bukan untukku, meskipun aku sebenarnya sering diajak. Dan mereka juga tahu diri, kapan harus menjauh dariku. Itu sebenarnya kunci sebuah hubungan emosional atau hubungan persahabatan, persaudaraan, atau apapun namanya, yang sehat. Kunci keberhasilan sebuah hubungan emosional adalah hubungan itu haruslah sehat. Seperti halnya persahabatan antara dua orang yang sebaya. Kita tahu kapan boleh mendekat dan kita juga tahu kapan seharusnya menjauh. (apakah sahabat sejati adalah sahabat yang maunya dekaaaaaaaat…terus dengan kita seperti lintah..?? Gak juga kan?? Kita pasti mau sahabat kita juga memberi kita ruang untuk sendirian)

Jadi, sebenarnya kedekatan hati itu tidak pernah salah. Apalagi kalau itu murni adanya. Karena emang kita merasa bahwa jalinan persaudaraan itu berharga adanya. Dan menurut aku, tidak ada yang salah dengan kedekatan yang terlalu dekat. Apa salah kalau seorang anak terlalu dekat dengan ayah dan ibunya sampai mereka bergaul seperti teman sebaya..?? Nggak, dong. Yang salah, apabila salah satu pihak bersikap melampaui batas yang diatur oleh norma-norma dan etika yang berlaku.

Kalo kalian mau membuka mata dan telinga, kalian akan tahu bahwa aku bukanlah satu-satunya dosen di dunia ini yang punya kedekatan yang lebih dengan mahasiswanya. Di ITS juga ada. Pernah masuk Koran, malah. Di UI juga ada Faisal Basri, yang egaliternya malah lebih besar daripada aku. Tapi, coba tanyakan pada mereka, apakah mereka merasa bahwa kedekatan mereka dengan mahasiswa mereka adalah sesuatu yang salah..? Aku yakin, mereka akan merasa bahwa there will never be wrong for being close to the students.         

Buat Suska, Dewi, Rini, Karti, Kokom, Bayu, Adji, Agus, dan anak2 2003 yang sering cangkruk di TPSDP, main lagi doong..!! Moga-moga kalian juga merasa bahwa kedekatan kita itu istimewa, as I do. Dan keistimewaan itu adalah karena kita dekat banget tapi masih bisa menjaga sikap.   

Kurang Ajar atau Sakit Jiwa (Bag.2)

Thursday, October 12th, 2006

Coba kalian perhatikan komentar yang masuk untuk tulisanku sebelumnya, bagian pertama dari tulisan ini. Rata-rata komentarnya senada. Cuma ada satu komentar yang defensif dan balik menyerangku dengan tajam. Kenapa ya….???????

Sebagai seorang manusia yang dikarunia akal dan budi, tidaklah seharusnya kita mengandalkan orang lain untuk menegur kesalahan kita. Adalah lebih utama apabila kita mau selalu mengintrospeksi diri dan mengenali kesalahan-kesalahan yang kita lakukan SEBELUM kesalahan itu ditemukan orang lain. Dan memperbaikinya, tentu saja…!! Bukannya terus malah bersikap defensif dan berbalik menyalahkan orang lain.

Jadi komentar Hendry yang berbalik menyalahkan aku, tentu tidak beralasan. Kenapa, yaa…karena tiap orang punya tanggung jawab atas apa yang ia lakukan sendiri. Kesalahan yang dilakukan oleh si mahasiswa 25 tahun yang aku ceritakan sebelumnya, misalnya, itu ya murni salahnya dia. Atau bisa jadi, salah orangtuanya. Bukan salahnya orang lain. Dan yang bikin heran lagi, masa sih kekurangajaran seperti itu, yang sebagian besar tentu menganggap kekurangajaran tingkat tinggi, tidak bisa dikenali..??? Dilakukan dua kali, lagi..!! Siapa pun yang membaca ceritaku di bagian pertama, tentu akan sepakat bahwa si mahasiswa 25 tahun itu adalah sosok yang menampilkan sikap kurang ajar dalam perilakunya. And, I think, he can not blame on anyone, but himself. Or his parents for not educating him properly.

