Archive for May, 2006

aku Ingin

Wednesday, May 31st, 2006

aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat disampaikan kayu kepada api

yang menjadikannya abu…

aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan

yang menjadikannya tiada…

My Life

Tuesday, May 30th, 2006

Kalo kau baca testimonial di friendster-ku, ada satu yang heran kok mau-maunya aku jadi dosen. Kayaknya bukan cuma dia yang heran, kok. Pas aku lepas peluang di Bank Indonesia, dan lebih pilih dosen, buanyak banget yang terheran-heran atas pilihan hidupku.

Tapi sejak awal aku tau, bahwa inilah panggilan hidupku. Saat itu aku tak tahu, apa artinya panggilan itu. Namun seiring perjalanan waktu, kini aku pahami.

Mungkin tak pernah kau bayangkan betapa bahagia hatiku melihat wajah-wajah baru menatapku penuh semangat, di dalam kelas. Betapa membuncahnya perasaan gemilang ketika seisi kelasku begitu bahagia ada di dalam "dekapanku". Mungkin tak pernah bisa kau bayangkan betapa luar biasanya sensasi yang kurasakan setiap ada mahasiswa yang menganggapku sebagai soul survivor mereka.

Ya, keinginanku sederhana saja. Aku ingin hidupku berarti bagi hidup orang lain. Aku ingin keberadaanku memberikan makna tidak hanya bagi diriku sendiri, tapi juga bagi orang lain. Dan aku selalu merasa bahwa pekerjaan ini telah memberi aku kebahagiaan jauh lebih besar daripada kebahagiaan yang diraih oleh anak-anak muda itu saat mereka berjalan gagah di dalam toga-toga mereka.

This is my life. This is my whole life…

Kepada Saudaraku…

Sunday, May 28th, 2006

"Dunia akan pergi berlalu dan akhirat akan datang menjelang. Keduanya mempunyai anak-anak. Maka jadilah anak-anak akhirat dan janganlah menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya pada hari ini hanya ada amal tanpa hisab, dan esok hanya ada hisab tanpa amal" (Hadits Riwayat Bukhari Muslim)

Saudaraku, jika saja dunia ini bersih dari kesedihan dan sepi dari kesengsaraan, sesungguhnya mengingat kematian akan terasa sulit jadinya. Mengingat kematian akan membuat manisnya dunia terasa pahit, banyaknya materi menjadi nisbi, panjangnya usia menjadi tak bermakna, dan kenikmatan dunia menjadi tiada berarti.

Bagaimana mungkin kita dapat menikmati dunia, apabila di pagi hari kita takut umur kita tak akan mencapai sore. Bila sore tiba, kita pun takut tak akan menjumpai pagi kembali. Lepasnya satu musibah membuat kita cemas akan datangnya musibah yang lain. Hilangnya satu penyakit menyadarkan kita akan mungkinnya terkena penyakit yang lain. Tawa sesaat mungkin dapat berganti menjadi tangis berkepanjangan.

Kehilangan sanak kerabat, handai taulan, dan kematian orang-orang terdekat dapat menggetarkan segenap perasaan kita. Ada sesuatu yang terasa menyesakkan dada ketika kita melihat sesosok jenazah dikuburkan. Dan kita berpikir,"Hari ini si fulan sudah masuk liang lahat, kapan giliranku tiba? Sudah siapkah aku masuk ke sana? Apa yang sudah aku siapkan untuk masuk ke sana?"

Begitu pula ketika kita merasakan ada penyakit yang menggerogoti tubuh kita dan seketika terbayang kematian akan datang menjemput, semakin hati kita menggeletar. Kemanisan hidup yang telah terengkuh selama ini terasa hilang tiada berbekas. Kebahagiaan yang tadinya menyala-nyala dalam keelokan tubuh, limpahan materi, sanjungan dan pujian, kini berbalik menjadi ketakutan akan kehilangan semua kebahagiaan semu itu.

Sesungguhnya manisnya kehidupan dan kebahagiaan yang sejati tiada lain ada pada ketaatan kepada Allah swt. Ketaatan tidak akan membebankan sesuatu kepada manusia selain sikap istiqamah dalam menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya.

Dengan ketaatan kepada Allah swt, wajah kita akan senantiasa berseri, hati kita jarang tidak merasa gembira, senantiasa memaafkan mereka yang menzhaliminya, dan mengampuni orang-orang yang sempat tergelincir bermaksud mencelakakannya, sabar menghadapi kejahatan-kejahatan mereka, menyayangi yang muda dan menghormati yang tua, serta mengulurkan hati dan bantuan kepada mereka yang membutuhkan bantuan kita. Kita tidak akan melalaikan perintah Allah, baik yang kecil apalagi yang besar, bahkan bersemangat melakukan apa saja yang dapat mendekatkan diri kita kepadaNya. Apabila datang musibah dan kemalangan, kita menghadapinya dengan ikhlas dan pasrah. Dan saat maut datang menjemput, kita akan melihatnya sebagai akhir dari perjalanan sementara kita di dunia dan menghadapinya dengan sabar, ikhlas, dan senyum.

