Quo Vadis?
Lulusan yang laris diserap oleh pasar kerja adalah lulusan yang memiliki kualitas akademis bagus (IPK-nya minimal 3,0), punya kemampuan berbahasa Inggris yang cukup baik, punya pengalaman berorganisasi, punya kemampuan komunikasi dan interpersonal yang hebat, dan punya kemampuan untuk mengatur dirinya sendiri dengan baik. Secara teknis, mungkin gambarannya seperti itu, meskipun tidak sama persis.
Lulusan yang lain, yang lebih suka menjadi wirausahawan, juga dituntut untuk punya kelebihan. Mereka dituntut untuk punya kemampuan konseptual yang kontekstual (tapi tidak dilihat dari IPK), sense of business yang tinggi, kemampuan menyusun planning yang hebat dan tepat, kemampuan komunikasi dan interpersonal yang unggul, punya fighting spirit yang luar biasa, dan in many occasions punya kemampuan bahasa Inggris yang memadai.
Para mahasiswaku tersayang, sebagaimana mahasiswa pada umumnya di masa aku kuliah S1 dulu, adalah orang-orang yang penuh vitalitas, penuh keceriaan, penuh semangat, dan punya banyak keinginan. Mereka saat ini terlibat dalam berbagai macam kegiatan yang luar biasa banyaknya. Organisasi yang mereka libati pun buanyak banget, mulai dari BEM, HIMA, SKI, Fosma, forum-forum kajian ilmiah, dan serangkaian organisasi ekstra kampus lainnya. Dan, sebagai orang yang pernah merasakan manis pahitnya kehidupan berorganisasi, aku tahu pasti bahwa hidup berorganisasi memang sesuatu yang layak untuk diicipi karena begitu manis rasanya.
Namun, ada beda antara kehidupan mahasiswa aktivis ormawa dewasa ini dengan, yah..katakan sepuluh tahun lalu. Di masa lalu, mahasiswa aktivis ormawa sering kali identik dengan mahasiswa yang memiliki prestasi akademis yang tinggi. Dan itu bukan hal yang disengaja. Artinya memang mahasiswa yang memiliki prestasi unggul-lah yang melibatkan diri untuk aktif dalam organisasi. Ada juga sih, yang IP-nya tidak terlalu bagus; cuma IPK 2,5, yang ikut-ikutan aktif, namun jumlahnya tidak terlalu banyak. Yang lainnya, yang IPKnya pas pasan merasa cukup sadar diri bahwa mereka lebih baik memusatkan diri pada studi mereka saja. Anehnya, justru mahasiswa aktivis-lah, yang lebih banyak repot dan lebih banyak kegiatannya yang biasanya lulus duluan (karena emang pada dasarnya mereka punya kemampuan akademis yang bagus).
Kalo aku liat sekarang ini, waduuuh…..yang aktif di ormawa kok justru mereka yang IPK-nya pas pasan yaaaa…..?????????? Buuuaanyak yang langganan dapat IP di bawah 2,5 yang melibatkan diri di ormawa. Bahkan di antara mahasiswa yang sangat aktif, sedikit banget yang punya prestasi akademis yang berkilau. Dalam konteks kepanitiaan, waah…malah lebih parah…!!!! Liat aja aktivitas PIKMEN kemarin. Panitianya, dari yang paling atas sampe paling bawah, kebanyakan justru dari kalangan mahasiswa ber-IPK pas-pasan. (Apa emang ini ya, positioning-nya ormawa FE Unair saat ini?). Yang lebih parah, aku bahkan tau sendiri bahwa beberapa mahasiswa yang namanya sudah masuk dalam Daftar Mahasiswa yang Diusulkan untuk Mendapat Sanksi Drop Out tahun ini, masih asyik berkeliaran ngurusin PIKMEN. Beberapa di antara mereka bahkan masuk dalam Tim Evaluator, yang tugasnya mengoreksi kesalahan mahasiswa dan memberikan bentakan-bentakan manis (apa ya nggak malu ya…??? wong dirinya sendiri hampir kena DO kok mengevaluasi orang lain..!! atau mungkin di rumah, mereka gak punya cermin?). Atau kalo ngeliat acara MNC atau Malam Keakrabannya mahasiswa baru Manajemen. Sebagian besar senior yang lantang berteriak-teriak kepada para mahasiswa baru adalah mereka yang IPKnya di bawah 2,75…!!! Bahkan buanyak yang cuma punya IPK berkisar 2,2 atau 2,3..(aku tahu pasti IPK mereka karena kebetulan aku punya daftar nama mahasiswa dan IPK yang mereka capai sampai semester ini)…. Memalukan banget, deh..!!! Aku gak yakin, mereka mau dengan suka rela dan lantang menyebutkan berapa IPK mereka di depan mahasiswa baru….abis, emang mereka mahasiswa level bawah, kok..!! Bukan mahasiswa pintar!! Udah IPK-nya pas-pasan, kalo ngambil mata kuliah harus ngulang berkali-kali sebelum bisa dapat nilai C, eeeh…..studinya molor lagi..!! Isiiin reeek…!!!!
