Bayu; Tamu Istimewaku
Wednesday, September 20th, 2006Aku menuliskan namaku pada lembar kuitansi yang ada di halaman belakang brosur permohonan bantuan takjil dan penyaluran zakat fitrah. Pada hari-hari menjelang Ramadhan seperti ini, permohonan bantuan seperti itu emang banyak berdatangan ke rumahku, dan aku selalu berusaha semampuku untuk memenuhi permohonan itu. Dan malam ini kebetulan aku bertemu langsung dengan salah seorang panitia yang menyerahkan permohonan itu ke rumahku. Ia mewakili sebuah yayasan yatim piatu di daerah Sepanjang, Sidoarjo. Kuajak masuk ke dalam rumah sembari menyiapkan segala sesuatunya. Aku kadang heran, kok bisa-bisanya mereka nyasar datang ke rumahku padahal setelah aku tanya, pengurusnya nggak ada yang aku kenal. Namun, aku sih tidak terlalu hirau dengan hal itu. Yang penting, kalo aku yakin permohonan bantuan itu emang layak untuk diperhatikan, biasanya aku tak segan menyisihkan sebagian rizkiku untuk mereka.
Setelah kuserahkan sejumlah uang pada lelaki muda yang duduk di depanku, urusan "bisnis" pun selesai. Aku mempersilakan lelaki muda itu untuk menikmati minuman dan makanan ringan yang kusediakan. Beberapa saat kami membicarakan berbagai macam hal, mulai dari permohonan bantuan yang menipu masyarakat, tentang panitia pembangunan masjid yang gak tau aturan, dan banyak hal lain. Tampak jelas betapa cerdas lelaki muda itu berpikir dan betapa lugasnya ia berucap. Setelah beberapa saat bercakap-cakap, pertanyaan klasikpun keluar.
"Anda sendiri masih sekolah atau sudah kuliah, dik?"tanyaku.
Ia tersenyum simpul. Tak langsung menjawab.
"Saya baru lulus SMU, pak. Tahun ini. Tapi saya nggak kuliah. Nggak ada biaya. Jadi, sekarang ini pagi saya belajar sendiri di yayasan, dan kalo sore dan malam saya cari uang. Ngasih les matematika untuk anak-anak SD. Yaah..buat nambah-nambah uang saku, pak," jawabnya ringan.
Aku sedikit terkejut. Meskipun anak lulus SMU nggak bisa melanjutkan ke bangku kuliah bukanlah fenomena baru di kota besar, namun tetap saja aku merasa sedikit terpukul. Belum pernah aku berbincang langsung dengan anak SMU yang gak bisa kuliah karena gak ada biaya. Dan entah kenapa, aku merasa tercengang. Tak pantas rasanya anak dengan kecerdasan seperti dia harus memupus habis harapannya untuk melanjutkan sekolah karena alasan biaya. Aku perhatikan dia lebih dalam sambil mendengarkan ceritanya.
"Saya sudah tak punya orangtua, pak. Ayah ibu saya sudah lama meninggal. Keluarga dekat juga nggak kenal dan nggak tau ada di mana. Selama beberapa tahun terakhir ini saya tinggal di yayasan anak yatim piatu ini (ia menunjukkan kembali brosur permohonan takjil tadi). Begitu lulus SMU, karena gak ada biaya, ya saya bekerja. Mau kuliah sih, tapi nggak mungkin. Siapa yang mau ngasih biaya? Lagian, rasanya malu kalo saya masih harus ngerepotin kakak-kakak saya di yayasan, minta uang buat biaya kuliah. Mending uang yayasan buat adik-adik saya sekolah SD atau SMP. Saya bahkan harusnya udah bisa menghidupi diri saya sendiri. Dan kalau bisa ya, membantu adik-adik saya sekolah. Ya hitung-hitung, sekarang ini giliran saya membantu orang lain, setelah bertahun-tahun saya dibantu orang…"
Tak urung, hatiku luruh mendengar ucapannya. Tak mampu menahan rasa haru yang meluap di batinku. Mataku terasa panas. Kucoba sekuat tenaga menahan air mata yang akan tumpah berderai-derai.
Kupandangi dia. Lelaki muda bertubuh kurus dan berkacamata yang ada di depanku. Dalam kegetiran hidup yang dia alami, tak sedikitpun kudengar nada penyesalan dalam suaranya. Ia tetap duduk dengan tegak. Tak menundukkan matanya sekalipun untuk menekuri nasib yang tak berpihak padanya. Begitu tegar ia menghadapi kenyataan hidup yang begitu jauh berbeda dengan apa yang dia harapkan. Begitu bijak ia menerima segala apa yang memang menjadi haknya, meskipun ada dambaan lain yang belum ia dapatkan dalam hidup ini. Begitu bersahaja!!
Dan ketika kuantar ia sampai ke pintu, kudoakan ia supaya bisa meraih harapannya. Kutanyakan padanya, apakah ia masih memiliki harapan untuk suatu waktu nanti bisa meneruskan pendidikannya.
"Terima kasih, pak, atas doanya. Bapak baik sekali. Tapi, rasanya saya harus siap dengan kondisi saya seperti ini. Saya tetap berdoa kepadaNya. Saya yakin, apapun yang saya dapatkan, Insya Allah itu yang terbaik buat saya. Dan saya siap, apa pun itu.."
Menggeletar hatiku mendengar jawabannya. Begitu sederhana hatinya, namun begitu agung. Betapa ia begitu penuh harap namun juga begitu pasrah. Kucoba menghapus bulir air mata yang sudah bertengger di ujung mataku. Kagumku melihat kedewasaan yang terlihat jelas pada diri lelaki muda yang usianya lebih muda belasan tahun dariku. Dan, perlahan aku pun bertanya dalam hatiku,"Ya Allah, sudahkah aku mensyukuri nikmatMu seperti lelaki ini..??"
Malam ini, aku kedatangan tamu istimewa, yang mengingatkanku untuk selalu menghargai dan mensyukuri kenikmatan sekecil apapun yang kuterima dalam hidup ini. Tamu istimewa yang mengingatkanku untuk senantiasa tegar menerima apa pun suratan takdir yang memang telah tergores untukku. Tamu agung yang telah menampar hatiku untuk senantiasa ingat bahwa masih banyak manusia lain yang tak seberuntung aku dalam hidup ini.
Terima kasih, Bayu; tamu istimewaku…
Datanglah di lain waktu. Aku perlu banyak belajar darimu…