Archive for June, 2006

Keteguhan Iman

Sunday, June 25th, 2006

Teringat aku akan seseorang yang sempat menghiasi kehidupan mudaku dulu. Sebut saja namanya Sinta. Seorang gadis manis, supel, energik, modis, dan menyenangkan. Saat itu, kehidupan seakan begitu ramah padanya. Tak pernah kudapati ia bermuram durja atau berwajah gulana. Segalanya begitu indah baginya. Belum pernah ia merasakan pahit getirnya kehidupan sebagaimana yang dirasakan sebagian besar temannya saat itu. Maklumlah, ia terlahir dari keluarga pengusaha yang sukses di Surabaya. Meskipun rumahnya tidak menjulang megah dan mobilnya juga tidak berderet-deret, nampak jelas bahwa keluarganya sangat berkecukupan.

Bagiku, keluarga Sinta sangat menarik. Paling tidak, kalau dilihat dari keragaman keyakinan hidup yang mereka anut. Ayah dan kakak lelakinya mengaku Muslim; meskipun menurut Sinta mereka belum pernah merasakan segarnya air wudhu…persiiis kayak Fandi dan keluarganya di Kiamat Sudah Dekat. Ibunya dan Sinta sendiri adalah penganut Protestan, meskipun hanya ibunya yang rajin ke gereja sebulan sekali. Saat itu, hal itu bukanlah hal yang penting baginya. Dan juga bagiku. Maklum, namanya juga ABG…

Kami mulai jarang berkomunikasi sejak aku diterima di Unair. Dan aku yang begitu terpesona dengan kehidupan kampus yang benar-benar baru mulai melupakan teman-temanku yang dulu. Kata teman-teman sih, Sinta masuk John Robert Powers. Tapi ada juga yang bilang kalo dia kuliah di akademi sekretaris. Tau deh, mana yang bener..!! Tahun 1994 memang masa di mana telepon rumah masih merupakan barang yang cukup mewah. Boro-boro HP, pager aja belum banyak beredar. Jadi, wajarlah kalo komunikasi kami terputus. Intensitas aktivitasku di kampus juga membuatku sedikit demi sedikit menyisihkan Sinta dari keseharianku.

Setahun kemudian, aku bertemu kembali dengan Sinta. Seorang temanku menyampaikan pesannya kalau dia ingin bertemu denganku. Penting, katanya. Dan, perjumpaan itu memang cukup menyenangkan. Kami berbicara tentang teman-teman lama yang sempat mewarnai keceriaan kehidupan kami setahun yang lalu. Namun, keceriaan itu berubah menjadi sesuatu yang mengejutkan ketika sekonyong-konyong ia berkata padaku, bahwa ia ingin pindah agama dan memeluk Islam. Dan ia, yang katanya sudah mendengar aktivitas keagamaanku di luar kampus, minta aku untuk membimbingnya dan memantapkan langkahnya.

Aku terperangah. Tapi, aku cepat-cepat menyanggupi permintaannya. Sore itu juga ia aku ajak menemui sahabat karibku, yang sudah berkali-kali menangani muallaf bersamaku. Dan setelah sebulan lebih mendalami Islam dengan tekun, pada bulan Oktober 1995 Sinta pun mengucapkan syahadat dan masuk Islam. Ia nampak begitu tenang dan mantap menyatakan persaksiannya meskipun air matanya sempat berlinang-linang.

Entah mengapa, pilihan hidupnya membuatnya tersingkir dan terusir dari rumah dan kehidupannya yang nyaman. Ia keluar dari rumahnya memilih untuk kos di sebuah rumah kecil di kawasan Gebang. Tak pernah ia mau bercerita padaku, segala hal yang membuatnya memilih jalan hidup seperti ini. Tak juga ia mau bercerita, apa yang membuatnya diusir oleh kedua orangtuanya yang dulu terlihat begitu menyayanginya. Ia hanya berkata,"Ini jalan hidup yang kuyakini, Son. Tolong jangan tanyakan kenapa-nya. Aku takkan bisa dan takkan mau menjawabnya." Maka segalanya pun tetap tersimpan rapat-rapat.

Dan, ia pun memulai hidup baru. Pagi hari ia bekerja sebagai guru TK di sebuah sekolah kecil di Gebang untuk sejumlah upah yang jauh lebih sedikit dibandingkan uang saku bulanan yang ia terima dari ibunya selama ini. Namun ia tak pernah mengeluh. Wajahnya kini semakin berseri dan menawan dalam lindungan jilbab yang selalu dikenakannya. Dan, beberapa bulan kemudian ia berjumpa dengan seorang pegawai negeri rendahan dari Bandung yang kebetulan sedang bertugas di Surabaya. Tak lama berselang, pria itu mempersuntingnya dan mengajaknya mengarungi hidup bersama di Bandung. Tak ada sepatah kata perpisahan pada keluarganya yang entah bagaimana kabarnya. Dan sejak saat itu pula, bagaimana kabarnya Sinta, di mana tempat tinggalnya, tak ada yang tahu. Semua bertanya-tanya… Namun tak ada yang tahu jawabnya.

Sebetulnya, aku sendiri sudah hampir melupakan Sinta sama sekali. Namun, yang namanya takdir ternyata membuat kami bertemu kembali beberapa waktu yang lalu, ketika aku sedang mengunjungi keluarga besarku di Bandung. Tak dinyana, ia tinggal persis berseberangan dengan rumah saudaraku di daerah Jatinangor.

Hampir aku tak mengenalinya kalau ia tak menyapaku lebih dulu. Tubuhnya kurus kering. Pakaiannya meskipun bersih terlihat kusam karena terlalu sering dicuci. Kulitnya pun tak sehalus ketika masa sekolah dulu.

Hampir menangis aku melihatnya. Begitu jauh berbeda dengan Sinta yang aku kenal dalam memoriku. Namun, ia terlihat sangat bahagia. Meskipun, seluruh harinya ia habiskan untuk mengasuh dua anaknya dan berjuang untuk hidup dengan menjajakan pisang goreng keliling kampung. Maklum, suaminya hanyalah pegawai rendahan yang gajinya hanya bisa bertahan untuk makan sekedarnya. Ia terlihat begitu dewasa dan begitu bijak. Tegar dan tak sedikitpun menyesali apa yang telah ia pilih dan apa yang telah ia buang.

Apabila ada sedikit waktu senggangnya, ia pun mengajak kedua putrinya untuk pergi ke Bandung mengikuti pengajian. Berbekal tas tua yang sudah sobek di sana sini, ia membawa dua botol air putih dan sebungkus nasi dengan lauk seadanya. Naik turun angkot, berpeluh keringat, dan berbeban berat kedua anaknya, ia begitu mantap memperdalam keyakinan yang telah ia pilih. Dan tak sedikitpun ia mengeluh…

Tak sempat ia menangis, karena menangis itu hanya membuang waktu. Tak sempat ia mengeluh, karena mengeluh tak pernah memberikan solusi hidup.

