Archive for September, 2006

Bayu; Tamu Istimewaku

Wednesday, September 20th, 2006

Aku menuliskan namaku pada lembar kuitansi yang ada di halaman belakang brosur permohonan bantuan takjil dan penyaluran zakat fitrah. Pada hari-hari menjelang Ramadhan seperti ini, permohonan bantuan seperti itu emang banyak berdatangan ke rumahku, dan aku selalu berusaha semampuku untuk memenuhi permohonan itu. Dan malam ini kebetulan aku bertemu langsung dengan salah seorang panitia yang menyerahkan permohonan itu ke rumahku. Ia mewakili sebuah yayasan yatim piatu di daerah Sepanjang, Sidoarjo. Kuajak masuk ke dalam rumah sembari menyiapkan segala sesuatunya. Aku kadang heran, kok bisa-bisanya mereka nyasar datang ke rumahku padahal setelah aku tanya, pengurusnya nggak ada yang aku kenal. Namun, aku sih tidak terlalu hirau dengan hal itu. Yang penting, kalo aku yakin permohonan bantuan itu emang layak untuk diperhatikan, biasanya aku tak segan menyisihkan sebagian rizkiku untuk mereka.

Setelah kuserahkan sejumlah uang pada lelaki muda yang duduk di depanku, urusan "bisnis" pun selesai. Aku mempersilakan lelaki muda itu untuk menikmati minuman dan makanan ringan yang kusediakan. Beberapa saat kami membicarakan berbagai macam hal, mulai dari permohonan bantuan yang menipu masyarakat, tentang panitia pembangunan masjid yang gak tau aturan, dan banyak hal lain. Tampak jelas betapa cerdas lelaki muda itu berpikir dan betapa lugasnya ia berucap. Setelah beberapa saat bercakap-cakap, pertanyaan klasikpun keluar. 

"Anda sendiri masih sekolah atau sudah kuliah, dik?"tanyaku.

Ia tersenyum simpul. Tak langsung menjawab.

"Saya baru lulus SMU, pak. Tahun ini. Tapi saya nggak kuliah. Nggak ada biaya. Jadi, sekarang ini pagi saya belajar sendiri di yayasan, dan kalo sore dan malam saya cari uang. Ngasih les matematika untuk anak-anak SD. Yaah..buat nambah-nambah uang saku, pak," jawabnya ringan.

Aku sedikit terkejut. Meskipun anak lulus SMU nggak bisa melanjutkan ke bangku kuliah bukanlah fenomena baru di kota besar, namun tetap saja aku merasa sedikit terpukul. Belum pernah aku berbincang langsung dengan anak SMU yang gak bisa kuliah karena gak ada biaya. Dan entah kenapa, aku merasa tercengang. Tak pantas rasanya anak dengan kecerdasan seperti dia harus memupus habis harapannya untuk melanjutkan sekolah karena alasan biaya. Aku perhatikan dia lebih dalam sambil mendengarkan ceritanya.

"Saya sudah tak punya orangtua, pak. Ayah ibu saya sudah lama meninggal. Keluarga dekat juga nggak kenal dan nggak tau ada di mana. Selama beberapa tahun terakhir ini saya tinggal di yayasan anak yatim piatu ini (ia menunjukkan kembali brosur permohonan takjil tadi). Begitu lulus SMU, karena gak ada biaya, ya saya bekerja. Mau kuliah sih, tapi nggak mungkin. Siapa yang mau ngasih biaya? Lagian, rasanya malu kalo saya masih harus ngerepotin kakak-kakak saya di yayasan, minta uang buat biaya kuliah. Mending uang yayasan buat adik-adik saya sekolah SD atau SMP. Saya bahkan harusnya udah bisa menghidupi diri saya sendiri. Dan kalau bisa ya, membantu adik-adik saya sekolah. Ya hitung-hitung, sekarang ini giliran saya membantu orang lain, setelah bertahun-tahun saya dibantu orang…"

Tak urung, hatiku luruh mendengar ucapannya. Tak mampu menahan rasa haru yang meluap di batinku. Mataku terasa panas. Kucoba sekuat tenaga menahan air mata yang akan tumpah berderai-derai.

Kupandangi dia. Lelaki muda bertubuh kurus dan berkacamata yang ada di depanku. Dalam kegetiran hidup yang dia alami, tak sedikitpun kudengar nada penyesalan dalam suaranya. Ia tetap duduk dengan tegak. Tak menundukkan matanya sekalipun untuk menekuri nasib yang tak berpihak padanya. Begitu tegar ia menghadapi kenyataan hidup yang begitu jauh berbeda dengan apa yang dia harapkan. Begitu bijak ia menerima segala apa yang memang menjadi haknya, meskipun ada dambaan lain yang belum ia dapatkan dalam hidup ini. Begitu bersahaja!!

Dan ketika kuantar ia sampai ke pintu, kudoakan ia supaya bisa meraih harapannya. Kutanyakan padanya, apakah ia masih memiliki harapan untuk suatu waktu nanti bisa meneruskan pendidikannya.

"Terima kasih, pak, atas doanya. Bapak baik sekali. Tapi, rasanya saya harus siap dengan kondisi saya seperti ini. Saya tetap berdoa kepadaNya. Saya yakin, apapun yang saya dapatkan, Insya Allah itu yang terbaik buat saya. Dan saya siap, apa pun itu.."

