TRANS TV: Sebuah Catatan Ironi

April 19th, 2008 by sonykusumasondjaja

Ketika pertama kali aku main-main ke Trans TV di daerah Mampang, Jakarta Selatan, aku melihat ada sesuatu yang menarik. Saat itu aku duduk di Coffee Bean; (persis di kursi sebelah Julie Estelle yang keliatan suntuk nungguin Moreno yang sedang didapuk menjadi komentator liputan Balap Mobil F1 Trans7) sambil nungguin Prabu Revolusi. Dari kursiku, aku bisa memandang begitu banyak orang berseragam hitam hitam berseliweran di lobi utama Trans Corp. Dan aku melihat adanya kebanggaan di wajah mereka semua mengenakan seragam hitam-hitam itu. Kata salah seorang campers (camera-person) Jelang Sore yang aku kenal, tiap karyawan Trans akan merasa bahwa seragam mereka itulah yang mengikat hati mereka dan membuncahkan kebanggaan mereka menjadi karyawan Trans. Terutama bagi anak-anak baru.

"Istilahnya, gak usah pake duit asal kamu pake tu seragam pasti bisa dah dipake buat ngelamar anak orang.." katanya.

Aku sendiri melihat bahwa Trans TV memang memiliki citra yang sangat positif sebagai salah satu perusahaan yang paling dituju oleh lulusan S1 setelah mereka lulus kuliah. Masih ingat kan, program rekrutmen Trans TV bulan Januari 2007 yang masuk rekor MURI karena jumlah pesertanya yang mencapai lebih dari 100.000 pelamar..? Itu saja sudah menunjukkan betapa tinggi citra merek Trans TV di mata masyarakat Indonesia. Dengan demikian, mestinya orang-orang berseragam hitam-hitam yang aku lihat di lobi TransCorp memiliki kebanggaan yang besar bisa lolos seleksi dan bekerja di salah satu perusahaan idaman para pencari kerja. Paling tidak, itulah dugaanku semula..

Namun sejak akhir 2007, aku mendengar kabar bahwa banyak karyawan Trans TV yang sudah dan akan mengundurkan diri dalam waktu dekat. Awal 2007, presenter-presenter handal Trans TV seperti Mohammad Rizky Hidayatullah, Tina Talissa, Afaf Bawazier, Budi Irawan, Hanum Rais, dan lain-lain sudah hengkang ke stasiun TV lain, pada akhir 2007 gelombang eksodus itu mengalir lagi. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung. Dalam empat bulan hingga Desember 2007, jumlah presenter, reporter, campers, dan karyawan produksi Trans TV yang hengkang mencapai lebih dari 60 orang!! Dan yang hengkang bukanlah orang-orang sembarangan..!! 90% dari mereka yang hengkang adalah mereka yang memiliki dedikasi yang tinggi pada pekerjaan dan kinerja yang luar biasa.

Mau contoh?

Ratna Dumila, presenter cantik lulusan Fakultas Hukum UNAIR yang sudah digadang-gadang Chairul Tanjung menjadi ikon Trans TV bersama Prabu Revolusi, secara mendadak hengkang ke TV-One. Tidak hanya Mila, yang juga memutuskan ikut dalam gelombang eksodus itu termasuk juga presenter kesayangan pemirsa Trans TV Githa Nafeeza, Reza Prahadian (wartawan kepresidenan Trans TV), Divi Lukmansyah (Koordinator seluruh presenter Trans TV), Iwan Sudirwan (Kepala Divisi - boss besar seluruh program berita Trans TV), bahkan sampai produser Reportase Investigasi yang menghasilkan liputan-liputan luar biasa tentang tahu berbahan formalin, bakso daging tikus, atau obat-obatan daur ulang. Bayangkan kalau 60 orang dengan kualitas sehebat itu kemudian pindah dalam waktu yang hampir bersamaan..!! Dan gelombang eksodus itu bahkan masih berlanjut sampai Maret 2008, meskipun jumlah yang keluar tidak sebanyak tahun 2007. Tapi, bila ditotal, jumlah mereka yang memutuskan untuk hengkang dari Trans TV sejak tahun 2007 sampai dengan Maret 2008 mencapai hampir 100 orang. Buatku, itu suatu jumlah yang luar biasa..!!!

Kedekatanku dengan beberapa reporter, presenter, dan campers Trans TV memungkinkan aku untuk bertanya-tanya pada mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mereka semua menyampaikan jawaban yang senada, yaitu bahwa mereka merasa bahwa Trans TV kurang memberikan penghargaan atas apa yang mereka lakukan buat perusahaan. Dedikasi dan loyalitas yang mereka berikan ternyata tidak disambut dengan sepadan oleh perusahaan. Hal ini membuat kebanyakan orang-orang terbaik Trans TV memilih untuk hengkang, meskipun kenyamanan atmosfir kerja di Trans TV masih belum bisa ditandingi oleh stasiun TV lainnya di Indonesia.

Dengan informasi sebatas itu, saat itu aku masih bertanya-tanya. Karena menurutku, biasanya orang-orang media, apalagi yang memiliki kinerja yang bagus, kebanyakan lebih mementingkan kondisi kerja yang kondusif. Kenyamanan lingkungan kerja bagi pekerja profesi, biasanya, jauh lebih penting dibandingkan penghargaan, apalagi penghargaan berupa uang. Jadi, aku merasa bahwa mestinya ada hal lain yang membuat orang-orang terbaik Trans TV hengkang dan mencari pelabuhan baru pada waktu yang hampir bersamaan.

Baru pada awal bulan lalu aku menemukan jawabnya. Dari perbincangan dengan beberapa orang teman Trans TV, aku menemukan sesuatu yang sangat menarik. Sekaligus mengherankan. Ternyata di antara Stasiun TV swasta nasional lain di Indonesia, Trans TV adalah stasiun TV yang menawarkan penghasilan PALING RENDAH. Bahkan, standar gaji Trans TV setara dengan standar gaji stasiun TV lokal seperti Banten-TV atau JTV..!!

Ingat, program rekrutmen Trans TV Januari 2007 yang masuk MURI yang tadi sempat aku singgung? Mereka yang direkrut dari program itu menerima take home pay Rp 1.500.000,- plus uang makan Rp 10.000 per hari masuk. Pernah lihat iklan rekrutmen presenter, reporter, dan campers yang dilaksanakan di kampus-kampus di Surabaya (UNAIR), Yogyakarta (UPN), Bandung (UNPAD) pada bulan April 2008? Mereka yang lolos rekrutmen itu akan (masih rencana nih…) menerima take home pay Rp 1.700.000,- plus uang makan Rp 10.000 per hari masuk. Mereka yang memiliki jatah sebagai presenter acara di TV, seperti Prabu Revolusi (Reportase Sore dan Reportase Investigasi), Ryan Wiedaryanto (Reportase Sore dan Reportase Akhir Pekan), atau Sharah Aryo (Jelang Sore) lebih beruntung. Karena mereka juga mendapat honor presenter, yaitu kurang lebih Rp 70.000 untuk sekali tampil.

Aku begitu kagetnya mendengar informasi itu. Terbayang olehku ketika aku ikut proses liputan Jelang Sore di Surabaya dan Bandung yang begitu melelahkan. Dan untuk itu hanya mendapat penghasilan segitu..?? Pantaskah..??? Gak usah bilang pantas atau tidak pantas deh. Cukupkah untuk hidup..??? Uang kos di daerah Mampang berkisar Rp 600.000 sebulan dengan fasilitas minimal dan langganan banjir, buat beli makan malam kurang lebih Rp 15.000 sekali makan di warung sederhana, belum buat beli pulsa HP, buat transpor ojek yang Rp 5000 dari tempat kos ke kantor Trans TV, buat sekedar jajan atau nonton kalo lagi malam mingguan. Berapa yang masih tersisa dan cukup untuk ditabung…???

Bukan cuma itu. Dari informasi itu pula, aku jadi tahu bahwa take home pay karyawan Trans TV yang sudah menduduki jabatan Produser sebuah program (yang notabene tinggal di Jakarta) ternyata masih lebih rendah dibandingkan take home pay rata-rata PNS dosen Universitas Airlangga..!!!

Aku tak mampu berkata apa-apa. Karena aku jadi langsung tahu, sangat rasional kalau seorang presenter berita Trans TV yang sudah cukup senior dengan take home pay berkisar Rp 2,5 juta sampai 3 juta per bulan langsung memutuskan untuk pindah begitu ditawari oleh TV-One take home pay tiga kali lipatnya. Seorang presenter berita Trans TV dengan gaji sebesar Rp 2,5 - 3 juta sebulan masih punya kewajiban untuk turun ke lapangan melakukan liputan seharian penuh, kembali ke kantor untuk mengedit liputannya sekaligus melakukan VO (Voice Over atau Dubbing), lalu menyiapkan materi liputan besok atau bersiap-siap tampil menyajikan berita, dan baru pulang ke rumah pukul 21 untuk kembali masuk pukul 8 pagi esok harinya.

Kebayang gak, gimana kehidupan presenter atau reporter Trans TV yang sudah berkeluarga..? Dengan jam kerja yang begitu panjang, deadline yang begitu ketat, dan penghasilan yang begitu seadanya, apa yang dapat mereka berikan dengan layak untuk istri dan anak mereka..? Seorang karyawan dengan loyalitas dan dedikasi tinggi sekalipun pasti akan terpaksa berpikir rasional dan menerima tawaran lain yang lebih manusiawi. Mungkin saja mereka tidak akan dapat merasakan suasana kerja yang senyaman di Trans TV, tapi aku yakin mereka akan dapat menerimanya (dengan terpaksa) demi tuntutan hidup yang harus mereka penuhi.

Aku bisa memahami itu semua kini, mengapa begitu banyak orang-orang hebat Trans TV yang memilih untuk mencari tempat yang baru. Money is not everything, but sometimes without money everything is nothing.. Sangat manusiawi apabila mereka-mereka yang memiliki kinerja yang bagus dan dedikasi serta loyalitas yang tinggi harus takluk pada kebutuhan yang paling mendasar yaitu uang.

Tapi, ada satu hal yang masih menggelitik pikiranku. Aku pernah membaca di majalah SWA pada edisi yang membahas tentang para eksekutif muda dan eksekutif yang diburu oleh headhunters (para pencari, pemburu, dan pembajak tenaga kerja level eksekutif dari perusahaan lain). Di artikel itu, tertulis bahwa dua pucuk pimpinan Trans TV, yaitu Ishadi SK dan Wishnutama adalah dua eksekutif yang menerima take home pay lebih dari Rp 100 juta per bulan. Mengingat struktur organisasi Trans TV yang cenderung flat, ketimpangan ini membuatku kembali bertanya-tanya….

Apa yang sebenarnya terjadi…?? 

Dewi Perssik & Tuntutan Pekerjaan

April 14th, 2008 by sonykusumasondjaja

Sudah beberapa hari ini, media televisi ramai memberitakan kasus Dewi Perssik yang (lagi-lagi) dicekal, gak boleh manggung. Setelah Tangerang, sekarang giliran Bandung. Kalau ketika dicekal oleh Walikota Tangerang, ia bereaksi dengan emosi tinggi, berapi-api, dan melontarkan kalimat-kalimat yang pedas (yang justru menunjukkan kebodohannya…), sekarang ia lebih tenang dalam menghadapi cekal yang diberlakukan Walikota Bandung.