"Jalani saja. Inilah hidup yang aku inginkan. Mungkin memang tidak bisa aku merasakan kenyamanan hidup seperti dulu, tapi di sini aku bisa bahagia," jawabnya ketika kutanya. Sederhana sekali jawabannya. Namun begitu dalam maknanya.

Dan ketika aku berkaca pada diriku sendiri, perlahan menyelinap perasaan malu dalam hatiku. Ketegaran seperti itu sepertinya tak pernah aku miliki. Keteguhan iman seperti itu rasanya belum pernah aku rasakan. Saat kulihat perempuan muda itu dengan langkah perkasa berkeliling kampung meneriakkan dagangannya, pulang ke rumah dan mengasuh anaknya, lalu berangkat pengajian dengan bekal seadanya, aku jadi ragu, mampukah aku sekuat dia..? Mampukah aku bertahan dalam keyakinan dengan keteguhan sebagaimana imannya..? Aku tak tahu… Sungguh, aku tak tahu…

Bahagia yang Sederhana

Saturday, June 24th, 2006

Suatu siang, 11 tahun yang lalu…

Seperti biasa, siang-siang begini aku selalu bertandang ke sebuah rumah kecil di sebuah gang di jalan Kedung Sroko. Rumah itu adalah rumah kos tempat tinggal teman-temanku, ada yang dari FE juga meskipun sebagian besar dari FK. Karena aku hampir tiap hari datang ke sana, aku sudah sangat welcome dan familiar di rumah itu.

Siang itu, rumah kos lagi sepi. Kayaknya teman-teman FK-ku lagi kuliah praktikum. Aku duduk di ruang tengah, bingung mau ngapain. Acara TV membosankan. Gak ada yang diajak ngobrol. Mau numpang tidur juga kamarnya pada dikunci. Ahh..ya udah, aku putuskan untuk duduk sebentar di sofa sekedar melepaskan penat.

Aku menghela napas panjang.

Sudah seminggu ini aku lagi gelisah dan jengkel. Entah pada siapa. Ada acara reuni SMA yang ingin aku hadiri, dan kayaknya keren banget kalo aku bisa mengenakan blazer hitam di acara itu. Sudah lama aku berangan-angan bisa membeli blazer itu sejak pertama kali aku melihatnya di sebuah department store. Tapi, masalahnya, aku gak punya duit!! Klasik banget.. Uang beasiswaku baru saja aku habiskan untuk beli buku-buku kuliah. Uang saku dari mamaku jelas gak cukup untuk membeli atau memesan pakaian semahal itu. Uang tabunganku juga gak seberapa banyak. Jadi, satu-satunya sumber yaa…minta pada Menteri Keuangan di rumah; mama tersayang. Tapi sedari minggu lalu sampai kemarin, mama selalu menolak. Alasannya juga klasik..

"Bukannya mama gak mau ngasih,"ujar beliau kemarin,"cuma sekarang ini mama lagi gak ada uang. Usaha papa kan kamu tahu sendiri lagi lesu begini. Tahun ini kita kan prihatin, Son. Tahun ini usaha lagi sepi, ini juga tahun terakhir nyicil rumah dan mobil, jadi mama harus agak ketat pegang duit. Tahun depan kita agak longgar. Sabar, deh!"

Dalam renunganku, aku pun terdiam. Benar sih, kata mama. Tapi, aku tetap merasa kecewa. Dan gundah. Masa reuni SMA mau datang pake baju batik atau kemeja lengan pendek, yang bener aja dong..!! Lha aku kan termasuk orang yang paling dikenal di antara teman-teman SMA, masa mau tampil seadanya..!! Malu dong..!! Tapi, ahh..tau deh, gimana entar..!

Pintu pagar berderit.

Ronny, anak FKG, masuk rumah. Melihatku santai di sofa, ia pun menghampiriku dan duduk di sebelahku.

"Kata anak-anak, ibumu sedang opname di Solo, ya?" tanyaku membuka percakapan siang itu.

Ronny mengiyakan. Ia mahasiswa FKG asal Solo. Kesederhanaan yang ia tampilkan jelas menunjukkan bahwa ia bukan anak orang berada. Dan, kini ibunya harus dirawat di rumah sakit. Aku bisa membayangkan betapa ruwet pikirannya saat ini.

"Kamu nggak pulang ke Solo? Menengok ibumu?" tanyaku hati-hati.

Ia terdiam.

"Aku nggak punya uang, Son,"ujarnya pelan,"Bis Surabaya-Solo kan paling murah Rp 5.000, pulang pergi sudah Rp10.000, belum naik bis ke Bungurasih. Belum dari terminal Solo ke rumah. Paling enggak butuh Rp 15.000,. Lha, uangku udah habis. Bapakku juga lagi kesulitan ngirim duit buat aku. Ini aja aku udah ngutang Eko buat makan seminggu ini."

Aku terperangah!! Duit Rp 15.000 aja gak punya, sampe-sampe ngutang buat makan seminggu..??? Wah, ini sesuatu yang baru buatku. Saat itu, makan di warung umumnya berkisar Rp 3000-4000 sudah dengan lauk sepotong ayam goreng atau empal dan minum es teh. Dan saat itu, mengantungi uang Rp 50.000-60.000 untuk hidup seminggu adalah wajar untuk anak kos dengan gaya hidup yang sederhana. Atau Rp 30.000-40.000 buat mereka yang hidupnya lebih terbatas. Tapi, aku nggak bisa membayangkan kalo ada yang gak punya Rp 15.000 di kantungnya, lha dia mau hidup dengan cara bagaimana di Surabaya..?? Mau makan batu sama kecap..?!!

"Lha, terus kamu sendiri apa nggak pengen pulang..?" tanyaku lagi.

"Ya, pengen toh, Son. Kamu ini gimana! Cuma, ya gimana lagi kalo aku gak punya duit," tukasnya jengkel.

Aku pun buru-buru minta maaf, menyadari ketololan pertanyaanku.

"Padahal, aku juga lagi bingung, gimana kalo ibu sudah boleh pulang. Lha bapak udah dua bulan ini nggak bisa ngirimi aku uang, gimana mau mbayar biaya rumah sakit? Mau ngutang sama siapa beliau?" lanjutnya. Pembicaraan jadi semakin sendu.

"Teman-teman di sini tau masalahmu?" tanyaku halus.

"Beberapa orang tau juga, tapi aku udah terlalu banyak ngerepoti mereka. Sudah dua bulan ini aku numpang makan sama mereka. Malu…"      

Dalam hatiku, batinku bergolak bimbang. Di dompetku masih ada tiga lembar dua puluh ribuan dan beberapa lembar yang lain. Aku sih nggak keberatan memberikannya pada Ronny. Tapii…dia mau terima nggak ya? Apakah dia nggak tersinggung dengan pemberianku ini..? Habis, aku belum terlalu akrab dengan Ronny. Biasanya kami hanya sekedar say hello aja kalo ketemu. Jadi, aku tidak tahu apakah dia bisa mengenali dan menerima maksud baikku.

