Archive for July, 2006

Melacur

Thursday, July 27th, 2006

Pelan-pelan aku melangkahkan kakiku memasuki bangunan itu. Sudah setahun lebih aku mengajar di sana, jadi rasanya aku sudah sangat mengenal aroma tiap sudut ruangannya. Kakiku terus melangkah menuju ruang akademik, tanda tangan daftar hadir dosen, lalu masuk ke ruang dosen, menyantap makan malam yang telah disiapkan dalam kardus sambil menonton acara berita petang. Setelah berita usai, aku pun menyiapkan diri untuk masuk kelas. Aku selalu berusaha untuk tidak terlambat di kelas manapun di mana aku mengajar. Perlahan kakiku melangkah menuju ruang kelas. Dan ketika kulihat sebagian besar mahasiswaku sudah siap dengan buku mereka masing-masing, aku pun memulai kembali tugasku. Mengajar.

Tapi, ada yang aneh… Kau tahu, apa yang aneh..? Aku sama sekali tak merasakan kenikmatan mengajar saat itu…..!!!! Buat aku, itu aneh banget, mengingat aku sangat senang mengajar…

Tapi, dengan berat hati, harus aku akui bahwa saat aku mengajar tadi, aku tak bisa merasakan kebahagiaan sedikitpun. Dan, dengan jujur harus aku katakan, bahwa setiap kali mengajar di sini, di tempat ini, di bangunan itu, aku sama sekali tak bisa mengecap kebahagiaan yang selalu kurasakan saat aku mengajar mahasiswaku yang masih imut-imut di S1 atau D3.

Entahlah, aku tak tahu sebabnya. Mungkin karena memang aku tidak suka dengan tipikal mahasiswanya yang terkesan sangat malas. Atau mungkin juga karena aku tidak suka dengan mata kuliah yang aku ajarkan ini. Atau ada sebab yang lain. Yang jelas, kalo engkau bertanya padaku "Lha terus, kalo emang gak bahagia, ngapain mau ngajar di sana sampe lebih dari setahun..?" Aku akan tersenyum pahit dan menjawab,"Bayarannya gede banget, teman!!"

Ya, itu benar!! Aku emang tetap mengajar di sana meskipun aku tak bisa bahagia karena memang bayarannya lumayan gede.Gimana nggak gede kalo sekali ngajar 2,5 jam aku dapat lebih dari Rp 500 ribu..? Dua kali ngajar udah Rp 1 jeti. Padahal aku pegang 3 kelas di sana. Itulah alasanku kenapa aku masih membetah-betahkan diriku mengajar di sana. Terlalu menggiurkan untuk ditolak…!!! Hari gini dapet 2 juta sebulan dari ngajar 1 kelas doang….n 6 juta sebulan dari total 3 kelas yang aku pegang..??!!! Mau ditolak..? Yang bener aja..! Mikir pake otak buatan mana tuh, nolak rejeki halal segitu gede…??

Tapi, entah kenapa, "akal sehat"-ku malam ini tidak berfungsi. Daya tarik Rp 6juta sebulan malam ini lenyap entah ke mana.. Aku hanya tahu, bahwa aku tak bahagia. Aku sendiri heran, dalam kondisi tidak bahagia begini kok mahasiswaku masih begitu senengnya padaku… Tapi, yang jelas, aku tahu pasti, that’s not the best of me what I gave them…!!! Dan, tanpa sadar idealisme-ku terluka…

Aku cinta pekerjaan ini. Selama ini, baru kali inilah aku mengajar demi mengejar uang. For the sake of the money..!! Dan, meskipun customer satisfaction index-ku masih lumayan bagus, aku tahu bahwa aku tak memberikan rasa cintaku waktu mengajar saat itu… Aku bahkan tak tahu apakah mahasiswaku paham atau tidak dengan apa yang kuberikan.

Pernahkah kau merasakan betapa beratnya mengerjakan pekerjaan yang tak kausukai, tapi mau tak mau harus kau lakukan..?? Pernahkah kau merasakan betapa perihnya sanubarimu, menyadari bahwa kau telah mengkhianati prinsip hidupmu sendiri..? Menggores idealisme yang kau miliki dengan uang…??? Ooohh, periih banget rasanya….begitu pahit rasanya menelan goresan luka hati itu…

Entahlah denganmu, tapi aku merasa bahwa saat ini, saat mengajar di sini, aku tak ubahnya seperti pelacur, yang menggadaikan kehormatan dan harga dirinya untuk sejumlah uang… Pelangganku terpuaskan, namun aku justru merasakan kepedihan.

Dan, saat itu, aku sempat berpikir, betapa lebih pedihnya perasaan orang-orang yang harus bekerja membanting tulang melakukan hal-hal yang tidak ia sukai, untuk memperoleh sejumlah uang, untuk sekedar bertahan hidup..!! Karena tak ada pilihan lain…!! Betapa sengsaranya hidup dalam keadaan seperti itu, di mana apa yang kita lakukan sehari-hari bukanlah sesuatu yang kita sukai.. Tapi kita tak bisa mengelaknya karena kondisi kita yang serba terbatas… Betapa sengsaranya hidup seperti itu…?

Gimana rasanya si Tony, teman kuliahku yang SMA-nya dari Taruna Nusantara, lulus dengan IPK 3,29, ganteng, gagah, keren, tapi sampe sekarang hanya bekerja menyewakan komputer dan menerima pengetikan di sudut kota Malang… Atau si Ferry, adik kelasku SMA, dulu tiap kali terima rapor selalu meraih ranking 1 paralel se-SMA 6, kini bekerja hanya sebagai waiter di sebuah perusahaan katering langganan kampus, karena tak punya biaya untuk kuliah. Betapa nelangsanya..!!