Kalau kalian berbuat salah, dan tanpa berkata apa-apa tiba-tiba orang bersikap negatif pada kalian, yaa..jangan bilang "Kamu sih, gak bilang-bilang aku kalo aku salah!!". Itu lucu, dong…!! Salahkanlah dirimu sendiri yang kurang sensitif!! (Btw, aku masih heran lo, kalo ada manusia yang berbuat kurang ajar kayak ceritaku itu, terus masih merasa PERLU DIBERITAHU bahwa itu adalah sesuatu yang salah. Kayak di komentar tulisanku kemarin. Normalnya, kan orang yang khilaf berbuat dan berkata-kata kayak gitu, akan sadar dan menyadari kesalahannya. Terlepas apakah dia minta maaf apa enggak).

Mengutip kata-kata di sebuah iklan TV, "kalau pintar itu ditampilkan lewat hati, itu baru cerdas namanya". Di sini peran hati kita sebagai pengontrol semua tindakan itu penting sekali. Hati adalah pengendali tindakan kita. Hati adalah yang bisa membedakan apakah kita adalah orang yang peka atau pekok. Kalau emang hati kita bersih, kekhilafan sekecil apapun pasti akan langsung membuat hati kita terasa tidak nyaman. Sebaliknya, kalau hati kita kotor, mbok kesalahan segede apapun juga nggak akan berdampak apa-apa pada hati kita.

Menurut aku, jangan mengandalkan orang lain supaya mau menegur kita dong, buatlah supaya hati kita menyadari kesalahan-kesalahan yang kita buat. Allah menganugerahi kita hati untuk menyaring segala yang kita lakukan. Pakailah hatimu!! Gunakan apa yang sudah dikaruniakan Yang Kuasa padamu, untuk mengendalikan dirimu sendiri.!! Kita tidak akan bisa menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kita lakukan sendiri..!!

Oya, sedikit komentar buat Hendry. Aku tidak pernah berusaha membuat tulisanku bermutu atau tidak bermutu. Kebetulan aja banyak yang suka sama tulisanku. Buat aku pribadi, tulisanku di blog ini biasa-biasa aja. Gak ada kelebihannya. Tapi, bagi orang lain, mungkin inspiring. Ada juga yang bilang, memberi pencerahan. But, I actually never give a damn on what people think about my writings. Mungkin saja, Hendry menganggap tulisanku yang kemarin tidak bermutu, karena merasa jadi salah seorang terdakwa dalam tulisan itu. Iya, enggak..?? Ayo, jujur..!! But, I don’t give a damn on your comments. Mau anggap bagus, kek! Mau enggak, kek! Bodo amat. Cuma, aku menangkap subyektifitas komentarmu karena (kebetulan) kamu terlibat langsung dalam kasus itu.

Kalau dibilang bahwa tulisanku kemarin itu kasar dan tidak menunjukkan kaliber-ku yang sebenarnya, itu juga tidak aku pedulikan. Bodo amat!! Aku tidak pernah merasa punya kaliber. Coba deh, para fans blog-ku yang tercinta, kalau kalian perhatikan seluruh tulisanku, aku kadang menulis sesuatu dengan lembut mendayu-dayu. Bahkan sampe bikin orang menangis. Tapi, kadang juga berkata keras, tegas, sampe banyak yang enggak terima (he..he..jadi inget kasus IPK, nih..!!). Nah, masalahnya, yang aku hadapi kali ini adalah manusia-manusia yang nampaknya berhati keras dan tidak sensitif, yang mungkin tidak akan goyah dengan kalimat-kalimat yang lembut merayu. Dokter aja kalo ngasih obat, liat-liat pasiennya. Kalo sakitnya ringan, obatnya ringan. Kalo sakitnya parah, ya dosisnya diperkuat. Kan gitu..?? Jadi, yang namanya nulis juga liat-liat audiesnya dan juga liat topik yang diangkat.

Banyak sekali dosen FE Unair yang bilang bahwa mahasiswa FE Unair ini lagi "sakit hati". Dalam arti, gak tau sopan santun, gak tau etika pergaulan, gak tau tata krama, ya kan..?? Itu fenomena yang bisa kita lihat di lapangan. Aku pikir, kasus kepergoknya mahasiswa yang lagi ML di toilet kampus, atau beberapa mahasiswa yang ketahuan lagi "petting", "kissing", dan "touching" di koridor kampus pada jam kuliah, dan kejadian sehari-hari lainnya, merupakan bukti nyata bahwa mahasiswa FE Unair sedang mengalami masalah dengan hatinya. Dengan rasa malunya. Dengan akhlaknya. Dan aku ingin menunjukkan pada teman-temanku tercinta (termasuk yang jadi terdakwa dalam kuegate, tidurgate, dan dudukgate), terutama mahasiswaku yang lain, inilah beberapa contoh "sakit"-nya mahasiswa FE Unair. Harapanku apa? Yaa, supaya gak ada yang meniru. Atau kalau udah terlanjur meniru, ya diperbaiki. Kalau ternyata, yang aku jadikan contoh ternyata kamu, yaaa, anggap aja lagi apes…!!!