Menggeletar hatiku mendengar jawabannya. Begitu sederhana hatinya, namun begitu agung. Betapa ia begitu penuh harap namun juga begitu pasrah. Kucoba menghapus bulir air mata yang sudah bertengger di ujung mataku. Kagumku melihat kedewasaan yang terlihat jelas pada diri lelaki muda yang usianya lebih muda belasan tahun dariku. Dan, perlahan aku pun bertanya dalam hatiku,"Ya Allah, sudahkah aku mensyukuri nikmatMu seperti lelaki ini..??"

Malam ini, aku kedatangan tamu istimewa, yang mengingatkanku untuk selalu menghargai dan mensyukuri kenikmatan sekecil apapun yang kuterima dalam hidup ini. Tamu istimewa yang mengingatkanku untuk senantiasa tegar menerima apa pun suratan takdir yang memang telah tergores untukku. Tamu agung yang telah menampar hatiku untuk senantiasa ingat bahwa masih banyak manusia lain yang tak seberuntung aku dalam hidup ini.

Terima kasih, Bayu; tamu istimewaku…

Datanglah di lain waktu. Aku perlu banyak belajar darimu…

C’est la Vie..!

Sunday, September 17th, 2006

Banyak yang bertanya-tanya; bahkan sedikit menggugat, kenapa kok yang aku kritik dan kupas habis-habisan dalam banyak tulisanku adalah mahasiswa. Terutama dalam dua rilisanku yang terakhir. Mereka mempertanyakan mengapa tidak ada "gugatan" dan "kritikan" bagi universitas sebagai institusi yang mewadahi para mahasiswa tersebut. Dalam beberapa komentar, tertulis bahwa pihak institusi toh juga tidak mampu menampilkan kinerja yang memuaskan, baik karyawan non-akademik maupun para dosennya. Kenapa gak disorot juga..??

Sebenarnya jawabannya cukup sederhana. Alasan pertama, jelas karena aku adalah bagian dari sistem pendidikan di Indonesia, specifically FE Unair. Menyampaikan kritik tentang institusi tentu bukan di sini tempatnya. Tidak pantas rasanya kalo aku, meminjam istilahnya Adika, mencerca dari belakang. Maka komentar-komentar tentang institusi pun aku salurkan lewat wahana lain. Bukan di sini. Apalagi mengingat yang membaca tulisan ini sebagian besar mahasiswa. Lha buat apa aku; seorang dosen, mengkritik institusiku di forum yang audiens-nya mahasiswa..?? Tidak akan ada solusi dan benefit yang akan muncul. Mendingan aku keluarkan omonganku ke forumnya para dosen.

Ada alasan lain kenapa aku jarang sekali mengaitkan juuueleknya…prestasi mahasiswa FE Unair saat ini dengan kinerja institusi. Meskipun emang keduanya punya hubungan yang cukup erat. Mau tau alasannya? Aku ingin supaya mahasiswaku menyadari bahwa kondisi dan kinerja institusi yang buruk adalah situasi yang boleh dibilang sudah "given". Sudah ada sejak mereka belum masuk ke kampus ini. Sudah berurat berakar sejak aku sendiri masih kuliah di kampus ini. Kondisi yang sudah given ini tidaklah dapat dijadikan alasan di balik rendahnya prestasi mahasiswa akhir-akhir ini. Kenapa..?? Lha wong dulu, pegawainya juga orang-orang itu kok..!! Dosen yang dihadapi mahasiswaku juga dosen-dosenku dulu..!! Istilahnya, ini udah state condition.

Kalo ada yang nanya,"Yaa, gimana mungkin mahasiswa bisa berprestasi kalo kampusnya jelek layanannya, dosennya kalo ngajar seenaknya, dst dst..!!"

Emang bener sih. Cuumaaaa…..please, deh, jangan jadikan situasi dan kondisi yang kalian hadapi sebagai alasan di balik rendahnya prestasi dan kemampuan kalian..!!! Kenapa..?? Karena yang bertanggung jawab atas keberhasilan diri kalian adalah kalian sendiri. Yang akan memperoleh manfaat terbesar kalo kalian berhasil adalah kalian sendiri.

Dalam setiap kelasku, aku sering bertanya kepada mahasiswaku yang mengulang mata kuliahku lebih dari sekali. Kenapa dia gagal di mata kuliahku? Sedangkan tingkat kelulusan di setiap kelas yang aku pegang rata-rata 80%. Trus aku tanya lagi, siapa dosen yang paling mereka sukai. Setelah mereka memberikan satu dua nama dosen, aku tanya lagi, dapat nilai apa di mata kuliah dosen favorit kalian? Boleh percaya boleh enggak, aku belum pernah mendapatkan jawaban bahwa mereka (yang mengulang lebih dari sekali di kelasku, dan aku tanyain) bisa memperoleh nilai A, AB, atau B di mata kuliah yang diasuh oleh dosen yang mereka sukai. Lha terus, apa relevansinya kalo mereka kemudian mengeluh bahwa mereka harus berkali-kali mengulang mata kuliahku (sampai ada 2 orang yang tahun ini terancam DO karena gak lulus di mata kuliahku, dan 15 orang lainnya akan terancam juga kalo gak bisa lulus mata kuliahku tahun depan)..lha wong di mata kuliah yang dosennya mereka sukai aja mereka gak bisa dapet nilai yang lumayan..??? Dan, yang lebih aneh, mereka mereka yang ngulang berkali-kali itu berasal dari SMA Negeri di Surabaya, keluarganya rata-rata cukup berada, kebanyakan malah kuliah naik mobil, dan….mereka tidak dipusingkan karena harus bekerja. Mereka cuma kuliah thok..!!! Dan biasanya, mereka-mereka inilah yang cenderung menyalahkan dosen sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas jeleknya prestasi mereka.