Pernahkah kau berpikir bahwa mungkin saja dirimu di masa yang akan datang dihadapkan pada kondisi yang memaksamu untuk mengerjakan sesuatu yang tidak kau sukai….??? Setiap hari, berulang-ulang, berkali-kali…!!! Apa yang akan kau lakukan..? Apakah akan diam saja, seperti aku, karena duitnya enak banget..? Apakah kau akan memberontak dan lari dari kondisi yang memaksa itu..?? Atau apakah kau akan menyerah lunglai pada suratan dan menjalani hari-harimu dalam perasaan gundah yang tak berkesudahan, karena memang tak ada yang bisa kaulakukan…???

Selamat datang di dunia nyata, teman…..!!! Bersiaplah untuk melacurkan diri kita masing-masing, entah karena memang cinta pada uangnya, atau semata-mata karena tak punya daya untuk berontak pada kenyataan… Bersiaplah untuk "menjual" idealisme kita untuk sesuatu yang lebih nyata…!! Bersiaplah semua…!!

Kunjungan Seorang Teman Lama

Saturday, July 22nd, 2006

Ponselku berdering. Di monitor ponselku, terlihat sebuah nomor yang tidak aku kenal. Biasanya sih, aku gak pernah mau terima telepon dari nomor yang gak masuk di phone-book, tapi entah kenapa kok saat itu aku terima telepon itu. Mungkin juga karena saat itu aku lagi pas nganggur.

"Halo..?"

"Hei, ini Sony ya..? Ini aku, Edo, temanmu SMA dulu. Inget nggak..? Kita kan dulu sering jalan bareng ke TP." ujar suara di sana.

Wah, rasanya seneng banget ketemu teman lama..!! Edo nih temanku sebangku waktu aku kelas 1 SMA… Udah lamaaa..banget gak ketemu dia. Makanya, gak lama, kami pun udah langsung terlibat dalam sebuah pembicaraan yang hangat dan seru. Dulu kami terkenal sebagai pasangan gokil, makanya pembicaraan itu sering diselingi dengan gelak tawa berkepanjangan.

"Son, gimana kalo aku main ke rumahmu? Aku ada perlu penting, nih!!" ucapnya.

Aku mengernyitkan keningku. Heran. Baru saja terpikir olehku, ngapain nih anak udah 5 tahun lebih gak ketemu, tiba-tiba telepon trus sekarang mau datang ke rumah. Tapi aku iyakan saja. Namanya juga teman lama. Teman dekat lagi!! Toh, akhir pekan ini aku kebetulan gak ngajar, jadi janjian pun dibuat. Sabtu pagi, jam 10, di rumahku.

Dalam benakku, betapa menyenangkannya Sabtu pagi, sambil istirahat, aku bisa bernostalgia dengan teman lama. Membahas si Tommy, yang udah jadi penyiar Metro TV yg ngetop, atau si Agung yang udah jadi pilot, atau si Lina; yang sekarang (gosipnya) jadi cewek bispak kelas tinggi, atau juga si Dedi yang tahun lalu terbunuh misterius di depan kampungnya. Wah, yang namanya nostalgia emang paling asyik… Dengan bayangan indah itulah aku menyonsong Sabtu pagi…

Edo pun datang pada saat yang disepakati. Dia tambah keren, mungkin karena dulu aku selalu melihatnya dengan kaos oblong dan jeans bolong, sekarang dia sudah berkemeja rapi dan celana kain. Kami pun asyik bersenda gurau dan mengenang-ngenangkan masa remaja yang (rasanya) udah lamaaa…banget aku lalui. Sulit rasanya membayangkan bahwa 13 tahun lalu aku bisa gila-gilaan dengan lelaki muda di depanku ini. Asyik banget..

"Eh, kamu bilang kamu ada perlu sama aku. Emang ada apa..?" tanyaku, setelah nostalgia kami terkuras habis.

"Eh, iya, kamu kan sekarang udah jadi PNS. Aku cuma mau ngajak kamu berbisnis dengan cara yang sederhana, yang bisa membuat kamu kaya meski hanya berstatus pegawai negeri, yaitu dengan cara ini…………" celoteh Edo panjang lebar disertai dengan brosur-brosur yang ia keluarkan, katalog-katalog, dan entah apa lagi……

Seketika itu juga, aku menyumpah-nyumpah dalam hati. Sialan!! Sialan!! Sialan!! Sialan!! Sialan!! Kena MLM, deh!!

Dari dulu, aku paaaling…sebel ama yang namanya prospektor MLM. Dari jaman aku SMA dulu (generasinya Amway) saaampai sekarang, aku gak pernah respek ama yang namanya prospektor MLM. Makanya, sampai sekarang aku selalu berusaha menghindari acara prospek MLM. Tau gak yang bikin aku sebel? Omongannya banyak yang nggak masuk akal..!! Persis kayak omongannya Edo sekarang!

"…kamu gak usah bersusah payah untuk dapat penghasilan jutaan. Kamu hanya invest awal sejumlah ini (ia menyebutkan nominal tertentu), dan kembangkan usahamu dengan mencari network. Itu kan gampang banget. Gak terlalu makan waktu, toh..? Jadi, intinya, ini bisnis yang dengan modal kecil, tidak butuh banyak waktu, tapi hasilnya jutaan..!! Asyik kan..?" ujarnya panjang lebar.

Aku hanya tersenyum. Maksa, sih.. Serasa ketipu.. KIrain mau nostalgia, taunya ada kacang di balik rempeyek..!!

"Gimana menurut kamu? Ada yang mau ditanyain gak?" ujarnya setelah puas menjelaskan.

