Quo Vadis? (Tanggapan Komentar)

Menanggapi komentar yang muncul di Quo Vadis….

Kutipan dari komentarnya Adika

"…jadi untuk mereka yang dianugerahi otak yang cemerlang tidak semestinya mengejek dan mencerca mereka yang tidak mampu bersaing di bidang akademis…..Apa sih alasan mahasiwa ber-IPK 2 masuk ke FE Unair..pasti karena dorongan gengsi, tuntutan orangtua, atau sebab-sebab lain dan bukan karena haus akan ilmu, atau merasa bahwa di kampus Unair mereka akan menjadi manusia yang lebih baik. Sebagai seorang yang berprofesi dosen maka tidak baik jika hanya diam dan mencerca dari belakang, sebaiknya harus berdiri paling depan mencegah kampus ini dimasuki manusia-manusia muda yang tidak mampu berkompetisi di dalam kemampuan akademik."

Kalo kalian amati dengan cermat, tulisanku Quo Vadis itu sama sekali tidak mengejek atau mencerca mereka-mereka yang kurang secara akademis. Aku hanya mengungkapkan fakta (yang ada data otentiknya) dengan gamblang…!!!  Adalah kenyataan bahwa itulah profil mahasiswa aktivis kita saat ini. Apakah kenyataan itu dianggap sebagai sesuatu yang pahit atau tidak, itu kan kembali pada individu masing-masing, kan..?

Masalahnya adalah, profil itu, yang aku ungkapkan dengan gamblang tadi, tidak disadari oleh banyak orang..!!! Emang pahit, dan pedasnya luar biasa tulisanku itu. Tidak banyak yang tahu gimana sih profil mahasiswa FE Unair saat ini. Tidak banyak yang tahu, apakah mahasiswa aktivis itu memang terdiri dari mereka-mereka yang cukup berhasil secara akademis. Tapi, aku tahu, karena emang kerjaanku adalah melakukan riset atas hal-hal itu semua. Tapi, karena aku menuliskannya dengan nada yang sangat gamblang, kayaknya terkesan seperti mencerca. Padahal, karena apa yang aku tulis itu didukung data otentik dan angka-angka resmi, maka itu bukan cercaan. Itu pengungkapan. Sama seperti seorang jaksa yang mengungkapkan apa yang telah dilakukan oleh terdakwa.

Setau aku, Adika hanya ikut satu mata kuliah yang aku pegang, yaitu SIM. Di semua mata kuliah yang aku pegang, aku selalu menekankan pentingnya soft-skills. Dan di sini, aku tidak tinggal diam. Aku tidak tinggal diam dan hanya mencerca dari belakang…!! Itu statement yang salah dan menyakitkan, karena aku sama sekali tidak tinggal diam, atau mencerca dari belakang.

Justru kalo aku bilang, komentar Adika yang terlalu emosional karena TIDAK MELIHAT DAN TIDAK MENGETAHUI APA YANG SUDAH AKU LAKUKAN UNTUK MENGUBAH PROFIL ITU…iya kan??? Apa yang aku lakukan dan ucapkan di kelas dan di rapat-rapat dosen..?? Apa yang aku rancang dalam program perkuliahan..?? Sekarang, coba deh, dalam kelasku yang banyak presentasi, kebanyakan mahasiswaku yang kebanyakan juga aktivis justru tidak bisa mengungkapkan pendapatnya dengan baik (termasuk Adika, kayaknya, ya..?? Dulu Adika dapet nilai A di SIM hanya karena topik yang diangkat bagus, tapi komunikasinya n ngomongnya kan kurang bagus n kurang terstruktur. Itu pula yang membuat Adika cuma dapet nilai B di ujian skripsi)…. Kalau saja Adika mau mencari tau apa saja yang sudah aku lakukan untuk mahasiswaku, niscaya kamu nggak akan membuat statement menyakitkan seperti yang kau tulis di atas.. (aku rasa aku tidak pernah mencerca di belakang, aku selalu mencerca di depan…!!!)

Kemampuan menuliskan pendapat secara obyektif kan juga menunjukkan kedewasaan emosional seseorang. Apakah seseorang tersebut mampu menyampaikan pendapat secara logis, tidak emosional, rasional, dan didukung data dan fakta yang akurat, atau asal menulis saja tanpa ada back-up argumen yang bisa dipertanggungjawabkan… Kita kan masyarakat ilmiah, rek..!! Masa udah sarjana, bicaranya gak pake data…malu-maluin Unair aja dong…!