Buat aku pribadi, orang yang cenderung menyalahkan lingkungan sekitarnya atas apa-apa yang gagal yang ia lakukan adalah orang yang tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Ia adalah orang yang hanya mengandalkan situasi dan kondisi yang kondusif untuk bisa maju. Orang yang tidak bisa berdiri sendiri. Selalu menggantungkan pada orang lain.

Aku sering menyampaikan di kelasku, "Jangan pernah bilang, bahwa kalian gagal dapat nilai bagus karena dosennya galak, judes, isinya marah-marah melulu, ngajarnya nggak enak, suasana kelasnya mencekam, tugasnya nggak diperiksa, atau alasan-alasan lainnya yang intinya adalah your performance is bad because other’s is bad as well..." Ini adalah sebuah prinsip hidup yang aku anggap sangat penting. Kenapa..??? Karena nantinya, entah di dunia pekerjaan atau di dunia profesi atau di dunia bisnis, kalian tidak akan dapat memilih kondisi yang kalian hadapi. Kalian mau tidak mau harus mampu beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang bagaimanapun jeleknya, agar kalian bisa mencapai apa yang kalian inginkan. Apa kalo kalian diterima kerja di sebuah MNC, dengan jenjang karir yang bagus dan reward yang lumayan, terus ternyata suasana kerja di sana tidak menyenangkan buat kalian, orang-orangnya nggak kalian sukai, dan lain-lain….apa kalian juga akan menyalahkan kondisi itu kalo kalian nggak bisa maju..?? Siapa yang akan mau peduli kalo kalian bilang,"aku keluar aja deh dari perusahaan itu, habis atasanku galak dan judes." Dalam hidup ini, kalian akan selalu menghadapi bahwa kalian berada dalam lingkungan yang tidak menyenangkan bagi kalian. Dan kalian harus hadapi itu!! Entah gimana caranya, pokoknya kalian survive dan mengatasi hambatan itu!! Seseorang yang menghadapi situasi dan kondisi yang tidak menguntungkan bagi dirinya hanya bisa memilih, mau keluar dari situasi kondisi itu, mau menerimanya sebagai bagian dari nasib, atau mau bersikap adaptif dan menyesuaikan diri.

Kalo emang kalian bener-bener gak cocok dengan situasi kondisi yang kalian hadapi, ya udah keluar aja dari situasi kondisi itu..!! Cari situasi dan kondisi yang lebih baik. Kalo dalam konteks FE Unair, aku yakin kok kalian bisa merasakan betapa jeleknya layanan FE Unair sejak kalian semester awal. Kenapa nggak keluar dari dulu aja..cari kampus yang lebih kondusif dan bener-bener sesuai seperti yang kalian harapkan…?? Kalo emang kalian nggak bisa pindah karena alasan switching cost yang tinggi, yaaa…itu pilihan kalian..!! And, as I told you repeatedly, you must be responsible with any choices you have made..!!  Kalo udah sadar bahwa kondisinya kayak gitu, yaa jangan cuma komplain aja donk. You must struggle for your own life..!! And that’s basic principle of life..!!

Mau menganggap bahwa kalian masuk FE Unair dan mendapat layanan yang buruk dari karyawan dan dosen adalah bagian dari nasib..?? Trus mengatakan pada dunia bahwa, kalian tidak bisa perform dengan baik karena kalian kuliah di kampus yang emang jelek..? Siapa yang mau tau akan hal itu..?? Apakah perusahaan yang kalian lamar akan peduli bahwa IP kalian jembrot karena dosennya nggak becus ngajar..?? Apakah rekan bisnis kalian akan peduli bahwa kalian nggak tau banyak hal tentang konsep-konsep aplikatif bisnis karena dosen kalian text-book oriented..?? No way..!! Kalo emang dosen kalian nggak becus ngajar, apa kalian udah berusaha keras untuk belajar sendiri..?? Memperkaya wawasan kalian sendiri..?? Memperluas pengalaman kalian sendiri..?? Kalau kalian emang mau jadi wirausahawan, apa kalian udah berupaya untuk melatih sense of business kalian..?? Sudah berusaha untuk mengasah jiwa itu dan menceburkan diri dalam kegiatan-kegiatan kewirausahaan…??

Intinya, APA YANG SUDAH KALIAN LAKUKAN UNTUK MEMPERBAIKI JELEKNYA SITUASI DAN KONDISI YANG KALIAN HADAPI, DEMI MASA DEPAN KALIAN SENDIRI..???

