Melacur
Thursday, July 27th, 2006Pelan-pelan aku melangkahkan kakiku memasuki bangunan itu. Sudah setahun lebih aku mengajar di sana, jadi rasanya aku sudah sangat mengenal aroma tiap sudut ruangannya. Kakiku terus melangkah menuju ruang akademik, tanda tangan daftar hadir dosen, lalu masuk ke ruang dosen, menyantap makan malam yang telah disiapkan dalam kardus sambil menonton acara berita petang. Setelah berita usai, aku pun menyiapkan diri untuk masuk kelas. Aku selalu berusaha untuk tidak terlambat di kelas manapun di mana aku mengajar. Perlahan kakiku melangkah menuju ruang kelas. Dan ketika kulihat sebagian besar mahasiswaku sudah siap dengan buku mereka masing-masing, aku pun memulai kembali tugasku. Mengajar.
Tapi, ada yang aneh… Kau tahu, apa yang aneh..? Aku sama sekali tak merasakan kenikmatan mengajar saat itu…..!!!! Buat aku, itu aneh banget, mengingat aku sangat senang mengajar…
Tapi, dengan berat hati, harus aku akui bahwa saat aku mengajar tadi, aku tak bisa merasakan kebahagiaan sedikitpun. Dan, dengan jujur harus aku katakan, bahwa setiap kali mengajar di sini, di tempat ini, di bangunan itu, aku sama sekali tak bisa mengecap kebahagiaan yang selalu kurasakan saat aku mengajar mahasiswaku yang masih imut-imut di S1 atau D3.
Entahlah, aku tak tahu sebabnya. Mungkin karena memang aku tidak suka dengan tipikal mahasiswanya yang terkesan sangat malas. Atau mungkin juga karena aku tidak suka dengan mata kuliah yang aku ajarkan ini. Atau ada sebab yang lain. Yang jelas, kalo engkau bertanya padaku "Lha terus, kalo emang gak bahagia, ngapain mau ngajar di sana sampe lebih dari setahun..?" Aku akan tersenyum pahit dan menjawab,"Bayarannya gede banget, teman!!"
Ya, itu benar!! Aku emang tetap mengajar di sana meskipun aku tak bisa bahagia karena memang bayarannya lumayan gede.Gimana nggak gede kalo sekali ngajar 2,5 jam aku dapat lebih dari Rp 500 ribu..? Dua kali ngajar udah Rp 1 jeti. Padahal aku pegang 3 kelas di sana. Itulah alasanku kenapa aku masih membetah-betahkan diriku mengajar di sana. Terlalu menggiurkan untuk ditolak…!!! Hari gini dapet 2 juta sebulan dari ngajar 1 kelas doang….n 6 juta sebulan dari total 3 kelas yang aku pegang..??!!! Mau ditolak..? Yang bener aja..! Mikir pake otak buatan mana tuh, nolak rejeki halal segitu gede…??
Tapi, entah kenapa, "akal sehat"-ku malam ini tidak berfungsi. Daya tarik Rp 6juta sebulan malam ini lenyap entah ke mana.. Aku hanya tahu, bahwa aku tak bahagia. Aku sendiri heran, dalam kondisi tidak bahagia begini kok mahasiswaku masih begitu senengnya padaku… Tapi, yang jelas, aku tahu pasti, that’s not the best of me what I gave them…!!! Dan, tanpa sadar idealisme-ku terluka…
Aku cinta pekerjaan ini. Selama ini, baru kali inilah aku mengajar demi mengejar uang. For the sake of the money..!! Dan, meskipun customer satisfaction index-ku masih lumayan bagus, aku tahu bahwa aku tak memberikan rasa cintaku waktu mengajar saat itu… Aku bahkan tak tahu apakah mahasiswaku paham atau tidak dengan apa yang kuberikan.
Pernahkah kau merasakan betapa beratnya mengerjakan pekerjaan yang tak kausukai, tapi mau tak mau harus kau lakukan..?? Pernahkah kau merasakan betapa perihnya sanubarimu, menyadari bahwa kau telah mengkhianati prinsip hidupmu sendiri..? Menggores idealisme yang kau miliki dengan uang…??? Ooohh, periih banget rasanya….begitu pahit rasanya menelan goresan luka hati itu…
Entahlah denganmu, tapi aku merasa bahwa saat ini, saat mengajar di sini, aku tak ubahnya seperti pelacur, yang menggadaikan kehormatan dan harga dirinya untuk sejumlah uang… Pelangganku terpuaskan, namun aku justru merasakan kepedihan.
Dan, saat itu, aku sempat berpikir, betapa lebih pedihnya perasaan orang-orang yang harus bekerja membanting tulang melakukan hal-hal yang tidak ia sukai, untuk memperoleh sejumlah uang, untuk sekedar bertahan hidup..!! Karena tak ada pilihan lain…!! Betapa sengsaranya hidup dalam keadaan seperti itu, di mana apa yang kita lakukan sehari-hari bukanlah sesuatu yang kita sukai.. Tapi kita tak bisa mengelaknya karena kondisi kita yang serba terbatas… Betapa sengsaranya hidup seperti itu…?
Gimana rasanya si Tony, teman kuliahku yang SMA-nya dari Taruna Nusantara, lulus dengan IPK 3,29, ganteng, gagah, keren, tapi sampe sekarang hanya bekerja menyewakan komputer dan menerima pengetikan di sudut kota Malang… Atau si Ferry, adik kelasku SMA, dulu tiap kali terima rapor selalu meraih ranking 1 paralel se-SMA 6, kini bekerja hanya sebagai waiter di sebuah perusahaan katering langganan kampus, karena tak punya biaya untuk kuliah. Betapa nelangsanya..!!
Pernahkah kau berpikir bahwa mungkin saja dirimu di masa yang akan datang dihadapkan pada kondisi yang memaksamu untuk mengerjakan sesuatu yang tidak kau sukai….??? Setiap hari, berulang-ulang, berkali-kali…!!! Apa yang akan kau lakukan..? Apakah akan diam saja, seperti aku, karena duitnya enak banget..? Apakah kau akan memberontak dan lari dari kondisi yang memaksa itu..?? Atau apakah kau akan menyerah lunglai pada suratan dan menjalani hari-harimu dalam perasaan gundah yang tak berkesudahan, karena memang tak ada yang bisa kaulakukan…???
Selamat datang di dunia nyata, teman…..!!! Bersiaplah untuk melacurkan diri kita masing-masing, entah karena memang cinta pada uangnya, atau semata-mata karena tak punya daya untuk berontak pada kenyataan… Bersiaplah untuk "menjual" idealisme kita untuk sesuatu yang lebih nyata…!! Bersiaplah semua…!!