Komentar dari Ulan juga bilang bahwa orang-orang jadul belum tentu bisa menghadapi kompleksitas milenia hari ini, begitu juga sebaliknya… (He..he..ternyata aku udah termasuk orang jadul, ya..??)

Justru itu yang aku herankan…!!! Aku sering berkata di kelas, mahasiswa FE Unair masa kini, sudah dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas, mulai dari Internet gratis, koleksi buku melimpah, jurnal gratis, ada semester pendek, ruang kelas ber-AC, dan sebagainya. Dulu, kalo mahasiwa mau nulis skripsi dan butuh jurnal, pasti semua mahasiswa akan berkunjung ke Petra, karena saat itu Unair hanya punya koleksi jurnal tahun 1970an. Kalo butuh buku baru, lari ke library-nya Ubaya, karena Unair masih belum ada ruang baca. Di perpustakaan pusat Unair pun bukunya usang dan penuh debu. Internet masih mahal..!! Apalagi jurnal elektronik. Bandingkan dengan kondisi saat ini. Sekarang sudah begitu banyak buku diterjemahkan, mau beli text book asli pun gampang sekali… Pokoknya begitu banyak kemudahan yang sudah dapat dirasakan mahasiswa sekarang.

Tapi, bagaimana prestasi akademis mahasiswanya…???? TURUN DRASTIS…!!!! Delapan sampai sepuluh tahun yang lalu, tiap angkatan pasti menelorkan lulusan ber-IPK 3 minimal 50%. Sekarang…????? Dari 300 mahasiswa, paling banter hanya 50 orang yang dapet IPK 3. Sebagian besar malah bergelimpangan di area di bawah 2,5….lebih dari 50%…!!!! Mengapa justru mahasiswa yang berada dalam kondisi dengan fasilitas yang serba berkecukupan justru menunjukkan prestasi yang sangat merosot…???

Angkatan tahun 2000 dan 2001 tuh (era-nya Budi Purwono, Ayu, Sotya, dll) yang namanya mahasiswa masih terlihat sangat sangat aktif kalo udah ada di kelas diskusi. Kelasku itu sampe harus dihentikan dengan terpaksa, karena udah mau dipake kelas pada jam berikutnya. Kalo dibiarin aja, mungkin dari sore sampe malem, kuliah diskusinya gak berhenti. Seruuu…banget!!! Tapi, sekarang…??? Melempem kan…?? Padahal mata kuliahnya sama, dosennya sama, materinya sama, jumlah mahasiswanya sama, ruang kelasnya pun sama…!!

Dulu, yang namanya kursus bahasa Inggris tuh jaraaang banget dan mahaaal banget. Tapi kenapa justru mahasiswa2 jaman dulu lebih jago bahasa Inggrisnya dibanding anak-anak sekarang. Padahal sekarang udah banyak lagu dan film berbahasa Inggris yang masuk. Kursus juga sudah cukup murah dan tersebar ke mana-mana. Buku-buku asing lebih banyak. Dan lain-lain..!! Tapi, kenapa dari sekian ratus mahasiswa kok cuma sedikiiiiiiit….. banget yang bisa bahasa Inggris dengan cukup baik.

Kalo mahasiswa mau jujur pada diri mereka sendiri, sebenarnya mereka punya banyak peluang yang bisa mereka manfaatkan. Tapi, kesannya mereka sudah terlalu dimanja dengan berbagai fasilitas yang enak-enak dan nyaman sehingga fighting spirit itu sudah luntur..  Itu yang aku tidak bisa terima..!!!

Pernahkah kalian ini berpikir, bahwa untuk tingkat nasional, mahasiswa FE Unair udah jaraaaaangg banget yang bisa berprestasi. Tiap ada event kaliber nasional yang berbau akademis, kita seringkali kalah dari Unibraw…!!! Bayangin coba..!! Apa itu masih kurang menunjukkan bukti betapa banyaknya hal yang perlu diperbaiki dari mahasiswa kita.

Beda dengan Adika, kayaknya (dan mestinya) Ulan tau bahwa aku udah berbuat cukup banyak untuk meningkatkan kualitas mahasiswa FE Unair. Tapi, usaha yang berasal dari satu pihak itu tidak cukup..!!! Masalahnya sekarang, apakah emang mahasiswa kita udah sadar bahwa ketika mereka lulus nanti, mereka akan menghadapi kondisi pasar kerja yang luar biasa kejamnya…????