Sebenarnya sih, aku gak terlalu mengikuti gosip para selebriti yang sekarang terkesan begitu murahan. Cuma ketika kasus si Dewi Perssik ini, aku jadi agak terusik. Bukan karena si Dewi Perssik tetap keukeuh dengan sikapnya untuk tetap menjadi penyanyi erotis (kalo itu sih, udah jelas banget dia suka bererotis-ria..!! Ngapain juga kaget..!!). Yang bikin aku tertegun adalah ketika aku mendengar alasannya, kenapa kok dia ngeyel mau berpenampilan erotis. Alasan yang selalu dia kemukakan di televisi dan di media massa lainnya adalah bahwa penampilannya yang erotis, mengumbar dan membuka segala yang dia punya, dan menawarkan kemolekannya yang sintal dengan binal adalah karena hal itu merupakan TUNTUTAN PEKERJAAN.

Gedubrak..!!!! Ketik C..spasi D…cappeeek dehhhh…!!!

Rasanya ini adalah alasan klasik yang disodorkan oleh artis-artis berpenampilan "banyak amal" (karena banyak ngasih pemandangan yang menyenangkan…hehehe...) kepada publik ketika mereka ditodong pertanyaan "kenapa sih kok harus berbuka-buka ria…?" Aku masih ingat, jawaban seperti itu pulalah yang diberikan Sarah Azhari, Sally Marcelina, Julia Perez, dan artis-artis erotis lainnya yang mengandalkan pay****a, va***a, atau pant*t untuk bekerja ketika menjawab pertanyaan serupa.

Buat aku, jawaban itu adalah jawaban orang-orang bodoh..!!! Aku nggak bilang bodoh dalam pengertian akademis, tapi dalam pengertian umum yang lebih luas. TUNTUTAN PEKERJAAN adalah jawaban klasik yang sebenarnya menunjukkan bahwa yang bersangkutan justru menghalalkan segala cara untuk bekerja, termasuk mengeksploitasi sumber daya yang mereka miliki untuk menciptakan erotisme bagi laki-laki.

Sekarang coba aja pikirkan, seandainya Dewi Perssik berdalih bahwa menyanyi di panggung dengan pakaian yang begitu erotis dan seronok sambil menari-nari binal kayak kuda liar adalah karena tuntutan pekerjaan, berarti nanti tukang copet yang kepergok lagi nyopet di sebuah konser bisa juga berdalih "saya jangan dilarang nyopet dong, itu kan tuntutan pekerjaan saya sebagai tukang copet..!!". Begitu juga preman pasar atau pelaku industri narkoba.

Apa benar industri musik ndangdut plekenut itu menuntut penyanyinya berpenampilan ala Xena the Warrior Princess..? yang pakaiannya berfungsi bukan untuk menutupi, tapi justru untuk memperlihatkan..? apa memang industri musik ndangdut plekenut itu menuntut penyanyinya untuk tampil dengan goyang erotis seperti penari striptease atau pelacur kelas tinggi yang sedang tampil di depan ribuan penonton..? 

Dan berani-beraninya pula si Dewi Perssik itu bilang bahwa apa yang dilakukannya selama ini masih dalam batas kewajaran dan sudah DIRESTUI OLEH ORANG TUANYAAstaghfirullah...!!!! Apa iya orangtuanya, ayah ibunya, bersuka-cita melihat puterinya mengobral erotismenya di depan ribuan laki-laki..? Apa iya di Jember wanita-wanita penggemar musik ndangdut plekenut itu suka mengenakan baju yang lebih mirip kutang robek..? Apa iya gerakan-gerakan yang ia lakukan itu masih dalam batas kewajaran dan tidak menimbulkan birahi laki-laki..? Padahal banyak sekali kasus di daerah, para kaum pria melakukan tindakan pemerkosaan langsung setelah menonton konser Dewi Perssik.

Aku gak bisa membayangkan orangtua macam apa yang merelakan anaknya tampil begitu liar dan binal dengan kutang robek di atas panggung, disaksikan ribuan lelaki yang (mungkin) bernafsu untuk meraih dan meremas-remas pay****a-nya (seperti kejadian beberapa waktu lalu..)…

Dewi1

Amit-amit..!!!

Tapi jangan disalahartikan bahwa aku ini gak suka dengan Dewi Perssik secara personal lho ya..!! Gak lah..!! Kenal aja nggak…. Justru aku ni merasa kasihan. Kasihan pada Dewi Perssik (dan para selebriti penjaja pay****a dan goyang vag**a). Begitu doyannya mereka pada duit, sampe-sampe mereka merelakan kehormatan mereka sendiri diobral di depan ribuan laki-laki. Masih mending para pelacur di lokalisasi yang menjual diri untuk bertahan hidup..!! Dan aku bisa membayangkan betapa nelangsanya orangtua mereka seandainya mereka bisa melihat secara langsung, dari dekat, betapa binalnya penampilan puteri-puteri mereka… Dengan busana seperti kutang robek, bongkahan pay****a tampak membungkah dengan jelas di sela-sela kutangnya, lalu lekuk tubuhnya yang sengaja dipertontonkan dengan jelas, dan kemudian bergoyang-goyang kesetanan seakan untuk memperjelas kebinalan dalam hati mereka…

Dan itu mereka lakukan, atas nama TUNTUTAN PEKERJAAN…

Skripsi

February 25th, 2008 by sonykusumasondjaja

Sejak awal tahun lalu, aku diminta menjadi pembimbing skripsi. Emang sih, belum menjadi pembimbing tunggal, tapi masih tandem dengan seorang dosen senior lain. Jadi, mahasiswa yang mendapat dosen pembimbing tersebut untuk mengerjakan skripsinya juga bisa berkonsultasi dengan aku sebagai pembimbing pendamping. Sebenarnya praktek ini sudah lazim dilakukan pada tingkat doktoral atau S3 di Indonesia, namun hal ini menjadi terobosan bagi FE Unair karena hanya konsentrasi Pemasaran yang menerapkan kebijakan tersebut.

Sampai saat ini, anak bimbinganku belum banyak. Masih bisa dihitung dengan jari tangan. Dan salah satu di antara sedikit orang itu akan maju sidang Rabu besok, tanggal 27 Februari 2008. Topik skripsi yang diangkatnya termasuk baru. Bahkan bisa dikatakan tidak ada jurnal akademik yang pernah meneliti topik tersebut. Memang sebagaimana dosen partnerku, aku memang tidak menyukai topik skripsi yang kacangan apalagi yang hanya merupakan replikasi dari tulisan yang sudah ada di jurnal. Jadi, ketika si mahasiswa ini menyodorkan topik itu, kami berdua pun tertarik untuk membimbingnya.

Bisa nggak kalian membayangkan, seorang mahasiswa mau menulis skripsi tentang sesuatu yang belum pernah ada acuannya di jurnal ilmiah sebelumnya..? Sama sekali..!! Coba aja cari di Proquest, cari topik tentang Iklan Testimonial, pasti gak ada..!! Ada juga cuma satu, itu pun hanya abstraksi proceeding yang tidak mungkin bisa diperoleh full textnya. Dan yang lebih parah, si mahasiswa bukanlah mahasiswa yang rajin membaca sehingga pemahamannya saat itu tentang apa yang mau ditulisnya bisa dikatakan kosong melompong..!! Ditanya soal alat statistik yang mau dipake aja sama sekali nggak ngerti..

Dosen pembimbing partnerku memiliki kebijakan untuk menyerahkan proses pembimbingan awal kepadaku; mulai meletakkan pondasi pemahaman atas permasalahan, sampai penulisan pra-proposal untuk memperjelas apa yang mau ditulis, dan hal-hal lain yang sifatnya fundamental. Beliau nanti akan menjalankan fungsi konfirmatif dan konsultatif atas apa-apa yang aku sarankan pada mahasiswa bimbingan. Jadilah, aku yang setengah mati "memaksa" mahasiswa yang bersangkutan untuk mau membaca dengan tekun, mencari semua literatur yang berkaitan dengan topik yang dibahas, bahkan aku sempat mengancamnya bahwa aku nggak mau diajak bimbingan kalau dia masih belum paham apa yang mau ditulisnya. Bukan cuma itu. Buku-buku dan jurnal-jurnal yang sekiranya bisa digunakan sebagai acuan pun aku pinjamkan. Sampai-sampai, ketika dia sadar bahwa dia harus memiliki iklan untuk bahan eksperimen skripsinya pun, aku pula yang membelikan beberapa iklan yang dia butuhkan tersebut. Bahkan untuk respondennya pun, aku mempersilakan dia meminta sedikit waktuku di kelas untuk menyebarkan kuesioner di beberapa kelasku…

Aku sih nggak pernah minta pamrih apa-apa melakukan hal itu semua, meski apa yang kulakukan kayaknya nggak bakal dilakukan oleh dosen pembimbing yang lain. Asal mahasiswaku bisa menghasilkan sebuah karya yang berkualitas, aku sudah seneng..

Cuma, kenapa ya, aku menjadi agak sakit hati ketika aku mendengar dari beberapa orang, bahwa dia; si mahasiswa tersebut, secara eksplisit menyatakan kepada beberapa mahasiswa lain, bahwa aku bukanlah dosen pembimbingnya. Dia mengatakan bahwa dosen pembimbingnya hanya satu, yaitu dosen partner seniorku tadi. Padahal dia sendiri tahu, bahwa dia harus melalui aku dulu sebelum bimbingan ke dosen senior tadi.. Entah di benaknya apa sebenarnya posisiku dalam pengerjaan skripsinya.

Aku juga nggak tahu, apa artinya selama ini dia datang kepadaku setiap kali akan menghadap dosen pembimbing satunya untuk menyodorkan tulisannya… Apa artinya dia mengajakku diskusi panjang lebar tentang apa yang akan ditulisnya dalam skripsi…. Apa artinya interaksi yang selama ini terjadi antara aku dan dia yang begitu intens… Aku nggak tau apa artinya semua yang aku lakukan ini buat dirinya…

Dan, aku lebih kecewa lagi ketika melihat di dalam skripsinya, namaku pun bahkan tak tercantum dalam ucapan terima kasih…

Aku nggak tau ya, apakah apa yang aku rasakan ini merupakan salah satu bentuk pamrih yang aku minta dari seorang mahasiswa… Aku hanya merasa kecewa menyadari bahwa ternyata apa yang aku lakukan buat dia; ya diskusi panjang lebar, ya minjemin buku-buku, ya nyariin jurnal-jurnal, ya beliin beberapa iklan TV, ya bantu nyebarin kuesioner, dan hal lain-lain yang dimintanya dariku dan kemudian aku lakukan ternyata masih belum cukup berarti bagi dirinya… Tidak cukup berarti untuk diakui.. Dan tidak cukup berarti untuk diberi ucapan terima kasih…

Behind the Scene: PANTAU Jelang Sore TRANS TV

February 4th, 2008 by sonykusumasondjaja

Sampai saat ini, ide-ideku banyak yang diadopsi oleh program Trans TV Jelang Sore, khususnya segmen PANTAU, yang tayang hari Rabu atau Kamis dua minggu sekali. Dari lima kali tayangan sampai akhir Januari 2008 lalu, empat tayangan di antaranya diangkat dari ideku yang aku sampaikan melalui John Martin, presenter Pantau. Keempat ide itu adalah: penumpang KRL tanpa tiket (tayang 6 Desember 2007), jembatan penyeberangan yang disalahgunakan (27 Desember 2007), trotoar yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya (17 Januari 2008), dan terakhir PNS yang keluyuran saat jam kerja (31 Januari 2008). Sepertinya masih ada beberapa ideku yang nantinya akan diangkat juga untuk Pantau, seperti (1) penegakan aturan non-smoking area, (2) warga Jakarta yang justru menikmati banjir, (3) penyalahgunaan bahu jalan, (4) motor-mobil-MPU yang parkir sembarangan, dan lain-lain. Sayang sekali ya, Trans TV nggak memberikan penghargaan dalam bentuk apapun whatsoever buat pemirsa setianya seperti aku ini.. (Hehehe, boro-boro penghargaan buat aku ya, John..? Dihargai sebagai manusia aja udah untung-untungan…)

Setelah ikut terlibat dalam proses liputan trotoar di Surabaya, akhir Januari lalu aku juga ikut terlibat kembali dalam proses liputan Pantau di Bandung. Saat itu, topik yang digarap juga salah satu ideku, yaitu PNS yang keluyuran pada saat jam kerja. Aku sendiri sih nggak tau apa pertimbangan produser memilih kota Bandung sebagai setting, karena menurutku PNS di Yogya atau Solo lebih mudah diketahui sedang keluyuran dibandingkan di Bandung.