Mengkritik dan mencerca jeleknya layanan kampus dan tidak becusnya dosen mengajar memang wajar-wajar saja mengingat kalian (dalam konteks ilmu pemasaran) adalah pelanggan. Tapi, apakah itu cukup..??? Apa itu memberikan solusi buat kalian sendiri..?? Sekali lagi, yang bertanggung jawab atas diri dan masa depan kalian adalah kalian sendiri. Situasi dan kondisi yang negatif memang menjadi faktor yang tidak menguntungkan, namun aku selalu percaya bahwa situasi dan kondisi itu hanyalah supporting factors. Bukanlah faktor utama. Yang aku yakini adalah yang paling menentukan keberhasilan kita adalah diri kita sendiri (atas izin-Nya tentu saja..).. ..bukan orang lain..!!

Makanya kalo ada komentar-komentar yang berkata bahwa sekarang ini situasinya berubah, tantangan lebih banyak, sementara pihak dosen gak terlalu peduli pada mahasiswa, layanan karyawan juga nyebelin banget, dan mahasiswa dihadapkan pada berbagai macam kondisi yang bisa menggoyahkan motivasi mereka untuk maju dan berprestasi….aku selalu berpikir. C’est la vie..!!! Ya, inilah hidup..!!! Mau nggak mau, kalian harus hadapi. Siapapun di antara kalian yang bisa menemukan cara paling efektif untuk mengatasi situasi dan kondisi yang jelek ini adalah yang paling mampu bersaing di dunia bisnis dan dunia pekerjaan..!!!

Tiap jaman dan tiap generasi memang dihadapkan pada tantangannya sendiri-sendiri. Emang benar..!! Tapi tuntutan untuk menjadi manusia yang berhasil, lulusan yang berkualitas, SDM yang unggul, dan tuntutan-tuntutan lain dalam hidup tidak pernah berhenti…!!! Bahkan tuntutan itu makin tinggi saja..!! Dulu, tahun 1980an yang namanya mahasiswa kuliah di kampus itu diharapkan untuk lulus dalam waktu sesingkat mungkin, dengan nilai sebaik mungkin, dan dapat penghasilan setinggi mungkin. Tuntutan itu saat ini pun ada..!! Sama..!! Bahkan lebih ketat lagi. Kalo tahun 1980an, lulus dengan IPK 3,10 aja udah jadi lulusan ber-IPK tertinggi, akhir 1990an ketika aku wisuda, lulusan IPK di atas 3,5 bertebaran. Dulu, melamar kerja IPK 2,75 udah bisa dapat posisi bagus di perusahaan ngetop. Sekarang kalo belum 3,25 kayaknya masih agak sulit. Kalo dulu, nggak usah kuliah juga bisa bikin bisnis yang bagus dan hebat. Tapi sekarang, pengetahuan dan teori bisnis ternyata semakin diperlukan oleh wirausahawan sekalipun. See..?? Tuntutannya sama…!!! Dengan level of demand yang lebih tinggi.

Nah, kalo pasar tenaga kerja alias perusahaan-perusahaan pencari tenaga kerja hanya peduli bahwa you failed on your study dan tidak peduli you failed because your lecturers didn’t teach you well, so ngapain dari dulu kalian berkilah terus bahwa "harap maklum kalo IPK saya jelek, karena dosen saya nggak bisa ngajar..!!" Who cares..!! Bukankah sebaiknya, kalian mulai belajar menerima jeleknya kualitas dan layanan dosen dan karyawan kampus sebagai hambatan dan kalian cari gimana caranya supaya hambatan ini tidak menyebabkan kalian meraih prestasi studi yang buruk.

Aku tidak menulis rilisan ini untuk membuat pembelaan atas jeleknya kualitas layanan dosen dan karyawan. Aku tau juga bahwa kualitas layanan dosen dan karyawan FE Unair masih jauh dari menyenangkan. Namun, aku ingin, supaya mahasiswaku bisa menganggap hambatan-hambatan ini sebagai kondisi yang harus mereka hadapi dan pecahkan agar tujuan hidup mereka bisa tercapai dengan baik. Yakin deh, selama kalian masih melulu menyalahkan dosen dan karyawan atas jeleknya prestasi kalian..maka kalian tidak akan bisa memperbaiki kinerja kalian sendiri..!!

So, start thinking on how you can perform well in your study…!! Please stop blaming others and try to be more responsible for your own sake..!! You are the only one who is responsible for your own future and no one else is.

Quo Vadis? (Tanggapan Komentar)

Tuesday, September 12th, 2006

Menanggapi komentar yang muncul di Quo Vadis….

Kutipan dari komentarnya Adika

"…jadi untuk mereka yang dianugerahi otak yang cemerlang tidak semestinya mengejek dan mencerca mereka yang tidak mampu bersaing di bidang akademis…..Apa sih alasan mahasiwa ber-IPK 2 masuk ke FE Unair..pasti karena dorongan gengsi, tuntutan orangtua, atau sebab-sebab lain dan bukan karena haus akan ilmu, atau merasa bahwa di kampus Unair mereka akan menjadi manusia yang lebih baik. Sebagai seorang yang berprofesi dosen maka tidak baik jika hanya diam dan mencerca dari belakang, sebaiknya harus berdiri paling depan mencegah kampus ini dimasuki manusia-manusia muda yang tidak mampu berkompetisi di dalam kemampuan akademik."