Saudaraku, pernahkah kita bertanya-tanya dalam hati, di sela-sela kedukaan yang menghimpit batin ini,"Mengapa Allah memberikan cobaan seberat ini kepadaku? BUkankah aku telah mengerjakan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya?"

Pernahkah?

Bagaimana mungkin kita mengajukan pertanyaan semacam itu kepada Allah, dzat yang Maha Mengetahui? Mari sejenak kita merenung dengan jujur. Benarkah kita sudah menjalankan SEMUA perintahNya dan menjauhi SEMUA laranganNya? Dapatkah kita merasa yakin, benar-benar yakin, bahwa semua amal ibadah kita diterima olehNya? Dapatkah kita merasa yakin, benar-benar yakin, bahwa tidak ada dosa yang pernah kita perbuat seumur hidup kita?

Sebaliknya, pernahkah kita berpikir, bahwa segala kenikmatan yang telah kita terima, baik berupa harta yang melimpah, kepandaian yang di atas rata-rata, wajah yang rupawan, teman-teman yang banyak, keluarga yang bahagia, kehidupan yang lancar, kesempatan untuk bertobat, dan segala kenikmatan lain yang tak terhitung bilangnya, juga merupakan cobaan dari Allah? Pernahkah kita menyadari bahwa Allah menguji hambaNya dengan nikmat untuk mengetahui siapa-siapa hambaNya yang pandai bersyukur?

Saudaraku, ingatlah selalu untuk mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kita. Pernahkah kita berpikir bahwa apa pun yang kita miliki saat ini, jauh lebih banyak dan jauh lebih baik dari apa yang dimiliki saudara-saudara kita atau teman-teman kita yang lain? Pernahkah kita merenung bahwa mungkin apa yang kita miliki adalah sesuatu yang sangat didambakan orang lain yang tak pernah mendapatkannya? Pernahkah dalam lubuk hati kita mengakui bahwa apa yang kita terima jauh melebihi apa yang kita harapkan? Pernahkah kita benar-benar mensyukurinya?

Berbuatlah kebaikan pada sesama sebagai perwujudan rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Senyuman yang ikhlas yang begitu mudah bagi kita untuk melepasnya, bisa jadi merupakan obat yang mujarab bagi teman kita yang sedang gulana hatinya. Tegur sapa yang lembut, yang tak perlu kita berkorban untuk melakukannya, mungkin saja membuat penderitaan teman kita berkurang sebagian. Hal-hal yang remeh bagi kita yang melakukannya, terkadang justru menjadi sesuatu yang sangat istimewa bagi mereka yang menerimanya.

Roda kehidupan akan selalu berputar. Satu saat kita ada di atas, di saat lain kita harus ada di bawah. Ketaatan kepada Allah akan membuat kita terus mensyukuri kebahagiaan yang Allah limpahkan dan membantu kita untuk tegar saat kita mendapat cobaan dariNya. Mari kita jaga hati kita agar kuat menghadapi segalanya.

Prasangka

Sunday, May 28th, 2006

Pernahkah kau tau bagaimana rasanya difitnah oleh seseorang yang dekat denganmu? Aku pernah…belum lama ini…dua minggu yang lalu tepatnya…

Tak pernah kubayangkan, betapa sakitnya hatiku sampai-sampai aku tak mampu menahan air mataku mendengar fitnah itu. Begitu keji dan jahatnya ucapan seorang Dwi Utami yang memfitnah aku sebagai orang yang memaki-maki dirinya lewat sebuah surat kaleng (kayaknya, mahasiswaku pasti tau deh, siapa dia, dan kasusnya bagaimana..), sampai-sampai tubuhku gemetar menahan luapan emosi yang meletup-letup. Dan dia tanpa perasaan berdosa sedikitpun mengakui kalau dia memang menyebarkan prasangkanya, meskipun dia tidak punya alasan yang jelas untuk itu.

Aku takkan membahas Dwi Utami atau tentang surat kaleng itu, karena memang aku dan teman-temanku, bahkan sebagian besar mahasiswaku tahu bahwa ia memang dosen yang sedikit "bermasalah". Aku hanya ingin merenungkan, betapa mudahnya kita berprasangka.