Aku diam sejenak. Mau ngomong apa..? Bahwa apa yang dia katakan itu gak masuk akal..? Mana ada bisnis dengan modal kecil, gak perlu banyak waktu, bisa dapat duit banyak..? Jadi juragan deposito aja butuh modal gede..!! Mau dapet duit banyak dari ngerampok bank aja butuh persiapan lama..!! Mau jadi orang kaya dari memperistri cewek anak tunggal saudagar kaya aja juga butuh perjuangan, kan..? Mana ada, kerja ringan, modal kecil, tapi hasil gede kalo bukan dari main togel..!!

"Kamu udah berapa lama di sini, Do?" tanyaku. Gak enak rasanya tetap berdiam diri.

"Udah 3 tahun,"jawabnya sambil meneguk minumnya. Kering kerontang lehernya setelah berkeciap segitu lamanya.

"Trus, per bulan kamu dapat berapa?"

"Yaah, 2-3 juta sebulan. LUmayan kan..?"jawabnya.

"Trus kamu gak kerja di tempat lain..?"

"Enggak lah. AKu mau tekuni bisnis ini aja. Lebih menyenangkan buat aku. Dan hasilnya juga lebih gede. Waktunya lebih fleksibel lagi. GImana, mau ikut kan? Penghasilanmu bisa jauh lebih gede lo, Son, daripada cuma jadi PNS. Dosen lagi. Mana ada duitnya tuh..!!"

Lidahku sudah gatal ingin menyemburkan makian. Tapi pada saat terakhir aku bisa menahannya. Tak enak rasanya kalo aku harus berterus terang bahwa penghasilanku per bulan bisa sampai 3-5 kali lipat apa yang dia peroleh. Itu pun aku tak perlu bersusah payah keliling Surabaya, menghadapi manusia-manusia yang tidak kukenal, menghadapi panas terik yang panjang, dengan hasil yang sama sekali tidak pasti. Pekerjaanku sangat menyenangkan, dengan manusia-manusia yang menyenangkan, dengan penghasilan yang juga lebih dari cukup. Alhamdulillah..!!

Tapi, bukan itu yang membuat aku sebal pada MLM. Dan juga sebel pada Edo. Kalo mereka mau bilang bahwa MLM adalah bisnis bergelimpang uang, tanpa modal besar, tanpa banyak makan waktu, atau segala macam omongan bull-shit lainnya, sih, terserah…! Mungkin mereka bisa ngibulin orang lain, meski mereka tak bisa ngibulin aku. Yang membuat aku jengkel adalah kenyataan bahwa sebagian besar dari orang-orang MLM adalah menggunakan kedok "kangen" atau "nostalgia" untuk bertemu teman-teman lama untuk bisa masuk ke rumah-rumah dan menawarkan produknya. Sama sekali tidak etis..!! Dan payahnya, kejengkelanku pun tak bisa kulampiaskan pada Edo, karena dia adalah teman dekatku dulu. Siapa yang bisa tega hati mendamprat teman lama seperti ini..!! Apalagi, bisa jadi dia tidak seberuntung aku memperoleh pekerjaan yang lebih baik.

Aku sudah berusaha menyampaikan padanya bahwa aku tidak tertarik,karena pekerjaanku sebagai dosen dan lain-lain sangat menyita waktu. Tidak, aku tidak tertarik dengan 2-3 juta, atau bahkan 5-8 juta perbulan tambahan penghasilan yang bisa kuperoleh dari MLM. Sampai berbuih mulutku menyakinkan dia bahwa aku sudah memperoleh penghasilan yang cukup besar dari pekerjaan yang sangat menyenangkan, jadi aku tak perlu ikut MLM apapun. Selama satu setengah jam berikutnya aku hanya bisa menahan rasa jengkelku, sambil berkali-kali meyakinkan dia bahwa aku tak tertarik dan berharap-harap agar dia segera keluar dari rumah.

Selang dua hari setelah itu, ponselku beberapa kali menerima telepon dari Edo. Tapi, dengan berat hati, aku abaikan telepon itu. Berat rasanya memutuskan hubungan seperti itu, namun bila hubungan pertemanan tidak lagi memberikan kenyamanan, yaa.. apa boleh buat. Lebih baik kita berteman secara virtual atau secara kebatinan saja.

Kalo mau ketemu sih, boleh aja, tapi tunggu dua-tiga bulan lagi atau tunggu pas Lebaran aja. Kalo isu MLM ini sudah mulai mereda.

Makan Siang

Tuesday, July 18th, 2006

Minggu siang, di Plaza Tunjungan

Setelah menyelesaikan urusanku dengan seorang teman lama dari Australia di Sheraton, aku langsung melangkahkan kakiku menuju sebuah restoran siap saji. Tak lama kemudian aku pun sudah siap menyantap hidangan makan siangku. Aku tak terlalu memilih tempat makan siang ini. Selain, karena sudah lapar sekali, situasi TP saat ini juga ramai luar biasa. Hari Minggu siang begini memang pusat perbelanjaan besar seperti TP begini penuh sesaknya bukan main. Sumpek!!!Kadang-kadang mikir juga, apa enaknyaa..jalan-jalan dalam keadaan begitu padat merayap seperti itu. Tinggal dikasih santan, gula merah, dan es batu, jadi deh es cendol!! Makanya, aku berniat buru-buru menyelesaikan makanku dan segera cabut dari sana. Pulang!!!