Saat ini, 85% posisi manajerial perusahaan terkenal di Indonesia sudah diduduki oleh sarjana dan master lulusan luar negeri. Dan mereka bukanlah orang Indonesia, tapi warga negara India, China, Hongkong, Thailand, Philipina, Vietnam, Malaysia, Bangladesh, Pakistan, bahkan…dari Myanmar…!!!! Kenapa mereka lari ke Indonesia..??? Ya, itu tadi, karena mereka tahu bahwa SDM Indonesia tuh kualitasnya jelek…!!! Manja, minta bayaran mahal, tapi gak punya skill yang mumpuni..!!  Banyak ngomong muluk-muluk tapi enggak ada isinya..!! Itu masukan dan kritikan dari seorang manajer perusahaan asing buat FE Unair, lho..!!

Nah, kalo kondisi di lingkungan sudah sebegitu sengitnya, persaingan bisnis sudah begitu kejamnya, apa perlunya mahasiswa-mahasiswa yang akademisnya pas-pasan itu menghambur-hamburkan waktu untuk kegiatan yang kurang bernilai tambah untuk masa depan mereka..??? Coba deh, tanya sama mahasiswa aktivis di FE Unair yang IPK-nya 2 koma, berapa banyak di antara mereka yang menutupi kekurangan IPK mereka dengan kemampuan bahasa Inggris yang bagus, atau dengan kemampuan lain seperti perpajakan, financial planner, statistika, dan lain-lain…???? Aku kok yakin, jawabannya akan sangat mengecewakan..!!!

Tulisan ini, dan tulisan sebelumnya, memang ditujukan untuk mereka yang masih belum sadar. Apakah harus begitu pedasnya..??? Ya, harus..!!! Ibaratnya, membangunkan orang yang tertidur lelap dan bangun kesiangan dan sulit dibangunkan, yaaa…caranya ditampar aja, atau diguyur air seember…!!!! Kalo orang yang terlena dalam tidurnya, dan dia harus cepat bangkit, terus dibangunkan dengan cara diusap-usap dengan halus, yaaa…..gak bangun bangun deh..!!

Aku sadar, bahwa tidak semua orang bisa menerima apa yang aku sampaikan. Tapi, kalo ada satuuu…. saja mahasiswaku yang membaca tulisanku ini, lalu tergerak hatinya dan mengubah hidupnya dengan sungguh-sungguh, itu sudah cukup bagiku…!!

15 Responses to “Quo Vadis? (Tanggapan Komentar)”

  1. andi Says:

    Ya’ Betul…..

    Bagooooeeeesssss….

  2. ULaN Says:

    makasih buat tanggapan baliknya ya pak :) seperti bapak bilang..
    bahwa mahasiswa sekarang sudah terlalu dimanja dengan berbagai fasilitas yang enak-enak dan nyaman sehingga fighting spirit itu sudah luntur..
    disadari atau belum, sebenarnya itu juga salah satu yang ulan maksud dg “kompleksifitas” hari ini..
    keadaan banyak berubah..
    kalo dulu problemnya adalah ‘fasilitas yang ada belum cukup memadai..’
    nah, kalo sekarang ternyata yang jadi permasalahan adalah fasilitas yang tersedia justru terlalu, dan bahkan teramat sangat memadai..
    do u see what i mean??
    mungkin perlu dipertanyakan juga, apa benar kemajuan teknologi dan informasi selalu berbanding lurus dengan perbaikan dan “kebaikan”??
    we’ll see some day!!
    btw, apa iya data itu identik dg fakta??
    i dont think so…

    (skali lagi good luCk for U..
    n “well done” always –until now–)

  3. adika Says:

    “komentar Adika yang terlalu emosional karena TIDAK MELIHAT DAN TIDAK MENGETAHUI APA YANG SUDAH AKU LAKUKAN UNTUK MENGUBAH PROFIL ITU…

    Saya hanya tertawa saja karena opini anda saya yakini salah..