"Ron, kalo kamu mau, kamu boleh pakai uangku. Ini terimalah. Pakai aja buat pulang."ucapku sambil menyodorkan dua lembar dua puluh ribuanku. Nekat aja deh, pikirku. Kalau memang dia tersinggung, yaa…aku tak bermaksud seperti itu.

Ronny terdiam. Bimbang, nampaknya.

"Beneran, Son..?"tanyanya ragu-ragu.

Aku mengangguk mantap. Hilang kekhawatiranku.

"Tapi, gimana……."ia ragu-ragu menyelesaikan kalimatnya. Tapi aku tahu maksudnya.

"Gak usah dipikir gimana atau kapan bayarnya. Pokoknya kamu pulang dulu ke Solo dan bereskan urusanmu." jawabku.

Pelan-pelan tangannya terulur dan menerima dua lembar uang itu. Lirih sekali ia membisikkan terima kasih. Ada sedikit air mata di pelupuknya.

"Roooon……"tiba-tiba suara ibu kos terdengar dari depan rumah  memanggil,"ada telepon dari Solo.."

Ronny terkejut. Matanya jelas sekali memancarkan ketakutan dan kecemasan. Buru-buru ia melesat pergi ke rumah ibu kos yang terletak persis berseberangan dengan rumah kos ini. Tak lama kemudian, ia berlari dan masuk kembali. Ia berlari menghampiriku. Melihat wajahnya yang tersenyum riang, aku tahu bukanlah kabar buruk yang ia terima.

"Ibuku sudah sehat, Son! Sudah boleh pulang ke rumah! Sekarang, aku mau beres-beres dulu, ya, aku mau berangkat ke Solo sore ini." ujarnya riang.

"Lho, terus, biaya rumah sakit ibumu sudah beres?" tanyaku mengingatkan kecemasannya tadi.

"Belum,"jawabnya segera,"Tagihannya belum dibayar. Habis, gimana lagi, emang belum punya duit, kok. Untungnya, rumah sakitnya mau ngerti. Kami diberi waktu satu bulan untuk melunasinya. Mungkin seminggu dua minggu ini aku akan kerja buruh di Solo, biar hutang itu bisa cepat dilunasi. Makasih, ya, Son, pinjaman duitnya, Insya Allah aku ganti sepulang aku dari Solo nanti..!"

Lalu ia masuk kamar sambil bersenandung pelan, mulai mengemasi sebagian pakaiannya. Begitu selesai berkemas, ia langsung minta tolong aku untuk mengantarnya ke tempat pangkalan bemo P yang akan mengantarnya ke Wonokromo. Dari situ ia akan naik bis ke Bungurasih.

Di atas motorku, aku tak bisa melepaskan pikiranku dari lelaki muda yang sedang membonceng di belakangku.

Ronny tidak bilang, dan mungkin tidak akan bisa bilang bahwa dia bahagia. Tapi, kebahagiaan itu jelas terpancar dari matanya yang kini jadi berbinar-binar. Dan suaranya sedari tadi, ketika menceritakan bahwa ibunya sudah boleh pulang, nada cinta dan kasih itu begitu kental terdengar. 

Ketika ia turun dari motorku dan melangkah menuju sebuah bemo P yang sedang mangkal, wajahnya, gerak tubuhnya, senyumnya, semua menunjukkan kegembiraan yang meluap-luap. Hidupnya begitu sengsara (paling tidak, menurutku), namun ia begitu bahagia siang ini. Dan itu hanya karena ibunya sudah sembuh. Hanya karena ibunya sudah boleh pulang dari rumah sakit. Begitu sederhananya jiwa lelaki muda itu.

Tidak pernahkah ia meminta blazer baru seharga ratusan ribu dan ditolak ibunya karena tak punya uang? Atau pernahkah ia meminta tambahan uang kiriman supaya bisa makan lebih enak dan tak harus ngutang pada temannya, tapi ditolak ibunya karena tidak punya uang? Pernahkah? Tidak? Pernahkah?

Ahh, betapa sangat inginnya aku menanyakan itu padanya. Namun bemo kuning itu telah menjauh dan membawa lelaki bahagia itu di dalamnya………

Pilihan Hidup

Thursday, June 22nd, 2006

Lelaki muda itu duduk di depanku dengan santai. Asap rokok terus mengepul dari bibirnya yang menghitam. Sore-sore begini memang enak ngopi atau minum teh ditemani pisang goreng atau rokok, sambil duduk santai dengan seseorang yang enak diajak ngobrol.

Sore ini, aku kedatangan tamu istimewa. Adam namanya. Sahabat karibku semasa aku di SMP dulu..(wuih, berapa tahun yang lalu ya? Kok jadi ngerasa tua banget..!!). Sudah lebih dari 10 tahun kami tak pernah bertemu. Terakhir, pertemuanku dengannya adalah ketika aku duduk di semester tiga. Jadi, perjumpaan ini memang begitu istimewa rasanya…

Dulu, nama kami berdua sangat dikenal di SMP 3 Surabaya. Gimana enggak..? Yang satu (aku, niih..!!) dikenal sebagai aktivis organisasi unggulan, langganan juara kelas, juara lomba ini itu, dapet gelar terbaik di sini di situ, sedangkan si Adam malah dikenal sebagai jago minum, tukang berkelahi, berkali-kali hampir gak naik kelas, tiap minggu dipanggil ke ruang BP, sering nge-boat, wah… gak ada bagus-bagusnya deh!!

Karena kedekatan kami, yang notabene memiliki latar belakang yang sangat kontras itulah, kami sangat dikenal. Kekontrasan lainnya adalah kalo aku saat itu masih gemetaran kalo diajak jalan gandengan ama cewek, sedang si Adam udah jago main cewek..! Mulai main pipi, main bibir, main tangan, sampe..main ranjang!!! Dia memang memiliki wajah tampan rupawan, hitam manis, dan tubuh tinggi semampai. Matanya yang paling bagus dan paling aku kagumi, begitu bening dan tajam. Jadi, tak heran kalo banyak cewek yang melupakan popularitasnya sebagai murid paling badung dan bengal di sekolah karena ketampanannya. Apalagi ia bisa bersikap sangat gallant dan sangat romantis sehingga begitu banyak cewek yang terpikat sampai-sampai mau-maunya dijadikan cewek kedua atau ketiga. Daya pesonanya emang kuat banget sampe-sampe pacar-pacarnya tidak hanya dari kalangan anak SMP saja. Saat itu aku sendiri heraan..banget, kok ya bisa anak SMP seperti dia bisa-bisanya pacaran, bahkan sampe-sampe ML..!!, sama anak-anak kuliahan… bahkan sama tante-tante..!!

Saat itu, persahabatan kami sangat unik, karena meski kami jauh berbeda namun kedekatan hati kami tak perlu dipertanyakan lagi. Kami sering ngobrolin tentang banyak hal, tentang hidup, tentang kekecewaan, tentang harapan, tentang impian…tentu saja dengan bahasa anak-anak ABG.