Semula aku mengira bahwa perjalanan liputan kali ini akan lancar seperti liputan trotoar di Surabaya yang hanya makan waktu 4 hari. Tapi ternyata bayanganku keliru besar!!! Saat kami menyoroti trotoar, ya kami kan tinggal mencari spot lokasi di mana trotoar tidak berfungsi dengan baik. Nah, kalo soal PNS bolos, kami kan harus mencari di mana atau ke mana bolosnya PNS ini. Berarti kami kan harus hunting ke berbagai lokasi. Dan hunting itu ternyata pekerjaan yang sangaaaaat melelahkan…!!! Ikuti aja perjalanan liputan yang aku lalui di Bandung, pada hari Kamis 24 Januari 2008. Sengaja yang aku tulis hanya satu hari, karena di hari itulah puncak-puncaknya kelelahan hunting liputan ini. Aslinya sih, proses liputannya sendiri berlangsung dari 21-25 Januari trus dilanjutkan 28-29 Januari 2008.

PUKUL 07.30. Aku sampe di Grand Serela Hotel Bandung. Sengaja aku nyusul tim liputan Pantau, karena dari gelagatnya kayaknya tim Pantau ini sedang kesulitan menggarap topik ini. Bayangin, dua hari ngecengin Bandung belum dapat gambar dan ide apapun..!!

John_arif_1 Saat aku tiba di hotel, John Martin (presenter, tiga dari kiri belakang) dan Arif Hakim (campers, paling kiri) masih baru terjaga. Dari mereka, aku tahu bahwa selama dua hari itu Bandung hujan deras sehingga tidak bisa menggarap liputan. Gambar yang tertangkap hanyalah gambar PNS yang sedang boncengan naik motor. Tapi, karena hanya gambar-gambar sepotong doang yang diambil dari dalam mobil, tentu gambar ini gak bisa diangkat.

Setelah beberapa saat berdiskusi, rencana pun ditetapkan. Usulku untuk memulai liputan dari dalam kantor instansi pemerintahan disepakati. Dan setelah dipikir-pikir, kami pun memutuskan untuk mengawali petualangan kami dari Gedung Pemerintahan Kota Bandung di Jl. Merdeka.

Lokasi 1: Gedung Pemerintahan Kota Bandung

PUKUL 09.30. Kami bertiga memasuki area Gedung Pemkot Bandung. Sempat kebingungan juga, mau ketemu siapa nih. John memutuskan untuk menemui Bagian Humas Pemkot. Dengan diantar Satpam, kami pun berjalan menuju ruangan Bagian Humas Pemkot. Sedikit panik, John kebingungan,"Eh..ntar kalo ditanya, ini liputan tentang apa ya? Kan nggak mungkin kita bilang yang sebenarnya.." Aku langsung nyeletuk aja,"Bilang aja, mau meliput kesiapan Bandung buat Visit Indonesia Year…"  Fiuhh…satu masalah teratasi…!!

Buat apa kami ketemu Humas..? Kami pengen minta ijin mengambil gambar suasana kerja di kantor ini. Kan biar keliatan kalo kosong..! Tapi kan nggak mungkin kalo kami bilang terus terang, kami mau bikin tayangan tentang PNS yang suka bolos kerja..!! Bisa diusir mentah-mentah..

Setelah mendapat ijin untuk mengambil gambar DI DALAM gedung Pemkot tersebut, kami pun langsung beraksi. John segera menghadap Kepala Bagian Umum dan berbincang-bincang, sedangkan aku dan Arif langsung membidik meja-meja dan kursi-kursi di Bagian Umum yang kosong melompong…!! Beberapa PNS yang ada di situ dan asyik bersenda gurau tak luput disorot, lengkap dengan background berupa jam dinding yang menunjukkan pukul 10 lebih sedikit.

Keluar dari Bagian Umum, kami melanjutkan petualangan ke Gedung Dispenda Jabar yang masih ada di dalam kompleks Gedung Pemkot Bandung. Setelah menjelaskan bahwa kami sudah diijinkan oleh Bagian Humas, kami pun leluasa mengambil gambar di gedung Dispenda. Dan di situlah berbagai gambar menarik kami peroleh. Beberapa PNS yang asyik merokok di luar gedung sambil nongkrong, ada yang asyik memilih-milih kacamata hitam yang ditawarkan pedagang asongan, ada juga yang keliatan lagi asyik baca koran, wah macem-macem pokoknya…!!! Di lantai dua gedung yang sama, ruangan kosong melompong kembali terlihat. Dari belasan meja yang ada, manusia yang terlihat hanya tiga orang saja. Di ruangan yang lain, bahkan sempat tertangkap dengan jelas dua orang ibu berseragam PNS sedang khusyuk banget main Zuma…!!! Dan ketika mereka sadar ada kamera yang menyorot komputer mereka, dengan malu-malu mereka mematikan permainan itu..

Saat itu, kami sudah mulai sadar bahwa keberadaan kami di gedung itu sudah mulai dicurigai oleh karyawan di situ. Ya, iyalah..!! Masa sih, untuk Visit Indonesia Year perlu menyorot ruang kantor yang pada kosong melompong..!! Kami nggak tau apakah para PNS di gedung ini bisa bertindak represif seandainya mereka tahu apa yang kami kejar. Tapi, kami nggak mau mengambil risiko. Bayangan bahwa kedok kami akan terbongkar lalu hasil rekaman tadi disita dan dirusak cukup mencekam kami, sehingga puas nggak puas kami bergegas cabut dari tempat itu..

Sayang banget, pada saat itu kami nggak ada yang membawa kamera digital. Aku sendiri, yang biasanya nggak lepas dari kameraku, karena terburu-buru berangkat dari Surabaya, hanya membawa kamera digital TANPA MEMBAWA BATTERY-NYA…Cerdas kan.??!!

Lokasi 2: Bengkel Mobil, Jl. Aceh Bandung

PUKUL 11.15. Sebelum makan siang, kami memutuskan untuk meminjam kamera digital. Kebetulan, Prabu Revolusi sedang shooting untuk Reportase Investigasi di Bandung, dan dia bisa meminjamkan kameranya. Selepas dari Gedung Pemkot, kami pun bergegas menuju lokasi pengambilan gambar Reportase Investigasi di sekitar Jl. Aceh. Di tengah perjalanan, sekitar pukul 12.30, kami melewati Restoran Suis Butcher. Dan ketika kami melihat ada sekelompok tamu restoran berseragam PNS di kursi luar, kami pun langsung panik mencari tempat parkir yang enak untuk menyorot mereka. Restoran itu memang menyediakan beberapa kursi di luar gedung sehingga dapat terlihat jelas dari luar. Dapat lagi…!!! Cuma, kalo aku pikir-pikir, hebat juga PNS Bandung ya, bisa makan siang di Suis Butcher. Aku nggak tau ya, apa PNS Surabaya ada yang makan siang di Bon Cafe atau Prime Steak..?

Beberapa saat kemudian, kami sampai di sebuah bengkel mobil tempat shooting Reportase Investigasi untuk tayangan 2 Februari 2008. Setelah berhalo-halo sebentar dengan Prabu Revolusi dan mendapatkan kameranya, kami pun langsung cabut menuju spot berikutnya..

Me_prabu_2 (ini sih, foto pas aku dan Prabu Revolusi ngopi di Coffe Bean, Trans TV..)

Lokasi 3: Makan Siang di BMC, Bandung

PUKUL 12.30. Kami merencanakan untuk makan siang dulu sebelum berburu PNS di Pasar Baru, tempat yang kata banyak orang jadi jujukan PNS yang keluyuran saat jam kerja. John yang sedang nggak enak badan dan Arif yang nggak pernah rewel memasrahkan pilihan makan siang kepadaku. PIlihanku adalah Restoran BMC. BMC adalah singkatan dari Bandoengsche Melk Centrale atau Bandung Milk Centre. Ini adalah restoran peninggalan jaman Belanda, didirikan tahun 1928, yang arsitekturnya kuno dan cantik dan makanannya (terutama yoghurt dan es krimnya) enak. Dan, yang tidak aku bilang pada John dan Arif adalah, ini restoran milik Pemkot Bandung. Dan setahuku, di sini buuanyyaaaak banget PNS yang makan siang sambil ngobrol panjang sampai melewati jam kerja. Dan benar saja. Ketika kami datang, ikut berdatangan pula beberapa PNS berseragam biru dan coklat. Kami pun berniat untuk menyanggong mereka, apakah mereka bisa keluar restoran sebelum pukul 13.

Setelah menghabiskan makan siang kami pukul 13.15, kami pun berusaha memperoleh gambar dan melakukan interview pada orang-orang berseragam PNS yang berjalan keluar dari restoran dan menuju tempat parkir. Kebayang kan reaksi mereka, ketika John bertanya "Wah, pak, bu, kok masih di sini, bukannya ini sudah jam kerja? Kan terlambat masuk kantornya..?" Apalagi pertanyaan itu diajukan di depan sorotan kamera…!!!

Ada yang semula berwajah ramah langsung berubah beringas, ada yang menjawab dengan ketus, ada yang melengos dan buru-buru pergi…nggak ada deh yang mau menjawab dengan tersenyum manis dan menjelaskan dengan panjang lebar. (Ya iyalah, siapa juga yang mau menjelaskan boroknya sendiri dengan senyum di depan kamera TV.. jangan gila doooonggg!!!).. Puas dengan beberapa wawancara di sekitar lahan parkir, kami keluar area restoran dan mendapati di sekitar bangunan restoran itu banyak PNS yang masih berseliweran untuk berangkat makan siang. Jam 13.40…!!!

Lokasi 4: Pasar Baru, Bandung

PUKUL 14.00. Pasar Baru adalah lokasi yang sering dijadikan tujuan PNS Bandung kalo mau keluyuran. Kami pun segera ke sana. Dan benar saja!! Tak sulit kami menangkap basah orang-orang berseragam PNS yang sedang asyik memilih-milih barang di pusat perkulakan itu. Memang sih, nggak semuanya PNS bandel karena ada sebagian guru-guru yang baru pulang mengajar, tapi nggak bisa dipungkiri bahwa PNS bandelnya juga banyak. Bahkan, ada salah seorang yang begitu dihampiri John dan Arif dengan kameranya dan ditanya soal jam kerja, dia langsung lari kencang menerabas kepadatan lalu lintas Bandung..!! Rasa takutnya masuk TV mengalahkan takutnya ketabrak mobil..!!