Aku tidak pernah menyalahkan atau menjelek-jelekkan orangtuaku. Sama sekali. Aku menjunjung tinggi kehormatan keluargaku dan orang tuaku. Dan juga kehormatan orangtua mahasiswaku. Justru mereka-mereka yang bertingkah laku tidak sopan, gak aturan, gak punya tata krama itulah yang tidak menghargai dan sengaja mempermalukan orangtua mereka sendiri. Kenapa? Dengan bertingkah laku seperti itu, otomatis mereka menunjukkan pada dunia dan berkata bahwa "inilah hasil kerja keras orang tuaku, mendidik aku, sampe jadi manusia yang gak punya aturan seperti ini". Iya, nggak..?

Pertanyaannya, kan, apa emang orangtuanya yang gak bisa mendidik anak mereka itu? Atau emang si anak yang pergaulannya rusak sampe gak bisa membedakan mana yang pantas dan mana yang nggak pantas? Coba, deh, kalian tunjukkan tulisanku kemarin pada orangtua kalian, trus bilang ke mereka "Pak, Bu, yang diceritakan di tulisan itu, yang sikapnya kurang ajar dan gak aturan itu aku, lho..!!" Kira-kira gimana ya respon mereka…????

Blog ini, Insya Allah, tidak menjadi fitnah. Kenapa? Karena yang aku sampaikan adalah kebenaran. Iya kan..??? Ayo, ngaku…!!! Tulisan kemarin aku rilis karena aku yakin banyak yang akan memperoleh pelajaran berharga dari kasus itu. Harapanku sih, terutama ketiga terdakwa di situ. Tapi, kalo emang terdakwanya merasa gak salah dan balik menyalahkan aku, yaaa….bodo amat!! Yang penting, aku mencoba supaya mahasiswaku yang (masih) manis-manis dan terjaga tutur kata dan perbuatannya, tidak ketularan virus berbahaya ini.

Ada media komunikasi yang sebenarnya pada prakteknya dipahami oleh manusia normal, terutama di Indonesia, khususnya di Jawa. Yaitu, media komunikasi non-verbal, seperti gesture, raut wajah, bahasa tubuh, dan lain-lain. Dalam budaya Jawa dan budaya ketimuran lainnya, komunikasi non-verbal bahkan menjadi alat yang lebih utama dibandingkan komunikasi verbal.

Aku sudah menyampaikan "pesan" melalui komunikasi non-verbal kepada ketiga terdakwa di tulisanku kemarin, bahwa "something is wrong". Aku nggak percaya kalau ketiga orang tersebut gak pernah merasakan bahwa sikapku kepada mereka berbeda dibandingkan sikapku pada mahasiswaku yang lain. Lebih kasar, lebih galak, lebih judes, lebih ketus, lebih kaku. Padahal biasanya, yaaaa….tau sendiri deh (Asli..!! Gakk enak ngomongnya, entar dikira narsis, kalo aku bilang diriku ini penuh perhatian, open-minded, nyantai, sabar, kalem, lembut..!! Biarlah orang lain aja yang ngomong, ya..? He..he..). Mestinya, orang yang punya hati yang cukup sensitif bisa menyadari perubahan itu dan bertanya-tanya "mengapa"..?? Apa salahku..?? Justru setelah semua komunikasi non-verbal itu tidak mempan (mungkin ya, karena hati mereka yang mengeras dan membatu itu..) aku gunakan komunikasi verbal. Yaitu melalui blog ini. Ingat, komunikasi verbal tidak harus dilakukan secara lisan. Bisa juga tulisan. Kenapa kok gak pake komunikasi lisan..?? Yaa, karena manusia yang aku hadapi berhati batu, daripada entar diajak ngomong lisan malah bikin sakit hati, ya udah…pake tulisan saja. Biar jelas semuanya. Dan, seperti yang aku bilang sebelumnya, biar semua orang juga mendapatkan pembelajaran bahwa ada pergeseran nilai-nilai moral, etika pergaulan, sopan-santun yang dipakai oleh mahasiswa dewasa ini. Biar para mahasiswaku yang manis-manis bisa terhindar dari virus maut ini. Lagian, toh aku tidak menyebutkan nama. Kalo ada yang ngaku (baik ngaku eksplisit maupun implisit), kan bukan salahku. Ya, nggak..???

