Keteguhan Iman
Sunday, June 25th, 2006Teringat aku akan seseorang yang sempat menghiasi kehidupan mudaku dulu. Sebut saja namanya Sinta. Seorang gadis manis, supel, energik, modis, dan menyenangkan. Saat itu, kehidupan seakan begitu ramah padanya. Tak pernah kudapati ia bermuram durja atau berwajah gulana. Segalanya begitu indah baginya. Belum pernah ia merasakan pahit getirnya kehidupan sebagaimana yang dirasakan sebagian besar temannya saat itu. Maklumlah, ia terlahir dari keluarga pengusaha yang sukses di Surabaya. Meskipun rumahnya tidak menjulang megah dan mobilnya juga tidak berderet-deret, nampak jelas bahwa keluarganya sangat berkecukupan.
Bagiku, keluarga Sinta sangat menarik. Paling tidak, kalau dilihat dari keragaman keyakinan hidup yang mereka anut. Ayah dan kakak lelakinya mengaku Muslim; meskipun menurut Sinta mereka belum pernah merasakan segarnya air wudhu…persiiis kayak Fandi dan keluarganya di Kiamat Sudah Dekat. Ibunya dan Sinta sendiri adalah penganut Protestan, meskipun hanya ibunya yang rajin ke gereja sebulan sekali. Saat itu, hal itu bukanlah hal yang penting baginya. Dan juga bagiku. Maklum, namanya juga ABG…
Kami mulai jarang berkomunikasi sejak aku diterima di Unair. Dan aku yang begitu terpesona dengan kehidupan kampus yang benar-benar baru mulai melupakan teman-temanku yang dulu. Kata teman-teman sih, Sinta masuk John Robert Powers. Tapi ada juga yang bilang kalo dia kuliah di akademi sekretaris. Tau deh, mana yang bener..!! Tahun 1994 memang masa di mana telepon rumah masih merupakan barang yang cukup mewah. Boro-boro HP, pager aja belum banyak beredar. Jadi, wajarlah kalo komunikasi kami terputus. Intensitas aktivitasku di kampus juga membuatku sedikit demi sedikit menyisihkan Sinta dari keseharianku.
Setahun kemudian, aku bertemu kembali dengan Sinta. Seorang temanku menyampaikan pesannya kalau dia ingin bertemu denganku. Penting, katanya. Dan, perjumpaan itu memang cukup menyenangkan. Kami berbicara tentang teman-teman lama yang sempat mewarnai keceriaan kehidupan kami setahun yang lalu. Namun, keceriaan itu berubah menjadi sesuatu yang mengejutkan ketika sekonyong-konyong ia berkata padaku, bahwa ia ingin pindah agama dan memeluk Islam. Dan ia, yang katanya sudah mendengar aktivitas keagamaanku di luar kampus, minta aku untuk membimbingnya dan memantapkan langkahnya.
Aku terperangah. Tapi, aku cepat-cepat menyanggupi permintaannya. Sore itu juga ia aku ajak menemui sahabat karibku, yang sudah berkali-kali menangani muallaf bersamaku. Dan setelah sebulan lebih mendalami Islam dengan tekun, pada bulan Oktober 1995 Sinta pun mengucapkan syahadat dan masuk Islam. Ia nampak begitu tenang dan mantap menyatakan persaksiannya meskipun air matanya sempat berlinang-linang.
Entah mengapa, pilihan hidupnya membuatnya tersingkir dan terusir dari rumah dan kehidupannya yang nyaman. Ia keluar dari rumahnya memilih untuk kos di sebuah rumah kecil di kawasan Gebang. Tak pernah ia mau bercerita padaku, segala hal yang membuatnya memilih jalan hidup seperti ini. Tak juga ia mau bercerita, apa yang membuatnya diusir oleh kedua orangtuanya yang dulu terlihat begitu menyayanginya. Ia hanya berkata,"Ini jalan hidup yang kuyakini, Son. Tolong jangan tanyakan kenapa-nya. Aku takkan bisa dan takkan mau menjawabnya." Maka segalanya pun tetap tersimpan rapat-rapat.