Dan kini, dengan Adam di depanku, mau tak mau nostalgia itu berulang kembali. Memang wajahnya kini tak sebersih dulu. Kulitnya kusam kehitaman meski sisa-sisa ketampanannya masih terlihat jelas. Badannya juga jauh lebih kurus. Senyumnya tak lagi ceria. Matanya yang dulu sangat kukagumi kini juga berubah menjadi keruh dan kelam.

"Hidupku hancur, Son,"ujarnya pelan,"ayahku sudah meninggal. Sakit jantung. Kakakku juga sudah gak ada. Overdosis bulan lalu. Ibuku nyusul seminggu kemudian.. Hatiku kayak udah mati rasa!!"

Aku terdiam. Tak tahu apa yang harus kuucapkan.

"Sekarang aku gak punya apa-apa. Kekayaan ayahku sudah habis, kerjaan gak menentu, mau ngapain sekarang aku juga gak tahu…" ujarnya sambil menghela napas panjang.      

"Lho, katamu, sekarang kamu punya bisnis fotografi,"ujarku memecah keheningan.

"Yaa..berapa sih, penghasilan tukang foto acara pernikahan..? Lagian itu juga gak tetap. Kadang sih ada, tapi lebih sering gak adanya."

Dia menatapku lekat-lekat. Khas banget. Biasanya, ia selalu menatapku tajam-tajam kalo akan mengatakan sesuatu yang agak serius. Kubalas tatapannya dengan tenang.

"Aku bangga padamu, Son! Dari dulu aku gak pernah ragu kau akan berhasil jadi orang sukses!! Dan dari dulu aku heran, kok bisa-bisanya orang kayak kamu mau-maunya punya teman kayak aku…he..he.he… Sudah bandel, goblok, tukang minum, tukang nge-boat, wis..gak ada bagus-bagusnya blas..!!" tawanya getir. Ada air mengambang di pelupuk matanya.

Aku tersentuh mendengar kata-katanya. Sudah lama sekali ia tak mengucapkan kata-kata itu.. Kata-kata itu selalu menusuk perih hatiku, dan aku yakin begitu pula hatinya..

"Ada apa, Dam? Apa aku bisa bantu kamu..? Katakan saja kalau kau perlu bantuanku"ucapku takut-takut. Aku masih ingat betul akan harga dirinya yang sangat tinggi. Dan sangat sensitif.

Adam menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Oh, enggak Son!! Kamu kan tau, aku paling gak suka menerima apa pun dari orang lain. Termasuk dari kamu. Aku datang ke mari cuma pengen lihat kamu, kok! Dan aku senang… Kamu udah jadi orang sukses.. Aku senang banget" ujarnya lagi. Matanya berkaca-kaca saat mengucapkan kata-kata itu. Terharu..

Tak berapa lama, ia pun mohon diri dan berlalu dengan motor tuanya yang butut. Entah GL-Pro-nya yang keren itu sudah lari ke mana.. Sambil membereskan gelas-gelas minuman dan piring kue, aku jadi berpikir tentang Adam.

Dulu aku sering berkata padanya,"Otakmu kan cerdas sebenarnya, Dam, tapi kenapa sih kamu gak pernah mau berusaha keras di sekolah? Apa emang kamu sengaja pengen gak naik kelas..?" Saat itu aku bingung mendengar dia hampir gak naik kelas, padahal aku tahu betul bahwa dia cukup cerdas, baik untuk pelajaran hapalan maupun hitungan..

"Sudahlah, Son! Ini adalah pilihanku. Biar aja hidup ini mengalir. Gak usah ngoyo..!!" ucapnya nyengir. Ia tahu aku akan selalu ngomel-ngomel mendengar jawaban itu. Ia tahu aku paling benci pada orang yang tak mau memanfaatkan karunia kecerdasan dari Allah untuk kebaikan dirinya sendiri.

Aku mendesah pelan.. Pikiranku masih menari-nari seputar Adam.

Yaah….mungkin itulah pelajaran hidup yang harus dilakoninya, pikirku. Tiap manusia memang menjalani hidup mereka masing-masing. Ada yang mengambil jalan lurus ke depan, ada yang berbelok ke kiri, ada juga yang ke kanan. Semuanya adalah pilihan. Pilihan mereka sendiri. Mereka yang menetapkan pilihan itu dan mereka sendiri yang menjalaninya. Tentu saja, semua pilihan hidup ada konsekuensinya, dan mereka jugalah yang menikmati konsekuensi itu. Hanya saja, kita tak pernah tahu kapan konsekuensi itu akan menagih kita. Dan seberapa kejam hukuman yang akan dijatuhkan kepada kita atas pilihan hidup kita yang salah..

Aku tiba-tiba teringat pada mahasiswaku yang manis-manis. Apa mereka sudah tahu dan sadar akan konsekuensi semua pilihan hidup yang mereka ambil saat ini..? Apakah perlu Adam-ku dan Adam-Adam yang lain lahir untuk menunjukkan kepada mereka betapa kejamnya kehidupan memberikan hukuman atas pilihan hidup yang salah..?

Ah..bodo deh..!! Lha tiap kali aku ajak ngobrol tentang ini, mereka semua pada menguap lebar-lebar, bosen..!! Ya, udah, emang gua pikirin..mau sukses kek, mau kagak kek..!!

Aku cuma punya harapan kecil, mereka yang membaca tulisan ini bisa menata ulang hidup mereka dan berhati-hati dalam menentukan pilihan hidupnya. Mungkin sedikit, mungkin pula banyak, tapi at least, aku ingin sekali melihat mereka lima sepuluh tahun lagi dalam kesuksesan hidup sebagai hasil perjuangan mereka selama ini.

Semoga….

 

Titian Serambut Dibelah Tujuh

Wednesday, June 21st, 2006

Suatu senja di tahun 2006…

Aku melangkahkan kakiku memasuki lorong rumah sakit itu. Meski baru beberapa kali melaluinya, rasanya aku sudah akrab dengan lorong-lorong ini. Sengaja selepas maghrib ini, aku mengunjungi seorang sahabat mudaku yang tengah dirawat di tempat ini. Terakhir kali aku mengunjunginya, ia sudah nampak segar meskipun sejuta beban pikiran menggelayuti benaknya.

Sesampai aku di kamar yang kutuju, alangkah terkejutnya aku ketika kudapati ia terbujur dengan wajah pucat pasi. Tubuhnya pun demam sangat tinggi. Tak lama kemudian kuketahui bahwa sejak pagi memang kondisi fisiknya memburuk luar biasa sampai sempat ia mengalami kejang-kejang. Demamnya naik turun melonjak-lonjak tak henti-henti. Keluarganya tak henti-hentinya menangis karena kebingungan apa yang sebenarnya ia derita. Tak ayal, hatiku jadi ikut-ikutan cemas melihat kecemasan luar biasa yang melanda keluarganya yang ada saat itu.