Kalo kalian amati dengan cermat, tulisanku Quo Vadis itu sama sekali tidak mengejek atau mencerca mereka-mereka yang kurang secara akademis. Aku hanya mengungkapkan fakta (yang ada data otentiknya) dengan gamblang…!!!  Adalah kenyataan bahwa itulah profil mahasiswa aktivis kita saat ini. Apakah kenyataan itu dianggap sebagai sesuatu yang pahit atau tidak, itu kan kembali pada individu masing-masing, kan..?

Masalahnya adalah, profil itu, yang aku ungkapkan dengan gamblang tadi, tidak disadari oleh banyak orang..!!! Emang pahit, dan pedasnya luar biasa tulisanku itu. Tidak banyak yang tahu gimana sih profil mahasiswa FE Unair saat ini. Tidak banyak yang tahu, apakah mahasiswa aktivis itu memang terdiri dari mereka-mereka yang cukup berhasil secara akademis. Tapi, aku tahu, karena emang kerjaanku adalah melakukan riset atas hal-hal itu semua. Tapi, karena aku menuliskannya dengan nada yang sangat gamblang, kayaknya terkesan seperti mencerca. Padahal, karena apa yang aku tulis itu didukung data otentik dan angka-angka resmi, maka itu bukan cercaan. Itu pengungkapan. Sama seperti seorang jaksa yang mengungkapkan apa yang telah dilakukan oleh terdakwa.

Setau aku, Adika hanya ikut satu mata kuliah yang aku pegang, yaitu SIM. Di semua mata kuliah yang aku pegang, aku selalu menekankan pentingnya soft-skills. Dan di sini, aku tidak tinggal diam. Aku tidak tinggal diam dan hanya mencerca dari belakang…!! Itu statement yang salah dan menyakitkan, karena aku sama sekali tidak tinggal diam, atau mencerca dari belakang.

Justru kalo aku bilang, komentar Adika yang terlalu emosional karena TIDAK MELIHAT DAN TIDAK MENGETAHUI APA YANG SUDAH AKU LAKUKAN UNTUK MENGUBAH PROFIL ITU…iya kan??? Apa yang aku lakukan dan ucapkan di kelas dan di rapat-rapat dosen..?? Apa yang aku rancang dalam program perkuliahan..?? Sekarang, coba deh, dalam kelasku yang banyak presentasi, kebanyakan mahasiswaku yang kebanyakan juga aktivis justru tidak bisa mengungkapkan pendapatnya dengan baik (termasuk Adika, kayaknya, ya..?? Dulu Adika dapet nilai A di SIM hanya karena topik yang diangkat bagus, tapi komunikasinya n ngomongnya kan kurang bagus n kurang terstruktur. Itu pula yang membuat Adika cuma dapet nilai B di ujian skripsi)…. Kalau saja Adika mau mencari tau apa saja yang sudah aku lakukan untuk mahasiswaku, niscaya kamu nggak akan membuat statement menyakitkan seperti yang kau tulis di atas.. (aku rasa aku tidak pernah mencerca di belakang, aku selalu mencerca di depan…!!!)

Kemampuan menuliskan pendapat secara obyektif kan juga menunjukkan kedewasaan emosional seseorang. Apakah seseorang tersebut mampu menyampaikan pendapat secara logis, tidak emosional, rasional, dan didukung data dan fakta yang akurat, atau asal menulis saja tanpa ada back-up argumen yang bisa dipertanggungjawabkan… Kita kan masyarakat ilmiah, rek..!! Masa udah sarjana, bicaranya gak pake data…malu-maluin Unair aja dong…!

Komentar dari Ulan juga bilang bahwa orang-orang jadul belum tentu bisa menghadapi kompleksitas milenia hari ini, begitu juga sebaliknya… (He..he..ternyata aku udah termasuk orang jadul, ya..??)

Justru itu yang aku herankan…!!! Aku sering berkata di kelas, mahasiswa FE Unair masa kini, sudah dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas, mulai dari Internet gratis, koleksi buku melimpah, jurnal gratis, ada semester pendek, ruang kelas ber-AC, dan sebagainya. Dulu, kalo mahasiwa mau nulis skripsi dan butuh jurnal, pasti semua mahasiswa akan berkunjung ke Petra, karena saat itu Unair hanya punya koleksi jurnal tahun 1970an. Kalo butuh buku baru, lari ke library-nya Ubaya, karena Unair masih belum ada ruang baca. Di perpustakaan pusat Unair pun bukunya usang dan penuh debu. Internet masih mahal..!! Apalagi jurnal elektronik. Bandingkan dengan kondisi saat ini. Sekarang sudah begitu banyak buku diterjemahkan, mau beli text book asli pun gampang sekali… Pokoknya begitu banyak kemudahan yang sudah dapat dirasakan mahasiswa sekarang.