Oke, deh..!! Moga-moga aja, ada yang bisa mendapatkan pembelajaran dari apa yang aku tuliskan. Biarpun cuma seorang… Itu pun sudah sangat berarti bagiku.

Kurang Ajar atau Sakit Jiwa..??

Monday, October 9th, 2006

Jam tanganku menunjukkan pukul 11 siang. Aku segera meninggalkan kelasku di MM-UNAIR dan menuju ke ruang kerjaku di TPSDP. Hari ini ada banyak hal yang perlu diurus berkaitan dengan keberangkatan beberapa teman ke New Zealand. Dari bawah, sudah terlihat bahwa ruang TPSDP nampak ramai dengan mahasiswa. Dan buatku itu wajar-wajar saja. Karena emang selama ini, ruang kerjaku sering dijadikan rumah singgah (eh..emangnya anak jalanan..?). Baik oleh mahasiswa yang lagi bete, lagi nunggu kuliah, lagi ngerjain tugas, lagi rendezvous ama si do’i, dan lain-lain. Buatku, kedatangan mereka selalu membawa keceriaan yang berbeda-beda.

Begitu aku masuk ruanganku dan hendak memulai aktivitasku siang itu, tiba-tiba saja gairah kerjaku merosot. Rasa jengkel bercampur sebal plus marah menggumpal menjadi satu..!! Apa sebab..?? Aku melihat ada seorang (mantan) mahasiswaku, 24 tahun, dengan asyiknya tidur menggeletak dengan menggelar kasur di ruang kerjaku. DI RUANG KERJAKU..!!!! Bayangin aja!! Di tengah orang-orang yang lagi sibuk bekerja dan beraktivitas, ada seseorang; yang sebenarnya adalah tamu di ruang kerjaku; numpang tidur..!!! Menggeletak tidur di lantai, menghalangi sebagian jalan, dan tanpa mempedulikan bahwa ini adalah kantor dan saat ini adalah jam kerja. Dan ini adalah kejadian kesekian-sekian kalinya di mana aku melihat dia melakukan hal itu (tidur menggeletak di lantai, pada jam kerja, di ruang kerjaku) dalam empat bulan terakhir ini.

Aku gak bisa membayangkan, apa sih yang ada dalam pikirannya…??? Pikirin deh!! Bayangin!!! Kamu datang bertamu ke tempat kerja temanmu. Temanmu itu udah biasa kamu kunjungi di ruang kerjanya. Suatu ketika, kamu datang pas temanmu lagi sibuk bekerja. Apa ya pantas kalo kemudian kamu numpang tidur di ruang kerja temanmu, saat temanmu sedang sibuk dan repot bekerja, banyak orang yang hilir mudik bekerja, sedangkan sebenarnya rumahmu sendiri gak jauh dari situ dan kamu sendiri gak ada alasan untuk gak pulang..??

Agaknya kebaikanku untuk membolehkan mahasiswa mendekat padaku, memasuki ruang kerjaku, dan lain-lain sudah mulai disalahartikan. Beberapa kekurangajaran nampaknya mulai berani ditampilkan. Mungkin dikiranya aku ini orang yang nggak bisa tersinggung. Mungkin juga dikiranya aku nggak bisa marah. Aku sendiri karena emang dasarnya gak biasa marah meledak-ledak, sehingga gak pernah bereaksi terlalu keras. Tapi, dari betapa dinginnya sikapku, dari betapa ketusnya kata-kataku, dari betapa judesnya pembawaanku, mestinya manusia yang punya hati bisa merasakan perubahan sikapku itu.

Yang lebih membuatku jengkel adalah selain kebiasaannya numpang tidur di ruang kerjaku itu, si mahasiswa tersebut ketika datang ke ruang kerjaku selalu membuat kotor…!! Memberantakkan segala sesuatu. Membuang sampah seenaknya. Meninggalkan kotoran seenaknya. Sehingga, setiap pagi ketika aku masuk ruanganku, aku harus menjadi kacungnya dan membereskan semua kotoran yang ia tinggalkan di ruanganku

Apakah sikap si (mantan) mahasiswa, 24 tahun, yang sengaja tidur di ruang kerjaku, saat jam kerja, saat aku dan yang lain sibuk dengan urusan pekerjaan yang memusingkan, adalah satu-satunya contoh kekurangajaran itu..?? TIDAK..!!!