    “Sebagai seorang yang berprofesi dosen maka tidak baik jika hanya diam dan mencerca dari belakang, sebaiknya harus berdiri paling depan mencegah kampus ini dimasuki manusia-manusia muda yang tidak mampu berkompetisi di dalam kemampuan akademik.”
    sebagai orang yang mendukung gebrakan anda saya sangat kecewa.. apakah dalam statement yang saya buat diungkapkan secara eksplisit bahwa anda yang saya maksud? tidak,dan tidak pernah sekalipun terbersit dalam pikiran saya untuk menjelekkan anda. yang saya maksud adalah dosen yang hanya diam ketika mahasiswanya tidak semangat belajar, tidak pernah melecut mahasiswanya untuk lebih giat belajar, hanya datang kekampus terima gaji tanpa peduli apakah mahasiswa puas, dan lebih menyakitkan lagi jika tidak berusaha mengubah situasi, membiarkan mahasiswanya terlena dan melupakan cita2 mereka saat pertama kali mendaftar sebagai mahasiswa, apakah anda merasa seperti itu?

    “…jadi untuk mereka yang dianugerahi otak yang cemerlang tidak semestinya mengejek dan mencerca mereka yang tidak mampu bersaing di bidang akademis….” ini adalah nasihat untuk diri saya sendiri dan orang-orang yang saya anggap sahabat, prinsip seperti ini yang membuat orang2 disekitar saya tergerak untuk meluangkan waktunya untuk mengajari saya yang bodoh tapi punya niat untuk belajar.

  4. sony Says:

    Sori, deh, kalo emang aku salah tangkep. Tapi nada di kalimatmu, kalo dibaca sama orang, referring-nya ya ke aku lo..!! Coba deh tanya sama teman yg lagi ada di sebelahmu…
    Jadi, lain kali menata kalimatnya yg ati-ati, biar gak ada salah persepsi lagi, ok..??

    Misalnya, kata-kata terakhir Ulan di di komentar di atas, “Well done always until now” itu artinya “selama ini yg aku lakukan udah ok, kecuali sekarang (nulis blog itu). Yg sekarang enggak ok.”
    Nah, apa emang itu maksudnya?

    Yaaa….thank God kita udah dikasih media FS dan blog yg bisa melatih kita untuk trampil menulis.. he..he..

  5. sony Says:

    Oya, Ulan, data dan fakta memang tidak sama. Makanya di kalimatku aku gunakan kata DAN (yg dalam bahasa Indonesia menunjukkan sesuatu yg tidak sama). Di kalimat lain aku gunakan kata-kata “FAKTA yang ada DATAnya”.

    Gimana?

  6. ULaN Says:

    bapak..
    makasih2..
    masih sempetnya nulis2 di tengah kesibukan :) btw, maksud ulan dengan kata “well done” always –until now–, hampir bener, alias nyerempet2.. kan disitu nulisnya pake ‘karakter2′ yang membedakan?? hehe :) bahwa yang bapak lakukan sudah ok, selalu ok, hingga detik ini… detik ketika saya menulis komentar ini.. jadi bukan ttg nulis blog-nya, tapi tentang ‘apa yang sudah bapak lakukan’..
    (malahan buat nulis blog menurut ulan bagus banget!!)
    sekali lagi sudah ok, hingga saat ini,.. tapi… (bukannya mendo’akan), who knows tomorrow??.. bisa jadi “pak sony” yang akan datang, bukan “pak sony” yang sekarang..
    do the best, always.. ok??!
    n be better..

    oia, atu lagi..
    data tidaksamadengan fakta, i agree!! tapi ga perlu dijelasin detail n ngoyo gt khan pak :) i know koq..
    thanX

  7. ULaN Says:

    buat mas adika..
    salam kenal ya..
    good comments u have there, u give opinions bravely.. (niCe!!!)..
    just for an advice (i hope it can be a useful one), next time try to be more wise, ok ;).. (with your wishdom words.. i believe u have, probably u just dont now yet that u already have it)
    thanX ya

  8. adika Says:

    ada 50% lebih mahasiswa ber IPK kurang dari 2,5? Hadapi saja fakta itu! Saya juga sadar bahwa itu memalukan! Tapi bukankah ketika mereka masuk kesini sudah melalui proses penyaringan yang bernama SPMB dan PMDK? Tentunya mereka yang masuk FE adalah anak muda yang terpilih dari sekian banyak anak muda lain di generasi mereka yang tidak memperoleh kesempatan (best of the worst..), bayangkan profil mahasiswa dikampus lain…bayangkan berapa juta anak muda lain yang berkeliaran dijalanan,pub,cafe… ataukah mekanisme penyaringan itu yang harus kita salahkan atas kemunduran profil mahasiswa FE? Tidak perlu..kemunduran generasi muda adalah realitas sosial yang berkembang luas tidak hanya di FE unair, mereka dibentuk oleh kondisi dan situasi..mereka hanya anak2 yang perlu diingatkan kembali mengenai tugas dan tanggung jawab mereka.

    untuk yang lain jangan hanya diam, terpesona, mbaca tekun, manut wae, atau cuma sekedar ngomong Ya’ Betul…..