Pasar_baru1_1

(John dan PNS yang lagi belanja di Pasar Baru)

Lokasi 5: Gedung Pemerintah Kota, Bandung

PUKUL 15.15. Sepulang dari Pasar Baru, kami memutuskan untuk kembali sejenak ke Gedung Pemkot. Tapi tidak ada sesuatu yang menarik.

Ketika kami memutuskan untuk mengakhiri liputan hari itu, karena jam kerja PNS toh sudah hampir berakhir, kami pun beristirahat. Coffee break di sebuah warung Surabi di daerah Dago Atas, dan kemudian mampir ke Rumah Mode. Rumah_mode

(mejeng bentar di Rumah Mode…)

Dan, sedikit terkejut, aku menyadari bahwa petualangan kami dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore menghasilkan gambar yang kalo sudah digarap di meja editor durasinya paling-paling empat menit..!! Bayangin..!! Kerja hampir 7 jam, hasilnya cuma gambar durasi 4-5 menit..!! Padahal durasi Pantau itu 10-15 menit bersih, tanpa iklan.

Aku jadi lemeeees banget…!!! Buseettt..!! Pantas aja dari beberapa hari yang lalu John sudah mengeluh kesulitan mengerjakan tayangan ini. Padahal sejak kedatanganku tadi pagi, mereka bilang sudah ada arah yang lebih jelas tentang "mau dibuat kayak gimana tayangan ini". Tapi, aku gak nyangka aja, kalo untuk adegan 4-5 menit saja kami harus menghabiskan waktu sampai 7 jam..!! Oh, my God..!!

Dan, seperti kata pepatah, bencana tuh nggak pernah datang sendirian. John yang sudah sejak kemarin mengeluh tidak enak badan, sore itu mulai demam. Setiba kembali di hotel, dia langsung menelan obat dan meringkuk di balik selimutnya. Dan kalian tentu bisa paham bahwa dalam kondisi demam seperti itu, sulit sekali kita bisa berpikir dengan baik, apalagi menghasilkan ide-ide kreatif yang gila. Padahal, asal kalian tahu aja, segmen Pantau ini bisa dibilang segmennya John Martin. Dia yang responsible mulai dari penggalian ide (yaa, meskipun kebanyakan ide datang dari aku ya John..?), menulis skrip atau skenarionya, merancang eksekusi di lapangan, menghubungi narasumber, dan lain-lain. Produser hanya ada untuk dimintai pendapat (dan bukan solusi…), sedangkan campers juga hanya bisa memberi sedikit masukan.. Kalau John Martin demam, dia masih bisa beraksi di depan kamera. Tapi, siapa yang bisa jadi think tank-nya…?

Apakah masalah berhenti sampai di situ…? Tentu tidak..!! Karena besok hari Jumat, maka kami nggak bisa lagi mewawancarai PNS karena pada hari Jumat PNS Bandung mengenakan baju batik. Bukan baju PNS..!! Jadi, skenario awal harus diubah..!! Bahkan sempat kepikiran untuk membatalkan liputan itu dan menggantinya dengan liputan lain yang lebih masuk akal. Tapi, dengan keteguhan dan kegilaan seorang John Martin, kami tetap bertahan pada topik PNS itu..

Aku mengusulkan, untuk hari Jumat besok, kami nggak usah berburu PNS, karena toh sudah nggak mungkin dilakukan. Tapi, kami bisa mewawancarai masyarakat umum. Aku bilang,"Tanyai mereka, bagaimana pendapat mereka kalo ada PNS keluyuran saat jam kerja.." Aku juga memberi John ide-ide tentang banyak hal, tentang sequence tayangan itu, bagaimana adegan opening sampai closing-nya. Sehingga, hari Jumat besok tetap ada yang bisa diperoleh untuk menambah durasi.

Apakah sudah sampai di situ masalahnya..? Hehehehe…masih belum cukup..!! Tayangan Pantau selalu menghadirkan narasumber yang biasanya dari kalangan pejabat pemerintah. Dan atas bantuan salah seorang kenalan John, kami bisa menghadirkan narsum pejabat teras Jawa Barat, yaitu Wakil Gubernur Jawa Barat..!! Ini termasuk prestasi karena biasanya pejabat yang menjadi narsum hanya di tingkatan Kepala Dinas. Janji interview dengan Wagub adalah Jumat pukul 9 pagi. Tapi, pada sekitar pukul 7.30, ketika kami sudah agak gembira karena ada rencana cadangan yang baru kami susun, kami mendapat kabar bahwa Wagub tidak bisa interview hari itu karena DIARE…!!!! Kebayang nggak sih, gimana lemesnya kami semua…!!!

Ketika kami bertiga kembali ke Jakarta malam itu (dan memutuskan untuk kembali ke Bandung melanjutkan liputan hari Senin), rasanya badan ini capeeeekk… banget..!! Yang namanya halangan itu kok adaaaa..aja. Muncul dari sudut-sudut yang tak diperhitungkan sebelumnya..!!

Tapi, yang membuat aku ngenes adalah bahwa pekerjaan yang begitu melelahkan itu; tujuh jam sehari selama lima hari kerja; paling-paling untuk tayangan 10-15 menit (tanpa iklan). Dan John Martin beserta campers-nya (Arif Hakim atau Atmo, salah satu) melakoni rutinitas itu setiap hari. Bayangkan, Senin John menyiapkan skenario, proposa, budget, dan lain-lain. Selasa sampai Sabtu liputan dengan situasi yang tadi aku gambarkan. Minggu libur (tapi nanggung banget, capeknya belum ilang..!!). Ditambah lagi waktu untuk mendampingi editor merangkai gambar-gambar dari kamera tadi menjadi suatu tayangan yang utuh. Proses editingnya sendiri rata-rata berlangsung selama DELAPAN JAM…!!! Dan itu semua hanya untuk tayangan berdurasi 10-15 menit..!!!

Aduuuhhhh…duh…duh…duh…!!!! Gak kebayang, gimana rasanya ngerjain program lain yang jauh lebih kompleks. Seperti Reportase Investigasi, misalnya, yang harus berhari-hari bahkan berminggu-minggu menemukan narasumber. Lalu berhadapan dengan ancaman yang nggak main-main karena berhadapan dengan preman-preman dan sindikat besar di pasar. Atau bahkan berhadapan dengan pihak kepolisian yang tentu tertarik atas tayangan itu dan narasumber pelakunya, tapi tidak bisa dilayani karena kode etik jurnalistik yang melindungi keamanan narasumber…. Kebayang nggak sih betapa hebat tantangan yang dihadapi oleh para jurnalis saat ini…?? Ampuun…dehh!! Masih jaaaauuuuh….lebih mending ngajar.. Kerja dua jam, bayarannya lebih gede dari mereka yang kerja tujuh jam sehari..

Dan itu membuatku lebih menghargai mereka-mereka pejuang informasi…

PANTAU Jelang Sore Trans TV: Sebuah Catatan

January 16th, 2008 by sonykusumasondjaja

Mimpi pun enggak, ketika John Martin Tumbel (John, foto kanan) dan Pratomo Setiogroho (Atmo, kiri); tim PANTAU Jelang Sore Trans TV; John_atmomengajakku untuk ikut serta dalam proses peliputan PANTAU Jelang Sore Trans TV untuk episode TROTOAR. Memang sih, dari komunikasiku dengan John via Friendster selama ini, aku tahu bahwa ide-ideku banyak diangkat untuk segmen PANTAU di Jelang Sore Trans TV. Dari dia juga, aku juga tahu kalo ideku tentang penyalahgunaan fungsi trotoar ini akan diangkat dan digarap di Surabaya. Iseng-iseng aku juga minta pada John supaya bisa dilibatkan dalam proses peliputan, tapi sama sekali nggak nyangka kalo permintaanku itu dikabulkan oleh John dan Atmo….!!! Nggak nyangka…!!!

Ketika mereka berdua menghubungiku via handphone dan mendatangiku di kampus, itu sudah sangat menyenangkan karena akhirnya aku bisa juga berinteraksi dengan orang-orang yang selama ini aku kagumi aksinya di layar kaca. Ternyata, mereka malah mengajakku untuk ikut terlibat dalam proses peliputan kali ini. Senang…?? Wah, jangan ditanya, deh..!! Speechless.. sampe nggak bisa tidur semalaman…ngebayangin how excited the experience would be…

Bagi yang nonton Jelang Sore, Rabu, 16 Januari 2008, mungkin masih ingat bahwa saat itu PANTAU mengangkat sebuah fenomena bahwa saat ini yang namanya trotar tuh sudah banyak yang disalahgunakan bukan sebagai tempat pejalan kaki, tapi sebagai tempat berjualan PKL. Pantau_surabaya_006 Selain itu juga, banyak trotoar yang tidak ramah pada para penyandang cacat fisik, seperti tuna netra atau pengguna kursi roda. Struktur trotoar yang nggak rata, berlubang-lubang, banyak galian seringkali menyulitkan mereka yang memiliki keterbatasan fisik.

Pantau_surabaya_040

Intinya sih itu… Tapi, tantangannya adalah bagaimana konsep yang serius kayak gitu bisa dikemas dengan kocak. Karena konsep intinya PANTAU kan public-service watch yang dikemas dengan jenaka. Dan ini sulitnya bukan main. Di sini, aku harus mengacungkan dua jempol pada John dan Atmo yang dengan ide-ide dan imajinasinya yang kadang liar tak berbatas mampu mewujudkan femonena sosial yang sedikit sensitif itu (karena bersinggungan dengan PKL yang cari makan di trotoar, konsumen yang merasa membayar pajak, dan pemerintah melalui Satpol PP yang bertugas menjaga kenyamanan kota..) dengan cara yang jenaka.

Melibatkan instansi pemerintah, dalam hal ini Satpol PP, untuk bisa terlibat dalam proses razia PKL (hahaha…John, kabarnya pak Utomo gimana…?..) mungkin tidak terlalu sulit, mengingat dalam tiap kali tindakan razia biasanya Satpol PP memang melibatkan media, sebagai salah satu usaha public relation mereka tentu saja.

Pantau_surabaya_034

Mewawancarai para pedagang PKL juga tidak akan terlalu sulit, malah mereka mungkin justru akan rebutan supaya wajah mereka terekam dalam kamera. Nah, tapi mewawancarai pedagang PKL pada saat petugas Satpol PP mengadakan razia, itu yang sulit..!!! Lebih sulit lagi, karena John dan Atmo pengennya mewawancarai para PKL beberapa menit sebelum razia dilakukan.. Bukan cuma sulit, bahkan bisa saja berbahaya..!! Pantau_surabaya_022 Jelas sekali bahwa Satpol PP dan PKL bagaikan anjing dan kucing, yang selalu ada pada posisi yang berseberangan. Kalo misalnya, kami dituding para PKL sebagai antek-antek Satpol PP, terus dikeroyok massa karena jengkel, lha kan berabe…!! Yaaaa, kalo yang dikeroyok John dan Atmo sih nggak papa…hehehe..mereka kan bisa aja kemudian menyajikan liputan bahwa wartawan media elektronik dikeroyok PKL saat razia.. Lha kalo aku yang dikeroyok, kan gak lucu kalo muncul di surat kabar, atau muncul di Trans TV, dosen Unair dikeroyok PKL saat razia. Tapi, toh, dengan pendekatan yang halus dan sempurna, John dan Atmo ternyata berhasil mendekati para PKL tersebut dengan baik, sehingga mampu mendapatkan banyak sekali informasi yang penting untuk disajikan, dan bahkan sempat menjalin kedekatan dengan para PKL tersebut…!!! Bahkan ketika John nekad mendatangi kembali para PKL tersebut beberapa saat setelah razia (untuk meliput bahwa PKL itu akan menggelar kembali dagangannya setelah razia), para pedagang itu pun sama sekali tidak menampakkan permusuhan. Sebaliknya, mereka menyambut kami seolah-olah menyambut kedatangan teman lama…!!! Pantau_surabaya_025

Di saat itulah, aku benar-benar menyadari bahwa adalah sangat penting bagi seorang jurnalis untuk memiliki interpersonal skills yang tinggi. Bagaimana tidak..? Seandainya para jurnalis tersebut tidak memiliki kemampuan interpersonal yang bagus, bagaimana mereka bisa menjalin hubungan dengan narasumber..? Bagaimana mereka bisa mendapatkan informasi dari narasumber pada saat-saat yang kritis..?Sama ketika, si John mampu menginterview seorang PKL tepat pada saat pedagang tersebut kerepotan membereskan barang dagangannya dan melarikannya ke sebuah kampung supaya tidak disita Satpol PP. Lalu, bagaimana para jurnalis tersebut mampu menginterview para narasumber yang ada pada posisi bersalah tanpa mereka merasa dihakimi..? Tanpa interpersonal skills yang bagus, tugas-tugas jurnalisme pasti tak akan dapat terlaksana dengan baik.

