Archive for August, 2006

Ospek

Tuesday, August 29th, 2006

Agak heran juga aku mendengar bahwa di almamaterku tercinta, ternyata masih juga berlangsung yang namanya Ospek..!! Sejak kepulanganku dari Australia setahun yang lalu, semula aku menduga bahwa kegiatan Ospek (yang entah apa namanya kini) itu sudah dihapus total dari bumi Airlangga. Eee…ternyata kok enggak, ya? Ternyata, aktivitas yang diusung sejak jaman Orde Lama itu masih dipraktekkan oleh mahasiswa-mahasiswa FE UNAIR yang (mengaku) berasal dari golongan beradab dan intelek.

Sejak aku masih aktif di BEM atau OSIS (pas di SMP dan SMA), aku memang termasuk orang yang menentang Ospek. Kenapa..? Karena, yang namanya Ospek itu pasti dekat dengan aksi kemarahan, aksi bentak-bentakan, dan aksi-aksi lain yang jelas-jelas overacting.

Dulu, pas aku pegang pucuk pimpinan di BEM maupun OSIS, aku selalu berusaha keras supaya acara yang namanya Ospek itu kental dengan irama kekonyolan dan keakraban. Bebas dari kekerasan, baik kekerasan fisik maupun kekerasan mental. Hukuman yang aku berikan pada adik-adik kelas pun tidak ada satupun yang berbau kekerasan. Semuanya fun, lucu, menyegarkan, baik buat aku (sebagai pelaku) maupun bagi si adik manis (sebagai korban).

Sama sekali aku gak menyangka bahwa di era milenium saat ini, model Ospek jaman baheula masih diterapkan di FE UNAIR. Emang sih, hukuman fisik seperti push up atau squad jump udah gak ada lagi. Tapi ada bentuk kekerasan lain yang dipraktekkan di FE UNAIR, yaitu kekerasan mental. Main bentak-bentakan, lah..!! Marah-marah lah!!

Kalau kita mau jujur pada diri kita sendiri, apa sih yang bisa diperoleh dari semua aksi overacting tadi…?? Kata mereka-mereka yang tergila-gila dengan Ospek sih, acara Ospek tuh bisa mendekatkan diri antara senior dengan anak baru. Ada juga yang bilang, Ospek tuh bisa membuat mahasiswa baru cinta almamater. Apa iya..?? Apa bener..?? Ayo, coba jawab…!!!!!

Apa memang Ospek itu berangkat dari niat tulus senior untuk membimbing adik-adiknya menjadi seseorang yang punya pemikiran dewasa?? Apa memang Ospek itu melatih mahasiswa baru untuk jadi seorang yang cinta almamater???

BULLSHIT..!! BULLSHIT..!! BULLSHIT..!!

Kalo emang, Ospek itu diadakan supaya mahasiswa cinta almamater, apa relevansinya acara bentak-bentakan itu..?? Bahkan, apa perlunya sampe Panitia Ospek FE Unair (namanya PIKMEN, ya…??) menyediakan satu ruang khusus yang digunakan untuk melakukan aksi bentak-bentakan tadi..?? Apa hal itu bisa membuat mahasiswa baru jadi cinta almamater? Apa bisa buat mereka jadi lebih dewasa?

Saya lulusan FE-UNAIR yang tidak pernah sama sekali merasakan aksi Ospek, karena saya emang sengaja bolos pas acara bentak-bentakan itu.. Tapi, sekarang saya sangat cinta pada almamater saya ini…!!! Saya sudah berbuat cukup banyak bagi almamater saya ini. Kemudian, saya lulusan University of New South Wales yang juga tidak pernah merasakan Ospek, karena emang di sana gak ada acara Ospek. Apalagi yang modelnya kayak di FE UNAIR ini. Tapi, sampai saat ini saya bangga pada sekolah saya tersebut..!! Coba, tanyakan pada mereka-mereka yang lulus dari Harvard, dari NUS-Singapore, dari Tammasat Uni-Thailand, dari Univ of Melbourne, dari Monash, dari UCLA, dari Erasmus-Belanda, …….apa ada di antara mereka yang merasakan "manis"-nya dibentak-bentak senior dalam acara Ospek..?? Jawabannya pasti TIDAK…!!!! Karena emang di luar negeri, gak ada yang namanya acara konyol seperti bentak-bentakannya Ospek. Tapi, ada gak di antara mereka yang nggak bangga dan nggak cinta dengan almamater mereka itu…??? Gak ada..!! Mungkin bahkan rasa cinta mereka lebih besar daripada rasa cinta kita pada almamater Airlangga..