Baru dua-tiga suap aku menyantap hidangan yang aku pesan, tempat di sebelahku tiba-tiba diisi oleh sepasang suami istri beserta seorang anak kecil dan pengasuhnya (babysitter). Dengan beberapa tas belanjaan di tangannya, ibu muda itu menempati kursinya, diikuti dengan suami dan anaknya serta pengasuhnya. Mula-mula aku tak memperhatikan tingkah polah mereka. Ngapain juga ngeliatin mereka. Bikin geer aja!! Tapi, ada sesuatu yang terlintas di benakku yang membuatku menoleh kembali ke arah mereka. Sesuatu yang terasa menggelitik dan mengganjal. Diam-diam kuperhatikan apa yang aneh di meja sebelah. Sepintas, semuanya terlihat biasa-biasa saja. Si ibu muda menyantap hidangannya sambil berbincang-bincang asyik dengan suaminya. Anak mereka juga asyik berceloteh riang sambil sesekali berlari ke arah ibunya untuk minta disuapi. Pandangan mataku tertumbuk pada si babysitter yang duduk, di meja lain yang tak jauh dari meja mereka.

Babysitter itu jelas sekali masih sangat belia. Wajahnya masih sangat polos dan lugu. Rambutnya dikepang dua. Kulitnya yang kecoklatan dibalut baju putih bersih yang terlihat agak kedodoran. Mungkin memang baju jatah yang disediakan untuknya tak ada yang sesuai dengan ukuran tubuhnya. Selop di kakinya meskipun terlihat masih baru namun tak pantas untuknya. Pendeknya, penampilannya terkesan sebagai seorang gadis polos dan lugu yang baru datang ke kota, baru mendapat pekerjaan, dan…sepertinya baru mengenal "dunia". Sosoknya pun terkesan seperti salah tempat. It seemed that she didn’t belong there.. Begitu asing dan sangat terasing!! Kasihan sekali, pikirku.

Tapi, bukan itu yang membuatku tertegun. Aku terpana melihat begitu asyiknya sepasang suami istri itu bercakap-cakap sambil menikmati seporsi makan siang mereka sambil sesekali menyuapi anak mereka, sementara si babysitter yang mendampingi mereka sejak tadi tak mereka acuhkan sedikitpun. Tak ada piring makan di mejanya. Tak ada pula gelas minuman di sana. Ia hanya duduk melongo dengan mata memandang majikannya. Tatapan matanya seakan mencoba membayangkan bagaimana rasanya seporsi ayam goreng, sup merah, salad, dan segelas soft-drink yang dinikmati majikannya di siang sepanas ini. Tak bisa kulukiskan betapa penuh harap wajah laparnya memandang kedua majikannya itu.

Pelan-pelan kuletakkan sendokku. Hilang separuh selera makanku. Tak mampu aku melanjutkan makanku melihat wajah lugu itu menatap penuh harap. Tak sanggup rasanya!!

Saking penasarannya, aku sengaja berlama-lama menghabiskan makananku. Aku perhatikan tingkah polah mereka. Dan, betapa takjubnya aku ketika kudapati sampai mereka berdua; suami-istri itu, selesai menyantap makan siangnya, dan beranjak dari kursi mereka, tak ada sepotong kue, tak ada sekerat daging, atau seiris kentang goreng, atau seteguk soft-drink yang mereka tawarkan atau mereka berikan pada gadis manis berbaju putih itu. Dengan asyiknya, mereka berdiri, melangkah keluar restoran, dan berlalu sambil menyerahkan anak mereka ke gendongan si babysitter, lalu berjalan mendahuluinya. Semua seakan biasa-biasa saja. Seakan tak terjadi apa-apa. Dan, sulit rasanya kulupakan wajah si babysitter itu ketika ia berjalan keluar restoran sambil sesekali menoleh ke belakang, ke arah piring bekas makan majikannya yang dagingnya masih bersisa cukup banyak. Ohh, matanya begitu sayu, begitu penuh harap, begitu ingin, begitu….ahh..!!!!

Perlahan, kulanjutkan makan siangku dengan berat hati. Tak habis pikirku ada manusia yang tega berbuat seperti itu pada manusia lain. Bisakah kau bayangkan seandainya dirimu-lah si babysitter itu…? Tak nelangsakah relung hatimu..? Tak mengisakkah batinmu.?

Ingin rasanya kupanggil dia, dan kupersilakan ia mengambil apa saja yang ia mau. Mau ayam goreng, mau sup, mau kentang, mau burger, mau soft-drink, apa pun deh..!! Terserah..!! Biar aku yang bayar..!! Mungkin wajahnya akan menjadi begitu berbinar-binar. Dan tak dapat kubayangkan betapa lahap makannya, dan betapa manis senyumnya melukiskan terima kasihnya yang luar biasa..

Ohh, betapa inginnya aku melakukan hal itu…!!

Tapi, berat sekali kaki ini melangkah. Dan aku hanya bisa menatap gadis itu terus menjauh, tanpa bisa berbuat apa-apa….

Idealisme Masa Kini

Saturday, July 8th, 2006

Tadi malam aku sempat jalan-jalan ke mall, membeli beberapa VCD dan DVD untuk bahan mengajar semester pendek dan semester depan. Sepulangnya dan sesampai di rumah, alangkah terkejutnya aku melihat sebuah paket bingkisan menarik sudah menanti dengan anggun di atas meja. Isinya sih, sederhana, buah-buahan aja. Anggur, pir, jeruk, apel. Nothing special. Di kemasan paket itu, tertulis nama pengirimnya. Dan nama itu adalah nama salah seorang mahasiswaku yang kebetulan semester ini mengambil tiga mata kuliahku. Dua di antaranya mengulang.

Tau nggak?