Dari tayangan Jelang Sore yang berdurasi 30 menit (termasuk commercial break), tak pernah aku menduga betapa sulit dan rumitnya proses produksinya. Bayangkan saja, Pantau di Jelang Sore episode tanggal 16 Januari 2008 kemarin tayang tiga segmen. Satu segmen yang hanya 7-8 menit itu membutuhkan waktu pengerjaan sampai minimal dua hari..!!! Misalnya, adegan yang menampilkan berbagai spot trotoar yang digunakan untuk pedagang makanan kaki lima. Adegan yang cuma 5 menit itu membutuhkan waktu pengerjaan sampai dua hari..!! Dan itu dengan catatan, kebetulan cuaca sedang bersahabat. Dari satu titik ke titik yang lain, dari satu adegan ke adegan yang lain… Wah, ribet..!!! Belum lagi, untuk setiap adegan perlu diulang beberapa kali, termasuk adegan jatuh ke selokan yang harus diulang tiga kali, ya John…!! Sampe-sampe tangan dan kaki pada lecet-lecet…

Ada banyak hal yang aku pelajari dari kebersamaanku dengan tim Pantau Jelang Sore Trans TV selama mereka di Surabaya. Di antaranya adalah:

  • Betapa panjang dan berlikunya sebuah proses peliputan sebuah berita. Ya yang tadi aku bilang itu. Untuk tayangan durasi 5-7 menit saja butuh waktu dua hari..!! Proses taping-nya sendiri tidak terlalu lama. Setengah sampai dengan satu jam paling juga udah kelar. Tapi, proses persiapan sebelum taping itu dilakukan yang ternyata luar biasa menguras tenaga, waktu, dan pikiran..!! Dan sangat mengagumkan melihat John dan Atmo yang tetap ceria dan tetap gokil di tengah-tengah hambatan dan rintangan dalam perjalanan..
  • Betapa riskannya profesi seorang jurnalis. Aku nggak bisa membayangkan gimana jadinya seandainya para PKL tersebut ngamuk atas kehadiran Satpol PP dan melampiaskan kemarahannya pada jurnalis yang kebetulan hadir saat itu…!! Itu sih masih mendingan… Aku masih ingat betapa menggetarkannya pengalaman Meutya Hafid dan Budiyanto, jurnalis dari Metro TV, yang disandera kelompok Mujahidin selama 168 jam di Irak. Ternyata kematian juga merupakan salah satu risiko profesi seorang jurnalis..!!!
  • Betapa indahnya arti sebuah idealisme. Banyak orang awam yang paham bahwa Trans TV adalah sekolahnya para jurnalis TV, yang karena dianggap sebagai sekolah maka you wont get any good money there… Tapi, sosok John dan Atmo telah menunjukkan padaku bahwa kerja keras yang mereka lakukan untuk menghadirkan sesuatu yang bernilai bagi masyarakat memiliki arti yang lebih besar daripada uang.. Kepuasan kerja yang mereka rasakan tidaklah muncul ketika perusahaan mengapresiasi kinerja mereka dengan imbalan tertentu. Kepuasan kerja itu muncul pada saat mereka berhasil menyajikan sesuatu yang berarti bagi masyarakat, dengan ide dan konsep yang matang, eksekusi yang mulus, dan sambutan masyarakat yang positif. Sangatlah indah dan menyenangkan apabila idealisme kerja berjalan seiring dengan kepuasan kerja, karena artinya apapun yang kita kerjakan akan menghasilkan sesuatu yang terbaik dari diri kita. Dan menurutku, orang-orang yang memiliki idealisme dalam profesinya dan mampu menjunjung tinggi idealisme itu akan merasakan kebahagiaan yang besar saat mereka merasakan bahwa apa yang mereka lakukan sangat bernilai bagi orang lain.. Dan kebahagiaan seperti itu tak akan terbeli dengan uang..

Buat John dan Atmo, terima kasih banyak atas memorable and unforgettable experience yang telah kalian berikan buatku selama hari-hari kalian ada di Surabaya…. entah apa akan ada lagi pengalaman indah serupa itu….. terima kasih juga karena telah mengajarkanku bagaimana idealisme profesi yang sebenarnya, yang entahlah apa sudah kumiliki saat ini….. aku berharap, bisa memiliki idealisme yang sama agar aku bisa merasakan kepuasan yang kalian rasakan ketika apa yang kalian lakukan bisa berarti bagi orang lain…

Semoga….

Pantau_surabaya_065_2      

Aku bersama teman-teman tim liputan Jelang Sore: Hakim, Ine, John, dan Atmo…. see you around guys..!! kapan-kapan aku main ke Tendean, yah..!

Trans TV & Kompetensi Seorang Konsumen (2)

January 8th, 2008 by sonykusumasondjaja

Ini sebenarnya adalah comment on comments atas postingan-ku sebelumnya, tentang Trans TV. Karena kayaknya tanggapanku bakal terlalu panjang untuk dimasukkan ke comment, maka aku jadikan postingan baru.

Sebelumnya, thanks banget buat Yudha - one of the best TV journalists di Trans TV, one of the persons I admire the most at Trans TV - yang mau ikut urun pendapat di blog-ku ini, dan mau memberikan pendapat yang obyektif. Emang Yudha menggariskan point yang penting banget, bahwa presenter adalah orang yang ada pada garda paling depan, yang mengemban semua hasil pekerjaan jurnalistik orang-orang yang ada di belakang layar. Audiens nggak akan bisa tahu, apa yang terjadi di belakang layar. Kalo dosen datang terlambat, meminjam contohnya Jay, mahasiswa bisa bertanya langsung dan menerima jawabannya dari dosen yang bersangkutan. Saya sendiri akan menjawab pertanyaan itu dengan jujur, kenapa kok saya terlambat. Dan yang penting, saya nggak akan pernah menjawab "Ah, buat saya, yang penting Kajur atau Dekan menganggap dosen terlambat 15 menit tuh nggak apa-apa, kok, toh kuliah bisa jalan terus.." Tapi kalau presenter yang tampilnya kurang bagus, pemirsa tidak akan bisa mendapat penjelasan (kecuali kalo ada yang nekat ngirim sms kayak aku, ya..). Jadi, apabila seorang presenter berita tampil tiga kali berturut-turut dengan performance yang selalu di bawah standar performancenya yang biasanya, tentu orang akan bertanya-tanya.

Penyedia jasa adalah orang yang mengemban fungsi public relation, terutama apabila karakter bisnisnya tidak memungkinkan konsumen untuk terlibat aktif dalam proses produksinya. Ini juga beda, lho Jay. Kalo di jasa pendidikan seperti di kampus, kalian kan bisa terlibat langsung dalam gerak langkah institusi. Kalian bisa terlibat langsung di dalamnya. Tapi, pada industri pertelevisian, konsumen tidak bisa terlibat terlalu aktif, karena konsumen hanya bisa menilai kualitas performance sebuah stasiun TV dari penampilan sang presenter dan setting yang ada di sekitarnya. Hal ini menyebabkan peran presenter menjadi sangat penting. Dia yang akan "bercerita" dan "mendongengkan" informasi yang berhasil diperoleh reporter di lapangan kepada audiens, bukan hanya sekedar membaca saja. Mengutip kata-kata Yudha, lha kalo presenter berita hanya sekedar duduk dan nampang di TV sambil membaca berita, tanpa menjiwai apa yang ia bacakan, lalu apa bedanya dengan MC..?

Satu poin penting lagi, khususnya buat Jay nih, bahwa (sekali lagi) penyedia jasa itu selalu berperan sebagai public relation officer untuk perusahaan di mana ia bekerja. Jadi, meskipun ia dalam kondisi capek, marah (pada orang lain), sedih, jengkel, dan lain-lain, tidak sepantasnya ia melampiaskan situasi pribadinya yang kurang nyaman itu pada konsumen. Apalagi konsumen yang memberikan kritik. Ingat, kritik itu seharusnya dianggap sebagai hadiah bagi perusahaan. Bagi konsumen sendiri, memberikan kritik itu membutuhkan effort lho, butuh pengorbanan. Jadi, terlepas bagaimanapun situasi dan kondisi penyedia jasa pada saat itu, maka tidak sepantasnya ia bersikap defensif.

Terlepas dari kemungkinan bahwa kritik yang diajukan konsumen untuk cuma satu di antara seribu pujian. Terlepas dari kemungkinan bahwa presenternya lagi kecapekan atau lagi pusing karena nggak punya duit buat bayar utang. Terlepas dari kenyataan bahwa presenter itu dituntut untuk memenuhi apa yang diminta oleh produser (meskipun dalam kasus ini, tidak begitu ceritanya). Terlepas dari itu semua, penyedia jasa, atau dalam hal ini presenter, punya peran penting sebagai public relation yang seharusnya malah mau dan mampu menjaring masukan dari pelanggannya. Sehingga, terlepas dari benar atau tidaknya masukan, kritik, atau saran yang masuk, maka paling tidak, dia harus mau berkata "Terima kasih atas kritik yang diberikan…"

Soal apakah nanti setelah itu kritik dan sarannya tidak diperhatikan karena nggak masuk akal atau karena beda persepsi, itu urusan lain. Karena memang, seperti kata Jay sendiri, mungkin saja perusahaan punya standar penilaian yang berbeda. Tapi, keharusan untuk berterima kasih atas semua masukan, kritik, dan saran yang datang dari konsumen itu tidak berubah..!! Ini kan masalah sopan santun dan etika pergaulan bisnis..

Satu hal yang perlu diingat di sini, tiap industri punya karakter sendiri-sendiri. Punya model bisnis yang berbeda-beda. Sehingga tidak fair kalo harus membandingkan situasi yang berlangsung di suatu industri dengan industri lain yang memiliki karakter yang berbeda, seperti membandingkan jasa pertelevisian (yang persaingannya ketat dan konsumen atau audiens bisa berpindah dari satu channel ke channel yang lain) dengan jasa pendidikan (yang kalo kalian sudah memilih masuk Unair, akan sulit untuk "pindah channel" karena switching cost-nya yang tinggi). Pada jasa dengan karakter yang pertama, sudah wajar kalau konsumen menuntut kesempurnaan yang konsisten dari penyedia jasa (itu yang namanya reliabilitas), karena kalau tidak sempurna konsumen bisa saja pindah ke penyedia jasa yang lain. Tapi pada jasa dengan karakter yang kedua, penyedia jasa bisa saja bersikap masa bodoh dengan semua masukan, saran, dan kritik, karena toh konsumen sulit sekali mau pindah ke penyedia jasa yang lain. (Ibaratnya nih, kalo kamu komplain ke saya karena nilai yang saya berikan ke kamu, kamu anggap nggak fair, maka saya bisa saja bilang,"Ya itu nasibmu.." Dan kamu tidak akan bisa pindah ke "channel" lain, apalagi pindah ke kampus lain). Karena perbedaannya sangat mendasar, maka perbandingan keduanya tentu tidak fair.