Trus, apa bener yang namanya Ospek bertujuan untuk mendorong mahasiswa baru untuk bisa menjadi seorang yang dewasa..??? Kalo iya, kenapa dan apa perlunya ada acara bentak-bentakan di Ospek..? Apa relevansiny..?? Apapun alasannya, acara bentak-bentakan di PIKMEN atau Ospek itu tidak ada gunanya, tidak ada relevansinya dengan tujuan yang ingin dicapai..!!! Apapun alasannya, it doesn’t make sense..!! Mau KTM ketinggalan, gak bawa pita, gak bawa buku, atau entah pelanggaran apa lagi. Apakah kalau panitia Ospek itu mengumpulkan mahasiswa yang melakukan pelanggaran, trus dibentak-bentak, dimarah-marahi bahkan sampai pingsan, itu adalah cara memperlakukan manusia dewasa…!!! TIDAK..!!! Dan, setahu aku, acara bentak-bentakan itu tidak hanya dilakukan pada mahasiswa yang berbuat pelanggaran, tapi juga mereka yang sebenarnya baik-baik saja dan tidak bermasalah…!!!

Kalo kita melihat dari sudut pandang lain, apakah pantas mahasiswa yang SAAT INI menjadi Panitia PIKMEN itu mendidik dan mengajari mahasiswa baru untuk menjadi mahasiswa yang bisa berpikir dewasa…??? Apa para senior yang jadi panitia PIKMEN adalah mereka-mereka yang MEMANG sudah dewasa..??? Apa mereka memang termasuk mahasiswa senior yang sukses dalam studi..?? Apa mereka termasuk mahasiswa yang berprestasi besar atau berkontribusi luar biasa untuk menunjukkan cinta almamater..??

Setahu aku, kebanyakan Panitia PIKMEN (termasuk pejabat terasnya, kayaknya) adalah mahasiswa yang masih belum berhasil meraih IPK 3,00. Apa ya enggak malu mereka-mereka itu mengajari adik-adik mereka untuk "dewasa" lha wong mereka sendiri belum bisa berhasil dalam studinya..!! Apa ya pantas..?? Lebih memalukan lagi, kalo di antara Panitia PIKMEN ternyata ada yang pernah ketangkap nyontek, ada yang pernah ketilang nggak boleh ikut UTS/UAS gara-gara sering bolos, ada yang di luar kampus masih suka minum-minum, ada yang masih sering dapet IP di bawah 2,5, ada yang studinya molor…. MALU DOOOOONK…..!!!!! Apa mereka-mereka adalah orang-orang yang tidak punya hati nurani dan rasa malu..???

Kalo udah seperti itu keadaannya, trus apa yang mau diberikan para senior kepada adik-adik mereka melalui Ospek ini..??? Apa yang mau dihasilkan dengan acara bentak-bentakan gak jelas itu..?? Mau mendewasakan mereka..??? Mau membuat mereka sukses dalam studi..?? Mau membuat mereka cinta almamater..???

HOW CAN YOU TEACH PEOPLE SOMETHING YOU CAN’T DO YOURSELF…?!?!?!

Senior yang masih belum dewasa, mau mengajari ma-ba supaya mereka bisa bersikap dewasa. Senior yang IP-nya biasanya di bawah 2,5 dan IPK-nya gak sampe 3,00 mau ngajari ma-ba supaya mereka bisa sukses dalam studi… Apa ini bukan sesuatu yang sangat menggelikan…???????