Nah, yang menjadi pertanyaanku adalah, sebenarnya apa ya yang mereka cari dalam kehidupan kemahasiswaan mereka? Dalam bayanganku, kehidupan menjadi mahasiswa adalah moment yang sangat menentukan dalam pembentukan diri dan pribadi kita, sebelum kita terjun ke dunia yang lebih keras dan kejam, yaitu dunia pekerjaan. Apabila kita tidak menyiapkan diri dengan baik, membekali diri dengan sebanyak mungkin keahlian, kemampuan, ketrampilan, maka kita tidak akan punya kesempatan untuk mengulang masa-masa lalu dan memperbaikinya. THERE’S NO COMING BACK..!! IT’S ONE WAY TICKET, BABY..!!
Mahasiswa yang aktif di ormawa memang akan memperoleh pengalaman berorganisasi. Tapi, apakah dengan itu mereka akan dapat menjadikan diri mereka seseorang yang punya keunggulan kompetitif di pasar kerja…??? Bisa ya, bisa enggak. Liat aja..!!
Apakah mereka yang aktif di ormawa adalah mahasiswa yang ber-IPK 3..?? Sebagian besar saat ini, TIDAK..!! Bahkan lebih banyak yang IPK-nya bergelimpangan di level 2,1 sampai 2,3. Apakah mereka yang aktif di ormawa adalah mahasiswa yang punya kemampuan berbahasa Inggris yang bagus..?? Hampir semuanya, TIDAK..!!! Jaaaaraaang banget mahasiswa aktivis saat ini yang punya kemampuan bahasa Inggris yang bagus. Sebagian besar hanya bisa ngomong YES, NO, atau I LOVE YOU aja. Boro-boro mau ngomong bahasa Inggris, ngertiin maksudnya lirik lagu bahasa Inggris aja gak bisa kok..!! Apakah mereka yang aktif di ormawa bisa menjadi orang yang punya sikap kepemimpinan yang bagus, kemampuan presentasi yang tinggi, dan kemampuan komunikasi yang hebat..?? Sebagian besar, jawabannya masih TIDAK..!! Sebagian besar mahasiswa aktivis saat ini masih menjadi laid-back people yang nggak bisa ngomong di depan publik dan nggak bisa menyampaikan pendapat dengan sistematis dan konsisten. Kebanyakan mahasiswa aktivis ketika presentasi di kelas masih menunjukkan bahwa mereka adalah mahasiswa kualitas diskonan dalam hal communication skills. Apakah mahasiswa yang aktif di ormawa adalah orang-orang yang mampu mengelola dirinya sendiri..?? Sebagian besar jawabannya, TIDAK…!!! Liat aja, di antara mahasiswa aktivis, masih buaanyak yang IPK-nya pas-pasan karena terlalu asyik berorganisasi (bukan karena gak mampu atau karena bekerja). Masih buanyak yang kena tilang karena terlalu sering membolos. Masih buanyak yang kalo masuk kelas terlambat. Masih banyak yang nggak tau kapan waktunya belajar dan kapan boleh ngurusi organisasi. Apakah mahasiswa yang aktif di ormawa adalah mereka yang punya bakat untuk menjadi wirausahawan? Mungkin aja, tapi yang jelas sampai sekarang mereka yang aktif di ormawa belum pernah atau jaraaang sekali mengasah kemampuan entrepreneurship mereka…!!! Mereka jarang mengasah sense of business mereka. Dan mestinya, ketika mereka aktif di ormawa, waktu yang mereka miliki untuk mengasah jiwa kewirausahaan jadi berkurang kan..??