Tapi, bagaimana prestasi akademis mahasiswanya…???? TURUN DRASTIS…!!!! Delapan sampai sepuluh tahun yang lalu, tiap angkatan pasti menelorkan lulusan ber-IPK 3 minimal 50%. Sekarang…????? Dari 300 mahasiswa, paling banter hanya 50 orang yang dapet IPK 3. Sebagian besar malah bergelimpangan di area di bawah 2,5….lebih dari 50%…!!!! Mengapa justru mahasiswa yang berada dalam kondisi dengan fasilitas yang serba berkecukupan justru menunjukkan prestasi yang sangat merosot…???

Angkatan tahun 2000 dan 2001 tuh (era-nya Budi Purwono, Ayu, Sotya, dll) yang namanya mahasiswa masih terlihat sangat sangat aktif kalo udah ada di kelas diskusi. Kelasku itu sampe harus dihentikan dengan terpaksa, karena udah mau dipake kelas pada jam berikutnya. Kalo dibiarin aja, mungkin dari sore sampe malem, kuliah diskusinya gak berhenti. Seruuu…banget!!! Tapi, sekarang…??? Melempem kan…?? Padahal mata kuliahnya sama, dosennya sama, materinya sama, jumlah mahasiswanya sama, ruang kelasnya pun sama…!!

Dulu, yang namanya kursus bahasa Inggris tuh jaraaang banget dan mahaaal banget. Tapi kenapa justru mahasiswa2 jaman dulu lebih jago bahasa Inggrisnya dibanding anak-anak sekarang. Padahal sekarang udah banyak lagu dan film berbahasa Inggris yang masuk. Kursus juga sudah cukup murah dan tersebar ke mana-mana. Buku-buku asing lebih banyak. Dan lain-lain..!! Tapi, kenapa dari sekian ratus mahasiswa kok cuma sedikiiiiiiit….. banget yang bisa bahasa Inggris dengan cukup baik.

Kalo mahasiswa mau jujur pada diri mereka sendiri, sebenarnya mereka punya banyak peluang yang bisa mereka manfaatkan. Tapi, kesannya mereka sudah terlalu dimanja dengan berbagai fasilitas yang enak-enak dan nyaman sehingga fighting spirit itu sudah luntur..  Itu yang aku tidak bisa terima..!!!

Pernahkah kalian ini berpikir, bahwa untuk tingkat nasional, mahasiswa FE Unair udah jaraaaaangg banget yang bisa berprestasi. Tiap ada event kaliber nasional yang berbau akademis, kita seringkali kalah dari Unibraw…!!! Bayangin coba..!! Apa itu masih kurang menunjukkan bukti betapa banyaknya hal yang perlu diperbaiki dari mahasiswa kita.

Beda dengan Adika, kayaknya (dan mestinya) Ulan tau bahwa aku udah berbuat cukup banyak untuk meningkatkan kualitas mahasiswa FE Unair. Tapi, usaha yang berasal dari satu pihak itu tidak cukup..!!! Masalahnya sekarang, apakah emang mahasiswa kita udah sadar bahwa ketika mereka lulus nanti, mereka akan menghadapi kondisi pasar kerja yang luar biasa kejamnya…????

Saat ini, 85% posisi manajerial perusahaan terkenal di Indonesia sudah diduduki oleh sarjana dan master lulusan luar negeri. Dan mereka bukanlah orang Indonesia, tapi warga negara India, China, Hongkong, Thailand, Philipina, Vietnam, Malaysia, Bangladesh, Pakistan, bahkan…dari Myanmar…!!!! Kenapa mereka lari ke Indonesia..??? Ya, itu tadi, karena mereka tahu bahwa SDM Indonesia tuh kualitasnya jelek…!!! Manja, minta bayaran mahal, tapi gak punya skill yang mumpuni..!!  Banyak ngomong muluk-muluk tapi enggak ada isinya..!! Itu masukan dan kritikan dari seorang manajer perusahaan asing buat FE Unair, lho..!!

Nah, kalo kondisi di lingkungan sudah sebegitu sengitnya, persaingan bisnis sudah begitu kejamnya, apa perlunya mahasiswa-mahasiswa yang akademisnya pas-pasan itu menghambur-hamburkan waktu untuk kegiatan yang kurang bernilai tambah untuk masa depan mereka..??? Coba deh, tanya sama mahasiswa aktivis di FE Unair yang IPK-nya 2 koma, berapa banyak di antara mereka yang menutupi kekurangan IPK mereka dengan kemampuan bahasa Inggris yang bagus, atau dengan kemampuan lain seperti perpajakan, financial planner, statistika, dan lain-lain…???? Aku kok yakin, jawabannya akan sangat mengecewakan..!!!

Tulisan ini, dan tulisan sebelumnya, memang ditujukan untuk mereka yang masih belum sadar. Apakah harus begitu pedasnya..??? Ya, harus..!!! Ibaratnya, membangunkan orang yang tertidur lelap dan bangun kesiangan dan sulit dibangunkan, yaaa…caranya ditampar aja, atau diguyur air seember…!!!! Kalo orang yang terlena dalam tidurnya, dan dia harus cepat bangkit, terus dibangunkan dengan cara diusap-usap dengan halus, yaaa…..gak bangun bangun deh..!!

Aku sadar, bahwa tidak semua orang bisa menerima apa yang aku sampaikan. Tapi, kalo ada satuuu…. saja mahasiswaku yang membaca tulisanku ini, lalu tergerak hatinya dan mengubah hidupnya dengan sungguh-sungguh, itu sudah cukup bagiku…!!