Bukankah lebih baik kalo Ospek itu diisi penuh dengan acara-acara ilmiah, pengenalan kampus, pengenalan studi, pengenalan sistem belajar, dan hal-hal lain yang akan jauh lebih bermanfaat buat mereka daripada dibentak-bentak gak karuan…!!! Coba liat apa yang dilakukan universitas-universitas ternama di luar negeri. Tanpa acara bentak-bentakan, mereka selalu berhasil menelorkan lulusan yang sangat berkualitas. Dalam acara Ospek, mereka selalu menekankan pada pemahaman tentang hal-hal yang ada dan diterapkan di kampus.. Sama sekali bebas dari acara bentak-bentakan konyol seperti yang terjadi di kampus Airlangga ini…!!!

Bollywood

Tuesday, August 15th, 2006

Film India…?

Mungkin banyak yang akan mengernyitkan kening kalo diajak nonton film India. India…?? Gak salah…??

Seorang temanku pernah ngomel-ngomel pas aku pinjamin sebuah VCD film India. "Aaah….ngomongnya panjang banget!! Mana banyak nyanyi! Banyak joget!! Seneng, joget! Sedih, joget! Jatuh cinta, joget! Patah hati, joget! Ketawa, joget! Nangis, joget juga!!" Saking panjang dan lamanya lagu-lagu dan tarian yang menghiasi film India, dia sempat ketiduran pas sang aktor mulai berjoget. Dan betapa geram dan jengkelnya ia, ketika ia terbangun 15 menit kemudian, eeehh…si aktor mulai berjoget lagi…!!

Emang banyak temanku (apalagi teman semasa kuliah, baik di Surabaya maupun di Sydney) tau kalo aku itu maniak sama yang namanya film. Liat aja di profilku. Mau film Prancis, film Argentina, film Bosnia, film Italia, semuanya aku suka…! Tapi, gak banyak yang tau kalo aku juga suka film India. Yaaa….meskipun gak se-fanatik Rini dan Shahrukh Khan-nya (yg dia anggap sebagai lelaki paling keren di jagad ini!!), tapi paling tidak aku bisa menikmati film-film produksi Bollywood itu.

Awalnya aku suka India sih, gara-gara temen-temenku dari kampung Sasak sono. Tau sendiri khan, kalo orang-orang keturunan Arab kebanyakan seneng nonton film India. Suatu ketika, aku bersama enam orang temanku; yang semuanya Arabian, udah nongkrong di Mitra. Kami bingung mau nonton apa.. Karena aku maniak film, dua dari empat film yang dipasang di Mitra udah aku tonton. Jadi aku minta, pilihannya tinggal dua. Yang satu film drama suspense Hollywood. Dan yang satu…the one and only KUCH KUCH HOTA HAI.. Mulanya aku emoh-emoh banget nonton film India itu. Jijai..ih!! Tapi, pikiranku tergerak juga mendengar alasan temanku yang (saat itu) kedengarannya masuk akal.

"Pikir aja, Son! Kalo kita nonton film franji (itu sebutan mereka buat film Barat), nonton paling-paling satu jam setengah, maksimal dua jam!! Lha kalo nonton Hindi, nontonnya bisa tiga jam..!! Kan lebih murah…!!! Harga tiketnya sama, tapi bisa nonton lebih lama…! Sip, kan..?"

Dan, begitu kami berenam sepakat membeli karcis, lha kok ketemu teman-teman Arabian lainnya. Gak tanggung-tanggung. Mereka berduabelas mau nonton KUCH KUCH juga.. Dan entah gimana caranya mereka bisa memperoleh tempat duduk yang berdekatan dengan kami berenam.

Dan yang terjadi di dalam gedung bioskop benar-benar membuatku geleng-geleng kepala..!! Dasar Arabian gendheng..!! Lha gimana enggak…coba..!!