Lha kalo sudah gitu, mau jadi apa…???? Apa mahasiswaku tersayang ini mau jadi lulusan yang serba nanggung…??? Lulusan yang mau masuk jadi karyawan perusahaan top, IPK-nya hemat banget. Mau jadi wirausahawan, sense of business gak punya. Mau jadi dosen, gak bisa public speaking. Yaaa…kalo mahasiswi sih enak, kalo emang gak punya "apa-apa" yang bisa dijual ke pasar kerja, sih, udah….kawin aja cepat-cepat, punya anak banyak, jadi ibu rumah tangga, beres..!!! LHa kalo mahasiswaku, yang cowok-cowok, kalo mereka jadi lulusan yang serba nanggung, mau dibawa ke mana hidup mereka kelak..?? Mau dibawa ke mana masa depan keluarga (anak istri) mereka kelak, mengingat merekalah pemimpin keluarga?? Apa mereka emang orang yang nantinya hanya bisa pasrah kalo ijazah S1 mereka hanya bisa mereka gunakan untuk melamar pekerjaan menjadi salesman door to door? Atau pegawai rental komputer? Atau buka warung kelontong kecil di kampung?
Sedih banget, kalo aku memikirkan mereka..!!
Ada begitu banyak kesempatan yang bisa diambil saat ini. Ada begitu banyak hal yang harus disiapkan saat ini agar masa depan bisa lebih bagus dan tertata rapi. Ada begitu banyak hal yang harus dibenahi dan dihilangkan agar masa depan mereka bisa lebih cerah dan menjanjikan. Tapi, berapa banyak di antara mahasiswa yang sadar akan semua itu..?? Kapan mereka akan sadar bahwa besok mungkin sudah sangat terlambat…???
September 11th, 2006 at 3:59 pm
FIRST,,,,
“Yaaa…kalo mahasiswi sih enak, kalo emang gak punya “apa-apa” yang bisa dijual ke pasar kerja, sih, udah….kawin aja cepat-cepat, punya anak banyak, jadi ibu rumah tangga, beres..!!!”
Aduh PLIZZ DEH pak jgn “sexist” dong!! ga’ ada bedanya gt lo,,,lagian susah jg buat mahasiswi untuk cari calon suami yg “qulified”,,
soalnya para calon suami yg T.O.P itu jg hunting calon istri yg T.O.P
kalo kita2 (mahasiswi) ini ga qulified mana bs dpt calon suami yg bakal “KAYA”.
SECOND,,,
I like this blog the most,,,,
nylekit (orang jawa bilang!!)
but it works
THIRD,,,
in my point of view,
kemampuan organisasi itu jg sulit lo, aku sampe sekarang blm merasa bs “hapening” di ormawa,,,ga tau kenapa,,, ato emang akunya yg kuper kok ngerasa ga bs gabung gt,,, jd kesannya sombong bgt!!
I dunno,,,,maybe it’s only my feeling
September 11th, 2006 at 5:16 pm
gilaaa ini blog…. keren bgt… sampe kesindir pak…… kata2 bapak bener2 menampar waajah kuw… mudah2an bisa deh smester ini dibagusin ipk nya.. ngomong2 daftar do sapa aja pak?? takut do nih,,, hix2..
September 11th, 2006 at 6:20 pm
kebutuhan anak muda adalah aktualisasi diri, ketika mereka merasa tidak mampu berjaya di kemampuan akademis maka mereka mencari keunggulan dibidang lain, misal unggul di organisasi, mengasah kemampuan ngebut dikenjeran, atau jadi jago mabok dipergaulannya, dll. intinya: that’s me!!perhatikan aku..aku ada didunia ini!!!!
jadi untuk mereka yang dianugrahi otak yang cemerlang tidak semestinya mengejek dan mencerca mereka yang tidak mampu bersaing di kemampuan akademis. jika saja kalian tidak memiliki otak yang cemerlang pasti juga akan berakhir seperti mereka, bingung akan eksistensi mereka dikampus ini.
ditarik kebelakang, apa sih alasan mahasiswa ber IPK 2.. itu masuk unair. pasti karena dorongan gengsi, tuntutan orang tua, atau sebab2 lain dan bukan karena haus akan ilmu, atau merasa bahwa dikampus unair mereka akan menjadi manusia yang lebih baik.sebagai seorang yang berprofesi dosen maka tidak baik jika hanya diam dan mencerca dari belakang, sebaiknya harus berdiri paling depan mencegah kampus ini dimasuki manusia manusia muda yang tidak mampu berkompetisi didalam kemampuan akademis.