Dan satu lagi, mengutip kata-kata Yudha, mengingat presenter itu tampil di televisi yang ditonton jutaan manusia di Indonesia tentu kesalahan dan kekurangan yang dia lakukan akan sangat mudah dikenali oleh orang lain (yang jumlahnya jutaan orang itu). Bandingkan dengan dosen, yang kesalahannya paling-paling akan disaksikan oleh maksimal 100 orang mahasiswa. Sekali lagi, ini akan menunjukkan bahwa pembandingan kedua jenis penyedia jasa ini jelas tidak berimbang.

Tapi, inti dari postingan ini adalah,

  • Setiap karyawan perusahaan yang tampil dan berinteraksi dengan konsumen atau pelanggan; langsung maupun tidak langsung; harus mampu menjalankan fungsi sebagai "Public Relation Officer" bagi perusahaannya
  • Mereka yang berfungsi sebagai Public Relation dituntut untuk mampu menempatkan konsumen sebagai stakeholders utama, terutama apabila perusahaan tersebut berada pada lingkungan kompetisi yang ketat dan konsumen mudah untuk berpindah provider. Sehingga, apapun yang disampaikan oleh konsumen hendaknya diterima dengan baik, terbuka dan tidak defensif.
  • Semua karyawan yang berinteraksi dengan pelanggan memang berhadapan dengan situasi Boundary Spanning, di mana mereka harus tetap tersenyum meskipun hati mereka sedang marah atau sedih. Karyawan tersebut tidak akan pernah dibenarkan untuk melampiaskan kesedihan atau kemarahannya pada konsumen yang kebetulan memberikan kritikan kepadanya. Bagi pemasar, itu dosa besar!

Dan, terakhir Jay, ketakjuban saya justru karena menyadari pada pada industri pertelevisian saat ini (ini dunia nyata, lho!!) yang sangat kompetitif ini, kok ya masih ada seseorang dari perusahaan yang sangat terkenal, yang tidak memahami pernyataan bahwa "pelanggan adalah raja…" yang perlu disayang-sayang dan diperlakukan dengan baik.

PS: Jay, kamu dulu gak ngambil Services Marketing ya..?

Trans TV & Kompetensi Seorang Konsumen

January 5th, 2008 by sonykusumasondjaja

Suatu pagi, di akhir pekan bulan Januari 2008…

Seperti biasa, seusai sholat shubuh aku mengawali hariku dengan menonton acara berita pagi. Dan Reportase Pagi, program berita Trans TV, adalah pilihan utamaku untuk tayangan berita pagi. Dan senang sekali rasanya mengetahui bahwa presenter berita pagi hari ini adalah dua orang presenter kesayanganku. Yang pria, selalu tampil rapi, elegan, dan intelek. Sedang yang wanita, cantik dan anggun dengan balutan jilbab merah mudanya.

Beberapa saat menonton, aku mulai merasa terganggu dengan pembawaan sang presenter pria. Dia, sang presenter pria, dulu kuanggap sebagai presenter berita terbaik di Trans TV, bahkan salah satu yang terbaik di kalangan presenter muda di seluruh stasiun TV swasta nasional di tanah air. Namun, sudah tiga hari ini, ketika dia menjadi presenter acara berita pagi ini, dia nampak begitu lesu, cara penyajiannya tanpa gairah, tidak ada lagi senyum yg biasa menghiasi wajahnya, tidak ada lagi gairah yang mengalir lewat kata-katanya, dan nada suaranya yang biasanya bersemangat menyajikan informasi kini terdengar begitu datar dan tawar. Sekali dua kali, kuanggap dia sedang masa-masa yang kurang baik. Namanya manusia, kan pasti ada ups and downs-nya. Tapi kalo sudah sampai tiga kali penampilan masih jelek juga, rasanya kan perlu diingatkan…

Sebagai konsumen yang baik, aku berusaha memberikan saran kepadanya. Aku pun memutuskan untuk menghubunginya lewat sms. Kebetulan, beberapa hari yang lalu aku berhasil memperoleh nomor HP-nya lewat salah seorang temanku. Di sms, aku tanyakan, mengapa kok penampilannya selama beberapa hari ini nampak lesu, kurang tenaga, tidak bergairah, dan caranya membawakan berita seolah-olah ia tak menikmati pekerjaannya lagi. Kayak orang patah hati aja, tulisku juga.

Tak berapa lama, HP-ku berbunyi tanda ada sms masuk. Ternyata dari sang presenter pria tersebut. Kaget juga aku melihat begitu cepatnya respons darinya. Bagus juga nih, gumamku dalam hati. Kubaca sms yang aku terima dengan penuh rasa ingin tahu.

Ternyata isi sms itu agak mengejutkan aku.

"Untungnya produserku bilang penampilanku ok kok. Yang penting kan penilaian produser, orang yang lebih berkompeten dan lebih tahu tentang program ini. Kalo mereka bilang oke, ya sudahlah.."

Aku mengernyitkan dahiku. Keheranan. Kok kayak gini responsnya..? Jengkel atau marah sih enggak, cuma merasa agak aneh saja.

Aku jadi teringat ketika aku menjelaskan di kuliah Pemasaran, bahwa meskipun secara teoritis perusahaan seharusnya menerapkan konsep pemasaran yang berorientasi pada pemuasan konsumen, tapi pada kenyataannya masih banyak perusahaan besar yang lebih mendorong penerapan konsep produk yang berorientasi pada diri sendiri. Masih cukup banyak perusahaan yang menilai kualitas sebuah produk; baik barang atau jasa; hanya dari sudut pandang produsen. Tidak mengadopsi penilaian atas kualitas dari sudut pandang konsumen, yang notabene adalah pengguna produk yang ditawarkan tersebut. Tapi, yang membuatku heran adalah, salah satu perusahaan yang masih menganut prinsip yang sudah kuno itu adalah Trans TV. Trans TV!!! Yang bukan hanya stasiun TV ternama di Indonesia, namun juga terkenal sebagai stasiun TV yang digawangi pekerja-pekerja muda yang rata-rata usianya di bawah 30 tahun.

Biasanya, perusahaan yang banyak dikawal oleh tenaga muda selain lebih inovatif dalam menghasilkan karya, juga cenderung lebih responsif dan lebih mudah menerima kritik. Sebaliknya perusahaan-perusahaan yang sudah mapan dan dikawal oleh SDM-SDM yang sudah berusia mapan cenderung lebih susah dalam menerima kritik dan biasa bersikap defensif bila ada kritikan yang mereka terima.

Tapi, ini kan Trans TV..!!!! Trans TV…!!!!

Rasa heranku tak habis-habisnya. Bagaimana mungkin seseorang atau sebuah perusahaan, apalagi perusahaan sebesar dan sehebat Trans TV, masih lebih mengandalkan penilaian produsen dan menganggap penilaian konsumen itu tidak kredible karena konsumen tidak punya kompetensi dalam hal proses produksi…??!! Sebenarnya aku ingin mendebatnya bahwa, memang produser itu lebih kompeten dalam proses produksi sebuah program berita, namun bukankah konsumen jauh lebih berpengalaman dalam mengkonsumsi berita. Si produsen paling-paling baru 5-8 tahun punya pengalaman memproduksi program berita.  Tapi, aku sudah punya pengalaman lebih dari 13 tahun dalam mengkonsumsi berita..!!! Tapi, ya nggak lucu lah kalo aku harus berdebat dengan orang yang belum aku kenal secara pribadi. Lewat sms lagi…!! Maka, jawaban sms itu pun aku biarkan saja, dan tidak kuhapus sampai saat ini (siapa tahu bisa dijadikan bahan diskusi kasus di kelas Pemasaran…)

Namun, aku juga harus bersikap adil. Aku sih berprasangka baik saja, bahwa kata-kata itu keluar dari seseorang yang (mungkin) sedang mengalami masalah di balik layar. Entah utangnya banyak, anaknya sakit, atau lagi patah hati, atau baru dimarahi atasan, atau yang lainnya.. Cuma, tetap saja, situasi yang tidak mengenakkan di belakang layar tidak bisa digunakan sebagai alasan oleh seorang penyedia jasa (service provider) untuk bersikap arogan.

Karyawan atau penyedia jasa, termasuk presenter berita, memang harus menghadapi tantangan profesi yang disebut sebagai Boundary Spanning Role. Mereka memiliki peran yang harus dimainkan ketika berinteraksi dengan konsumen, di mana peran itu menuntut mereka untuk tetap bersikap responsif, empati, dan ramah, meskipun kehidupan pribadi mereka sendiri sedang dalam situasi yang kurang enak. Ini yang namanya tuntutan pekerjaan..!! Bahkan siapapun yang bekerja di sebuah perusahaan jasa harus mampu bertindak sebagai public relation officer, dan senantiasa bersikap ramah dan terbuka pada konsumen yang datang padanya.

Memang ini bukanlah hal yang mudah. Tapi, justru hal yang tidak mudah inilah yang seringkali digunakan sebagai competitive weapons oleh banyak perusahaan yang bergerak di bidang jasa. Mereka berlomba-lomba melatih seluruh karyawannya, dari posisi yang paling atas sampe yang paling bawah seperti satpam atau office boy, agar mereka semua mampu bertindak selaku public relation officer.

Rasanya ingin sekali mengirimkan tulisan ini kepadanya, si presenter Trans TV tersebut, agar ia bisa memahami karakter pekerjaannya dengan lebih baik. Tapi, gimana caranya..

Sambil berpikir-pikir kubaca lagi sms itu, sambil berusaha menghapus rasa takjub dan heranku yang masih belum juga hilang….

Kisah Klasik, Agustus 2007 (1)

August 19th, 2007 by sonykusumasondjaja

Aku berjalan menuju ruang akademik untuk mengembalikan daftar presensi kuliah Pengantar Bisnis. Tiba-tiba seorang mahasiswa menghampiri dan menyapaku. Aku mengenalinya sebagai salah satu dari beberapa mahasiswa yang tadi aku usir keluar kelas karena terlambat masuk kelas karena terlambat masuk kuliah lebih dari 30 menit. Tentu saja, aku bisa menebak maksudnya menyapaku. (Ya, apa lagi sih…kalo bukan merayuku….??)

"Pak, maaf saya tadi terlambat masuk kuliah," ujarnya mengawali pembicaraan.

"Oh, ya, nggak papa, nggak masalah kok. Toh kamu kan sudah saya usir keluar. Ya, udah beres." jawabku nyantai.

"Iya, pak, tapi masalahnya, karena tadi saya nggak boleh masuk kuliah, artinya saya sudah nggak masuk kuliah tiga kali. Dan itu artinya saya bakal kena tilang dong, nggak boleh ikut UAS." sahutnya.

Waaaahhh……bakal panjang nih ceritanya, aku membatin.

"Yaaa…itu kan bukan salah saya, mas. Itu kan salah kamu sendiri. Ngapain juga datang terlambat.."