Sekonyong-konyong, ia membuka matanya lebar-lebar dan mengenali kehadiranku. Ia mengetikkan sesuatu di telepon genggamnya dan kemudian melambaikan tangannya kepadaku. Dengan wajah merah padam karena demam yang sangat tinggi, ia menunjukkan telepon genggamnya. Ternyata ia mengetikkan suatu pesan supaya aku membacanya, karena ia tak mampu berkata-kata. Dan di telepon genggam itu, ia menuliskan suatu permohonan yang amat sangat kepadaku.. Mulutnya terkunci rapat. Dengan air mata meleleh, ia menatap mataku sejenak lalu memejamkannya lagi..

Hatiku langsung tercekat!!

Ya, Allah, apakah ini adalah sebuah wasiat sebelum ia ………….

Pernahkah kau melihat orang yang kausayangi menggelepar-gelepar tak berdaya di hadapanmu? Pernahkah kau merasakan betapa ketakutan yang amat sangat mencengkeram seluruh jiwa ragamu melihat seseorang yang kausayangi terkapar tak berdaya, meregang nyawanya, sementara kau tak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya? Pernahkah??!! 

Bisakah kau bayangkan betapa pedih aku harus melihatnya terbujur di tempat tidur, tak berdaya melawan sakitnya.. Tak mampu kutahan air mata yang pelan-pelan mengalir di pelupuk mataku.. Tak henti-hentinya aku berdoa,"Ya, Allah, sayangilah dia, berikan apapun yang terbaik untuknya, asal jangan Kau buat dia menderita. Ambillah dia kalau memang itu yang Kau mau, atau sembuhkanlah kalau memang itu yang Kau mau, asal jangan kau biarkan dia mengalami penderitaan tak berkesudahan…"      

Betapa tipisnya garis batas antara hidup dan mati bagaikan titian serambut dibelah tujuh. Dan kala manusia berada di antara garis batas itu, tak ada kekuatan apapun yang mampu menariknya kembali atau mendorongnya untuk melintasi garis batas itu, selain kekuatanNya yang maha luar biasa.

Dalam kesedihan dan linangan air mataku, aku bertakbir atas kebesaranNya. Betapa kuasaNya begitu luar biasa sehingga tak hanya mampu membolak-balik hati atau mengoyak-oyak alam semesta, namun juga mampu mengambil dan memberikan sumbu kehidupan.. Sahabat mudaku yang tadinya begitu ceria, kini harus diam menunggu ketentuan Ilahi atasnya..

Aku hanya berpikir, bagaimana jika suatu hari nanti aku harus berada di antara garis batas hidup dan mati? Apakah aku akan mampu setegar sahabat mudaku ini dalam menghadapi tantangan takdir? Apakah aku akan bisa mengikhlaskan kepergianku menuju ke alam sana?

Ya, Allah, sekali lagi kautunjukkan padaku satu ayatmu. Ayat kehidupan.. Betapa kehidupan dan kematian hanya dipisahkan seutas titian serambut yang begitu tipisnya.. Dan, bilakah itu terjadi padaku..? Dan bila saatnya tiba, sempatkah aku memohon ampun kepadaNya atas segala dosa yang pernah kuperbuat selama ini..?? Sempatkah aku menemui orang-orang yang masih memendam dendam kepadaku dan memohon keikhlasan maaf mereka? Sempatkah..? Atau aku harus melintasi garis kematian itu dengan begitu tiba-tiba sehingga segalanya menjadi tak bisa dilakukan lagi?

Ya, Allah, beri aku waktuuu….!!!! Beri aku waktuuuu….!!!

Buat Sahabat Mudaku

Saturday, June 17th, 2006

Apa yang harus kukatakan tentang sahabat mudaku yang satu ini? Menawan, cerdas, baik hati, dan tidak sombong. Begitu menyenangkan ia, hingga menjalin persahabatan dengannya bukanlah sesuatu yang sulit. Hidup seakan begitu ramah dengannya. Dan jiwa mudanya telah memberinya berjuta keindahan masa dan berlimpah kesempatan emas yang begitu mudah diraih.

Namun, tiap kali kulihat matanya yang bening, ada sesuatu yang seakan menggelepar-gelepar, memberontak ingin keluar dari sangkarnya. Kegelisahan yang terpancar di raut wajahnya tak bisa disembunyikan lagi. Hidupnya yang begitu indah terpampang di depan mata juga kini seakan ia ombang-ambingkan bagai bahtera yang lepas sauhnya di tengah hempasan topan dan badai. Gejolak hati itu memang begitu nyata terlihat.

Ah, kasihan betul, sahabat mudaku itu…

Kegelisahan yang ia rasakan, tak pernah ia sadari, adalah sesuatu yang timbul dari ketidaktahuan akan apa yang harus ia lakukan. Dan semakin kegelisahan itu terasa memuncak, semakin liar jiwanya menggelinjang. Meracau ganas, melasak ke sana ke mari, dan semakin lama semakin binal hingga akhirnya terpuruk dalam kelelahan akan pencarian jati diri.

Ya, memang, itu hanyalah satu episode kecil dalam kehidupanmu, sahabatku. Episode yang memang seakan hanya berisi kerikil-kerikil tajam yang tak henti-hentinya menyeruak dalam setiap alun langkahmu. Tapi, mau gimana lagi..? Kau tetap harus melangkah dan melalui semuanya itu..

Sahabat mudaku, peganglah kuat apa yang menjadi keinginanmu dan keyakinan hidupmu. Jadikan itu sebagai penunjuk jalan kehidupanmu agar tak salah melangkah. Pikirkan setiap langkah dengan tenang, dan pasrahkan segala langkah yang sudah kau tempuh pada apa yang menjadi kehendakNya. Yakinlah bahwa apapun yang kau terima, itu adalah yang terbaik bagimu.

Proses pendewasaan diri memang membutuhkan waktu yang panjang. Dan segalanya memang nampak begitu berat pada awalnya. Keyakinan diri yang kuat dan persahabatan sejati dengan orang-orang yang tulus akan dapat membantumu menghadapinya dengan mudah.

Semoga sukses, sahabat mudaku.

Gemilang masa depan menantimu..

 

Hitung-Hitungan Ekonomi

Friday, June 16th, 2006

Adrian namanya. Seorang sarjana akuntansi dari sebuah PTN tersohor di negeri ini. Kami bertemu di Sydney ketika sama-sama menempuh studi master di sana. Mulanya sih, dia menyenangkan. Tapi, sempat dia membuat aku jengkel gara-gara dia bilang kalau aku salah dalam mengelola keuanganku.