Tiap kali si Shahrukh Khan joget ama Kajol, mereka bertujuh belas langsung ikut berdiri dan joget di tempat masing-masing..!!!! Mereka berjoget dan bergoyang dangdut begitu Shahrukh Khan joget sampai musiknya berhenti…!!! Bisa gak kalian bayangkan, nonton berdelapan belas di deretan bangku paling belakang…. Begitu musik intro berbunyi, ketujuh belas temanku langsung berdiri semua, ambil kuda-kuda, dan langsung bergoyang begitu Shahrukh Khan bergoyang..!!! Edaaan…!!! Aku sih cuma duduk aja sambil menyumpah-nyumpah dalam hati…!!! Tengsin berat, jreeengg… diliatin orang satu bioskop, joget-joget tiap kali Shahrukh Khan joget..!!! Ampuun, deh..!!

Tapi, entah kenapa, sejak saat itu aku jadi tertarik nonton film India. Mulai dari Sirf Tum, Pardes, Kareeb, Mohabbat, Dilwale Dulhania Le Jayenge, Hum Dil De Chucke Sanam, dan puluhan judul lainnya. Begitu poster film India naik di Surabaya Theatre, aku langsung kontak teman-temanku dan kami biasa nonton rame-rame.

Bisa nebak nggak, apa yang membuat aku suka pada film India..?

Kalo kalian sering nonton film India, kalian akan bisa menangkap adanya ciri khas pada film India, yang membuat film India itu memiliki posisi yang sangat unik di hati para pecintanya. (Tentu saja selain nyanyi dan joget..!!) Ciri khas itu adalah bahwa betapa luar biasa kentalnya film India itu mengusung dan menampilkan budaya lokalnya dalam setiap filmnya. Dalam tiap film India, pasti ditampilkan wanita yang menggunakan kain sari. Pasti ditampilkan, betapa pentingnya menghormati sosok yang dituakan, baik ayah, ibu, atau saudara tua. Pasti ditampilkan begitu banyak hal yang sangat kental dengan ciri-ciri Indianya. Ya bajunya, ya adat budayanya.. Segalanya..!!

Kalo aku bandingkan dengan film-film Indonesia atau sinetron-sinetron di TV kita, kayaknya jaraaaaaang…banget yang begitu kental menampilkan nilai-nilai kecintaan pada budaya Indonesia. Semuanya mengarah pada hal yang orientasinya kebarat-baratan..? Mending kalo bagus..!! Apa emang karena yg membuat film-film dan sinetron Indonesia itu orang India, dan bukan orang Indonesia asli, yaaa…gak tau juga sih..!!

Coba aja liat film kita, mulai dari AADC, EIFFEL I’M IN LOVE, VIRGIN, DETIK TERAKHIR, GIE, JANJI JONI, BROWNIES, dan lain-lain. Jarang banget ada film yang bisa memotret budaya Indonesia dengan lebih jujur dan lebih kental….. Jadi kalo aku nonton film Indonesia, kayaknya gak ada sesuatu yang spesifik menyatakan identitasnya bahwa ini lho film produksi Indonesia. Coba pikir, ceritanya udah kebarat-baratan, life-style yang ditampilkan juga kebarat-baratan, eeh….pemainnya pun wajahnya bule semua…!!! Norak..!!

Anyway, emang susah kalo di benak kita sudah timbul persepsi bahwa film India itu adalah film buat para pembokat, yang biasa ditayangkan di bioskop "HARI INI BIOSKOP MAIN SEPERTI BIASA", bukan film-film buat kaum elite…!! jadinya, yaa…kita tidak bisa bersikap lebih obyektif..!!

Tapiiii……., btw, ngapain tiba-tiba aku nulis tentang film India, yaa………..?????

