"Dunia akan pergi berlalu dan akhirat akan datang menjelang. Keduanya mempunyai anak-anak. Maka jadilah anak-anak akhirat dan janganlah menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya pada hari ini hanya ada amal tanpa hisab, dan esok hanya ada hisab tanpa amal" (Hadits Riwayat Bukhari Muslim)
Saudaraku, jika saja dunia ini bersih dari kesedihan dan sepi dari kesengsaraan, sesungguhnya mengingat kematian akan terasa sulit jadinya. Mengingat kematian akan membuat manisnya dunia terasa pahit, banyaknya materi menjadi nisbi, panjangnya usia menjadi tak bermakna, dan kenikmatan dunia menjadi tiada berarti.
Bagaimana mungkin kita dapat menikmati dunia, apabila di pagi hari kita takut umur kita tak akan mencapai sore. Bila sore tiba, kita pun takut tak akan menjumpai pagi kembali. Lepasnya satu musibah membuat kita cemas akan datangnya musibah yang lain. Hilangnya satu penyakit menyadarkan kita akan mungkinnya terkena penyakit yang lain. Tawa sesaat mungkin dapat berganti menjadi tangis berkepanjangan.
Kehilangan sanak kerabat, handai taulan, dan kematian orang-orang terdekat dapat menggetarkan segenap perasaan kita. Ada sesuatu yang terasa menyesakkan dada ketika kita melihat sesosok jenazah dikuburkan. Dan kita berpikir,"Hari ini si fulan sudah masuk liang lahat, kapan giliranku tiba? Sudah siapkah aku masuk ke sana? Apa yang sudah aku siapkan untuk masuk ke sana?"
Begitu pula ketika kita merasakan ada penyakit yang menggerogoti tubuh kita dan seketika terbayang kematian akan datang menjemput, semakin hati kita menggeletar. Kemanisan hidup yang telah terengkuh selama ini terasa hilang tiada berbekas. Kebahagiaan yang tadinya menyala-nyala dalam keelokan tubuh, limpahan materi, sanjungan dan pujian, kini berbalik menjadi ketakutan akan kehilangan semua kebahagiaan semu itu.
Sesungguhnya manisnya kehidupan dan kebahagiaan yang sejati tiada lain ada pada ketaatan kepada Allah swt. Ketaatan tidak akan membebankan sesuatu kepada manusia selain sikap istiqamah dalam menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya.
Dengan ketaatan kepada Allah swt, wajah kita akan senantiasa berseri, hati kita jarang tidak merasa gembira, senantiasa memaafkan mereka yang menzhaliminya, dan mengampuni orang-orang yang sempat tergelincir bermaksud mencelakakannya, sabar menghadapi kejahatan-kejahatan mereka, menyayangi yang muda dan menghormati yang tua, serta mengulurkan hati dan bantuan kepada mereka yang membutuhkan bantuan kita. Kita tidak akan melalaikan perintah Allah, baik yang kecil apalagi yang besar, bahkan bersemangat melakukan apa saja yang dapat mendekatkan diri kita kepadaNya. Apabila datang musibah dan kemalangan, kita menghadapinya dengan ikhlas dan pasrah. Dan saat maut datang menjemput, kita akan melihatnya sebagai akhir dari perjalanan sementara kita di dunia dan menghadapinya dengan sabar, ikhlas, dan senyum.
Saudaraku, pernahkah kita bertanya-tanya dalam hati, di sela-sela kedukaan yang menghimpit batin ini,"Mengapa Allah memberikan cobaan seberat ini kepadaku? BUkankah aku telah mengerjakan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya?"
Pernahkah?
Bagaimana mungkin kita mengajukan pertanyaan semacam itu kepada Allah, dzat yang Maha Mengetahui? Mari sejenak kita merenung dengan jujur. Benarkah kita sudah menjalankan SEMUA perintahNya dan menjauhi SEMUA laranganNya? Dapatkah kita merasa yakin, benar-benar yakin, bahwa semua amal ibadah kita diterima olehNya? Dapatkah kita merasa yakin, benar-benar yakin, bahwa tidak ada dosa yang pernah kita perbuat seumur hidup kita?
Sebaliknya, pernahkah kita berpikir, bahwa segala kenikmatan yang telah kita terima, baik berupa harta yang melimpah, kepandaian yang di atas rata-rata, wajah yang rupawan, teman-teman yang banyak, keluarga yang bahagia, kehidupan yang lancar, kesempatan untuk bertobat, dan segala kenikmatan lain yang tak terhitung bilangnya, juga merupakan cobaan dari Allah? Pernahkah kita menyadari bahwa Allah menguji hambaNya dengan nikmat untuk mengetahui siapa-siapa hambaNya yang pandai bersyukur?
Saudaraku, ingatlah selalu untuk mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kita. Pernahkah kita berpikir bahwa apa pun yang kita miliki saat ini, jauh lebih banyak dan jauh lebih baik dari apa yang dimiliki saudara-saudara kita atau teman-teman kita yang lain? Pernahkah kita merenung bahwa mungkin apa yang kita miliki adalah sesuatu yang sangat didambakan orang lain yang tak pernah mendapatkannya? Pernahkah dalam lubuk hati kita mengakui bahwa apa yang kita terima jauh melebihi apa yang kita harapkan? Pernahkah kita benar-benar mensyukurinya?
Berbuatlah kebaikan pada sesama sebagai perwujudan rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Senyuman yang ikhlas yang begitu mudah bagi kita untuk melepasnya, bisa jadi merupakan obat yang mujarab bagi teman kita yang sedang gulana hatinya. Tegur sapa yang lembut, yang tak perlu kita berkorban untuk melakukannya, mungkin saja membuat penderitaan teman kita berkurang sebagian. Hal-hal yang remeh bagi kita yang melakukannya, terkadang justru menjadi sesuatu yang sangat istimewa bagi mereka yang menerimanya.
Roda kehidupan akan selalu berputar. Satu saat kita ada di atas, di saat lain kita harus ada di bawah. Ketaatan kepada Allah akan membuat kita terus mensyukuri kebahagiaan yang Allah limpahkan dan membantu kita untuk tegar saat kita mendapat cobaan dariNya. Mari kita jaga hati kita agar kuat menghadapi segalanya.