Ada perasaan aneh yang menyelinap perlahan dalam palung hatiku setiap kejadian seperti ini berulang. Seorang mahasiswa yang sedang berjuang di UAS tanpa diduga-duga mengirimkan sebuah bingkisan kepada dosen yang mengajarnya. Meskipun aku bukan orang yang mudah curiga, aku pikir wajar sekali kalo aku jadi berburuk sangka pada si mahasiswa tadi. Dan aku rasa, itu adalah suatu hal yang sangat manusiawi. Bayangin aja! Ikut mata kuliahku, mana aku juga dikenal sebagai dosen pelit nilai lagi…trus gak ada angin gak ada hujan si doi ngirim bingkisan ke rumah pas lagi minggu-minggu ujian. Ngapain coba? Padahal sehari-harinya boro-boro kenal, negur aja jarang..!! So, are you thinking what I’m thinking?

Rasanya tak mudah bagiku, yang berjuang menahan gempuran dari segala penjuru untuk mempertahankan idealismeku, bila harus berhadapan dengan mahasiswaku sendiri. Kenapa..? Karena selama ini, aku selalu percaya bahwa mahasiswa adalah agent of change, agen perubahan dalam kelompoknya menuju ke arah yang lebih baik. Mahasiswa, yang aku kenal selama ini, adalah manusia dengan hati yang masih polos dan penuh dengan ide dan idealisme. Dan, karena itulah aku senang berdekatan dengan mereka. Agar usiaku yang semakin larut tidak membawa serta idealismeku bersama senja. Agar aku bisa mendapatkan aura idealisme itu dari jiwa-jiwa muda yang penuh dengan birahi kesederhanaan dan kesucian hati.

Tapi, apa jadinya kalo ada mahasiswa yang seperti tadi..? Yang suka rela mengirimkan bingkisan ke rumah dosen-dosennya agar tak lupa memberi nilai minimal B di lembar nilainya. Yang suka rela mengantar jemput dosennya dari rumah ke kampus dan sebaliknya, atau mengantar dan ikut membelikan belanjaan kebutuhan sehari-hari mereka di mall, untuk sebuah predikat kelulusan. Bahkan, yang tak segan-segan melacurkan dirinya sendiri, merelakan tubuhnya dan kesuciannya untuk bisa menyandang gelar sarjana.

Pernah, lo, ada seorang mahasiswa yang cukup dekat denganku di kampus, tiba-tiba datang ke rumah sambil membawa sebungkus roti bakery sehari setelah dia mengerjakan UAS mata kuliahku. Sepertinya dia takut sekali kalau-kalau harus mengulang lagi di mata kuliahku. Padahal ketika aku periksa kertas ujiannya, dia sungguh layak mendapat nilai A. Bisa nggak terpikir olehmu, betapa berat bebanku mencantumkan nilai itu pada lembar nilai..? Bisa nggak terpikir olehmu, seandainya aku tetap menuliskan nilai A itu, maka dia akan berpikir "Oke, ternyata harga nilai A pak Sony gak mahal. Cukup sebungkus roti." Mending kalo gitu. Kalo…."Oke, ternyata nilai A pak Sony bisa dibeli..!" Gawat kan.? Tapi, di pihak lain, seandainya aku tidak menuliskan nilai A seperti yang menjadi haknya, aku akan bertindak curang pada mahasiswaku. Dilematis banget..!!

Aku jadi ingat masa-masa muda ketika aku masih jadi orang penting (deuu..orang penting ni yee..!!) di organisasi kemahasiswaan. Aku ada di posisi atas BEM dari tahun 1997-1999. Saat itu, pas hangat-hangatnya dosen dan mahasiswa turun ke jalan, memprotes segala bentuk KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) yang dilakukan rezim Orde Baru. Begitu lantang teman-temanku bersuara dan berpendapat, sampai-sampai aku yang memang diwanti-wanti oleh ibuku tersayang untuk tidak ikut-ikutan, dicap sebagai mahasiswa banci. Gak peduli pada nasib bangsa!! Tidak punya idealisme!! Egois!! Tak punya naluri perjuangan..!! Entah apa lagi caci maki mereka kepadaku.. Bodo amat!!

Saat itu, aku berpikir, "Emang gue pikirin..!! Yang gue pikirin adalah ini amanah dari orang tua gue, yang ngelahirin gue. Gue nggak ikut demo, gak bakal dosa, gak bakal ditanyain di alam kubur! Lha kalo gue ikut demo, udah panas-panas, buang waktu, buang tenaga, dapat dosa lagi karena gak ngejalanin amanah orang tua..!!"

Begitu sibuknya teman-temanku demo, sampai-sampai mereka lupa bahwa yang namanya kuliah tetap punya aturan sendiri. Hadir di kelas minimal 75%. Padahal 75% waktu mereka habis di jalan dan di setiap acara demo di gedung DPRD dan di mana-mana. Hasilnya..? Banyak yang kena tilang. Terutama teman-temanku yang asyik turun ke jalan, demo, memperjuangkan nasib bangsa (katanyaa sih..).

Tau nggak apa yang mereka lakukan..?

Mereka langsung mendekati pejabat-pejabat dekanat yang memang memiliki afiliasi sama dengan mereka (baca: berlatar belakang dari organisasi ekstra kampus yang sama), trus melakukan nego supaya tilang ujian itu dihapuskan bagi mereka. Dan itu berhasil. Tilang bagi mereka dihapuskan! Maklum, yang kena tilang kebetulan pentolan-pentolan dari organisasi ekstra kampus tersebut.

Cuma itu..?