Nadine oh Nadine

Thursday, August 10th, 2006

Dari dulu aku emang seneng menyaksikan acara kontes atau lomba. Entah itu Indonesian Idol, American Idol, Australian Idol, Miss Universe, The Apprentice, or kontes-kontes dan lomba-lomba lainnya. Aku seneng melihat betapa tiap kontestan berjuang untuk mengubah kisah hidup mereka sendiri. Dan, seneng melihat sebuah kisah Cinderella tercipta lagi di muka bumi. Pemilihan Putri Indonesia juga menjadi salah satu acara yang aku tonton. Ngefans banget sampe bela-belain banget (kayak si Rini dan Shahrukh Khan-nya..) yaa nggak juga. Tapi kalo aku pas lagi nganggur dan gak ngantuk, biasanya aku sempatkan nonton.

Ketika seorang Nadine terpilih menjadi Putri Indonesia, terus terang aja aku shock banget. Bukan apa-apa, sih. Lha jawaban dia pas di babak 5 besar, sama sekali gak menjawab apa yg ditanyakan dewan juri (persis kayak mahasiswaku kalo ngejawab ujianku, jawaban sama sekali gak menjawab pertanyaan..). Kentara banget Onengnya..!! Eeeh…lha kok lolos ke 3 besar…. Belum habis kagetku ngeliat dia masuk 3 besar, eeh…lha kok justru kepilih jadi Putri Indonesia. Dua calon putri yang jauh lebih smart, jauh lebih jago public speaking, jauh lebih pinter bahasa Inggrisnya, (inget gak yaa.. Nadia Mulya dan si Valerina Daniel…bener gak ya, gw nyebut namanya..) malah gak kepilih. Saat itu langsung muncul spekulasi dari banyak pihak bahwa kemenangan seorang Nadine bukan karena dia yg terbaik saat itu, tapi lebih merupakan strategi memenuhi selera pasar juri Miss Universe. Nadia Mulya tidak terlalu cantik (dibandingkan Nadine) meski cerdas, sedangkan Valerina terlalu pendek (meski gak lebih pendek dari Artika). Sooo, dengan harapan memenuhi selera juri di Miss Universe, terpilihlah seorang Nadine…

Dan, kita bisa melihat sendiri bahwa ternyata kecantikan bukanlah segalanya. Kecerdasan pemikiran tetap menjadi sesuatu yg dinilai sangat tinggi oleh orang-orang bule. Dan kecerdasan itu tidak bisa kita…upps, sori…aku lihat pada diri seorang Nadine. Bukan hanya karena dia bolos waktu pelajaran IPS di SD dan geografi di SMP (pas nerangin Indonesia itu sebuah negara dan Jakarta adalah  ibukotanya..), tapi dari cara dia berbicara di depan publik, cara dia melakukan wawancara dengan wartawan, cara dia menyusun kalimat dan memilih kata-kata, jelas sekali bahwa dia bukanlah seseorang dengan "brain" yang mempesona yang bisa membuat orang bertekut lutut dengan kata-katanya. Emang sih, kalo dilihat dari para calon putri dari semua negara, Nadine termasuk yg paling cantik (menurutku siiih…), tapi, kecantikan itu jadi tak ada artinya ketika tidak diimbangi dengan sesuatu yang bernama kecerdasan. Jadi, kalo aku bilang, kecantikan Nadine tuh luar biasa ASAAAAL….DIA GAK LAGI NGOMONG APA-APA. Begitu dia ngomong, hilanglah kecantikannya…

Lha, lalu…apa itu salah si Nadine..kepilih jadi Putri Indonesia dan ikut Miss Universe? Menurutku, gak juga sih. It’s not your fault if you’re being a Barbie doll with the brain cut off..!! Dia kan cuma korban aja dari segelintir orang yang menganggap bahwa "beauty plays the greatest roles in lifes". Sama juga, bukan salah seorang gadis, bila ia diterima bekerja di perusahaan hanya karena dia cantik. Its’ not her fault to be beautiful..!! It’s not Nadine’s fault by being brainless..!! But it IS her fault to make her brainless so obvious in front of so many people…!!

Ah, Nadine…Nadine…!!!