Ada seorang mahasiswi, 22 tahun, yang sering datang ke ruang kerjaku. Bukan untuk bertemu denganku, tapi dengan Syaiful, rekan kerjaku. Dia selalu datang jam 9.30 pagi, duduuuuuuuuk………terus di samping Syaiful, ngobrolin skripsi dan entah apa lagi, dan dia tidak beranjak dari kursinya saaaaaampe… jam 12 siang. Setiap hari..!!!! Berulang-ulang…!!!! Dan setiap kali dia datang, tak pernah ada salam atau ucapan permisif yang terlontar dari bibirnya. Bluduuuuusss…masuk begitu saja, bagaikan seekor anjing yang menyelinap masuk ke dalam rumah tuannya..!!! Dan keluarpun, plasss…..keluar aja, bagaikan anjing yang berkeliaran mencari makanannya…!!! Tanpa ada kata-kata pamit pada orang-orang yang ada di ruangan itu seolah tak ada manusia yang pantas ia hargai di situ.

Oke, deh, masalah etiket gak usah dibicarakan. (Yaa…mungkin aja kan, ortunya gak pernah ngajari gadis itu etiket bertamu..). Tapi, kenyataan bahwa dia datang setiap hari, dari pagi saaaampee siang, hanya karena pengen duduuuuuuk……dan ngobrooooool……di tengah kesibukan pekerjaan yang kami hadapi setiap hari, terus terang sangat menyebalkan…!!! Bikin sepet mata..!!! Apa ya dia itu termasuk orang yang gak punya sensitivitas, bahwa kalo jam 9 itu adalah waktunya orang bekerja. Dan yang namanya orang bekerja itu gak pantes kalo ditungguin sambil ngobrol. Apalagi ngobrolin hal yang nggak penting…!!! 

Sudah kucoba menunjukkan sikap tak sukaku padanya. Namun toh, kecuekannya ternyata punya kekuatan yang maha dahsyat sehingga rasa tak sukaku ia anggap sebagai angin lalu.

Apa cuma itu contoh mahasiswa FE Unair yang sedang sakit jiwanya…??? TIDAK..!!! Masih ada lagi contoh betapa kurang ajarnya sebagian mahasiswa FE Unair yang sering dolan ke ruang kerjaku. Kali ini contohnya adalah seorang (mantan) mahasiswa, 25 tahun.

Pernah suatu hari, aku selesai menghadiri sebuah rapat dengan rekan-rekan dosen. Saat itu, kulihat ada banyak sekali kue kotak yang masih tersisa. Daripada mubazir, aku langsung meraup beberapa kotak yang masih terisi. Kupisahkan kue-kue itu ke dalam dua buah kotak yang lebih besar. Yang satu untukku, dan yang lain untuk para mahasiswaku yang sering mampir di TPSDP. Telah kutuliskan yang mana kotak kue milikku dan yang mana milik anak-anak; di bagian luar kotak kue itu, dengan tulisan yang besar-besar dan jelas. Kebetulan Syaiful, rekan kerjaku, lewat di depan ruang rapat. Kuberikan kedua kotak kue itu disertai pesan, bahwa yang satu ini milikku dan yang lain silakan dibagi bersama teman-teman mahasiswa yang lagi nongkrong di TPSDP. 

Alangkah terkejutnya aku, ketika aku kembali ke ruang kerjaku, kotak kue milikku sudah berkurang sebagian besar isinya. Yang lebih kurang ajar, yang hilang adalah kue-kue yang terenak dalam kotak itu…!!!! Hanya tinggal dua potong kue yang tersisa dari enam buah isinya semula. Dan, tanpa rasa bersalah sedikitpun, si mahasiswa 25 tahun tersebut mengaku kalau dialah yang mengambil kue-kue dalam kotakku itu dan melahapnya..!!! Sambil tertawa terkekeh-kekeh, dia bercerita dengan nada penuh kemenangan. Dan setelah puas ia tertawa, ia menyodorkan kotak kue satunya lagi, "Ini aja lho, pak, yang nggak enak aja buat pak Sony..!!"