Dan, ia pun memulai hidup baru. Pagi hari ia bekerja sebagai guru TK di sebuah sekolah kecil di Gebang untuk sejumlah upah yang jauh lebih sedikit dibandingkan uang saku bulanan yang ia terima dari ibunya selama ini. Namun ia tak pernah mengeluh. Wajahnya kini semakin berseri dan menawan dalam lindungan jilbab yang selalu dikenakannya. Dan, beberapa bulan kemudian ia berjumpa dengan seorang pegawai negeri rendahan dari Bandung yang kebetulan sedang bertugas di Surabaya. Tak lama berselang, pria itu mempersuntingnya dan mengajaknya mengarungi hidup bersama di Bandung. Tak ada sepatah kata perpisahan pada keluarganya yang entah bagaimana kabarnya. Dan sejak saat itu pula, bagaimana kabarnya Sinta, di mana tempat tinggalnya, tak ada yang tahu. Semua bertanya-tanya… Namun tak ada yang tahu jawabnya.
Sebetulnya, aku sendiri sudah hampir melupakan Sinta sama sekali. Namun, yang namanya takdir ternyata membuat kami bertemu kembali beberapa waktu yang lalu, ketika aku sedang mengunjungi keluarga besarku di Bandung. Tak dinyana, ia tinggal persis berseberangan dengan rumah saudaraku di daerah Jatinangor.
Hampir aku tak mengenalinya kalau ia tak menyapaku lebih dulu. Tubuhnya kurus kering. Pakaiannya meskipun bersih terlihat kusam karena terlalu sering dicuci. Kulitnya pun tak sehalus ketika masa sekolah dulu.
Hampir menangis aku melihatnya. Begitu jauh berbeda dengan Sinta yang aku kenal dalam memoriku. Namun, ia terlihat sangat bahagia. Meskipun, seluruh harinya ia habiskan untuk mengasuh dua anaknya dan berjuang untuk hidup dengan menjajakan pisang goreng keliling kampung. Maklum, suaminya hanyalah pegawai rendahan yang gajinya hanya bisa bertahan untuk makan sekedarnya. Ia terlihat begitu dewasa dan begitu bijak. Tegar dan tak sedikitpun menyesali apa yang telah ia pilih dan apa yang telah ia buang.
Apabila ada sedikit waktu senggangnya, ia pun mengajak kedua putrinya untuk pergi ke Bandung mengikuti pengajian. Berbekal tas tua yang sudah sobek di sana sini, ia membawa dua botol air putih dan sebungkus nasi dengan lauk seadanya. Naik turun angkot, berpeluh keringat, dan berbeban berat kedua anaknya, ia begitu mantap memperdalam keyakinan yang telah ia pilih. Dan tak sedikitpun ia mengeluh…
Tak sempat ia menangis, karena menangis itu hanya membuang waktu. Tak sempat ia mengeluh, karena mengeluh tak pernah memberikan solusi hidup.
"Jalani saja. Inilah hidup yang aku inginkan. Mungkin memang tidak bisa aku merasakan kenyamanan hidup seperti dulu, tapi di sini aku bisa bahagia," jawabnya ketika kutanya. Sederhana sekali jawabannya. Namun begitu dalam maknanya.
Dan ketika aku berkaca pada diriku sendiri, perlahan menyelinap perasaan malu dalam hatiku. Ketegaran seperti itu sepertinya tak pernah aku miliki. Keteguhan iman seperti itu rasanya belum pernah aku rasakan. Saat kulihat perempuan muda itu dengan langkah perkasa berkeliling kampung meneriakkan dagangannya, pulang ke rumah dan mengasuh anaknya, lalu berangkat pengajian dengan bekal seadanya, aku jadi ragu, mampukah aku sekuat dia..? Mampukah aku bertahan dalam keyakinan dengan keteguhan sebagaimana imannya..? Aku tak tahu… Sungguh, aku tak tahu…