    Bagooooeeeesssss…. nggak ada pembelajaran yang anda peroleh setelah membaca rilisan2 blog ini, kemukakan disini apa sesungguhnya yang ada dipikiran anda!

    (no offense, no hard feelin)

  9. adika Says:

    makasih untuk ulan..salam kenal jg.

    your comment:with your wishdom words.. i believe u have…….

    wishdom? wish=permintaan/harapan, dom=jarum (in basa jawi, bener? soale aku dudu wong jowo)
    wishdom= minta jarum? hehe..

  10. ipoel Says:

    wuiihhh seru banget!!!!
    cuman yang kurang kayaknya temen-temen aktifis (atau yang merasa jadi aktifis) koq ga ada yang komentar ya…? kesindir, ketakutan ngasih komentar (karena hrs berhadapan dgn dosen.) atau, emang kenyataannya seperti demikian….?
    maaf sebelumnya bila ada kata2 saya yg agak kurang berkenan.
    buat pak sony:
    pak ada berapa dosen yang mempunyai pikiran seperti bapak?
    bukankah malah banyak dosen yang masih terpaku hanya pada satu textbook, merasa bahwa pendapatnyalah yang paling benar, tidak pernah menghargai jawaban mahasiswa, ato paling gak pak, coba kapan2 pak usulin ke pihak jurusan bahwa untuk mata kuliah konsentrasi, maka ketika presentasi haruslah pake bahasa inggris (tapi jangan mahasiswanya aja yang speak english pak, dosennya juga ya….) sehingga kita bisa tau ternyata gak hanya dari mahasiswa yang belum siap bersaing, namun dosen sebagai key of teaching-learning process juga belum siap untuk kondisi yang sama…
    berapa sih pak, dosen yg masih mo sadar bahwa tugas mereka bukanlah memberikan doktrin-doktrin, tapi menjadi sebuah katalisator untuk percepatan mahasiswa dalam memahami realitas yang ada…?
    satu lagi pak…bukannya proses itu suatu hal yang sangat penting, bila ternyata ada data yang menunjukkan bahwa terdapat banyak mahasiswa yang mempunyai IPK < 3.00, maka seharusnya hal tersebut dibahas secara serius di kalangan petinggi dan dosen FE Unair (apa yang sebenarnya telah terjadi, mengapa tercipta begitu banyak mahasiswa dengan nilai IPK < 3, apakah ini berarti bahwa metode yang dilakukan oleh para dosen saat ini tidak lagi bisa dipakai untu saat ini, maka ubahlah metode pengajaran yang ada, kreatiflah pak, bu…, jangan hanya mengandalkan metode pengajaran kuno, yang slidenya dari dulu itu2 aja. pemahamannya ya itu2 aja, gak pernah meng upgrade dengan kondisi yang ada sekarang
    pertanyaan diatas kemungkinan menjadi salah satu sebab yang membuat para mahasiswa tidak lagi enjoy dalam berdiskusi (sekali lagi pak, kemungkinan..)
    tapi disisi yang lain saya juga kecewa dengan teman2 mahasiswa sekarang (dimana daya kritis seorang mahasiswa, dimana budaya diskusi yang dulu pernah ada dikalangan mahasiswa, apakah ini sebuah generasi yang hanya mengembik, tanpa pernah mencoba untuk berani berbeda pendapat)
    apakah ini dikarenakan kita sudah terlalu banyak fasilitas yang memadai (menjadi aneh bila ternyata hal tersebut malah jadi sebuah masalah), karena yang aku tahu, temen2 di UGM mempunyai prestasi yang luar biasa krena disana fasilitasnya sangat memadai,tidak hanya temen2 UGM, ada temen2 PM, UI, ITB dll. tapi disini kondisinya koq malah berbeda (kayaknya menarik untuk dibuat penelitian atau judul skripsi….) aneh khan….?
    nampaknya topik yang kita bicarakan merupakan suatu fenomena aneh yang terjadi di FE Unair, yang saya inginkan cuman…semoga masing2 pihak bisa menyadari akan kekurangannya masing2…(termasuk saya yg ga lulus2, hehehe)

  11. ULaN Says:

    pak, koq belum kasih comment hari ini?? sibuk ya???
    buat mas ipoel… sudah ada wakil dari temen2 aktifis yang kasih comment koq.. met kenal ya :) buat mas adika, maaf salah ketik ‘wisdom’.. taulah maksudnya :) btw, apa mas yakin kalo nggak ada pembelajaran yang kita peroleh setelah membaca rilisan2 blog ini??? (think twice)
    thanX all

  12. guntur Says:

    andaikan semua dosen kayak Pak Sony, uhwhaaahh….. bisa maju FE, andaikan……..