"Yaa…saya telat juga bukan salah saya, pak. Tadi saya itu sudah sampai di pelataran parkir motor jam 10.15 menit. Tapi parkir motornya penuh dan susah nyari tempat. Makanya saya baru bisa masuk kelas jam 10.45," katanya menjelaskan.

Aku jadi terheran-heran mendengar penjelasan dan kata-katanya.

"Sebentar, sebentar, Anda bilang kalo Anda nggak salah..?" tanyaku (aku udah mengubah sapaan dari "kamu" menjadi "Anda"…..tanda bahaya, nih…!!!)," Lha wong Anda datang jam 10.15 aja sudah terlambat, mas!! Kok pake bilang, nggak salah, segalanya. Pikir dong!! Anda kan mahasiswa lama, udah tau kalo ini masanya KHS dan daftar ulang, pasti parkir motor penuh dan susah didapat. Gitu kok nggak merasa salah..!! Mbok nyadar!!" jawabku pedas.

"Yaaaa….tapi saya minta tolong, pak."

Sebel banget, dengarnya.. Tadi pake jurus nyalahin situasi parkir. Sekarang jurus melas-melas dikeluarkan. Tipikal banget, khas mahasiswa trouble-maker…!!!

"Minta tolong apa? Anda salah, dan Anda sudah dapat hukuman dengan saya usir dari kelas. Ya, sudah, saya anggap masalahnya selesai. Kalo Anda sekarang mengungkit-ungkit masalah itu lagi, justru Anda yang memperpanjang masalah." sahutku lagi.

"Iya, pak, tapi masalahnya saya kena tilang..!!" nada suaranya sudah mulai meninggi.

"Lho, masalah Anda dengan saya kan cuma satu kali ini tadi. Anda telat, saya usir. Soal Anda bolos dua pertemuan sebelum ini, ya itu bukan urusan saya. Saya kan gak nyuruh Anda bolos.." sahutku gak mau kalah.

"Pak, saya ini minta tolong..!!" kata dia dengan suara tinggi, bergetar menahan marah."Usia saya 28 tahun bulan ini, dan saya belum lulus Pengantar Bisnis. Saya udah berkali-kali mengulang. Sekarang saya minta tolong Bapak supaya bisa ikut UAS.."

Aku jadi terdiam. Heran mendengar nada marah di suaranya.

"Mas, saya cuma bisa bilang, Selamat Ulang Tahun yang ke-28..!! Tapi, lainnya tidak. Kalo Anda tiap hari masuk kelas, ngerjain tugas, kalo nggak bisa nanya ke saya, saya mungkin akan mempertimbangkan usia Anda. Anda pantas minta tolong ke saya. Mungkin memang kemampuan akademis Anda kurang. Tapi, sekarang ini kasusnya beda banget!! Dari tiga pertemuan sejak UTS, Anda bolos pada dua pertemuan awal. Pertemuan ketiga Anda telat masuk kelas 45 menit. Dari mana, Anda bisa bilang bahwa Anda punya niat untuk lulus..? Jelas itu menunjukkan kalo Anda sendiri nggak berjuang. Lha, buat apa saya repot-repot menolong orang yang nggak mau menolong dirinya sendiri..? Apalagi Anda sudah dewasa, sudah tua, hampir seumuran saya, harusnya sudah tahu  dan sadar kalo Anda perlu berjuang supaya bisa cepat lulus dari mata kuliah Semester satu..!!" jawabku. Pedas banget emang. Lha, abis, jengkel banget aku!!

Dia terdiam.

"Saya mau nanya dulu. Dua pertemuan lalu, Anda nggak kuliah PB. Kenapa?" tanyaku lebih lunak.

"Pertemuan pertama, saya nggak enak badan. Saya di rumah."

"Bikin surat ijin ke saya..?"

"Nggak, pak.."

"Oh, bagus itu!!" sahutku sinis," trus yang kedua..?"

"Saya pulang kampung. Ada sepupu yang menikah."

Aku terperangah heran. Melongo. Sedikit meragukan kewarasan mahasiswa yang ada di hadapanku ini.

"Anda sadar nggak sih…? Anda tadi bilang, Anda sudah 28 tahun dan belum lulus mata kuliah semester satu, dan Anda masih menyempatkan diri untuk pulang kampung untuk urusan yang nggak penting dan nggak relevan dengan studi Anda..? Anda juga nggak mau merepotkan diri Anda untuk mengurus surat ijin sakit..? Anda juga nggak mau merepotkan diri untuk datang ke kampus lebih awal supaya nggak terlambat masuk kelas..? Kalau sudah begini, jelas sudah bahwa Anda memang tidak punya semangat untuk memperjuangkan diri Anda sendiri. Dan jelas sekali saya nggak akan mau menolong Anda supaya bisa ikut UAS besok. Saya tidak mau menolong orang yang nggak mau menolong dirinya sendiri. Sampai ketemu semester depan di mata kuliah ini. Dan sekarang, silakan keluar!!" ujarku menutup pembicaraan.

"Jadi, kesempatan saya untuk ikut ujian sudah hilang, pak?" tanyanya dengan nada gemetar menahan marah.

"Ya!! Silakan keluar," jawabku dingin.

Dan dia pun langsung keluar menahan marah. Entah sumpah serapah apa saja yang ia lontarkan.

Heran, deh..!! Kisah di atas bukanlah kisah baru. Udah klasik banget. Yang namanya mahasiswa, apalagi yang tipe-tipe pecundang seperti lakon di atas, emang punya tipikal khas. Ketika dia menghadapi suatu masalah di kuliah, pertama kali dia akan menyalahkan situasi. Kalo situasi sudah nggak bisa disalahkan, dia akan menyalahkan orang lain. Kalo udah mentok, baru deh, merayu dan mencoba meluluhkan hati. Tanpa sedikitpun perasaan bersalah atau menyesal atas apa yang telah mereka lakukan.

Begitu banyak mahasiswa tipikal seperti itu, yang mengulang suatu mata kuliah berkali-kali, entah dengan alasan apapun. Rekor untuk mata kuliahku sendiri adalah tujuh kali, alias ada mahasiswaku yang harus tujuh kali mengulang sebelum dapat nilai lulus. Ada juga yang ngulang tujuh kali, mau ngulang yang ke-delapan, sudah kena DO. Tipikal anaknya ya hampir sama dengan lakon di atas. Seenaknya sendiri gitu…!!! Pernah lho, aku punya mahasiswa yang sejak 30 menit sebelum kuliah dimulai (jam 15.30) selalu nguber-uber aku "Ayo, pak, kok belum masuk kelas…? Nggak kuliah tah pak..?" meskipun arloji di tangannya dan jam dinding di ruanganku masih menunjukkan pukul 15.00. Dan ketika aku masuk kelas, dia malah bolos kuliah. Tau alasannya? Mau nganterkan adik kursus..!! Makanya, ketika dia dapat nilai E untuk yang ketujuh kali dan harus kena DO, aku tidak merasa perlu menolong dia, mengangkat nilainya menjadi C. Biar aja, dia minta nilai C sama adiknya yang dianterin kursus tadi!!

Tiap mahasiswa emang cenderung untuk memiliki satu atau dua mata kuliah momok. Yang perlu dua-tiga kali untuk mengulang sebelum dinyatakan lulus (atau lolos..?). Ada di antara yang mengulang itu karena memang kemampuannya yang terbatas, tapi kebanyakan justru karena si mahasiswa sendiri yang tidak berjuang untuk hidup mereka. Banyak di antara mahasiswa yang kalo nggak lulus, menyalahkan si dosen yang dianggap terlalu pelit nilai, terlalu banyak ngasih tugas, terlalu begini, begitu, dll. Tapi, adakah dosen yang sempurna bagi mahasiswa2 itu..? Aku kira, nggak ada. Karena yang bermasalah bukanlah dosennya, melainkan mereka sendiri.

Aku sendiri sih nggak menampik kenyataan bahwa ada juga dosen yang kurang mampu mengelola kelas atau kurang bijak dalam memberikan nilai, tapi apakah situasi itu bisa dijadikan alasan atau dijadikan kambing hitam atas kemalasan dan kegagalan seseorang..? Nggak bisa, dong!! Lha, kalo seorang mahasiswa selalu mengkambinghitamkan dosen yang ngajarnya nggak enak, nilainya pelit, dan sebagainya, apakah mereka yakin akan ada dosen yang benar-benar sesuai dengan keinginan mereka? Apakah mereka yakin ketika memperoleh pekerjaan, mereka akan bisa bekerja di bawah supervisi orang yang memang mereka sukai..? Kalo mereka harus bekerja dengan atasan yang karakternya tidak sesuai dengan yang mereka harapkan, apakah mereka lalu mau keluar dan cari kerjaan lain..? Yang sering, justru orang yang harus menghabiskan bertahun-tahun hidupnya untuk bekerja dengan partner atau atasan yang tidak mereka sukai..!! Terus, mau keluar begitu saja dan ganti pekerjaan lain…? Gimana kalo udah dapat kerjaan baru, ternyata supervisornya juga memiliki karakter yang nggak sesuai…?

Welcome to the real world….my students…!! In this real world, you have to struggle for your life..!! You can’t expect others will come to you and help you everytime you have problems in your life..

Dan kalo emang itu kenyataan yang ada dalam hidup ini, kenapa nggak mulai belajar untuk hidup, sejak masih ada di bangku kuliah..? Mumpung masih ada waktu dan masih ada banyak orang yang bisa dan mau membantu tiap kali kalian gagal dalam belajar hidup tadi…

17 Agustus

August 16th, 2007 by sonykusumasondjaja

aduuuuh……udah dekat 17 Agustus…!!! tiap kali menjelang 17 Agustus, bawaanku biasanya bete melulu. gimana enggak, coba!! kalo udah seminggu menjelang 17 agustus, yang namanya pengendara jalan umum pasti harus berbekal kesabaran berlimpah. lagi enak-enak jalan, belok…ehhh…ditutup buat lomba. belok jalan satunya, eh ditutup juga… akhirnya, yang namanya waktu habis cuman buat muter-muter nyari jalan mana yang boleh dilewati.

kadang aku berpikir, ngapain juga ya, tu orang-orang mau-maunya kerja keras, ngurusin lomba voli, lomba balap karung, lomba nyunggi tempeh, dan segala macam lomba-lomba, baik lomba yang wajar dan sehat sampe lomba yang rada sinting (seperti, lomba sepakbola sambil joget-joget…)…? coba deh, kita pikir dengan lebih obyektif. pas menjelang 17 Agustus, tu yang namanya lapisan masyarakat kerja keras menyelenggarakan lomba-lomba begituan. bahkan orang-orang kampung yang statusnya pengangguran abadi jadi semangat banget kalo disuruh ngurusin acara 17an. mahasiswa-mahasiswa yang lagi repot kuliah, ujian, atau ngerjain skripsi, juga merelakan waktunya tersita untuk ngurusin acara-acara begituan.