kasihani mereka: buang duit 600rb s.d. 2,5jt tiap 6 bulan,harus beli buku padahal mereka ingin uang itu digunakan untuk ndugem, berangkat kekampus ikut kuliah tanpa mengerti apa yang dibicarakan dosen, menjatuhkan harga diri dengan ngerpek dan copypaste, hati yang remuk redam setiap 6 bulan saat melihat nilai KHS, diancam dengan DO,pelariannya dengan menyibukkan diri di organisasi, saat ini malah dikambinghitamkan sebagai biangnya kemunduran kampus sebagai wadah para intelektual.
September 12th, 2006 at 3:36 am
afwan bapak..
ulan numpang nulis..
Cm pengen tanya..
apa siCh sebenarnya yang kita lihat dari diri seseorang??
to be a good person, ‘the qualified one’, haruskah kita menjudge bahwa yang kita yakini benar adalah yang benar-benar BENAR??
semua orang diCiptakan sempurna, tapi semua orang tidak sempurna..
orang jadul (jaman dahulu, red) belum tentu bisa menghadapi kompleksifitas milenia hari ini, dan begitu juga sebaliknya!
everyone has its own ability to learn and understand more about themself.. and so we..
but how we learn and understand others, is likely more important, than juSt give CritiCal opinion to something that we should understand and appreCiate well..
with all my respeCt
Ulan
September 12th, 2006 at 10:11 am
Hmm…i’m affraid this isn’t a right place for me to give comment. But i really love your cynical writings. So, i can’t hardly try to not ‘nimbrung’ hehehe..
Gak ada salahnya lah Pak Sonny nulis kayak gitu, wong haknya Pak Sonny. Dosen juga manusia gitu lowh. I just hope that you remember the most important thing, Sir, which is, we can’t change people into what we like. So, don’t worry too much about them. Siapa tau dia gak bisa ngomong bhs inggris tapi gape bhs jepang?
Pak Sonny kayaknya sayang banget sama anak-anak didiknya. Pak Sonny pingin semua anak didiknya sukses =) Tapi omelannya di atas bikin aku inget sama ibu-ibu. They always worry about things that the daughters deny. Hehehe. The more the mothers push their daughters to behave like them, the more they’ll be rejected.
I do, love your blog. Enak dibaca, pa lagi sambil ngemil.
September 12th, 2006 at 2:53 pm
Ha.ha..ha…lucu juga aku dikata kayak emak-emak. Iya kali ya..??
September 13th, 2006 at 2:30 am
setudju sama mbak LiL Lia.. (siapa pun anda)…
sering2 nulis ya pak. biar ulan juga sering kasih comment-nya…
September 15th, 2006 at 3:17 am
Ass.wr.wb.
wah Pak…kyaknya bakalan bnyk yg kesindir nih ama tulisan Bpk. tp kyknya ku krg sependapat kl kita men-judge sm aktivs2 yg kbetulan pas2an tu de..cz sbenernya setiap org kan punya tipe sndiri2, n they’re hv their own choice.mhasiswa kan ada bnyak tipenya :
satu, academic oriented only, nah..tipe ini biasax dihuni sm mhs2 dg ipk 3 ke atas.kl mslh ktrmpilsn ex bhs inggris si mgkn jago.tp kbnykan mrk kuper, g tau organisasi.
dua, ormawa oriented,mgkn ip pas2an tp biasax pnya intrepersonal skill yg bagus.
tiga, orientasi kerja, udk krcanduan duit jdx mlah ipk pas2an
empat,yg bkn tipe ke3nya. ini yg plg jelek, based on pengmtan sy ya pak, kbnyakan mhs FE unair tu yg kyak gini. tipe2 hedonis, apatis, oprtunis (n is2 yg laen). jstru hrsnya tipe2 yg kyak gini Pak yg hrs dperhatikan.cz bs menodai citar mhs.kl yg aktvs, tp ipk jlek kn msh mendig(”_”)
trkhir, perfect student,mebe yg dihrapkan Bpk yg kyak gni ya?udh aktivis, pinter, ipk bagus, de el el…but sir, plg cm 1000:1 lo..org yg bs kyak gitu. smua manusia kan pnya kterbatasan Pak. pasti ada slah stu yg hrs dikorbankan.