  13. ipoel Says:

    untuk ulan
    yang kumaksud bukan aktivis sepertimu, tapi mereka dg segala aktivitasnya tapi ipknya masih pas-pasan. bukannya mereka seharusnya memberikan suatu alasan yang kuat mengapa hal tersebut terjadi pada diri mereka…?
    (kutahu sih klo di ormawa banyak banget aktivitasnya, bagus…bagus banget cuman klo hal tersebut dijadikan suatu alasan sebagai pembenaran mereka karena ga bisa mencapai ipk > 3, menurutku itu malah membuat jelek para aktivis ormawa. karena yang kutahu banyak para aktivis ormawa yang mempunyai ipk > 3. di akuntansi khan ada novrys, wasono, farida, andi, dll…ya khan
    oh ya untuk pak sony…
    maksud comments saya diatas cuman ingin ngingetin semua pihak. toch klo akhirnya nilai rata2 ipk mahasiswa (terutama manajemen) naik maka yang bahagia khan banyak pihak. selain mahasiswa khan dosen, pihak jurusan, dekanat juga bisa ikut berbahagia, ya khan pak
    peace deh pak… hehehehe

  14. J A Y Says:

    saya setuju sama comment mas ipoel yang di atas postingannya ulan. FE unair ini kan seharusnya organisasi, tapi kenapa tidak berperilaku layaknya organisasi yang pernah diajarkan dosen mata kuliah yang berkaitan dengan organisasi? hayooo!!!
    misalnya ya kaya yang ditulis mas ipoel di atas. kenapa pihak universitas tidak menganalisis sebab dari fenomena penurunan IPK mahasiswa, dimana IPK seringkali jadi indikator tunggal kualitas mahasiswa?
    yang lainnya, misal, tiap semester selaluuu aja ada perubahan jadwal, kelas yang di pecah, keluhan terhadap kinerja akademik, pasti dan mutlak hadir! kenapa ga pernah ada perbaikan kinerja? FE unair bukan organisasi yang mampu belajar kah?
    masalah buruknya output mahasiswa memang seharusnya hasil kerja 2 arah, mahasiswa dan universitas. kalo sekarang faktor mahasiswanya sudah di kupas habis-habisan kenapa faktor universitas tidak sering dikupas habishabisan?
    kalo mau pedes, banyak banget dosen yang ngajarnya asal - asalan, asal pasang slide, asal ngomong, asal masuk, nilainya juga asal.. beberapa mata kuliah ada yang pemeberian nilainya serasa ‘ajaib’, dan tidak transparan. walaupun sudah ada sistem komputer untuk liat nilai semester berjalan, tapi dosen yang tidak mem-publikasikan nilai ujian juga masih ada aja. dan ujung - ujungnya kalo ada nilai yang ‘mengejutkan’ mahasiswa cuma bisa ngulang aja kan?
    contoh lain, misal ada mahasiswa kena korban pecah kelas, dan jadwalnya dipindah, kebetulan berbarengan dengan jadwal kuliah lainnya. otomatis dia harus kprs, tapi problemnya mata kuliah itu termasuk favorit, dan hampir mustahil untuk dapat kelas yang masih kosong. kalo mengadu ke akademik, jawaban yang didapet adalah ‘kalo kress ya salah satu harus dilepas’ dengan nada ketus dan wajah tidak melihat lawan bicaranya. nantinya si mahasiswa tadi bakal molor setahun kuliahnya, dan kalo masa studi jadi indikator kualitas mahasiswa, rasanya situasi yang berkembang saat ini menjadikan FE unair adalah kampus yang ber-handicap. tanya kenapa?
    yang jelas masih banyak KEAJAIBAN FE Unair yang lainnya….

  15. sony Says:

    Sori, ya..Ulan dan semuanya. Baru kembali dari Yogya, ada pertemuan TPSDP. Jadi baru sekarang baca comment.

Leave a Reply