Oh, enggaaak..!! Di antara teman-temanku (yang juga rajin berdemo memperjuangkan hilangnya KKN dari Indonesia), ada yang sempat kepergok mencontek. Tragisnya, dia mencontek mata kuliah Pancasila pada hari terakhir dan jam terakhir ujian!!! Dan sanksinya ya..gugur semua mata kuliah dong. Dengan gagah, dia berusaha mengurus ke pejabat dekanat yang memang berlatar belakang organisasi ekstra kampus yang sama, meminta supaya hukumannya dikurangi. Atas nama organisasi, katanya memohon. Dan ternyata "atas nama organisasi" memang rupanya menjadi alasan yang cukup kuat, sehingga hukumannya pun dikurangi. Gugur satu mata kuliah.

Aku cuma tersenyum masam dan tertawa getir mendengar kabar itu. Apa aku dengar kabar itu dari gossip?? Ooooh, tidak perlu..!! Aku tak perlu mendengar cerita lengkapnya dari gossip, karena yang bersangkutan dengan suka rela menceritakan "kisah perjuangan"-nya di hadapan dekanat, yang kemudian berhasil, karena adanya nepotisme tadi…

Ironis, ya..?

Apa ini yang namanya idealisme..? Apa ini yang namanya perjuangan memberantas KKN, lha padahal yang berteriak-teriak di jalan untuk memberantas KKN justru melakukan KKN itu sendiri..? Munafik banget, menurutku.

Dan sekarang, ketika mahasiwa sedang gencar-gencarnya menuntut proses pendidikan yang berkualitas, masih adaaa…aja segelintir dari mereka yang dengan terang-terang melacurkan kehormatan mereka sebagai mahasiswa yang dikenal penuh idealisme hanya untuk memperoleh nilai ujian yang baik.

Hampir di setiap momen, yang namanya mahasiswa selalu menuntut kondisi perkuliahan yang ideal yang membuat mereka bisa cepat lulus dengan kondisi siap kerja dan siap menerima gaji berjuta-juta. Tapi, sekarang ini, mereka maunya cuma belajar dengan nyaman, kuliah dengan santai, mengerjakan tugas jangan banyak-banyak (sekedarnya saja), ujian jangan susah-susah, nilai jangan pelit-pelit, tapi….kalo semuanya gagal, yaa…kirim aja satu paket tiramisu atau black forrest ke rumah si dosen…beres..!!!! Atau sanggong aja dosennya di dekat tempat parkir, terus ancam saja "Kubunuh kau!!!" dengan pisau terhunus, seperti yang pernah kualami beberapa saat lalu di kampus tercinta ini..!! Udaah, pasti beres..!!

Aduh, aduh…!! Apa aku yang emang udah terlalu tua, ya, sehingga aku tak bisa memahami kehidupan anak muda saat ini..? Atau emang itu hanya sekedar fenomena jaman milenium yang emang jauh berbeda dengan masa-masa sepuluh tahun yang lalu..? Apakah memang seperti inikah model idealisme masa kini..?

Aku melangkah masuk ke kamar. Pusing..!! Sementara bingkisan buah itu masih terpajang di atas meja.

Gairah Hidup

Friday, July 7th, 2006

Tak disangka, tak dinyana, tadi pagi, aku ketemu salah seorang mantan mahasiswaku. Dibilang mantan, karena emang sekarang dia bukan lagi mahasiswaku. Tidak lagi kerepotan ngerjain tugas-tugasku yang seabrek-abrek dengan nilai seadanya. Dia udah lulus (atau lolos..?) dan bekerja di sebuah perusahaan yang tidak terlalu ternama (baca: tidak dikenal blas!!! Gak bermerek!! Perusahaan generik!!) di Jakarta.

Adalah suatu kegembiraan tersendiri buatku kalo aku bisa bertemu mantan mahasiswaku, seperti dia. Entahlah. Nostalgia memang selalu manis buatku. Seperti juga tadi pagi. Kami asyik banget ngobrolin tentang kemarin dan hari ini. Dan, kupikir wajar doong, kalo aku bertanya tentang pekerjaannya saat ini. Eeeh…lha kok dia malah tersenyum sumbang…toh!!

"Saya kok malah nggak tau pak, sebenarnya pekerjaan macam apa yang saya jalani saat ini. Ini bukannya mengeluh dan nggak bersyukur atas rejeki yang saya terima, lho pak..! Cumaa…gimana ya..? Bayangin aja deh, pak, saya berangkat kerja dari rumah jam 6.30 pagi naik KRL. Berdesak-desakan kayak dawet..! Keluar kantor kalo bisa jam 9 malam, itu anugraaah gedeee…banget!! Jam 12 baru bubar, itu udah biasa. Besok paginya ya..keluar rumah lagi jam 6.30!! Walah..walah..walah..!!" keluhnya panjang lebar. Raut wajahnya jadi agak kusut.

Aku sih mencoba menjadi pendengar yang baik. Masih belum tahu, mau ke mana pembicaraan ini akan terarah.

"Rasanya iriii..banget sama teman-teman yang udah bisa menikmati hidup jam 5 sore. Keluar kantor masih bisa nongkrong di Starbucks atau nonton di mall atau sekedar makan malam atau jalan-jalan aja. Lha, saya…??!! Boro-boro jam 5 sore pulang, jam 8 malam aja gak biasa-biasanya!!"

Ia meneguk air mineral yang kusediakan di depannya.

"Dulu saya ini mikir, ya Tuhaan..kapan aku bisa menikmati hal-hal lain yang dianggap temanku sebagai kenikmatan kecil dalam hidup ini. Nongkrong di cafe, misalnya, atau jalan-jalan sambil makan malam di mall. Atau menikmati kopi hangat di rumah sebelum jam 8 malam tanpa merasa sangat letih dan pengen langsung ambruk ke tempat tidur………………dst…dst…dst"

Panjaaaang…banget keluhannya. Seakan tak berkesudahan.