Kau tahu, sejak saat itu rasa respekku pada si mahasiswa itu jadi hilang tak berbekas. Bukan karena beberapa potong kue yang harganya gak sampai Rp 2500 per potongnya. Tapi karena melihat betapa kurang ajarnya ia bersikap. Betapa tidak tahu adatnya, ia bertingkah laku. Dan betapa rendahnya sopan santun yang ia miliki.

Aku sendiri tak pernah berani membuka atau menggeratak barang-barang milik orang lain yang tergeletak di ruang kerjaku. Entah barang milik mahasiswaku atau milik rekanku. Karena aku tahu bahwa itu bukanlah hal yang pantas dilakukan. Tapi ini, dia yang notabene mahasiswaku, orang yang lebih muda dari aku, dengan seenaknya membongkar-bongkar barang milikku dan mengambilnya begitu saja. Tanpa rasa bersalah..!!! Bagiku, itu sebuah kekurangajaran yang luar biasa!!! Aku sendiri tak pernah bisa membayangkan bagaimana seseorang yang punya dua gelar S1 dari dua PTN bisa melakukan tindakan serendah itu..!!!

Dan, asal kau tahu saja, kejadian seperti ini berulang lagi dan melibatkan orang yang sama. Ya, si (mantan) mahasiswa 25 tahun itu..!!!

Ketika seorang rekan dosenku berulang tahun, ia merayakan dengan syukuran kecil di kampus. Tiup lilin dan potong kue disertai makan siang bersama dengan menu sederhana. Saat itu aku tak bisa menghadiri acara itu karena harus mengajar. Rekanku itu kemudian menyisihkan sepotong besar kue dan mengirimkannya untukku dan untuk mahasiswa-mahasiswa yang ada di TPSDP. Karena dia juga tahu bahwa ruang kerjaku banyak dikunjungi mahasiswa.

Saat itu, ruang kerjaku lengang. Tak banyak mahasiswa yang muncul. Hanya dua orang plus Syaiful, termasuk si mahasiswa 25 tahun tersebut. Lalu Syaiful pun membagi potongan besar kue itu menjadi beberapa bagian. Seorang satu bagian. Dan aku diberinya dua potong. Dan bisakah kau menebak apa yang terjadi..?? Mahasiswa 25 tahun tersebut dengan enteng, tanpa berkata apa-apa, meraup dua potongan kue yang  tersisa untukku dan membawanya pulang ke kos-kosannya…!!! Bisakah kau bayangkan dirimu akan bisa melakukan tindakan serendah itu..??!! Untungnya, sebelum keluar, aku sempat bertemu dengannya dan kemudian ia mengeluarkan kue-kue itu kembali sambil berkata dengan enteng,"Wah pak Sony datang, gak jadi pesta besar nih di kos-kosan..!!"

Rekanku yang mengirimi aku kue tersebut sempat tersinggung berat ketika aku ceritakan kejadian itu. "Lha wong, kue itu aku kirim buat kamu kok, lha ngapain dia ngerampok kue itu semua.. Kok gak tau malu banget sih..!!"

Heran aku..!! Bagiku, masalahnya bukanlah kuenya. Penghasilanku sendiri sudah sangat besar kalau cuma buat dibelikan kue-kue seperti itu. Masalahnya adalah betapa rendahnya sopan santun dan tata krama yang ia miliki…!! Betapa ia tidak menghargai orang lain, terutama orang itu usianya jauh lebih tua darinya..!! Apa emang mereka-mereka adalah produk gagal dari sebuah keluarga yang tidak bisa mengajarkan nilai-nilai etika pergaulan kepada anak-anak mereka? Apakah memang mereka dilahirkan dari orang tua yang memang tidak bisa mengajarkan nilai-nilai itu karena emang mereka sendiri tak punya nilai-nilai itu..?? Ataukah emang mereka sendiri yang memiliki kelainan dalam diri dan hati mereka sehingga tak mampu mengenali rasa malu dan rasa menghargai orang lain..??

Apa mereka tidak sadar bahwa apapun yang kita lakukan di masyarakat adalah perwujudan dari keberhasilan orangtua kita mendidik budi pekerti kita..? Keburukan budi pekerti yang nampak pada contoh-contoh di atas tidak lain merupakan bukti kegagalan mereka dan orang tua mereka dalam mempelajari dan mengajari nilai-nilai etika pergaulan, budi pekerti, sopan santun, dan tata krama yang baik.

Mudah-mudahan saja, tiga contoh di atas hanyalah kasus dan bukanlah potret buram mahasiswa FE Unair dewasa ini…