Quo Vadis?

Monday, September 11th, 2006

Lulusan yang laris diserap oleh pasar kerja adalah lulusan yang memiliki kualitas akademis bagus (IPK-nya minimal 3,0), punya kemampuan berbahasa Inggris yang cukup baik, punya pengalaman berorganisasi, punya kemampuan komunikasi dan interpersonal yang hebat, dan punya kemampuan untuk mengatur dirinya sendiri dengan baik. Secara teknis, mungkin gambarannya seperti itu, meskipun tidak sama persis.

Lulusan yang lain, yang lebih suka menjadi wirausahawan, juga dituntut untuk punya kelebihan. Mereka dituntut untuk punya kemampuan konseptual yang kontekstual (tapi tidak dilihat dari IPK), sense of business yang tinggi, kemampuan menyusun planning yang hebat dan tepat, kemampuan komunikasi dan interpersonal yang unggul, punya fighting spirit yang luar biasa, dan in many occasions punya kemampuan bahasa Inggris yang memadai.   

Para mahasiswaku tersayang, sebagaimana mahasiswa pada umumnya di masa aku kuliah S1 dulu, adalah orang-orang yang penuh vitalitas, penuh keceriaan, penuh semangat, dan punya banyak keinginan. Mereka saat ini terlibat dalam berbagai macam kegiatan yang luar biasa banyaknya. Organisasi yang mereka libati pun buanyak banget, mulai dari BEM, HIMA, SKI, Fosma, forum-forum kajian ilmiah, dan serangkaian organisasi ekstra kampus lainnya. Dan, sebagai orang yang pernah merasakan manis pahitnya kehidupan berorganisasi, aku tahu pasti bahwa hidup berorganisasi memang sesuatu yang layak untuk diicipi karena begitu manis rasanya.

Namun, ada beda antara kehidupan mahasiswa aktivis ormawa dewasa ini dengan, yah..katakan sepuluh tahun lalu. Di masa lalu, mahasiswa aktivis ormawa sering kali identik dengan mahasiswa yang memiliki prestasi akademis yang tinggi. Dan itu bukan hal yang disengaja. Artinya memang mahasiswa yang memiliki prestasi unggul-lah yang melibatkan diri untuk aktif dalam organisasi. Ada juga sih, yang IP-nya tidak terlalu bagus; cuma IPK 2,5, yang ikut-ikutan aktif, namun jumlahnya tidak terlalu banyak. Yang lainnya, yang IPKnya pas pasan merasa cukup sadar diri bahwa mereka lebih baik memusatkan diri pada studi mereka saja. Anehnya, justru mahasiswa aktivis-lah, yang lebih banyak repot dan lebih banyak kegiatannya yang biasanya lulus duluan (karena emang pada dasarnya mereka punya kemampuan akademis yang bagus).

Kalo aku liat sekarang ini, waduuuh…..yang aktif di ormawa kok justru mereka yang IPK-nya pas pasan yaaaa…..?????????? Buuuaanyak yang langganan dapat IP di bawah 2,5 yang melibatkan diri di ormawa. Bahkan di antara mahasiswa yang sangat aktif, sedikit banget yang punya prestasi akademis yang berkilau. Dalam konteks kepanitiaan, waah…malah lebih parah…!!!! Liat aja aktivitas PIKMEN kemarin. Panitianya, dari yang paling atas sampe paling bawah, kebanyakan justru dari kalangan mahasiswa ber-IPK pas-pasan. (Apa emang ini ya, positioning-nya ormawa FE Unair saat ini?). Yang lebih parah,  aku bahkan tau sendiri bahwa beberapa mahasiswa yang namanya sudah masuk dalam Daftar Mahasiswa yang Diusulkan untuk Mendapat Sanksi Drop Out tahun ini, masih asyik berkeliaran ngurusin PIKMEN. Beberapa di antara mereka bahkan masuk dalam Tim Evaluator, yang tugasnya mengoreksi kesalahan mahasiswa dan memberikan bentakan-bentakan manis (apa ya nggak malu ya…??? wong dirinya sendiri hampir kena DO kok mengevaluasi orang lain..!! atau mungkin di rumah, mereka gak punya cermin?). Atau kalo ngeliat acara MNC atau Malam Keakrabannya mahasiswa baru Manajemen. Sebagian besar senior yang lantang berteriak-teriak kepada para mahasiswa baru adalah mereka yang IPKnya di bawah 2,75…!!! Bahkan buanyak yang cuma punya IPK berkisar 2,2 atau 2,3..(aku tahu pasti IPK mereka karena kebetulan aku punya daftar nama mahasiswa dan IPK yang mereka capai sampai semester ini)…. Memalukan banget, deh..!!! Aku gak yakin, mereka mau dengan suka rela dan lantang menyebutkan berapa IPK mereka di depan mahasiswa baru….abis, emang mereka mahasiswa level bawah, kok..!! Bukan mahasiswa pintar!! Udah IPK-nya pas-pasan, kalo ngambil mata kuliah harus ngulang berkali-kali sebelum bisa dapat nilai C, eeeh…..studinya molor lagi..!! Isiiin reeek…!!!!