Ketika ia terengah-engah kecapekan melontarkan semua keluh kesahnya, aku pun memulai ucapanku. Dengan nada ringan, aku berkata padanya.

"Percaya nggak, kamu? Dulu pun aku seperti begitu. Apalagi aku dulu sudah hampir pasti diterima jadi karyawan Bank Indonesia. Gajinya gede. Kesempatan promosinya banyak. Tapi aku milih kerjaan jadi dosen, yang begini begini aja," ujarku santai. Ia menatapku dengan pandangan hampir tak percaya.

"Ah, masa..? Kayaknya gak mungkin, deh! Bapak selama ini kelihatan sangat mencintai pekerjaan Bapak," katanya heran.

"Yaaa…kan aku bilang dulu. Pada bulan-bulan pertama aku jadi dosen. Kerjaannya banyak, bayaran juga gak sepadan meskipun lumayan juga, banyak ketemu sama mahasiswa bandel-bandel dan teman dosen yang pada sirik, ah…bete banget deh!! Frustasi banget!!"

"Tapi,"lanjutku,"aku kini punya perasaan lain. Oke, yang namanya kerjaan masih banyak. Tambah banyak malah. Bayaran juga naik gak seberapa, dibandingkan kenaikan jumlah pekerjaanku. Mahasiswa bandel juga makin banyak, teman-teman yang sirik juga masih berkeliaran. Tapi, setelah aku mengeluh sedikit, aku selalu pulang ke rumah dan beranjak tidur dengan senyum. Bahagia banget. I love my job very much!! And I love every single details of my job!!! Sepertinya nggak ada hal-hal yang tidak kusukai dari pekerjaanku saat ini. Dan kalau memang kebahagiaan itu harus dibayar dengan hal-hal yang kusebutkan tadi, kerjaan banyak, duit gak seberapa, ketemu manusia-manusia gak jelas, aku rasa itu adalah harga yang pantas aku bayarkan untuk kebahagiaan yang aku rasakan saat ini…"

Si anak muda di depanku mengerutkan keningnya. Heran dia.

"Kok bisa begitu, pak..? Gimana?"

"Karena aku sadar bahwa di luar sana, atau di depanku sekarang ini, masih banyak orang yang sering mencaci-maki dirinya sendiri, mencaci maki orang lain, karena pekerjaan yang menjadi sumber kehidupannya bukanlah sesuatu yang ia sukai. Bahkan bisa jadi itu adalah sesuatu yang ia benci. Ada enggak orang yang seperti itu? Yang membenci pekerjaan yang menjadi sumber kehidupannya? Kupikir, banyak juga lho!! Jadi, dengan kondisiku saat ini, aku rasa, aku harus bersyukur dan mulai lebih mencintai pekerjaanku. Ada enggak orang yang harus melupakan impiannya, cita-citanya, dan terpaksa bekerja sekedarnya hanya untuk menghidupi hidupnya? Kupikir, banyak juga!! Jadi, aku harus bersyukur atas apa yang kumiliki saat ini. Jadi, aku selalu mengingatkan diriku sendiri untuk tidak lupa mensyukuri apa yang aku miliki saat ini.."

Lelaki muda itu menatapku lama. Ada getaran di mata beningnya itu. Namun tak terucap apapun dari bibirnya.

"Ada satu filosofi Jawa yang selalu saja mengatakan "Untung lho, kamu begini…." meskipun kondisi yang kita alami sedang sesial apapun. Rada konyol memang!! Tapi aku memandang filosofi itu sebagai satu dorongan untuk hidup dengan penuh rasa syukur, apapun yang kita miliki saat ini. Dengan begitu kita bisa punya gairah, yang bisa membuat kita tetap bersemangat menjalani hidup yang tadinya terasa membosankan bagi kita."

Lelaki muda itu masih tetap menatapku dengan tatapan yang tajam. Namun matanya sudah mulai tersenyum.

Mudah-mudahan saja dia menyadari bahwa terkadang apa yang kita anggap sebagai sesuatu yang membosankan justru menjadi anugrah terindah bagi orang lain. Apa yang kita anggap sebagai sesuatu yang tak bernilai, malah menjadi sesuatu yang sangat didambakan oleh orang lain. Rasa syukur atas apa yang sudah kita miliki, aku yakini, akan dapat membuat hidup ini jadi lebih indah, membuat duka ini menjadi lebih ringan, dan membuat jalan kita menjadi lebih lapang.

Bagaimana menurutmu..?

Impian Siang Hari..?

Monday, July 3rd, 2006

Buat yang rajin menyaksikan AFI alias Akademi Fantasi Indosiar, pasti kenal nama-nama seperti Tia, Fibri, Bojes, Alvin, Mawar, Veri, dan lain-lain. Pasti kalian juga tahu bahwa untuk menjadi pemenang AFI, seorang peserta harus mampu mengumpulkan sms sebanyak mungkin dari pemirsa TV. Peserta yang memperoleh polling terendah akan langsung disuruh gosok gigi, cuci kaki, dikirim pulang dan disuruh bobo di rumah. Otomatis, kalo mereka (atau orangtua mereka) nggak mau mereka didepak dan disuruh pulang, mereka harus bisa menarik massa yang mau mengirimkan sms sebanyak mungkin untuk mereka.

Ada cara lain?

Tentu saja ada. Mereka bisa aja minta orangtua atau kerabat atau teman-teman mereka mengirimkan sms sebanyak-banyaknya supaya polling mereka terdongkrak naik. Jadi, sebenarnya pemenang kontes seperti AFI atau Indonesian Idol emang bisa aja diragukan. Apa emang bener banyak yang milih atau karena duitnya emang kenceng buat beli pulsa? Beli sendiri, dikirim sendiri, dan bisa dapat polling yang cukup tinggi meskipun gak ada pemirsa lain yang milih dia.