Tak usah kita ingkari bahwa sebagian besar waktu kita (yah, sebagian besar di antara kita, deh, ntar ada yang nggak terima) habis untuk menumbuhkan prasangka. Kemarin saja, begitu ada kabar Yogya terkena musibah gempa, teman-teman di kampung langsung berceloteh,"gara-gara presidennya SBY, kita jadi sering kena bencana alam..", sampai-sampai aku tertegun heran, lha emang SBY bisa bikin gempa atau tsunami atau tanah longsor gitu?

Dan tak jarang kita begitu terobsesi dengan prasangka kita sehingga akal sehat seakan tidak berfungsi dengan baik. Waktu aku tanyakan pertanyaanku di atas, dia tetap keukeuh, "aah..bodo amat, pokoknya begitu SBY jadi presiden, kita kena banyak bencana ..titik!! Berarti gara-gara dia kan..?"

Well, yah aku mungkin bisa maklum kalo logika berpikir orang kampung tidak terlalu linier jalannya. Tapi, toh buktinya, banyak juga orang-orang terpelajar yang logikanya jadi amburadul gara-gara terobsesi dengan prasangkanya. Ya seperti kisahku dengan si Dwi Utami tadi. Si Dwi Utami ini sering membanggakan diri sebagai Dosen Teladan Unair, pernah ambil Master di Inggris, dan sekian panjang sejarah masa lalu yang gilang gemilang. Tapi toh, ujung-ujungnya logikanya bengkok juga. Mau tau, kenapa dia yakin kalo aku yang menulis surat kaleng dan memaki-maki dirinya? Menurut dia, karena ketika dia berkata padaku bahwa dia menerima surat kaleng, responsku tidak ekspresif. Cool aja..!!

Aku jadi melongo. Aku cuma tertegun, kok bego banget ya, cara mikirnya. Oke deh, dia mengharap aku memberi respon yg ekspresif, dengan mata langsung terbelalak, mengeluarkan suara seperti orang tercekat, dan kelima jemariku serentak menutup mulutku, dan berseru tertahan,.."Ah, masa sih..?"… Tapi, kalo aku emang orang yang tidak ekspresif, tidak terlalu ngurusin urusan orang lain (bodo amat, mau surat kaleng kek, mau surat toples kek, mau surat ember kek..), apa lantas itu bisa diartikan bahwa aku yang menulis surat itu? Atau jangan-jangan dia diberi wangsit oleh dukun santet dari gunung Lawu…as she always said ..yang dia yakini kebenarannya..!! Wah, mudah sekali prasangka itu terbentuk.. Gak peduli dia orang berpendidikan sekalipun..

Tapi, by the way, kalo kupikir-pikir, aku mestinya sering juga misjudged seperti itu. Dan kalo itu emang terjadi berarti korbannya kan mahasiswaku. Siapa lagi…?

Tak jarang aku menganggap bahwa seorang mahasiswa di kelasku itu cerdas hanya karena dia punya wajah yang ramah dan pake kacamata, dan sebaliknya seorang mahasiswa kuanggap lemot karena dia selalu tampil slenge’an. Padahal ketika kulihat hasil ujiannya, ternyata si slenge’an jauh lebih cerdas dibandingkan si wajah ramah tadi. Nah, apa itu bukan prasangka namanya?

Kalo udah seperti gini, kayaknya aku harus minta maaf bener-bener pada semua mahasiswaku, karena tanpa sadar, aku telah misjudged pada mereka. Maafin saya, ya..?

Yah, kalo nurutin omongannya orang Jawa, sesuatu pasti ada untungnya (lha wong, yang namanya orang jawa ketabrak mobil aja dibilang "untung, gak mati.."). Kalau aku tidak difitnah oleh Dwi Utami, mungkin aku tak akan sempat berhenti untuk merenungi diriku sendiri.

Ternyata, dengan caraku sendiri, aku pernah juga seburuk dia…

Sebuah Awal

Saturday, May 27th, 2006

Hari ini aku memulainya..

Mulai hari ini, aku ingin melihat semua yang bisa kulihat, mencatat semua yang bisa kucatat, merekam semua hal yang bisa kurekam, mengingat semua yang bisa kuingat, menulis semua yang bisa kutulis, dan ….semoga….mempelajari apa yang bisa kupelajari.

Terlalu banyak kisah kehidupan yang berceceran di sekitar kita yang seakan teronggok bagai sampah di pinggir jalan. Mungkin tak banyak yang tahu kalau seonggok sampah itu bisa bermakna dalam bagi salah seorang di antara kita, termasuk juga..bagiku..

Bukankah lebih baik kalau kisah itu kusimpan rapi dalam lembaran ini, supaya siapapun yang ingin meraupnya, ia bisa meraupnya sepuas-puasnya.

Kalau ada satu orang saja di muka bumi ini yang bisa mendapati makna dari apa yang kutuliskan ini, itu sudah cukup bagiku..

Memang, ini baru sebuah awal…