ntar, kalo pas acara lomba berlangsung, biasanya malam hari atau minggu siang, yang namanya panitia SELALU menyemarakkan lomba dengan memutar lagu dangdut dengan volume tinggi yang bikin kuping sakit. mending kalo lagunya enak. dan mending kalo cuma sebentar. nampaknya panitia 17 Agustus tuh banyak yang lupa kalo bukan cuma mereka yang punya kuping. walhasil, acara dangdutan berlangsung sejak ba’da Isya saaaaaampeeeee…. jam 12 malam..!!!! bisa nggak ngebayangin, aku yang butuh tidur cepet karena besok pagi ngajar SP. harus mencoba tidur dengan backsound "Kucing Garong" yang diputar berulang-ulang dari jam 7 sore saaaaaampeeee… jam 12 malam… dengan volume jor-joran….dan dengan salon loudspeaker yang dihadapkan dengan manis menghadap ke depan rumahku…

ayo, deh, sekarang kita coba lakukan Cost Benefit Analysis pada kegiatan-kegiatan 17 Agustus kayak gitu. Benefit-nya nih, kata para pemuka dan aktivis kampung, adalah meningkatkan kebersamaan antar warga dan meningkatkan jiwa nasionalisme, mengingat jasa-jasa pahlawan… apa iya…???? gimana logikanya, kita bisa mengingat jasa para pahlawan dengan cara lomba lari karung sambil diiringi lagu Kucing Garong….???? mana mungkin, kita bisa meningkatkan jiwa nasionalisme dengan cara ngadain acara bazaar, panggung gembira sambil joget-joget dan megol-megol….???? dan benarkah segala perselisihan antar warga bisa diatasi dengan mengikuti lomba-lomba atau bazaar…?? c’mon, get real….!!!!

dengan manfaat yang gak terlalu jelas itu, kita sudah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan kita juga mengorbankan kepentingan banyak orang. belum lagi berapa duit yang harus dibuang untuk mengadakan aktivitas seperti itu. mubazir banget..!! kalo saja, duit yang dihambur-hamburkan buat acara lomba-lomba gak jelas itu disalurkan untuk hal-hal yang lebih bernilai, yang lebih produktif, tentu duit tersebut bisa jadi lebih bermakna.

belum lagi acara renungan malam yang (biasanya) diadakan pas malam tanggal 16 agustus. dengan berbagai macam hidangan lauk pauk, semua warga diminta berkumpul, baca doa gak jelas, bahkan ada yang sampe tahlilan gak jelas gitu…..ampuuuuunnnn….!!!! kebodohan apa pula ini……..????!!!!

tapi, yah…inilah Indonesia. sebuah negara yang begitu cinta pada upacara, meski upacara itu hanya sekedar tampilan formalitas tanpa ada realita. upacara bendera tiap tahun untuk mengenang jasa pahlawan, tapi bubar upacara tiap orang tetep sibuk ngurusin dompetnya sendiri-sendiri. lomba-lomba, bazaar, dan entah kegiatan apa lagi yang dilakukan tiap tahun, tapi toh, ketika semuanya berlalu, dan 17 agustus sudah terlewat, Indonesia kembali menjadi bangsa yang miskin hati, pemimpinnya (kebanyakan) kembali menjadi orang yang korup, dan rakyatnya kembali menjadi rakyat yang egois dan bersikap seenaknya sendiri dalam kehidupan sehari-hari….

lha kalo kondisi itu tidak berubah sama sekali, ngapain juga repot-repot ngabisin waktu, dana, tenaga untuk lomba-lomba dan semua kegiatan ini….????

PS: blog ini merupakan moment come-back blog-ku, dan blog ini aku tulis di sebuah warnet, setelah aku terjebak dalam sebuah kampung yang tak bisa kulalui gara-gara jalannya ditutup total….f%$#*@%….!!!!

Cak & Ning Suroboyo

November 27th, 2006 by sonykusumasondjaja

Hampir sebulan tinggal di Inggris, terus terang aku emang ketinggalan banget berita tentang Indonesia. Apalagi di Inggris, tepatnya di Bournemouth (sebuah kota wisata pantai di kawasan Dorset, bagian selatan Inggris Raya) aku tidak bisa terlalu sering menggunakan Internet. So, akses berita tentang Indonesia, apalagi Surabaya, yaa sangat terbatas kuperoleh. Makanya ketika aku pulang, begitu sudah santai, yang pertama kali aku lahap bukanlah bakso atau tahu campur, tapi koran. Dan berita pertama di Jawa Pos yang menarik perhatianku adalah berita kemenangan Chitra Tania Anindhita (bener kan nulis namanya, ya, Chit..?? Ntar kalo salah tulis ngambek, maklum, kan udah jadi selebritis…he..he..) di ajang pemilihan Cak Ning Suroboyo 2006. Chitra, mahasiswiku yang kukenal cerdas, very lovely, dan kalem banget. Nggak pernah duduk di barisan terdepan, malah lebih sering di deretan belakang (bareng Ayukki, atau…ehm..siapa ya??!!) tapi jawaban-jawabannya atas pertanyaanku hampir selalu tepat. Ide-idenya cemerlang, dan enak untuk dikupas.   

Jadi, tersenyum sendiri membayangkan Chitra jadi Ning Suroboyo 2006…!! Selama ini emang banyak mahasiswa/mahasiswiku yang ikut pemilihan Cak Ning Suroboyo. Tapi, kebanyakan sih, cuma sampe level finalis atau gelar pendamping lain. Gak sampe dapet gelar utamanya. Jadi, kemenangan Chitra nih kayaknya menjadi intermezzo yang cukup menarik. She’s the one. She’s beautiful,  adorable, charming, dan very intelligent. Yaah, paling enggak, Chitra gak bakal bilang "Surabaya is my beautiful country" atau "Indonesia is the most beautiful city" seperti kasusnya putri cantik kita, Nadine Candradimuka… eh … Candrawinata…!!  (Tapi, asli deh, Chitra, aku pengeeeen bener ngeliat pas kamu dialog pake bahasa Suroboyo-an, pasti lucu banget..!!!)

Dari jaman dahulu kala, aku selalu tertarik membaca berita-berita tentang Cak dan Ning Suroboyo. Kenapa? Karena Cak dan Ning Suroboyo itu (dulunya, sih…) identik dengan acara pemilihan bintang berbakat, yang menginginkan sosok ideal anak muda yang cerdas, mudah bergaul, komunikatif, dan berwajah rupawan (yang terakhir ini bukan syarat utama, tapi syarat mutlak kayaknya). Dan gelegar acaranya (dulunya, sih…) selalu heboh diberitakan di koran. Bahkan sempat beberapa kali ditayangkan di televisi. Aku jadi bisa melihat bagaimana sih sosok anak muda Suroboyo yang dianggap ideal oleh para dewan juri. Selama ini sih, emang yang terpilih adalah mereka-mereka yang berwajah rupawan (tapi yang cowok kok banyak yang kenes dan centil ya..?) dan terlihat smart ketika menjawab pertanyaan Dewan Juri. Tapi, anehnya, setelah hingar bingar pemilihan itu selesai, plassss…..hilanglah sudah jejak langkahnya. Hilang ditelan kegelapan….

Lha trus, ngapain aja setelah mereka capek-capek berkompetisi jadi Cak atau Ning..? Apa setelah pulang bawa piala dan setumpuk hadiah, mereka pulang, trus ngapain kalo udah gitu? Ntar sebulan sekali, ngumpul di markas, trus rujakan bareng dua-tiga jam, trus pulang lagi..?? Cuman gitu doang..??

Kalo menurut ceritanya si Adiel dan Ratna, mahasiswiku finalis Ning Suroboyo masa lalu (kira-kira tahun 1800an, lah..!!), kegiatan mereka di Paguyuban Cak Ning Suroboyo sangat padat. Dan, kalo aku dengar sih, emang bagus-bagus…!! Tapi, aku selalu bertanya dalam hati, kenapa semua acara yang sangat padat dan bagus itu tak pernah terekspos oleh media massa, ya? Dan kenapa acara yang sangat padat dan bagus itu kebanyakan hanya diikuti oleh mereka para Cak-ers dan Ning-ers? Kenapa gak ikut melibatkan anak muda lainnya di Surabaya? Apa memang pemilihan Cak dan Ning Suroboyo itu kini menjadi semacam acara untuk membentuk komunitas eksklusif anak muda yang "tidak menerima" keterlibatan anak muda lain yang mungkin saja dalam hal-hal lain, jauh lebih bagus kualitasnya daripada para Cak-ers dan Ning-ers..?

Coba, deh, ayo kita sama-sama pergi ke perpustakaannya koran Jawa Pos atau Surya atau Memo, trus kita cari berita yang memuat kegiatan Cak dan Ning Suroboyo selain acara pemilihannya..?? Ada enggak…? Yaaa, ada sih. Aku pernah baca kok. Yaitu Cak dan Ning Suroboyo jadi pembawa baki kalo Presiden RI atau pejabat negara datang ke Surabaya. Atau Cak dan Ning Suroboyo pas bagi-bagi kembang atau suvenir saat memperingati suatu event. Tapi, what’s beyond the Paguyuban is nothing. Nothing at all. Coba kita cari di Internet, apapun yang berkaitan dengan Cak dan Ning Suroboyo. Hasilnya sama juga. Nothing. At all.

Apa memang pemilihan Cak dan Ning Suroboyo, sama dengan pemilihan Abang None, yang emang banyak dijadikan stepping stone untuk menjadi seorang artis..? Sekedar itu..?? Kalo emang enggak, kenapa kebanyakan Cak-ers dan Ning-ers langsung masuk ke dunia selebritis (at least, selebritis level JTV lah..!!) tanpa kedengaran kiprahnya dan kontribusinya bagi anak muda Suroboyo kebanyakan? Kalo emang Cak dan Ning Suroboyo adalah sesuatu yang lebih dari sekedar "Ken & Barbie" yang bagus untuk dipajang, mana sesuatu yang kongkrit yang menunjukkan bahwa Cak dan Ning Suroboyo adalah sosok yang menggambarkan profil ideal anak muda Suroboyo..?? Tidak banyak yang tahu. Yang aku tahu, alumnus Cak dan Ning Suroboyo, kalo enggak jadi artis JTV (yaa.. pokoknya punya wajah rupawan dan bisa ngomong), atau jadi istri simpanan pejabat negara (ini kisah pribadi dua orang pemenang Ning Suroboyo beberapa tahun lalu, kebetulan teman dekatku), atau jadi anggota baru Dugem-mania (beberapa temanku, alumnus Cak Suroboyo, jadi judi-mania dan pecandu narkoba. Mereka kenal narkoba setelah sering diajak dugem oleh sesama Cak-ers). Hampir tak ada yang pernah kudengar, anggota Paguyuban Cak dan Ning jadi juara nyanyi, atau jadi pembicara terkenal di seminar-seminar, atau jadi wisudawan terbaik, atau jadi bintang film ngetop (seperti alumnus Abang None Jakarta), atau jadi penulis terkenal, atau jadi musisi yang berkualitas, atau apa deh yang lain yang bisa menunjukkan bahwa by being Cak & Ning Suroboyo, someone can achieve something special. It’s nothing. Seolah-olah Cak dan Ning Suroboyo itu adanya dan tiadanya tak ada bedanya.

Kalo emang, pemilihan Cak dan Ning Suroboyo hanya digunakan untuk membentuk perkumpulan eksklusif anak muda "pilihan" di Surabaya, untuk dijadikan sebagai batu loncatan meniti karir sebagai selebritis, waaah……….. sayang banget..!! Betapa mubazirnya uang rakyat ratusan juta yang dihamburkan untuk aktivitas pemilihan itu..!! Dan betapa sayangnya sekumpulan anak muda yang berkualitas cemerlang seperti Chitra atau Niko atau Adiel atau Ratna atau finalis lainnya yang sudah terhimpun dari hasil acara pemilihan itu tidak didayagunakan secara optimal untuk meningkatkan kualitas anak muda Surabaya saat ini.   

Kalo memang seperti itu, what’s the point of being Cak & Ning Suroboyo…??? What’s so special for being Cak & Ning Suroboyo..??