Yaa..emang dia sarjana akuntansi. Mungkin dia emang lebih ngerti dariku soal urusan keuangan (meskipun itu juga sudah nyelonong masuk ranah pribadiku..!!). Tapi, yang bikin aku luar biasa jengkelnya adalah pernyataan dia kalau kebiasaanku yang memasak hanya cukup untuk diriku sendiri itu adalah rugi dalam hitung-hitungan ekonomi. Aku emang biasa masak sendiri di Sydney, apa itu ayam saos Inggris, ayam asam manis, rica-rica, seafood saos padang, tom yam, waah…sebut aja deh…pasti bisa!! Dan aku selalu berprinsip, sekali masak harus cukup untukku sendiri buat dua hari makan. Lha kok dibilang rugi secara ekonomis, bukannya malah hemat…????

Dia dan aku emang punya kebiasaan yang berbeda dalam membelanjakan uang. Meskipun uang dia lebih sedikit daripada yang kuterima, tapi ia senang sekali memasak dan menjamu orang lain. Dibelinya bahan yang murah-murah, seperti kangkung, terung, atau pisang, lalu dimasaknya banyak-banyak dengan cukup enak (meskipun aku yakin, masih lebih enak masakanku..!!). Dan masakannya tentu saja sangat lebih dari cukup untuk dirinya sendiri yang masih bujangan saat itu. Kemudian diundangnyalah teman-teman sesama mahasiswa Indonesia, terutama yang bujangan, untuk menikmati makan malam bersama di rumahnya. Begitu hangat, begitu menyenangkan memang. LHa, cara dia masak yang seperti itu dia katakan lebih hemat dan ekonomis dari caraku..?? Yang bener aja..!! Pake hitungan model apa..!?!

Nah, karena dia sering mengajakku makan malam di rumahnya, wajarlah kalo akupun sering mengajaknya makan malam di rumahku. Dan setiap kali kuundang, dia pasti membawa serta dua atau tiga orang teman bersamanya. Dan kami pun bersama-sama menikmati masakanku.

Tapi, pokoknya, sejak dia menyalahkan aku dalam mengelola keuanganku, aku jadi menghindari berbicara dengannya. Pokoknya menjauh, deh!! Sebel banget!!

Baru empat hari aku mendiamkan dia, eehh…tiba-tiba entah kenapa aku jatuh sakit. Badanku meriang semua. Entah karena pengaruh musim dingin yang sangat menusuk tulang (cuma 7 derajat Celcius, bayangin!!), atau karena kecapekan aku gak tau. Teman-teman menyarankan aku untuk pergi ke dokter, tapi aku selalu menolaknya. Pantang buat aku ke dokter kalo gak payah-payah banget.

Adrian yang memang perhatiannya besar pada orang lain akhirnya segera tahu kalau saya sakit. Dan ia pun segera membanjiri aku dengan atensinya yang tulus.

"Mau dipijat?" tawarnya.

Aku menolaknya, meskipun dalam hati rasanya pengeeen banget merasakan badanku yang lagi rapuh ini dipijat. Apalagi Adrian emang jago banget memijat. Ya, gimana lagi? Kan harus pura-pura gak butuh!! Wong lagi sebel, kok!

Tapi dia membujukku terus menerus. Dan aku pun akhirnya luluh dengan bujukannya. Tak berapa lama, aku pun berbaring sambil merasakan jemarinya menari-nari di punggung dan bahuku. Rasanya enak banget!! Dan setelah itu pun, aku merasa sakitku jauh lebih ringan.

Adrian kemudian menyodorkan kantung plastik berisi beberapa obat tidur resep dokter, sebotol vitamin C dosis tinggi, beberapa butir jeruk manis, dan sebuah rantang berisi sop ayam. Kata dia, obat tidurnya dari si Iwan, vitamin dari mas Ari, jeruknya titipan mas Hadi, dan sop ayam dari keluarga mas Ridwan. Waah, rasanya bahagia dan terharu melihat begitu banyak atensi yang tercurah padaku saat aku jauh dari keluarga.

Eeeeh, di saat aku lagi bahagia seperti itu, si Adrian enteng banget mengusik aku dengan pertanyaan dan pernyataannya yang bikin aku jengkel luar biasa. "Gimana mas Sony, masih gak percaya teori penghematan dan pengiritan ala Adrian?"

Sebelku langsung muncul lagi!! Huh, nantang!! Sok!! Sebel!!

"Mana bukti kebenaran teorimu? Gak ada tuh!" ujarku sebel.

"Lha, apa sampeyan gak merasa kalo sudah ngirit biaya ke dokter, ngirit buat beli obat, ngirit buat masak, dan lain-lain? Ngirit ongkos pijat juga!! Mana sembuhnya cepat lagi!!" jawabnya nyengir.

"Lha apa hubungannya?" aku tetap ngeyel.

"Mas, siapa yang menggerakkan hati seseorang untuk mau menolong orang lain?" tanyanya lembut. AKu jawab,"Allah kan?".

"Memang Allah, tapi Allah juga mensyaratkan agar kita berusaha kan? Nah, coba mas pikir, kok bisa Iwan, mas Hadi, mas Ridwan, mas Ari mau-maunya memberi mas Sony obat, vitamin, makanan, dan lain-lain? Kok mau-maunya aku mijatin mas Sony gak pake dibayar juga? Apa tidak mungkin, karena mereka merasa sudah pernah merasakan kebaikan mas Sony lewat beberapa kali undangan makan? Coba hitung, berapa modal mas Sony masak ayam saos Inggris? Paling-paling 5 dolar. Nah, sekarang mas Sony bisa berhemat berapa banyak?"

Duh, rasanya kok dia benar ya? Tapi, kok di telingaku terkesan mengejek ya?

"Siapa tahu bahwa cepatnya kesembuhan mas Sony ini adalah berkah dari doa-doa mereka yang pernah merasakan kebaikan mas Sony yang dikabulkan Allah? Dari mana mas bisa beli doa-doa itu? Berapa duit yang harus mas keluarkan untuk doa-doa itu?" lanjutnya lagi.

Bener juga sih, tapi aduuh…malu sekali aku!! Dan, mulutnya itu lho, gak berhenti juga!! Gak tau kali ya kalo aku sudah merah padam begini.

Dia membuka pintu kamarku, dan pamit pulang. Tapi sempat-sempatnya dia menoleh kembali dan berkata lagi.

"Jangan hanya menghitung untung rugi atau hemat dan boros dari uang receh aja, mas! Nggak ekonomis!! Kalau mas emang cuma mau berdagang dalam hidup ini, dagang aja sama Allah!! Dijamin gak bakal rugi!"

Setelah berkata itu, dia pun berlalu dan menutup pintu kamarku, meninggalkan aku dalam kesebalan yang masih tersisa………dan kesadaran yang mulai terasa………..   

Kasih

Thursday, June 15th, 2006

Minggu pagi yang ceria di musim gugur di Sydney. Aku sudah siap kembali mengajar anak-anak TPA di Sydney. TPA itu, sebagaimana yang pernah kuceritakan di beberapa episode yang lalu, adalah forum pengajian anak yang diadakan oleh para pelajar Indonesia yang sedang menempuh studi di Sydney. Saat itu, aku sedang menghadapi salah seorang muridku. Sebut saja namanya Fikar.