Nah, balik ke artis-artis AFI seperti Bojes dan kawan-kawan. Gosipnya, nih, (duuh..sempet-sempetnya ngegosip di friendster!!), untuk membiayai sms itu, orangtua Bojes dan Alvin harus merogoh kocek mereka sampai lebih dari Rp 1 Milyar!! Sebagian besar artis AFI lainnya, seperti Fibri, Intan, Nana, Yuke, dan lain-lain juga harus menanggung hutang dalam jumlah sampai ratusan juta Rupiah. Hutang itu tercipta karena orangtua mereka berusaha mengirimkan sms sebanyak-banyaknya dan untuk itu membeli pulsa sebanyak-banyaknya. Nah, karena kebanyakan di antara mereka itu bukan dari keluarga mampu dan tersisih di babak awal, tentu saja hutang-hutang itu bertumpuk dan tidak balik modal!! Katanya juga nih, beberapa dari mereka terpaksa tinggal di rumah kos yang cukup kumuh untuk ukuran artis ibukota. Mereka kini berusaha keras mengumpulkan uang untuk melunasi hutang-hutang itu sambil  menjalani ikatan kontrak dengan Indosiar.

Tragis, ya..?

Mereka itu adalah orang-orang yang punya impian indah untuk hidup dan masa depan mereka. Mereka berjuang sekuat tenaga untuk mencapai mimpi-mimpi itu. Dan ketika apa yang mereka miliki ternyata kurang untuk dapat menjangkau impian itu, mereka pun tak segan-segan berhutang untuk berjudi dengan masa depan mereka sendiri.

Kok, berjudi..?

Yaa, gimana enggak. Mereka berani melakukan apa saja (berhutang sampai ratusan juta) untuk membiayai suatu investasi yang unsur gamblingnya besar sekali. Dan, sekarang, investasi itu rugi besar, gak jadi menang kontes, hidup terlilit hutang, dan impian indah itu pun lenyaplah sudah.

Aku kini jadi teringat mahasiswaku yang manis-manis. Tadi pagi,  ada beberapa orang mahasiswaku dari angkatan purbakala (karena spesies angkatan mereka sudah "punah" di kampus) yang udah hampir didepak dengan tidak hormat dari kampus; menghadap aku. Tujuannya apa lagi kalo bukan berusaha mengemis nilai dariku. Mereka sudah merasa bahwa mereka harus rela menerima nilai D dan E dari aku. Nilai D dan E yang kelima dariku, untuk mata kuliah yang sama. Gile beneer..!!

Aku juga teringat pada sekumpulan mahasiswaku angkatan 2000. Dulu, ketika baru menginjak semester satu-dua, ada sepuluh orang mahasiswa angkatan 2000 dari keluarga berada (kalo ngeliat dari mobil-mobil yang mereka bawa); yang selalu duduk berdekatan (dan selalu cuek sama pelajaran di kelas), pulang bersamaan, nongkrong bareng-bareng, bahkan bolos bareng-bareng. Setia kawan banget, deh!! Bahkan kesepuluh orang itu juga seia sekata dalam prestasi. Sama-sama selalu dapat IP satu koma. Dan bahkan akhirnya, kesepuluhnya sama-sama di-DO pada saat yang sama. Solider banget!!

Aku juga teringat mahasiswaku yang lain, yang selalu asyik dengan dirinya sendiri di kampus. Tidak berusaha meraih prestasi sebaik-baiknya, tapi malah keenakan dengan keinginan mereka sendiri. Ada yang keenakan cari duit dan lupa menyelesaikan kuliah. Ada yang keasyikan ikut organisasi sampai-sampai lupa nyelesaikan skripsi. Ada yang terbuai dengan kebebasan masa remaja dan lupa mengendalikan diri sendiri, dan enggan memberikan yang terbaik untuk kuliahnya dan lebih suka berhura-hura menikmati keceriaan mudanya.

Aku jadi ingin bertanya pada mereka-mereka itu, apakah memang orangtua mereka punya harapan yang sama besarnya dengan orangtua Fibri atau Bojes akan anak-anak mereka? Apakah orangtua mereka juga memiliki impian yang indahnya sebagaimana impian orangtua Alvin atau Pasya atas anak-anak mereka? Dan, apakah orangtua mereka juga berjuang sekuat tenaga untuk mencapai harapan itu? Berkelit dari segala kesulitan untuk meraih impian indah itu?

Apakah memang orangtua para mahasiswa itu mempertaruhkan hidup mereka untuk anak-anak mereka yang sebenarnya tak pantas diperjuangkan?

Apakah memang harapan dan impian orangtua mereka akan keberhasilan putra-putri mereka adalah suatu mimpi indah di siang bolong? Sesuatu yang tak akan mungkin terjadi? Sesuatu yang tak pantas diupayakan karena toh putra-putri mereka tak sudi untuk mencapai harapan dan impian itu?

Pernah nggak, mereka berpikir, betapa sedihnya orangtua bila harapan dan impian mereka tak terjangkau hanya karena putra-putri mereka lebih suka bermain-main dengan harapan, impian, dan kesenangan mereka sendiri…?

Ah, tau deh..!! Bodo amat!! Aku kan cuma dosen. Orang luar. Tak pantas rasanya menanyakan hal ini kepada mereka. Aku tak bisa bertanya pada mereka, meskipun aku juga tak sanggup membayangkan betapa kelabunya masa depan mereka bila sampai saat ini mereka lebih asyik bercanda dalam gelinjang hati mereka sendiri….

Entahlah…!!