selain itu, lht kualifikasi mhs kan g harus dari ipk doank,la wong skrg msh bnyak dosen2 yg ngsh nilai dg cara konvensional,cm dlht dr nilai UTS n UAS.
so..sbnere kl mnurutq smua kmnali ke pilihan msg2, n pasti setiap pilihan ada pstf n ngtfnya.
wass…
September 15th, 2006 at 6:40 am
saya cuman berkomentar untuk komentar yang telah diberikan oleh Mie Pha,
saya tidak sepakat dgn pengklasifikasian anda. berikut saya berikan alasannya:
1. untuk academic oriented, mereka tidak semua kuper dan ga tau organisasi, malahan banyak teman2 saya yg academic oriented malah lebih pandai mengkonsep dibandingkan dengan para aktivis, bahkan saya kagum dengan kemampuan mereka, jadi tidak bisa disama ratakan
2. untuk mereka yang mengaku sebagai aktivis, tidak semua mempunyai interpersonal skill yang bagus, malahan klo saya lihat banyak para aktivis yang hanya mengaku sebagai aktivis, tidak pernah berani untuk mengambil resiko, tidak mempunyai negotiation skill yang mumpuni, dan malahan bangga dengan keaktifannya yang maya. jangan pernah bangga dengan pengalaman berorganisasi anda saat ini.
3. untuk yg cari kerja, banyak teman saya yang cari kerja sekaligus kuliah punya ipk yang lumayan (diatas 3, walaupun gak cum laude) ada hanif, desmond, dhani, andri dll.
perfect student memang suatu impian, tapi impian tersebut bukan berarti tidak bisa dicapai. jika impian itu tidak bisa dicapai berarti apa yang diobrolkan oleh pak sony diatas adalah omong kosong belaka.
saya punya banyak teman yang mempunyai pengalaman organisasi yang luar biasa tapi juga mempunyai ipk diatas 3.
jadi jika ada alsan bahwa tipe2 aktivis itu sulit untuk mendapatkan ipk diatas 3 menurutku koq hanyalah sebuah alasan dan pembenaran dari mereka yang mengaku sebagai seorang aktivis.
klo boleh memberi contoh, ada hayat, ayu, budi, dewo’, astri’ (untuk manajemen 2000) terus ada vivi, lia, jihan, nina, saya sendiri (hehehehe), laila, rani, dhani, citra, santi, (untuk manajemen 2001) ada novrys, wasono, farida, (akuntansi 2001), nera, tika, tohari, (IESP 2001)…wah banyak deh
jadi klo ada yang beranggapan bahwa aktivis dg ipk lebih dari 3 itu seperti 1000:1, saya tidak setuju.
September 15th, 2006 at 6:51 am
Sepakat dengan Pak Sony, Aku merasa tertampar, ini bukan pertama kalinya aku mendengar Pak Sony berkata demikian, dan aku rasa semua yang dikatakan benar. Seharusnya teman2 yang mengaku aktivis harus introspeksi diri dan merendahkan hati, karena semua yang dikatakan Pak Sony bukan untuk Pak Sony sendiri, bukan untuk yang lain, tapi untuk kebaikan kita, para aktivis, untuk menjadi lebih baik, dan memang hanya kita sendiri yang lebih tahu tentang kondisi kita sendiri, mari… cobalah introspeksi diri. Lihat comment-nya Ipoel, kalo mereka bisa semua juga bisa. organisasi bukan alasan untuk gagal akademis. satu-satunya alasan adalah diri kita sendiri.
September 15th, 2006 at 4:37 pm
Yang saya syukuri adalah, bisa kenal dengan orang-orang baru, bisa kenal baik dengan orang-orang berpotensi, bisa kenal dengan orang-orang positif.
cuma ada satu pilihan: maju terus!! sesulit apapun kondisinya.. insyaAlloh Alloh akan bimbing. amin…
LULUS ADALAH SYARAT MUTLAK!!! untuk menikah… ;p hehehe…
September 15th, 2006 at 11:36 pm
kalo menurut aq sih,…Ip emang tuntutan dunia kerja tapi g semuanya…coz d tempatq tuh malah dites bisa ato gak ngerjain yang ditugasin.So,persiapin diri gak cuman IP tapi ketrampilan kerja.
September 17th, 2006 at 4:51 am
ooo di FE tu ternyata ada aktivis thoo… baru tau….
aktivitasnya apa ya?