Fikar, sebagaimana anak yang lahir dan dibesarkan di Sydney, adalah anak yang sangat kritis. Sangat cerdas. Tiap kali aku minta dia menghafal surat pendek dari Juz’amma, dia selalu bertanya "Why do you choose this surrah for me?". Dan kalau aku tak mampu memberikan alasan yang masuk akal, maka dia akan menolaknya. Kadang-kadang gemas juga sih!! Coba anak-anak di Indonesia, kalo ustadz-nya bilang "Hafalkan!!", gak bakal ada yang berani nanya buat apa dihafalkan..

Kali ini, yang dia tanyakan bukanlah tentang ayat-ayat Al Quran. Tapi tentang kasih. Dia bertanya kepadaku apa yang aku tahu tentang kasih. Ketika aku jelaskan tentang kasih sayang ayah ibu kepada anaknya, dia menyahut,"I know that. Anything else?" Aku jelaskan tentang "girlfriend", dia juga menyahut,"I know that too. Else? Please, tell me something I don’t know".

Dalam hati aku menyumpah, ini anak nanya kok aneh-aneh!! Aku pun terus berusaha menjelaskan konsep "kasih" kepadanya. Tentu saja dengan tersendat-sendat. Nah, si Fikar nih meskipun bapak ibunya orang Jawa asli, dan meskipun di rumahnya di Sydney dia senang makan nasi putih, sayur asem, ikan asin, dan sambal terasi, dia gak bisa bahasa Indonesia!!! Puyeng, gak?! Dia pengen tahu lebih banyak, sementara aku bingung gimana cara menjelaskannya dengan bahasa yang bisa diterima anak seusia dia, sementara aku masih juga kelimpungan mencari padanan kata yang pas dalam bahasa Inggris. Dan ketika penjelasanku kurang memuaskan baginya, enteng aja dia berkata,"You said you are studying Master here, how come you can’t answer that simple question..?"

Glodakkkk…!!!!!

Sial bener, aku!!! Belum pernah rasanya dikacangin sama anak sekecil dia. Tapi, yaa gimana lagi. Buatku, kasih adalah suatu perasaan yang aneh. Kasih adalah sesuatu yang everlasting. Liat aja lagu pop yang topiknya tentang kasih atau kekasih, tetap saja digemari orang meskipun topik itu sudah diulang berkali-kali. Kadang aku pun sangat mengasihi seseorang yang sama sekali tidak peduli padaku. Hanya karena dia sangat menyenangkan, atau karena dia suka bercanda, atau karena dia punya penampilan fisik yang aku kagumi.

Tapi, sebaliknya, seringkali aku tak bisa mengasihi orang yang nampaknya peduli padaku. Misalnya beberapa mahasiswiku yang jelas-jelas menaruh hati padaku….(sori ya, bukan ge-er nih!!) sampai-sampai mengirimkan surat cinta dengan tanda bibir bergincu merah.. Jadi setiap kali aku melenggang di kampus di bertemu dia, aku akan mencoba menghindarinya. Ahh, jahat ya..? Tapi itulah kasih. Sepertinya sulit bagi kita untuk menumbuhkan rasa itu kalau memang kita tidak memilikinya..

Bagaimana pula dengan si Edi, yang beberapa minggu yang lalu menangis di depanku karena ia tak bisa mengasihi kedua orangtuanya? Ia lebih sayang pada neneknya, namun tak punya kecintaan pada ayah ibunya sendiri karena di masa kecilnya ia bertemu dengan mereka berdua hanya di saat Lebaran saja. Apa salahnya Edi sendiri karena tak bisa menumbuhkan rasa kasih dan sayang itu? Ia menangis sedih karena ia tahu bahwa tiadanya kasih dan sayang buat orangtua itu dosa, namun ia benar-benar tak sanggup menumbuhkannya…"Ketika aku membutuhkan mereka, ke mana ayahku? Ke mana ibuku? Aku tak pernah tahu gimana rasanya disayang kedua orangtuaku. Padahal mereka masih hidup dan segar bugar. Salahkah aku kalau aku sekarang tak bisa menyayangi mereka?" tanyanya getir..

Dan bisakah kau pahami betapa pedihnya hati Rasulullah ketika Allah melarang Beliau memintakan ampun atas dosa-dosa Ibunda beliau. Beliau hanya diperbolehkan menziarahi kuburnya saja. Bisakah kau mengerti bahwa di saat kau bisa mengasihi orang lain, kau tidak bisa menunjukkan rasa kasihmu pada orang yang sesungguhnya sangat kau kasihi..?

Bisakah kau pahami juga betapa sakitnya kasih yang bertepuk sebelah tangan? Kau ingin merengkuhnya, kau ingin memberinya yang terbaik untuknya, kau ingin dan mau melakukan apa saja untuknya, tapi..dia seolah-olah tak pernah menghiraukan kehadiranmu. Pernahkah kau rasakan sakitnya? Itulah kasih..

Sebagaimana semua pemberian-Nya dalam kehidupan kita, rasa kasih dan sayang adalah sesuatu yang harus disikapi sebagai sebuah pemberian yang dimaksudkan agar Ia tahu siapa hamba-Nya yang paling beriman. Rasa kasih saat menyayangi orang lain tak boleh dikotori perasaan ingin menang sendiri atau ingin menguasainya. Rasa kasih saat berdakwah, jangan sampai dinodai perasaan ingin menjadi seorang yang superior. Rasa tidak suka atas sesuatu janganlah menghalangi kesediaan untuk mendengarkan dan menerima kebenaran…

Aduuhh….rumit banget sih..!! Kok nggak seperti yang ada di lagu-lagu itu…

Yang Terlupakan

Tuesday, June 13th, 2006

Entah kenapa malam ini aku terkenang pada seorang sanak saudaraku. Sebut saja namanya Sandi.

Dia adalah saudaraku satu kakek buyut. Kami adalah produk dari sebuah keluarga besar yang ada di Pangandaran, sebuah kota kecamatan di ujung tenggara Jawa Barat. Meski demikian, kehidupan sebagian besar keluarga kami  lebih banyak dihabiskan di Bandung. Hanya aku dan keluargaku yang nyasar ke Surabaya. Namun demikian, keluarga kami cukup akrab dan dekat meskipun terpisah jarak ribuan kilometer.

Sejak pernikahannya bulan Januari lalu, Sandi pindah rumah ke Bekasi, karena ia memang bekerja sebagai kontraktor di sebuah proyek properti di Bekasi dan istrinya (he..he..yang masih sepupuku juga) bekerja di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta. jadi pindah ke Bekasi membuat mobilitas mereka lebih nyaman.