Nah, yang menjadi pertanyaanku adalah, sebenarnya apa ya yang mereka cari dalam kehidupan kemahasiswaan mereka? Dalam bayanganku, kehidupan menjadi mahasiswa adalah moment yang sangat menentukan dalam pembentukan diri dan pribadi kita, sebelum kita terjun ke dunia yang lebih keras dan kejam, yaitu dunia pekerjaan. Apabila kita tidak menyiapkan diri dengan baik, membekali diri dengan sebanyak mungkin keahlian, kemampuan, ketrampilan, maka kita tidak akan punya kesempatan untuk mengulang masa-masa lalu dan memperbaikinya. THERE’S NO COMING BACK..!! IT’S ONE WAY TICKET, BABY..!!

Mahasiswa yang aktif di ormawa memang akan memperoleh pengalaman berorganisasi. Tapi, apakah dengan itu mereka akan dapat menjadikan diri mereka seseorang yang punya keunggulan kompetitif di pasar kerja…??? Bisa ya, bisa enggak. Liat aja..!!

Apakah mereka yang aktif di ormawa adalah mahasiswa yang ber-IPK 3..?? Sebagian besar saat ini, TIDAK..!! Bahkan lebih banyak yang IPK-nya bergelimpangan di level 2,1 sampai 2,3. Apakah mereka yang aktif di ormawa adalah mahasiswa yang punya kemampuan berbahasa Inggris yang bagus..?? Hampir semuanya, TIDAK..!!! Jaaaaraaang banget mahasiswa aktivis saat ini yang punya kemampuan bahasa Inggris yang bagus. Sebagian besar hanya bisa ngomong YES, NO, atau I LOVE YOU aja. Boro-boro mau ngomong bahasa Inggris, ngertiin maksudnya lirik lagu bahasa Inggris aja gak bisa kok..!! Apakah mereka yang aktif di ormawa bisa menjadi orang yang punya sikap kepemimpinan yang bagus, kemampuan presentasi yang tinggi, dan kemampuan komunikasi yang hebat..?? Sebagian besar, jawabannya masih TIDAK..!! Sebagian besar mahasiswa aktivis saat ini masih menjadi laid-back people yang nggak bisa ngomong di depan publik dan nggak bisa menyampaikan pendapat dengan sistematis dan konsisten. Kebanyakan mahasiswa aktivis ketika presentasi di kelas masih menunjukkan bahwa mereka adalah mahasiswa kualitas diskonan dalam hal communication skills. Apakah mahasiswa yang aktif di ormawa adalah orang-orang yang mampu mengelola dirinya sendiri..?? Sebagian besar jawabannya, TIDAK…!!! Liat aja, di antara mahasiswa aktivis, masih buaanyak yang IPK-nya pas-pasan karena terlalu asyik berorganisasi (bukan karena gak mampu atau karena bekerja). Masih buanyak yang kena tilang karena terlalu sering membolos. Masih buanyak yang kalo masuk kelas terlambat. Masih banyak yang nggak tau kapan waktunya belajar dan kapan boleh ngurusi organisasi. Apakah mahasiswa yang aktif di ormawa adalah mereka yang punya bakat untuk menjadi wirausahawan? Mungkin aja, tapi yang jelas sampai sekarang mereka yang aktif di ormawa belum pernah atau jaraaang sekali mengasah kemampuan entrepreneurship mereka…!!! Mereka jarang mengasah sense of business mereka. Dan mestinya, ketika mereka aktif di ormawa, waktu yang mereka miliki untuk mengasah jiwa kewirausahaan jadi berkurang kan..??

Lha kalo sudah gitu, mau jadi apa…???? Apa mahasiswaku tersayang ini mau jadi lulusan yang serba nanggung…??? Lulusan yang mau masuk jadi karyawan perusahaan top, IPK-nya hemat banget. Mau jadi wirausahawan, sense of business gak punya. Mau jadi dosen, gak bisa public speaking. Yaaa…kalo mahasiswi sih enak, kalo emang gak punya "apa-apa" yang bisa dijual ke pasar kerja, sih, udah….kawin aja cepat-cepat, punya anak banyak, jadi ibu rumah tangga, beres..!!! LHa kalo mahasiswaku, yang cowok-cowok, kalo mereka jadi lulusan yang serba nanggung, mau dibawa ke mana hidup mereka kelak..?? Mau dibawa ke mana masa depan keluarga (anak istri) mereka kelak, mengingat merekalah pemimpin keluarga?? Apa mereka emang orang yang nantinya hanya bisa pasrah kalo ijazah S1 mereka hanya bisa mereka gunakan untuk melamar pekerjaan menjadi salesman door to door? Atau pegawai rental komputer? Atau buka warung kelontong kecil di kampung?

Sedih banget, kalo aku memikirkan mereka..!! 

Ada begitu banyak kesempatan yang bisa diambil saat ini. Ada begitu banyak hal yang harus disiapkan saat ini agar masa depan bisa lebih bagus dan tertata rapi. Ada begitu banyak hal yang harus dibenahi dan dihilangkan agar masa depan mereka bisa lebih cerah dan menjanjikan. Tapi, berapa banyak di antara mahasiswa yang sadar akan semua itu..?? Kapan mereka akan sadar bahwa besok mungkin sudah sangat terlambat…???