Suatu hari di bulan Maret 2006, aku dikejutkan dengan sebuah kabar bahwa ua Sulae (ua tuh panggilan buat kakak orangtua kita, jadi kalo di Jawa kayak pakde, gitu), ayah Sandi, masuk ICU dan masih dalam kondisi koma di sebuah rumah sakit di Bekasi. Ternyata, sang ayah ingin menjenguk anaknya di Bekasi, namun di tengah perjalanan ia mengalami stroke yang ketiga dan koma hingga saat itu. Dan setelah dua minggu koma, sang ayah, ua Sulae-ku tersayang, meninggal dunia dalam keadaan tak pernah sadar dan tanpa mengucapkan salam perpisahan untuk keluarganya.

Aku sempat terhenyak.

Terkenang pada sosok seorang lelaki bijaksana yang selalu memanggilku "Arek Suroboyo.." dengan logat Sunda-nya yang medok abis. Rasanya belum lama aku bercakap-cakap dengannya, dan kini ia sudah berpulang kepadaNya.

Aku berpikir, gimana perasaan Sandi ya? Sang ayah yang kangen dan mau menjenguknya, ternyata malah dijemput Izrail dan pergi tanpa pesan. Tanpa salam. Gimana rasanya ditinggal pergi seseorang yang sangat kita cintai? Tanpa pesan. Tanpa salam. Bisakah terbayang olehmu? Bisakah terbayang olehmu, bahwa nanti malam atau esok pagi kau akan kehilangan ayahmu, atau ibumu, padahal malam ini kau belum sempat menyampaikan rasa sayangmu pada mereka??

Betapa hidup memberikan begitu banyak pelajaran bagiku. Aku tak bisa membayangkan, seandainya Sandi tahu kalau hari itu adalah hari terakhir ia bisa berjumpa dengan ayahnya, mungkin ia akan menghabiskan seluruh waktunya untuk beliau. Bercanda. Berjalan-jalan menghabiskan waktu bersama. Bercakap-cakap dengan mesra. Atau apapun itu, asalkan bisa memberikan kenangan terindah di masa-masa akhir hidupnya.

Namun, siapa yang bisa membaca takdir? Sandi tak tahu itu. Dia tak sempat berkata-kata dengan ayahnya. Dan sang ayah pun pergi sebagaimana adanya, tanpa pesan, tanpa salam.

Betapa berharganya waktu. Tak pernah terbayang olehku bahwa suatu saat aku juga akan kehilangan momen berharga untuk menyampaikan rasa sayangku pada orang yang sangat kucintai… Kalau kupikir-pikir dan kuingat-ingat, kapan terakhir kali aku mengucapkan rasa kasihku pada ayahku? Kapan terakhir kali aku menyatakan rasa cintaku pada ibuku? Rasanya kok sudah lamaaa…sekali…

Apakah aku harus menunggu seperti Sandi? Mengucapkan kasih dan cinta kepada ayah dan ibu ketika mereka hanya bisa membisu..?

Ya, Allah, terima kasih tlah Kau ingatkan aku untuk itu. Rasanya ingin aku merengkuh ayah ibuku dan mengucapkan rasa cintaku pada mereka saat ini juga. Ingin kucium pipi dan kening mereka. Ingin kurangkul bahunya dan kubisikkan kata-kata sayangku pada mereka. Ingin kuberlari sekarang juga…

Namun……….yaah, mereka sudah tidur…!! Aku harus menunggu sampai besok pagi, nih!! Yaa, sudahlah..!! Pokoknya, besok subuh, aku akan langsung menyatakan rasa cinta dan sayangku pada ayah dan ibuku.. Supaya mereka tahu, aku sayang mereka. Maunya sih malam ini, tapi kan kasihan kalo mereka harus dibangunkan, hanya untuk urusan ini. Jadi, yaa..besok aja lah..!

Tapi……

Gimana kalo….gimana kalo mereka tak bangun lagi esok pagi…..?

Bahagia

Monday, June 12th, 2006

Hari ini aku bahagiaa..banget..

Satu hal yang bisa membuatku begitu bahagia adalah saat melihat mahasiswaku, buah kasihku, bisa tampil mengagumkan dengan kecerdasan mereka yang buatku sangat luar biasa. Seperti hari ini. Saat aku bisa melihat mereka begitu lugas menunjukkan kemampuan mereka yang telah terpoles begitu indah, mataku pasti berkaca-kaca. Hatiku menggeletar penuh kebanggaan. Inilah anak-anakku..!! Inilah matahariku..!!

Tak ada kebahagiaan lain selain itu. Melihat sekumpulan anak muda yang mampu berdiri tegak menyongsong matahari kehidupan mereka sendiri. Dan mampu tersenyum menghadapi berjuta ketidakpastian yang akan mereka lalui. Apa yang lebih membahagiakan dari itu bagi seorang pengajar seperti aku?

Sederhana sekali, memang. Tapi itulah kenyataan. Tak pernah bisa kulukiskan rasa bangga dan haruku melihat seorang Adhianto yang bisa melanglang buana dengan kecerdasannya yang luar biasa, melihat seorang Ashwin yang kini berkembang menjadi seorang lelaki muda yang jauh lebih dewasa, melihat seorang Kartika yang telah menapaki lembaran baru hidupnya, melihat seorang Imam yang begitu sukses dalam bisnis "kecil-kecilan"-nya, melihat seorang Ayu yang entah sudah terbang ke langit ke berapa di cakrawala, melihat seorang Rusjdi yang kini bisa begitu cerdas meskipun dulu harus mengulang matematika berkali-kali, ahhh…entah berapa ribu nama yang bisa kusebutkan untuk melukiskan rasa bahagiaku ini.

Dan, kini…nampak wajah-wajah baru yang siap melangkah di atas awan, siap terbang menyongsong lautan cakrawala milik mereka sendiri. Ada Saiful, Memed, Ayukki, Citra, Andri, Ricky, Karti, Suska, Dewi, Bayu, Agus, Aji, Hendri, Dhany, Dicky, Daniel, Hendro, Karisma, Nurul, Lys, Rini, Tyas, Ivan, Vian, Jay, One, Tatang, Binti,……… dan entah siapa lagi…!! Begitu banyak nama-nama dan wajah-wajah yang terlintas di benakku..yang tak bisa kusebut satu persatu…

Tahukah kau?

Inilah indahnya kehidupanku.. Tatkala melihat wajah-wajah itu melangkah ke luar sangkar dan terbang melayang dalam kepak sayap mereka sendiri.

Aku tak peduli apakah aku berarti bagi mereka. Yang penting, aku tahu pasti, mereka sangat berarti bagi hidupku…

Kenapa..?

Sunday, June 11th, 2006

Kenapa yaa…minggu ini aku sering banget marah sama mahasiswaku.. Dan justru pada mereka-mereka yang sebenarnya dekat denganku..

Apa mereka gak sadar, ya, bahwa apa yang mereka lakukan justru akan menghancurkan diri mereka sendiri..?? Dan kenapa, aku tidak bisa menahan emosiku..padahal aku tahu, emosi justru akan menjauhkan aku dengan mereka. Sehingga, mereka takkan tahu apa salah mereka…

Ah, pusing, deh..!!